Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Sungai atau air terjun


Rena hanya tersenyum, dari Nio ia benar-benar merasakan banyak hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, termasuk kata pujian yang entah kenapa terdengar begitu tulus.


"Kamu sudah siap?" Tanya Nio lembut.


Rena pun akhirnya mengangguk.


"Ok, let's go!" Nio pun segera melepaskan pelukan posesifnya pada pinggang Rena.


Lalu dengan memegang tangan Rena, mereka terus melangkah keluar dari kamar.


"Owh tunggu! Sebaiknya kita tidak keluar bersamaan seperti ini." Ucap Rena yang sontak menghentikan langkahnya.


"Hmm memangnya kenapa?" Tanya Nio sembari mengerutkan dahinya.


"Bagaimana kalau bi Inah melihat?"


Nio pun akhirnya melesu, lalu pasrah untuk melepaskan tangan Rena.


"Baiklah." Ucapnya pelan.


"Kamu bisa keluar lebih dulu," Ucap Rena lagi sembari tersenyum.


"Baiklah, aku tunggu kamu di mobil, ok?"


Rena pun lagi-lagi mengangguk. Nio akhirnya beranjak keluar dari kamar Rena lebih dulu, meninggalkan Rena yang masih berdiri memandangi kepergian Nio dengan sedikit gugup.


Rena pun kembali menuju cermin, dengan cepat memoles lagi wajah cantiknya dengan bedak, lalu kembali mewarnai bibirnya dengan lipstik agar terlihat lebih fresh.


Memastikan jika penampilannya kala itu sudah tidak ada masalah, Rena pun meraih tasnya lalu mulai beranjak keluar dari kamarnya.


Kebetulan, saat itu rumah nampak sepi, bahkan bi Inah pun sudah tidak lagi terlihat di sekitaran dapur.


Rena pun terus melangkah menuju ruang tengah, disana ada pintu yang bisa langsung terhubung ke garasi mobil. Dengan penuh percaya diri, Rena terus melangkah cepat menuju mobil sport yang biasa Nio pakai.


Tapi sayangnya, saat itu Nio terlihat tidak ada di dalam mobil itu.


"Kamu sedang apa disitu Rena?" Tanya Nio yang membuat Rena sedikit terkejut.


Nio ternyata ada di dalam mobil yang satunya lagi, ia bahkan terlihat sudah duduk di kursi kemudi sebuah mobil jeep yang dimana mobil itu sangat jarang di pakai.


"Kita naik mobil ini?" Tanya Rena santai sembari menghampiri Nio.


"Iya, karena perjalanan yang akan kita tempuh, sangat tidak cocok menggunakan mobil sport yang ceper."


"Haaiss, kamu semakin membuatku penasaran." Celetuk Rena sembari mulai duduk di samping Nio.


"Maaf karena kamu harus tetap penasaran sampai kita tiba nanti, karena aku tidak akan mengatakan kemana kita akan pergi."


"Bukankah aku harusnya curiga padamu tentang hal ini?"


Nio pun hanya mendengus pelan dan semakin melebarkan senyumannya, lalu perlahan mulai menggerakkan mobil jeep yang memiliki ban yang besar itu untuk keluar dari garasi rumahnya. Mobil jeep itu mulai bergerak melaju meninggalkan kawasan rumah elit itu, terus berjalan dengan laju membelah jalanan yang pagi itu masih menyisakan sedikit kabut.


Sepanjang jalan, Nio nampak sering melirik ke arah Rena yang kala itu terlihat begitu menikmati perjalanan mereka. Bisa dikatakan, ini kali pertama mereka pergi keluar sebagai sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta.


Beberapa puluh menit telah berlalu, kini jalanan yang mereka lalui telah lumayan jauh dari padatnya jalanan kota. Jalanan perlahan mulai terasa lengang, tidak ada kata macet, bahkan udaranya juga terasa lebih sejuk dari sebelumnya.


Senyuman ranum Rena terus terlukis di bibirnya kala memandangi hamparan kebun teh yang membentang indah bak permadani di bagian sisi kiri dan kanan jalanan yang begitu mulus.


"Kamu kenapa Rena, sejak tadi kamu banyak diam?" Tanya Nio lembut.


"Aku hanya tengah begitu menikmati perjalanan ini." Jawab Rena yang terus tersenyum lembut.


