
Rena terus berjalan mondar mandir di kamarnya dengan perasaan bingung serta merasa tidak tenang. Bagaimana tidak, lelaki yang ia cintai sedang berulang tahun, namun ia sama sekali tidak tau bahkan saat itu tidak bisa berbuat apapun untuk Nio.
"Haruskah aku keluar untuk menyapa semua teman-temannya? Dan mungkin, bisa saja membuatkan makanan untuk mereka??" Tanya Rena seorang diri sembari mulai menggigiti kukunya sendiri.
"Ah tidak, tidak! Pasti akan sangat canggung rasanya kalau aku harus bergabung dengan para anak muda itu." Tambah Rena lagi yang seketika menggelengkan kepalanya.
Namun tiba-tiba saja Rena kembali terbayang, saat Nio mengatakan jika ia pun masih sangat muda.
"Hmm maksudku, sekarang statusku sudah menjadi ibu, walaupun aku juga masih muda, tetap saja statusku dan mereka sudah berbeda. Apa kata teman-temannya nanti kalau tiba-tiba melihatku datang dan bergabung dengan mereka." Oceh Rena lagi yang akhirnya mulai terduduk dengan lesu di tepi ranjangnya.
Sementara saat itu, Nio nampaknya tengah begitu asyik bercengkrama dengan teman-temannya. Bahkan beberapa kali mereka nampak berfoto bersama untuk mengabadikan moment special itu.
"Bro, apa kau tidak ada niat untuk merayakan ulang tahunmu? Mengadakan party di club atau semacamnya? Hehehe" tanya Aldy sembari cengengesan.
"Hmm, apakah harus?" Tanya Nio sembari mendengus pelan.
"Bukankah tahun lalu kau sudah absen dalam merayakan acara ulang tahunmu? Lalu, apa tahun itu pun tidak ada acara?"
"Hmm entahlah, aku belum memikirkannya! Sudah kukatakan sebelumnya, aku bahkan lupa dengan ulang tahunku sendiri!" Jawab Nio santai.
"Tidak perlu terlalu di pikirkan, Bro. Cukup di laksanakan saja hahaha." Aldy pun terkekeh.
Sedangkan Nio yang mendengarnya, hanya dibuat tersenyum sembari meraih gelas jus miliknya.
"Kalaupun aku merayakannya kali ini, kurasa aku tidak akan membuat party yang terlalu meriah, hanya dengan teman-teman dekat saja." Ungkap Nio kemudian.
"Nah, begitu juga tidak masalah, Bro. Yang penting party hahaha." Jawab Rio yang akhirnya ikut terkekeh.
Tak berapa lama, Sonia pun akhirnya tiba di depan rumah Nio yang saat itu sudah terlihat ada beberapa mobil yang terparkir di depan rumahnya.
"Wahh, ramai juga ternyata." Celetuk Sonia pada seorang temannya yang kala itu datang terlambat bersamanya.
Sonia pun mulai melangkah untuk memasuki rumah Nio, kebetulan saat itu pintu rumahnya sedang terbuka lebar mengingat ada banyak orang yang datang ke rumah Nio pada malam itu.
Di saat yang sama pula, Rena akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari kamarnya karena ia sangat merasa haus ingin minum. Namun saat baru saja ingin melangkahkan kaki menuruni anak tangga, tiba-tiba saja langkahnya dibuat terhenti saat melihat Sonia yang tengah berjalan di bawahnya menuju ke teras samping rumah dengan membawa sebuah hadiah di tangannya.
"Sonia?? Di,, dia juga datang?" Gumam Rena dalam hati yang saat itu terus terdiam memandangi Sonia dari atas.
Rasa penasaran Rena pun kembali muncul, kini dalam benaknya, ingin sekali melihat bagaimana reaksi Nio dan Sonia saat mereka bertemu malam itu. Rena pun melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati untuk menuruni beberapa anak tangga agar bisa melihat lebih jelas lagi ke arah pintu kaca yang terhubung ke terasa samping rumah.
