Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Make a wish


Setelah puas menuntaskan segala unek-unek mereka, keduanya memilih untuk melanjutkan aktivitas mandi secara normal, bahkan bergantian mengusapi punggung masing-masing dengan spoon mandi lembut yang sudah dipenuhi oleh busa.


Selesai mandi, Rena keluar dari toilet dengan sudah melilitkan selembar handuk di dadanya, lalu kembali menoleh ke arah Nio yang melangkah di belakangnya dengan senyuman.


"Setelah berpakaian, ayo kembali turun ke bawah untuk meniup lilin bersama."


"Sure." Jawab Nio singkat sembari tersenyum manis.


Rena pun bergegas menuju lemari, sementara Nio memilih untuk berpakaian di kamarnya sendiri.


Beberapa menit berlalu, mereka pun kembali turun dalam keadaan hati yang gembira, menuruni tangga dengan bergandengan tangan layaknya pasangan yang benar-benar di landa asmara yang menggebu.


Rena menghidangkan kue ulang tahun yang sudah ia hias di atas meja, lalu menancapkan hanya sebatang lilin kecil di tengah kue itu dan menghidupkan api.


"Maaf kue ulang tahunmu yang ini, hanya begini saja."


"Tidak apa-apa, ini bahkan menjadi kue ulang tahun terbaik sepanjang ulang tahunku, apalagi dibuat dengan penuh cinta dari orang yang tercinta pula." Jawab Nio yang terus tersenyum pada Rena.


Jawaban itu pun lagi-lagi berhasil membuat Rena tersenyum dengan perasaan yang semakin berbunga.


"Ah ya sudah, ayo make a wish dulu." Ucap Rena.


Nio pun patuh, tanpa berkata apapun, ia langsung saja menutup kedua matanya, lalu mulai membuat permohonan, setelah beberapa detik, ia pun kembali membuka matanya dan kembali menatap Rena.


"Sudah??" Tanya Rena yang terus tersenyum.


Nio pun hanya mengangguk pelan.


"Ah ok, ayo tiup lilinnya."


Nio kembali tersenyum.


"Akan terasa lebih baik jika kita meniupnya bersama-sama." Jawab Nio.


"Begitu kah?? Hmm, ya sudah." Rena pun mengangguk singkat tanda setuju.


Dalam hitungan ketiga, mereka pun langsung meniup lilin, berdua, tanpa ada siapapun, namun nyatanya hal ini jauh membuat Nio bahagia bila dibandingkan semalam.


Tanpa membuat waktu, Rena langsung menyuapi kue itu kepada Nio, dan begitupun sebaliknya.


"Bagaimana rasanya? Apa enak?" Tanya Rena lagi untuk memastikan.


"Sangat enak, jauh lebih enak dari kue ulang tahun yang dibeli dari toko kue bintang lima."


"Haaissh! Itu namanya berlebihan, aku hanya ingin bertanya pendapatmu yang serius. Kuenya enak tidak??"


"Enak! Sungguh, aku tidak bohong!!"


"Benarkah?"


"Iya, ada satu bahan yang paling terasa dikue ini dan bahan itulah yang membuatnya jadi benar-benar terasa enak."


"Oh ya? Bahan apa? Apa menteganya? Atau coklatnya?" Tanya Rena yang nampak penasaran.


"Bahan itu adalah Cinta, itu yang paling terasa di kue ini hingga terasa sangat enak dilidahku."


"Haaiss!! Lagi-lagi kamu tidak serius menjawabnya."


"Hehehe tidak, tidak! Tapi aku benar-benar serius saat mengatakan kue ini enak."


"Hmm ok, kali ini aku percaya." Rena pun kembali tersenyum dan mulai mencicipi lagi kue buatan mereka.


"Bisakah kita menikmati kue ini disana saja?" Tanya Nio sembari menunjuk ke arah ruang televisi.


"Owh, kamu ingin menonton tv?"


"Hmm." Jawab Nio sembari mengangguk singkat.


"Ah ya sudah, ayo." Rena pun tersenyum.


"Kamu duluan saja, aku akan memotong-motong kue ini terlebih dulu, nanti akan aku bawakan kesana."


"Baiklah, tolong jangan lama-lama!"


"Kenapa kalau lama?"