"Apa itu artinya kamu belum pernah melewati jalanan ini?"


"Belum." Jawab Rena sembari menggelengkan kepalanya.


"Ah syukurlah." Nio pun ikut tersenyum.


"Karena itu berarti aku orang pertama yang melakukannya, biasanya kesan pertama akan terasa berbeda dan selalu di kenang." Ungkap Nio sembari terus fokus mengemudi dengan tenang.


Rena pun terdiam, dan hanga kembali mengutas senyuman saat menatap Nio.


Setelah berhasil melewati area perkebunan teh yang begitu luas, kini perjalanan mereka memasuki area yang berbeda lagi. Jalanan semakin kecil dan menanjak, kiri dan kanan kini di penuhi hutan pinus, bahkan terasa semakin alami dan asri.


"Wahhh," Celetuk Rena yang nampak terus berdecak kagum memandangi hutan pinus yang menjulang tinggi.


"Kemana sebenarnya kamu membawaku pergi, Nio?" Tanya Rena yang justru semakin dibuat penasaran.


"Apa sejauh ini kamu menikmati perjalanannya?"


"Sangat!" Jawab Rena cepat.


"Hmm, kalau begitu teruslah nikmati perjalanan ini tanpa bertanya hal itu lagi, karena pertanyaanmu akan sia-sia, aku tidak akan menjawabnya." Jawab Nio yang kembali tersenyum.


Rena akhirnya kembali diam dan memilih patuh. Setelah setengah jam lamanya melintasi hutan pinus, kini akhirnya mobil jeep yang dikendarai oleh Nio berhenti di ujung jalan yang buntu.


"Kita berhenti disini!" Ucap Nio yang mulai melepaskan sabuk pengamannya.


"Kenapa? Apa kita salah jalan? Jalanan ini terlihat buntu." Rena pun terlihat sedikit cemas.


"Tidak, perjalanan dengan mobil memang hanya bisa sampai disini, sisanya kita harus jalan kaki memasuki hutan pinus ini."


"Me,, memasuki hutan???" Tanya Rena yang sedikit terkejut.


"Kenapa? Apa kamu takut Rena?"


"Ti,, tidak, tapi... hmm tidakkah sepertinya aku salah kostum?" Jawab Rena yang memandang lesu ke arah pakaiannya.


"Hmm tidak juga, masih cocok saja selagi kamu tidak memakai hak tinggi." Jawab Nio yang kemudian tersenyum saat mendapati Rena yang saat itu memakasi flat shoes.


"Ayo." Nio pun mulai menjulurkan tangannya.


Namun Rena masih terdiam, ia masih saja terlihat sedikit ragu untuk mulai melangkah memasuki hutan.


"Tenang saja Rena, kita tidak akan berjalan terlalu jauh memasuki hutan, paling lama hanya berkisar sepuluh menit saja untuk sampai di tujuan."


"Benarkah?"


"Eemm" Nio pun mengangguk penuh keyakinan.


Rena pun akhirnya tersenyum dan mulai meraih tangan Nio, mereka mulai melangkah memasuki kawasan hutan pinus yang terasa sejuk. Untung saja saat itu Rena memakai outer berbahan jeans hingga membuatnya tidak terlalu kedinginan.


"Andai kamu setidaknya memberiku bocoran tempatnya yang ternyata seperti ini, mungkin aku akan memakai pakaian yang lebih sporty," Celetuk Rena yang saat itu terlihat begitu fokus memperhatikan langkah kakinya.


"Hehehe maaf untuk itu." Nio pun kembali tersenyum lebar.


"Dimaafkan atau tidak, akan ku jawab setelah melihat tempatnya nanti." Jawab Rena yang terus tersenyum.


Mereka terus melangkah penuh hati-hati menyusuri jalanan setapak itu, dan benar saja, perlahan tapi pasti, Rena pun sayup-sayup mulai mendengar suara gemericik air.


"Apa kamu mendengarnya Rena?" Tanya Nio lagi.


"Air?? Bukankah itu suara air? Hmm seperti sungai?? Atau,,, mungkin bisa juga..."


"Bisa juga apa?"


"Air terjun." Jawab Rena menebak.


"Hmm, sungai atau air terjun, mari kita buktikan." Jawab Nio yang semakin melajukan langkahnya dan terus menarik tangan Rena agar terus mengikuti langkahnya.


...Bersambung......