
Rena dengan wajah masam terus berjalan sempoyongan di tengah kerumunan orang-orang yang asik berjoget di tengah hall. Bahkan beberapa kali pula ia sempat tertabrak oleh beberapa orang hingga hampir terjatuh.
"Rena, hati-hati." Ucap Nio yang langsung mencoba untuk menolongnya.
Tapi Rena yang masih marah padanya, sontak menolak tubuh Nio agar menjauh darinya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Ucapnya dengan nada khas orang mabuk.
Rena pun kembali melanjutkan langkahnya begitu saja, ia terus berjalan menuju loby utama club itu meski saat itu kepalanya terasa seperti melayang-layang. Nio akhirnya menghela nafas panjang dan memilih untuk terus mengikuti langkah Rena dari belakang.
"Ayo, mobilku sebelah sini." Ajak Nio yang ingin menuju parkiran yang ada di depan loby sesaat setelah mereka tiba di loby.
"Kamu pulang lah sendiri, aku mau naik taksi." Rena pun memilih diam di tempatnya.
Hal itu membuat langkah Nio seketika terhenti, ia kembali menoleh ke arah Rena dengan tatapan tak biasa. Rena yang menyadari jika saat itu Nio tengah memandanginya, seketika langsung membuang wajahnya ke sembarang arah.
"Rena, aku tau kamu masih marah padaku, tapi maaf untuk kali ini aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri dalam keadaan mabuk seperti ini!" Tegas Nio yang kemudian langsung menarik tangan Rena begitu saja.
Hal itu membuat Rena terkejut dan mulai berontak.
"Aaaah lepaskan tanganku, aku tidak mau pulang denganmu, jangan paksa aku!!!" Rengek Rena sembari mencoba melepaskan diri dari Nio.
Namun saat itu Nio sama sekali tidak bergeming dan terus saja melangkah menuju mobilnya.
"Antonio!! Lepaskan aku!!" Rengek Rena lagi saat mereka sudah dekat dengan mobil Nio.
Nio pun menghentikan langkahnya saat mereka telah berada di sisi mobil, dengan cepat ia membuka pintu mobil dan menyuruh Rena untuk masuk ke dalamnya.
"Masuk!" Ucapnya pelan.
"Aku tidak mau!!" Rena masih terus berontak sembari mulai memukul-mukul lengan Nio layaknya anak kecil.
"Rena, aku mohon masuklah!" Tegas Nio yang sedikit memaksa agar Rena segera masuk ke dalam mobilnya.
Tak kuasa menolaknya lagi, akhirnya tubuh mungil Rena terduduk di kursi mobil, dengan cepat Nio kembali menutup pintu mobil itu dan berlari menuju setir kemudinya.
"Sudah kukatakan aku tidak mau pulang denganmu!" Rengek Rena lagi yang masih saja memukul-mukul pundak Nio.
Saat itu Nio masih memilih untuk tetap diam sembari mulai tersenyum tipis saat memandangi tingkah Rena yang berubah menjadi sangat manja ketika mabuk.
"Pakai sabuk pengamanmu!" Ucap Nio pelan.
"Tidak mau!" Jawab Rena sembari menggeleng layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
Hal itu pun membuat Nio mendengus pelan dan lagi-lagi tersenyum.
"Jangan ngeyel, ini demi keselamatan mu." Ucap Nio dengan lembut, sembari membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Rena.
Rena pun terdiam saat wajah Nio berada begitu dekat dengannya, dengan sorot matanya yang kala itu semakin nampak meredup, ia terus memandangi wajah Nio yang malam itu terlihat jauh lebih tampan dari biasanya.
"Ok, kita pulang sekarang." Celetuk Nio tersenyum singkat, dan mulai melajukan mobilnya.
Rena hanya diam dan terus meliriknya diam-diam, saat itu Nio memilih untuk lebih fokus pada setir kemudinya karena ia juga merasa jika kepalanya mulai ringan dan melayang-layang.
"Aku senang akhirnya bisa melihatmu lagi," celetuk Nio saat mereka sudah di pertengahan jalan.
Mendengar hal itu, membuat Rena seketika jadi mendengus.
"Andai bisa memilih, aku bahkan tidak ingin melihatmu lagi!" Ketus Rena yang mulai ingin kembali meluapkan emosinya yang hingga saat itu masih membuat dadanya sesak.
"Bagaimana bisa kamu berpikir begitu? Sementara aku jadi sangat frustasi saat tidak melihatmu meski hanya dalam waktu dua hari."
"Omong kosong!!" Ketus Rena sembari memalingkan wajahnya ke arah kaca jendela mobil.
"Aku sungguh-sungguh."
"Sudahlah, fokus saja mengemudi, jangan bicara apa-apa lagi denganku!!"