Saat itu terlihat jelas bagaimana girangnya Sonia saat ingin menghampiri Nio dan teman-temannya. Sonia bahkan semakin melajukan langkahnya saat mendapati Nio yang kala itu tengah berdiri tak jauh dari pintu.
"Niooo!!" Panggilnya.
Nio pun seketika menoleh ke arahnya,
"Sonia??"
Tanpa ragu dan tanpa malu, Sonia pun langsung memeluk Nio begitu saja sembari mengucapkan kata selamat ulang tahun padanya.
Nio yang awalnya cukup terkejut saat Sonia memeluknya hingga membuatnya tercengang sesaat, akhirnya perlahan mulai kembali tersenyum tipis sembari mengusap singkat pundak Sonia.
"Terima kasih banyak Sonia, terima kasih sudah menyempatkan datang malam-malam kesini."
"Aaahh tidak apa-apa justru aku yang paling semangat untuk hal ini hehehe. Tapi sayangnya tadi di jalan ada sedikit trouble, itu sebabnya aku datang terlambat." Jelas Sonia yang menampilkan senyuman manisnya sembari mulai melepaskan pelukannya terhadap Nio.
Nio pun ikut tersenyum pada Sonia.
"Oh ya, ini untukmu." Sonia pun memberikan sebuah bingkisan untuk Nio sebagai hadiah ulang tahun.
"Wah, apa ini? Kenapa kamu harus repot-repot memberiku hadiah Sonia?" Tanya Nio sembari meraih bingkisan itu.
"Ah itu bukan apa-apa, tapi semoga saja kamu suka ya hehehe."
"Astaga, terima kasih sekali lagi ya, akan aku buka nanti, saat aku kembali ke kamar, tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa, begitu lebih baik hehehe." Sonia pun semakin mengembangkan senyumannya.
"Cie,, cieee, sepertinya ada yang lagi kasmaran ni." Ledek salah satu teman Nio.
"Wahh, wajah kalian berdua nampak memerah, apa itu artinya....???"
"Hei stop! Jangan buat Nio jadi merasa tidak nyaman, kami hanya berteman." Jawab Sonia namun sembari menggandeng tangan Nio.
"Bukan begitu Nio?" Tanya Sonia lagi.
"Iy,, iya!" Jawab Nio yang merasa sedikit tidak nyaman saat Sonia melakukan hal itu padanya.
Namun ternyata, disisi lain ada seseorang yang sedang memperhatikan hal itu hingga membuat hatinya mulai terasa panas, siapa lagi kalau bukan Rena. Kedua mata Rena nampak membulat saat melihat Sonia yang bisa dengan mudah memeluk Nio dengan begitu erat bahkan juga menggandengnya di hadapan teman-temannya.
Ada semacam perasaan kesal dan rasa sakit yang begitu sulit untuk di ungkapkan, namun jelas Rena merasakannya saat melihat hal itu.
Kedua tangan Rena yang kala itu tengah berpegangan di pembatas tangga, nampak sedikit gemetaran kala melihat adegan yang terlihat cukup mesra itu. Namun tetap saja ia tidak mampu berbuat apapun, bahkan mau marah saja ia harus berpikir berulang kali.
"Apakah aku pantas marah untuk masalah ini? Bukankah jika aku marah karena cemburu, akan sangat egois?" Gumam Rena lirih.
Namun tak sengaja, kedua mata Nio menyorot ke arah tangga, mendapati Rena yang sudah berdiri ditangga sembari menatapnya, membuat kedua mata Nio juga ikut membulat sempurna, bahkan senyuman yang sebelumnya terlukis di wajahnya, seketika lenyap begitu saja.
"Rena??" Ucapnya dalam hati yang nampak mulai panik.
Rena yang Menyadari jika Nio yang akhirnya mengetahui keberadaannya saat itu, sontak terkejut dan langsung melangkah cepat untuk kembali masuk ke kamarnya. Tanpa pikir panjang ia langsung mengunci pintu kamar, lalu ia pun berdiri terdiam di balik pintu kamar itu dengan perasaan yang makin tak karuan.
"Kenapa dia harus melihatku?" Tanya Rena lirih dalam hati.
...Bersambung......