Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 9


PleaseπŸ™ jangan nabung bab ya πŸ™πŸ˜Œ**update tiap hari lebih dari satu bab β™₯️**


Namun, tiba-tiba Abi Hakim datang mengejutkan mereka bertiga.


"Aya, seseorang datang untuk menemuimu, orang itu ada di rumah Abi," tukas Abi Hakim, Shanaya dan Humairah saling pandang satu sama lain.


'Siapa orang itu?' batin Ustaz Aiman, yang ikut penasaran dengan tamu yang datang menemui Shanaya. Humairah dan Shanaya pergi menyusul Abi Hakim yang lebih dulu telah meninggalkan tempat tersebut.


Ustaz Aiman, yang penasaran akhirnya menyusul Humairah dan Shanaya yang sudah pergi ke rumah Abi Hakim.


Melihat jam di dinding rumah Abi Hakim, memang sudah bisa di katakan bukan di jam pantas untuk orang bertamu, tetapi siapa yang datang untuk bertamu di segini pikir Shanaya dan Humairah lagi.


Abi Hakim, berdiri di samping sofa dimana pria tersebut duduk, Shanaya dan Humairah, baru saja tiba dan cukup penasaran dengan tamu yang datang di jam malam, biasanya Abi tidak akan memperbolehkan siapapun bertamu di atas jam 21:00, malam. Tetapi, ini cukup bikin mereka penasaran karena Abi Hakim mengizinkan pria itu untuk bertamu di jam 23:00, malam.


"Tuan, mereka di sini," ujar Abi Hakim, pria itu berdiri lalu berbalik, sontak membuat Shanaya terkejut saat melihat raut wajah pria yang datang menemuinya.


"Kakak?" gumam Shanaya, yang menutup mulutnya, lalu bergegas menghampiri pria itu, dan memeluknya dengan erat.


Rasa rindu yang selama ini Shanaya tahan, akhirnya dapat terobati. Lucki mengetahui Shanaya tinggal di pondok pesantren atas informasi yang di berikan Abi Hakim, beberapa hari yang lalu, saat tak sengaja melihat Lucki yang duduk termenung di acara dakwah Abi Hakim, yang di gelarkan di mesjid Al-akbar, dua hari yang lalu.


Bahkan, Abi Hakim menceritakan perihal seorang pria yang mencoba ta'aruf dengan Shanaya, bahkan saat ini ke duanya telah gagal bertaaruf lantaran pria itu kedapatan membohongi mereka semua.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Lucki, begitu dia melepas pelukannya dengan Shanaya, dan memegang kedua pipi milik Shanaya, memperhatikan penampilan Shanaya yang nampak berbeda.


"Shanaya baik, bagaimana dengan kakak? bagaimana dengan kakek? dan bagaimana dengan mama?" Shanaya menanyakan kabar semua orang, sehingga membuat Lucki tak dapat menahan air matanya lagi, apalagi melihat netra Shanaya yang nampak berkaca-kaca.


"Apa kamu merindukan mereka semua? kondisi kakek sedang tidak baik-baik saja, saat ini kakek sedang berada di kondisi kritis, dokter telah menyerah untuk melakukan hal untuk menyembuhkan kakek, " ungkap Lucki, membuat Shanaya merasa bersalah karena telah meninggalkan rasa kecewa untuk keluarganya.


"Tapi, apa yang membuatmu memakai ini?" Lucki melihat penampilan Shanaya dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas.


"Ini adalah pakaian yang ku minat sekarang, Kak. Ini adalah pakaian yang melindungiku, dari mata jahat, serta dari mata nafsu para lelaki yang melihat perempuan, langsung ingin menerkamnya," ujar Shanaya, dan tersenyum kepada Lucki. Pria ini menyentuh kepala sang adik dengan manja, dan tersenyum saat mendengar ucapan Shanaya.


"Kejahatan terjadi karenanya kesempatan dan niat, sebagus apapun pakaianmu, kalau memang lelaki itu dasarnya bejat, dia tetap akan menggodamu. Tetapi, jika saja dia tidak berniat untuk mengganggumu, seburuk apapun lelaki itu, dan seburuk apapun pakaian yang kamu pakai, dia juga tidak akan menggodamu."Imbuh Lucki, membuat Abi Hakim mengangguk pelan, dan mengerti dengan maksud ucapan dari Lucki.


"Setidaknya, kita dapat menghindarinya, bukan kak? karena perbuatan setan itu hanya bisa di cegah dengan iman kita, kalau lelaki itu minim iman, tentu saja setan akan berhasil menggodanya," timpal Humairah, kali ini Lucki terdiam, karena pada dasarnya wanita adalah pemenang, dan tak mau mengalah kalau sudah berdebat.


"Tuan Lucki, Anda harus paham. Dua wanita ini tidak mau membuat Anda menang dalam berdebat, kadang mengalah untuk membuat mereka senang juga sebuah bentuk yang mulia, karena telah membuat mereka bisa tersenyum," sambung Abi Hakim, akhirnya Humairah dan Shanaya tertawa kecil, begitu juga dengan Lucki yang akhirnya sadar kalau ke dua wanita itu sengaja berdebat dengannya.


Abi Hakim, kembali meminta Humairah untuk menyeduhkan kopi serta membawa beberapa cemilan untuk Lucki. Tetapi, pria ini dengan sopan menolak perintah itu.


"Abi, saya ingin segera berpamitan, serta ingin membawa adik saya untuk kembali ke rumah, saya berterima kasih atas apa yang sudah Abi lakukan untuk adik perempuan saya," ujar Lucki, merangkul bahu Shanaya.


Lucki mencium punggung tangan Abi Hakim sebelum mereka meninggalkan tempat tersebut.


"Aya, jika kamu memiliki waktu luang, mampirlah kemari aku menantikan kedatanganmu," tukas Humairah, yang memeluk Shanaya, serta Shanaya berpamitan dengan Humairah dan juga Abi Hakim.


Shanaya tak membawa satu 'pun barang dari rumah Abi Hakim, karena Shanaya sadar semua itu bukan miliknya melainkan milik Humairah. Wanita ini tidak akan mengambil yang bukan haknya, padahal Humairah sudah menyuruh Shanaya untuk membawa semua pakaian yang Shanaya pakai selama di pesantren tersebut.


Lucki dan Shanaya keluar dari rumah Abi Hakim, dari jauh Ustaz Aiman melihat mereka, pria ini masih bersembunyi di bawah pohon mangga, sembari mengintip dua orang yang masuk ke dalam mobil.


"Ternyata selain cantik, dia juga berasal dari keluarga yang mampu, aku takkan pernah salah jika memilih dia menjadi pengantin wanitaku."Gumam Ustaz Aiman, sembari melihat mobil putih itu keluar dari halaman rumah Abi Hakim.