Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Menjaga perasaan


Selang beberapa menit, seseorang terdengar mengetuk pintu kamar Rena, hal itu sontak membuat kedua wanita cantik itu menoleh secara serentak ke arah pintu itu.


"Ah itu pasti mereka, mereka pastinya belum tau kalau aku akan menginap disini." Celetuk Sonia.


"Iya, kalau begitu beritahu mereka kalau kamu tidak akan pulang sekarang." Ucap Rena.


Sonia pun mengangguk singkat dan langsung melangkah menuju pintu untuk segera membuka pintu kamar itu.


"Kamu sudah selesai Sonia?" Tanya Rio begitu Sonia membuka pintunya.


"Seperti yang kamu lihat, aku sudah berbilas dan ganti baju." Jawab Sonia santai.


"Wahh, tante Rena meminjamimu baju yang tepat, terlihat sangat pas di badanmu hehehe." Celetuk Aldy sembari menatap kagum ke arah Sonia.


Saat itu Sonia hanya tersenyum seolah bangga pada penampilannya saat itu yang tetap terlihat cantik saat memakai baju apapun. Begitu pula Nio, saat itu ia juga terlihat memandangi penampilan Sonia sejenak, namun memilih untuk tidak memberi komentar apapun saat itu.


"Hmm ya sudah, kami sudah mau pulang, lalu bagaimana denganmu? Kamu tunggu apa lagi?" Tanya Aldy.


"Oh ya, kalian pulang saja, karena aku tidak akan pulang." Jawab Sonia dengan tenang.


"Hah?! Tidak akan pulang?? Ap,,, apa maksudmu?" Tanya Rio yang nampak bingung.


Begitu pula dengan Nio yang seketika nampak mulai mengerutkan dahinya saat mendengar Sonia mengatakan hal itu.


"Karena Sonia akan menginap disini." Jawab Rena yang tiba-tiba keluar dari kamarnya dan berdiri di depan pintu.


"Hah?!" Nio pun seketika nampak terkejut.


"Menginap disini?? Ta,, tapi kenapa? Maksudku, kenapa tiba-tiba jadi ingin menginap?" Tanyanya lagi.


"Iya, ibu tidak mengizinkannya pulang, karena akan sangat bahaya jika wanita menyetir mobil sendiri di jam-jam segini, rawan tidak kejahatan." Ungkap Rena dengan tenang.


"Hmm benar juga," Celetuk Rio.


"Wah, ternyata tante Rena ini selain cantik, tapi juga memang benar-benar sangat perhatian ya hehehe."


"Hmm aku juga mengatakan hal yang sama sebelumnya." Jawab Sonia yang kembali tersenyum sembari melirik singkat ke arah Rena.


Saat itu hanya memilih tersenyum, namun tidak memberi jawaban apapun atas pujian yang di lontarkan Aldy.


"Oh ya Nio, bagaimana? Aku boleh kan menginap disini?" Tanya Sonia lagi sembari mulai meraih pergelangan tangan Nio.


Nio lagi-lagi sedikit terkejut saat Sonia melakukan hal itu, terlebih saat melakukannya tepat di hadapan Rena. Begitu pula Rena yang seketika menyorot ke arah tangan mereka dengan tatapan yang berbeda.


"Jika ibuku sudah membuat keputusan, maka aku tidak punya alasan untuk tidak setuju, selama keputusan itu tidak membuatku rugi." Jawab Nio pelan.


"Aaahh baiklah kalau begitu, terima kasih banyak Nio." Sonia yang nampak senang, seolah ingin kembali memeluk Nio di hadapan mereka semua.


Namun dengan cepat Nio mencegah hal itu dengan cara menahan kedua pundak Sonia dengan kedua tangannya.


"Iya sama-sama Sonia, tapi jika barusan kamu berniat ingin memelukku hanya untuk berterima kasih, sepertinya kamu tidak perlu melakukannya." Ucap Nio sembari tersenyum tenang.


"Hmm, baiklah." Jawab Sonia yang nampak melesu namun tetap tersenyum.


Meskipun sejak tadi hanya diam, namun ada perasaan lega pada diri Rena saat mendengar Nio mengatakan hal itu serta menolak saat Sonia ingin memeluknya, di mata Rena saat itu Nio bahkan jadi terlihat tambah cool dan membuatnya semakin jatuh hati padanya.


