Kecanduan Ibu Tiri

Kecanduan Ibu Tiri
Setelah sekian lama


Zayden terbangun saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 15.30 sore, saat itu ia terbangun dalam keadaan lapar namun masih cukup segan meminta makanan pada para pekerja di rumah Nio. Ia yang merasa tidak ingin merepotkan Nio yang kala itu masih berada di kantornya, memutuskan untuk pergi keluar mencari makanan.


Zayden pergi dengan menaiki taksi, ia pun bertanya pada supir taksi tentang tempat makan yang recomended saat itu, dan tentu saja sang supir taksi dengan semangat langsung melajukan mobilnya menuju restoran yang saat itu paling banyak diminati di kota itu.


"Jadi, restoran ini yang paling recomended saat ini?" Tanya Zayden sesaat setelah taksi itu berhenti tepat di depan restoran bernuansa estetik itu.


"Benar mas, restoran ini yang paling ramai saat ini, banyak yang bilang menu makanan di restoran ini enak-enak." Jelas sang supir.


"Owwh, baiklah kalau begitu." Zayden pun tersenyum singkat, lalu langsung keluar dari taksi setelah membayar dan memberikan uang tips untuk si supir.


Zayden dengan langkah tenang, langsung memasuki restoran yang kala itu tidak terlalu padat pengunjung, mengingat waktu jam makan siang telah berlalu.


Setelah duduk dan memesan beberapa menu, Zayden tiba-tiba saja merasa ingin buang air kecil hingga ia langsung pergi ke toilet. Setelah mencuci tangan dan berkaca beberapa detik, Zayden kembali keluar dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang kebetulan sedang melintas di depan toilet pria, yang dimana ia adalah seorang wanita yang tidak lain adalah Rena, si owner restoran,


"Aagh sorry!" Ucap Zayden ketika mendapati wanita yang ia tabrak hampir terjatuh.


"Aaaghh." Kala itu Rena nampak lebih fokus mengusap-usap lengannya yang terasa cukup sakit akibat benturan dengan tubuh Zayden yang cukup kokoh.


Namun, mendadak kedua mata Zayden nampak sedikit membesar kala melihat wanita yang kala itu tengah ada di hadapannya. Zayden nampak begitu terperangah untuk sesaat saat memandangi wajah yang begitu familiar baginya.


"Nana???" Ucapnya pelan.


Rena pun seketika melirik ke arah Zayden lalu nampak mulai sedikit tercengang sembari mengernyitkan dahinya.


"Ka,, kau Nana kan?? Iya kan?" Tanya Zayden lagi yang kala itu masih seolah tidak menyangka.


Rena pun terdiam sejenak dengan tatapan yang tak biasa kala menatap Zayden. Namun secara mendadak kedua mata Rena juga nampak mulai membesar seperti cukup terkejut.


"Zay,,???" Ucap Rena kemudian.


Zayden pun seketika tersenyum lebar dan tanpa berkata apapun langsung saja memeluk Rena begitu saja dalam keadaan kedua matanya yang mulai nampak berkaca-kaca.


"Astaga!! Kau benar-benar Nana, kau sungguh Nana??"


Kala itu Rena masih mematung, seolah seluruh tubuhnya kala itu mendadak terasa jadi begitu kaku.


"Akhirnya,,, akhirnya kita bisa kembali bertemu, aku benar-benar sangat tidak menyangka dengan kejadian ini." Celetuk Zayden yang terus memeluk Rena dengan sangat erat.


Tak berapa lama, beberapa butiran bening pun nampak keluar begitu saja dari kedua mata Rena yang seketika terlihat sendu, butiran itu terus mengalir melintasi pipi mulusnya dan jatuh begitu saja saat sudah berada di ujung dagunya.


"Kemana saja kau?? Kemana selama ini?" Ucap Rena dengan nada yang begitu datar, namun juga dengan suara yang terdengar pelan dan begitu lirih.