"Rena, aku sungguh minta maaf atas kejadian tempo hari, aku benar-benar tidak bermaksud melukai perasaanmu dengan kata-kataku." Nio pun mulai ingin menjelaskan semuanya pada Rena.
Namun saat itu Rena sudah tidak ingin menggubris ucapannya lagi dan memilih untuk terus bungkam.
"Rena, tolong maafkan aku, aku seperti itu karena,,, karena aku cemburu, aku tidak bisa melihatmu tersenyum seperti itu pada lelaki lain. Ya, mungkin itu salahku, karena terlalu cemburu buta, tapi aku juga tidak tau kenapa aku begini." Ungkap Nio lagi sembari mulai ingin meraih sebelah tangan Rena.
"Rena, tolong jawab aku, jangan terus-terusan mendiami aku begini,."
"Rena,," panggilnya lagi.
"Sudah kukatakan fokus saja menyetir!! Aku tidak mau celaka karena kau tidak fokus!!" Ketus Rena yang sedikit meninggikan suaranya.
Hal itu membuat Nio sedikit terkejut, karena ini pertama kalinya Rena berkata sedikit kasar padanya, ya mungkin karena ia dalam pengaruh alkohol hingga membuatnya bicara tanpa memfilter ucapannya sedikitpun.
Nio pun akhirnya diam, namun tak lama ia sontak menepikan mobilnya di tepi jalan yang sepi.
*Cciiittt*
Suara gesekan ban pada aspal saat di rem secara mendadak.
Hal itu membuat Rena terkejut dan mulai menatap Nio dengan dahi mengkerut.
"Hei, apa kau sudah gila?? Kenapa berhenti mendadak?!" Tanya Rena yang nampak tak senang.
Nio pun masih diam sembari menarik rem tangan pada mobilnya,
"Untuk apa berhenti disini ha?!" Tanya Rena lagi.
Nio pun mulai menatap Rena dengan begitu lekat, sama sekali tak ada senyuman di wajahnya saat itu.
"Apa kesalahanku sungguh sefatal itu?" Tanyanya pelan.
"Sudahlah tidak usah di bahas, ayo lanjut jalan lagi!!"
"Aku tidak akan melanjutkan perjalanan kita kalau kamu masih belum ingin bicara padaku."
Rena pun akhirnya mendengus kasar dan kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sembari mulai mengusap kasar wajahnya,
"Rena, demi tuhan aku mencintaimu. Bahkan aku tidak bisa mengontrol rasa cinta yang begitu menggebu ini, mungkin itu juga yang membuatku mengeluarkan kata-kata yang tidak seharusnya kuucapkan. Aku benar-benar menyesal, tolong maafkan aku."
Rena pun perlahan mulai membalas tatapan Nio yang masih nampak begitu lekat dan seolah penuh harap.
"Please." Ucap Nio lagi dengan begitu lirih.
"Please Rena, please maafkan aku." Nio pun perlahan kembali meraih sebelah tangan Rena.
Berbeda dari sebelumnya, saat ini Rena justru terlihat mulai sedikit luluh hingga membiarkan tangannya dipegang oleh Nio.
"Kamu tau, aku hampir gila karena merindukanmu, tolong jangan siksa aku lagi dengan perasaan bersalah ini. Please Maafkan aku, ya?"
Rena pun akhirnya mulai tersenyum, lalu kembali menggigit bibir bagian bawahnya. Nio yang melihat hal itu pun mendadak dibuat mengernyitkan dahinya karena sedikit bingung dengan sikap Rena.
"Kamu memberiku respon seperti itu, pertanda apa ini Rena?"
Rena dengan matanya yang nampak semakin layu, mulai menarik kasar sebelah lengan baju Nio.
"Jelas ini pertanda buruk." Bisiknya pelan yang kembali menampilkan senyuman yang tak biasa.
"Pertanda buruk?"
"Ya, ini pertanda buruk, karena aku benar-benar horny sekarang." Bisik Rena yang perlahan mulai menjilati daun telinga Nio.
Nio pun seketika menggeliat kegelian.
"Rena apa yang kamu lakukan?" Tanya Nio yang nampak terkejut.
"Sekarang katakan, apa yang harus aku lakukan jika sudah begini?" Bisik Rena lagi dengan nada yang sangat menggoda.
Rena kembali membasahi daun telinga Nio, lalu mulai mengecupi area lehernya.
"Rena berhenti! kamu benar-benar mabuk sekarang!" Ucap Nio yang berusaha menghindar, karena pikiran Nio saat itu, ia tidak ingin mengambil kesempatan saat Rena dalam keadaan terpengaruh alkohol.
"Ya, aku memang mabuk, dan itu juga yang membuatku jadi horny sekarang." Jawab Rena yang terus menciumi leher Nio dengan penuh nafsu.
"Rena stop!" Nio pun seketika memegang kedua pundak Rena untuk menghentikan aksi liarnya.
...Bersambung......