
"Hmm ya sudah, aku ingin duduk bersantai di halaman belakang, bisakah kamu membuatkan aku kopi?"
"Tentu mas," Rena pun tersenyum tipis.
"Ya sudah, aku tunggu disana ya."
"Iya."
Rudy berjalan lebih dulu menapaki anak tangga, sedangkan Rena berjalan dengan sedikit lesu di belakangnya dengan segala macam pikirannya tentang Nio.
"Bagaimana dia bisa berpikiran untuk pergi minum-minum disaat seperti ini? Benar-benar menyebalkan sekali!!" Gerutu Rena dalam hati.
Selang beberapa menit, Rena kembali melangkah menuju halaman belakang dengan sudah membawakan secangkir kopi sesuai permintaan Rudy.
"Ini mas kopinya."
"Terima kasih." Ucap Rudy yang kala itu terlihat sedang membaca sebuah koran.
Rena hanya tersenyum sembari mengangguk pelan, beberapa menit mereka mengobrol santai tiba-tiba saja bi Inah datang.
"Maaf pak, bu, apa ada yang tau dimana mas Nio?"
"Nio??!!! Bukankah dia ada di kamarnya?" Jawab Rudy sembari mengerutkan dahinya.
"Maaf pak, tapi barusan saya ketuk-ketuk pintu kamarnya tidak ada jawaban."
"Tapi baru saja juga aku berpapasan dengannya dan melihat langsung jika dia memasuki kamarnya." Ungkap Rudy lagi.
"Benarkah pak? Lalu kenapa dia tidak menjawab ya?"
"Memangnya kenapa bi?" Tanya Rena kemudian.
"Itu bu, di depan ada mbak Sonia yang datang mencari mas Nio, katanya penting."
"Sonia? Siapa itu Sonia?" Tanya Rudy.
"Dia teman Nio, teman kuliahnya." Jelas Rena singkat.
"Oh ya?? Hmm bi Inah, kalau begitu tolong suruh dia masuk saja, saya ingin mengenal siapa teman wanita Nio itu." Ucap Rudy.
"Baik pak." Bi Inah pun mengangguk singkat dan kemudian langsung berlalu pergi.
"Apa kamu sudah mengenalnya Rena?"
"Sudah, dia bahkan pernah menginap disini semalam, saat ikut merayakan kejutan ulang tahun untuk Nio bersama teman-temannya yang lain."
"Oh ya? Bukankah itu berarti mereka sangat akrab? Atau mungkin mereka ada hubungan khusus?"
"Owh, ak,,, aku kurang tau mas, tapi setauku mereka hanya berteman."
"Haaissh, mungkin saja Nio masih malu untuk mengakuinya, karena jika ia, maka aku akan sangat senang. Ini pertama kalinya ada seorang teman wanita yang datang ke rumah ini mencari Nio, jadi kupikir Sonia ini lebih dari sekedar teman." Ungkap Rudy yang kemudian tersenyum senang.
Tak lama, bi Inah pun kembali muncul dengan membawa serta Sonia di belakangnya.
"Dimana dia bi?" Tanya Rudy.
"Ini pak." Bi Inah pun segera menepi hingga Sonia bisa terlihat.
"Halo om, selamat sore." Sapa Sonia dengan sangat ramah.
Rudy pun langsung melirik ke arah Sonia, memperhatikannya dari ujung kaki hingga rambut dan kemudian mulai tersenyum.
"Sore Sonia." Jawabnya.
"Halo tante, apa kabar?" Sonia pun langsung menghampiri Rena untuk memeluknya singkat dan mencium pipi kanan dan kirinya.
"Baik, kamu bagaimana?"
"Aku baik tante."
"Hmm duduklah dulu Sonia." Ucap Rudy.
"Ah iya om, terima kasih." Sonia tanpa ragu pun langsung saja duduk di sisi Rena dan berhadapan dengan Rudy.
"Apa benar kamu teman kuliah Nio?"
"Hehe iya om."
"Hanya sebatas teman? Apa kamu yakin?" Tanya Rudy secara gamblang.
Sonia pun sontak tersenyum kikuk dan terlihat sedikit malu-malu,
"Ah hehe maksudnya gimana ya om?"
"Yang om tau, hanya kamu teman wanita yang pernah datang kesini sendiri, bagaimana awalnya kamu bisa tau rumah Nio?"
"Oh itu hehe, Nio yang mengundangku untuk datang kesini om." Jawab Sonia yang kembali terbayang secara singkat bagaimana Nio yang menelponnya saat malam hari untuk memintanya datang dan terjadilah hubungan intim mereka yang kedua.
"Oh ya?? Bukankah itu berarti kamu cukup special bagi Nio? Nio tidak pernah mau mengundang temang wanita sebelumnya ke rumah ini."
"Ah benarkah om?" Sonia pun seketika tersenyum girang.
"Benar, tapi om tidak tau selama berada di luar kota, apakah dia ada mengundang wanita lain ke rumah ini."