Pertanyaan semacam itu pun sontak membuat Zayden seketika jadi berubah raut wajahnya. Zayden pun perlahan melepaskan kembali tautan tubuh mereka, lalu mulai menatap Rena dengan tatapan sendu, seolah tengah merasa begitu bersalah pada wanita yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah ia lihat.


"Ya aku mengerti, bahkan aku pun melakukan hal yang sama denganmu," Jawab Rena yang kedua matanya juga nampak mulai berkaca-kaca.


"Ja,, jadi,,, kamu pun pergi dari rumah?? Lalu bagaimana dengan ibu? Apa kamu meninggalkannya bersama lelaki brengsek itu Na?" Tanya Zayden yang kembali meraih kedua pundak Rena serta menatapnya dengan mata yang sedikit membesar.


Rena pun mengangguk pelan dengan tatapan yang mendadak terlihat kosong.


"Hah??!! Lalu bagaimana dengan keadaan ibu sekarang? Kenapa kamu membiarkannya tetap tinggal bersama lelaki itu Na? Kenapa?"


"Tenanglah, ibu sudah bahagia sekarang, penderitaannya sudah berakhir dan tidak akan pernah di siksa lagi." ucap Rena datar.


"Benarkah? Kenapa bisa begitu? Apa mereka sudah bercerai?"


"Ibu dan ayahmu sudah pergi Zay, ayahmu sudah membunuh ibu dan kemudian ia pun bunuh diri." Jawab Rena yang nampak mulai menitikkan air matanya.


"Hah?!!!" kedua mata Zayden pun seketika nampak membulat sempurna.


Ya, Zayden adalah kakak lelaki Rena yang pergi dari rumah dan tidak pernah kembali lagi hingga saat itu. Suasana dalam rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman, namun terasa seperti neraka oleh Zayden karena pertengkaran kedua orang tuanya yang seolah tidak ada hentinya dan terus terjadi setiap hari, hingga hal itulah yang membuatnya pergi dari rumah.


Merasa terlalu lama berdiri di depan toilet, Zayden pun akhirnya menarik Rena untuk membawanya ke kursi tempat dimana ia awalnya duduk dan memesan beberapa menu makanan.


"Na, kamu serius dengan apa yang baru saja kamu katakan?" Tanya Zayden lagi yang seolah masih sulit untuk mempercayainya.


Lagi-lagi Rena hanya mengangguk lesu. Hal itu membuat Zayden seketika mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.


"Astaga, maafkan aku ibu." Ucapnya lirih.


"Seharusnya kaulah orang yang paling pantas untuk melindungi ibu dari kekejaman ayah, tapi apa yang kau lakukan Zay? Kau malah pergi meninggalkan ibu, meninggalkan aku begitu saja."


"Maafkan aku Na, aku sungguh minta maaf, saat itu usiaku masih sangat muda dan masih mengutamakan egoku sendiri, maafkan aku." Zayden nampaknya begitu menyesal dan merasa bersalah.


Rena pun terdiam dengan tatapan yang masih terlihat begitu sendu saat memandangi kakak yang sudah sangat lama tidak ia lihat.


Setelah merasa sedikit tenang, dan setelah menyantap sedikit makanan yang telah ia pesan, Zayden pun meminta Rena untuk membawanya ke makam kedua orang tua mereka. Meski dengan sedikit berat hati, akhirnya Rena pun setuju untuk mengantarkan kakaknya ke makam dengan menaiki mobil yang satu bulan lalu ia beli dari hasil usahanya di bidang kuliner itu.


"Meskipun saat ini aku merasa sangat bersalah dan menyesal, tapi saat melihatmu seperti ini, aku cukup merasa lega Na." Ucap Zayden dengan pelan, saat mereka dalam perjalanan menuju makam.


"Kenapa?"


"Ya, jika dilihat dari perubahan penampilan dan apa yang kamu miliki saat ini, ku yakin hidupmu yang sekarang sudah jauh jadi lebih baik di banding dulu, dan itulah yang membuatku merasa lega." Ungkap Zayden.


...Bersambung......