"Nanti aku rindu!" Jawab Nio yang kembali tersenyum.


Rena pun ikut tersenyum geli,


"Tetap saja beda rasanya!" Jawab Nio yang akhirnya mulai melangkah menuju sofa panjang yang terletak di depan tv.


Rena hanya bisa terus tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Rena pun datang menyusul Nio dengan sudah membawa banyak potongan kue yang telah ia letak di dalam sebuah piring pesar.


"Ini kuenya, dan ini minumannya." Celetuk Rena sembari meletakkan sepiring kue dan segelas jus Apel ke atas meja.


"Terima kasih sayang." Jawab Nio yang langsung merangkul Rena dengan mesra.


Nio benar-benar memperlakukan Rena dengan sebaik itu, dari hal-hal kecil saja, mampu membuat Rena merasa di anggap ada dan merasa sangat di hargai keberadaannya.


"Kamu nonton apa?" Tanya Rena.


"Hanya sebuah film yang sebenarnya sudah aku tonton sebelumnya."


"Hmm."


Nio hanya tersenyum dan mulai menyandarkan tubuhnya di dada Rena.


Beberapa saat terdiam, tiba-tiba saja Rena merasa penasaran dengan apa yang menjadi harapan Nio saat make a wishnya tadi.


"Nio." Panggil Rena lembut.


"Ya?" Jawab Nio yang saat itu kedua matanya masih terlihat fokus menyorot ke arah layar tv.


"Boleh aku bertanya?"


"Tanya saja, kamu bebas menanyakan apapun padaku, gratis!" Jawab Nio dengan tenang.


"Jika bukan aku, apa kamu memasang tarif setiap seseorang ingin bertanya??"


"Hehehe tidak juga," Nio pun tersenyum.


Juga sama halnya dengan Rena yang ikut mendengus pelan dan lagi-lagi tersenyum.


"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Nio yang kali ini kembali menegakkan duduknya dan kembali menatap Rena dengan lekat.


"Aku ingin tau, apa yang menjadi harapanmu saat make a wish tadi? Apa berhubungan dengan kelancaran skripsimu?"


"Tidak, sama sekali tidak ada menyangkut urusan skripsi." Jawab Nio sembari menggelengkan pelan kepalanya.


"Tidak menyangkut skripsi ya? Hmm lalu??"


Nio pun terdiam sejenak.


"Kamu sungguh ingin tau harapanku?"


Rena pun mengangguk pelan.


"Jika boleh." Tambah Rena lagi yang terus tersenyum.


"Owh sure, tentu saja boleh! Tapi mungkin kamu tidak akan suka saat mendengarnya."


"Kenapa begitu? Memangnya apa harapanmu? Kenapa aku bisa tidak menyukainya?" Tanya Rena yang nampak semakin penasaran.


"Harapanku adalah...." Nio pun perlahan mulai menundukkan pandangannya, namun ucapannya tiba-tiba terhenti hingga membuat Rena semakin penasaran dibuatnya.


"Apa Nio? Kenapa kamu tidak melanjutkan ucapanmu?"


"Harapanku sebenarnya sangat sederhana, namun juga terasa sangat rumit," ungkap Nio yang masih terus tertunduk.


"Iya, tapi apa?" Rena nampak semakin tak sabar.


"Harapanku adalah, di kehidupanku yang mendatang, aku ingin bisa menikah denganmu." Jawab Nio akhirnya yang kembali menatap lekat wajah Rena.


Dan ya, benar saja, senyuman yang sebelumnya masih terpancar di wajah Rena, tiba-tiba saja lenyap tanpa bekas. Berganti menjadi raut wajah yang begitu datar dan terlihat tegang.


"Ka,, kamu sungguh membuat harapan itu di make a wish tadi?"


"Ya, apa aku salah?" Tanya Nio dengan suara pelan.


Rena pun seketika menelan ludahnya dan mulai menunduk karena bingung. Melihat ekspresi Rena yang seperti itu, tentu saja membuat Nio paham dan akhirnya kembali mendengus pelan sembari tersenyum lirih.


"Hmm, benar saja dugaanku, kamu tidak akan suka mendengarnya, kenapa kamu memaksaku untuk memberitahumu." Ucapnya lirih.


...Bersambung......