"Owh, hmm, ti,, tidak ada mas."
"Nah, itu berarti hanya kamu."
"Ah ternyata begitu, hmm tapi sejujurnya kami hanya berteman om, Nio hanya menginginkan kami berteman,"
"Tapi apa kamu menyukai Nio? Atau kamu sudah punya pacar??"
"Ahh tidak om, aku tidak punya pacar, justru aku,,,,"
"Justru apa???"
"Sebenarnya aku masih mengharapkan Nio om, tapi sepertinya sulit karena dia sudah menyukai wanita lain,"
"Hah benarkah?! Siapa wanita itu?"
"Aku tidak tau om, tapi tadi dia mengatakan jika hubungannya bersama wanita itu sangat rumit dan sepertinya tidak berjalan mulus." Ungkap Sonia secara jujur yang seketika membuat jantung Rena seketika berdetak hebat.
"Mak,, maksudmu tadi?? Apa itu artinya tadi siang kamu bersama Nio?" Tanya Rena yang nampak begitu penasaran.
"Hehehe iya tante, kami minum bersama, dan disitulah dia banyak bercerita."
"Hanya berdua??" Tanya Rena lagi.
"Hehehe iya tante." Sonia pun tersenyum.
Sedangkan Rena, hatinya seketika terasa memanas saat mengetahui hal itu.
"Hmm jika kamu benar-benar menyukai Nio, maka teruslah berusaha, nanti om akan membantumu."
"Hah?! Serius om??" Kedua mata Sonia pun sontak membulat dengan senyuman yang semakin mengembang.
Sementara Rena, sontak dibuat terperangah memandangi suaminya itu.
"Iya, nanti om akan membantumu agar bisa lebih dekat dengan Nio, om sangat senang saat tau jika Nio memiliki teman wanita yang cukup dekat dengannya, apalagi jika temannya secantik kamu."
"Hehehe terima kasih banyak om." Sonia pun terus mengembangkan senyumannya saat menatap Rudy.
"Mungkin inilah jalannya, aku harus bisa mengambil hati papanya Nio, agar dia bisa merestui dan membantuku dekat dengan Nio." Gumam Sonia dalam hati.
"Rena, bisakah kamu suruh bi Inah untuk membuatkan minuman untuk tamu kita ini?"
"Owhh, biar aku saja mas." Rena pun seketika bangkit dari duduknya dan langsung berlalu pergi menuju dapur meninggalkan Rudy dan Sonia melanjutkan perbincangannya.
Secara diam-diam Rena meneteskan air matanya saat berada di dapur, mengetahui Nio yang ternyata habis minum-minum bersama Sonia, benar-benar membuat hatinya merasa sakit, bayang-bayang Nio yang kembali melakukan hubungan intim bersama Sonia pun mulai mengganggu pikirannya.
"Setelah minum bersama dan mabuk, lalu hal apalagi yang bisa mereka lakukan selain melakukan hubungan ranjang??" Gumam Rena lirih dalam hati.
"Kamu benar-benar keterlaluan Nio, kamu sudah menyakiti perasaanku, kamu menuduhku dengan lelaki lain sementara kamu bahkan benar-benar melakukan hal itu bersama wanita itu!!" Tambahnya lagi sembari terus meneteskan air matanya,
Entah sudah berapa menit lamanya Rena berada di dapur, tak ingin mengundang tanda tanya dari Rudy, Rena pun bergegas mengusap air matanya, memastikan wajahnya terlihat baik-baik saja dan akhirnya kembali keluar dengan membawa secangkir teh untuk Sonia.
"Tidak apa-apakan kalau kita berbincang dulu disini?" Tanya Rudy begitu Rena kembali datang.
"Oh sama sekali tidak apa-apa om, justru saya senang bisa berbincang dengan kedua orang tua Nio."
"Oh ya, nanti malam kami ingin makan malam di luar, bagaimana kalau kamu ikut bergabung??"
"Hah??! Om mengajakku untuk ikut makam malam bersama kalian? Om serius??"
"Tentu saja."
"Mau om, aku mau!!"
"Ya sudah, nanti malam ya."
"Iya om, aku pasti datang."
"Owh, tapi ini sudah sangat sore." Celetuk Rudy ketika melirik ke arah jam tangannya yang kala itu sudah menunjukkan pukul 17.10 sore.
"Bagaimana kalau kamu pergi dari sini, tidak perlu pulang ke rumah."
"Ta,, tapi om, aku ingin memiliki penampilan terbaik saat makan malam bersama kalian terutama di depan Nio."
"Ah jika itu masalahnya tidak usah di pikirkan."
"Ya, ka,,, kamu bisa memakai baju tante Sonia."
"Haaissh tante, aku bahkan belum memulangkan baju tante yang kemarin,"
"Tidak apa-apa, baju yang itu kamu pakai saja, lebih cocok untukmu."
"Benarkah tante?"
"Iya." Jawab Rena sembari tersenyum penuh keterpaksaan.
"Aaa tante, terima kasih banyak."
Bersambung...