"Syukurlah, setidaknya dia tau bagaimana cara menjaga perasaanku." Gumam Rena dalam hati sembari berusaha menahan senyum bahagianya.


"Kalian berdua tetap akan pulang? Tidak ikut menginap disini? Bukankah setau tante kalian sering menginap disini sebelumnya?" Tanya Rena yang seolah kembali menawarkan Aldy dan Rio.


"Hehehe untuk malam ini sepertinya tidak dulu tante, mungkin next time." Jawab Rio sembari cengengesan.


"Oh ya sudah." Rena pun akhirnya mengangguk singkat lalu kembali tersenyum.


Aldy dan Rio pun pamit pulang, Nio memilih untuk mengantar mereka sampai ke teras depan rumah, mengingat mereka telah susah payah untuk menyiapkan kejutan ulang tahun untuk dirinya. Sementara Rena dan Sonia, memilih untuk kembali masuk ke kamar dan seolah bersiap untuk tidur.


"Tante, terima kasih banyak ya, sudah mengizinkan aku tidur di kamar tante, padahal ada banyak kamar tamu di rumah ini, tapi tante dengan sangat baik malah menyuruhku tidur bersama tante." Ungkap Sonia sembari mulai membaringkan tubuhnya ke atas ranjang Rena yang begitu empuk.


"Tidak apa-apa, anggap saja kamu sedang menemani tante tidur malam ini." Jawab Rena santai sembari terus mengulas sebuah senyuman hangat.


"Oh ya tante, apa aku boleh bertanya?"


"Tentu saja boleh, memangnya kamu mau bertanya apa?"


"Saat aku bertengkar dengan Nio malam itu, dia mengatakan jika dia sudah mencintai wanita lain, apa tante tau siapa wanita itu? Apa dia pernah membawa seorang wanita ke rumah ini?" Tanya Sonia yang mulai menyelidik.


Mendapat pertanyaan semacam itu, entah kenapa jadi membuat Rena merasa sedikit gugup hingga membuatnya terdiam sejenak.


"Tante, kenapa tante diam saja? Apa tante sudah tau siapa wanita itu?" Tanya Sonia lagi,


Akhirnya, Rena pun menggelengkan pelan kepalanya.


"Ti,, tidak! Selama tante tinggal di rumah ini, tante tidak pernah melihat Nio membawa seorang wanita kesini."


"Ha?! Benarkah tante??"


"Iya." Kali ini Rena mengangguk pelan,


"Hmm, siapa ya wanita itu? Tapi kenapa dia tidak pernah membawanya kesini? Apa itu artinya belum ada hubungan yang jelas antara mereka?" Tanya Sonia yang saat itu seolah sedang berfikir.


"Tante tidak tau, itu sudah menjadi urusan pribadi Nio, jadi tante berusaha untuk tidak terlalu mencampurinya dan berusaha untuk tidak menanyakan hal itu jika tidak dia sendiri yang ingin mengatakannya."


"Tapi tante,,,,"


"Tapa apa?" Tanya Rena yang nampak mulai mengerutkan dahinya.


"Sebenarnya,,, sebenarnya hingga detik ini aku masih sangat menyukai Nio tante." Ungkap Sonia akhirnya.


"Hah?! Benarkah?" Rena pun nampak sedikit terkejut saat mendengar Sonia mengakui perasaannya secara langsung padanya,


Sonia pun langsung mengangguk cepat.


"Tapi hingga detik ini juga, Nio sepertinya masih saja menganggapku teman. Meskipun dia pernah mengatakan jika dia sudah menyukai wanita lain, tapi sejauh ini aku tidak pernah melihatnya dekat dengan wanita lain, hingga kata-katanya itu kurasa belum terbukti kebenarannya."


"Lalu, jika sudah begitu, apa yang kamu ingin lakukan selanjutnya?"


"Tante sebagai orang tua Nio saat ini, apa tante setuju kalau seandainya aku dan Nio akhirnya bisa menjalin hubungan?" Tanya Sonia lagi.


Lagi dan lagi, pertanyaan itu berhasil membuat Rena terdiam sejenak sembari menelan ludahnya sendiri.


...Bersambung......