
Ferdi, telah di jemput oleh Bagas pagi-pagi buta, sehingga tak ada yang tahu jika tadi malam Ferdi menginap di rumah Hartawan.
Shanaya masih merasakan sakit, pada sekujur tubuhnya akibat ulah Ferdi, tetapi saat ini Shanaya membaca pesan singkat dari sang suami membuat Shanaya tersenyum-senyum bahagia.
Shanaya sudah membereskan sprei bekas semalam, dan memasukannya ke dalam keranjang baju kotor, Shanaya tak ingin orang rumah mengetahui hal semalam, tetapi dia juga harus membawa kain kotor itu keluar dari rumahnya.
Merasa Shanaya tak keluar untuk sarapan, Juwita 'pun pergi untuk melihat sang anak yang masih di kamar, berharap Shanaya baik-baik saja. Sebelum masuk, terlebih dulu pintu kamar Juwita ketuk dulu dari luar, karena jika langsung membuka Juwita akan merasa dirinya tak sopan, biarpun itu kamar anaknya sendiri.
Setelah mendengar jawaban dari Shanaya, Juwita membuka kamar tersebut, dan mendapati sang anak yang duduk di tepi ranjang.
"Sayang, kamu sakit?" tanya Juwita, saat melihat raut wajah Shanaya yang sedikit pucat, wanita ini menggeleng cepat, agar tak membuat Juwita cemas. Tetapi, Juwita langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Shanaya, dan Juwita langsung menarik ketika merasakan suhu tubuh Shanaya yang begitu panas.
"Ayo, kita ke rumah sakit, Sayang!" ajak Juwita yang menarik tangan Shanaya.
"Aah!" desis Shanaya yang merasakan sakit pada bagian bawahnya, karena Juwita menarik paksa dirinya untuk berdiri.
"Kenapa? apa yang terjadi, Sayang?" tanya Juwita panik seketika, saat melihat Shanaya yang menahan rasa sakit pada bagian sensitifnya. Shanaya, berusaha untuk tersenyum dan menyembunyikan hal itu kepada Juwita.
"Nggak, apa-apa, ma. Ayo, kita turun untuk sarapan," ajak Shanaya, raut wajah Juwita terlihat masih penasaran dengan apa yang terjadi kepada Shanaya.
Shanaya, sebisa mungkin menyembunyikan hal itu dari Juwita, dia bahkan menahan rasa sakit ketika dia berjalan menuruni anak tangga rumahnya. Juwita masih curiga dengan gelagat Shanaya, tetapi Juwita tidak bisa bertanya terlalu banyak, karena Shanaya pasti tidak akan menceritakannya kepada Juwita.
Tiba di meja makan, di sana sudah ada Lucki dan juga Kakek Hardiman. Semenjak Shanaya tiba di ruang makan hingga wanita itu duduk, Lucki memperhatikan Shanaya dengan penuh rasa curiga.
Shanaya menyadari tatapan Lucki, sehingga Shanaya berusaha untuk menghindar tatapan itu, agar tak membuat Lucki mengetahui hal yang sebenarnya.
Hampir 30 menit berlalu, mereka semua telah selesai sarapan bersama, Kakek Hardiman berpamitan untuk berangkat ke kantor bersama dengan Lucki, pria ini mencemaskan sang adik yang terlihat sedikit pucat, tetapi Lucki menepis perasaan itu jauh-jauh.
Setelah kepergian Lucki, dan juga Kakek Hardiman. Kini tinggallah Juwita dan Shanaya di rumah. Saat ini, Juwita tengah fokus pada majalah yang ada di tangannya, sedangkan Shanaya sedang menonton siaran berita di pagi hari di ruang tamu, dan Juwita juga berada di sana, sesekali melirik ke arah sang anak untuk memastikan Shanaya baik-baik saja.
"Mau kemana?" tanya Juwita yang melihat Shanaya berdiri, wanita ini merasakan pusing di bagian kepalanya. Mendadak Shanaya meriang, setelah satu malam bersama dengan sang suami, tubuhnya menjadi jadi demam, dan seluruh tubuh masih terasa sakit.
"Hati-hati," ucap Juwita, yang melihat Shanaya akan terjatuh, lalu Juwita kembali memeriksa suhu tubuh Shanaya, dan demamnya semakin tinggi.
"Kita ke rumah sakit, " ajak Juwita, Shanaya menggeleng cepat kepalanya, karena saat ini Shanaya sedang berusaha menunggu Ferdi dan juga keluarganya, Shanaya tak ingin melewatkan momen itu.
"Shanaya, baik-baik saja ma. Shanaya, nggak apa-apa," Shanaya kembali duduk di sofa, karena enggak sanggup berdiri terlalu lama.
"Tunggu disini, mama ambilkan minum untukmu,"
Shanaya hanya mengangguk kecil, lalu Juwita bergegas ke dapur untuk mengambil segelas minuman mineral untuk Shanaya. Tak lama, Juwita kembali lagi ke ruang tamu, dengan segelas air di tangannya.
Shanaya di mintai untuk beristirahat sebentar oleh Juwita sembari menunggu kesehatannya membaik. Shanaya menurut saja apa yang di katakan ibunya, dia berbaring di sofa panjang yang ada di ruang tamu, sembari memejamkan matanya sejenak.
Dua jam telah berlalu, Shanaya tak juga membaik, tubuhnya kini menggigil membuat Juwita panik, seketika. Juwita segera meminta sopir untuk menyiapkan mobil untuk mereka, karena Juwita akan membawa sang anak ke rumah sakit.
Juwita membantu Shanaya untuk berdiri, dan memapah tubuh Shanaya menuju mobil, agar Shanaya bisa segera di larikan ke rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, beberapa perawat membawa kursi roda, dan meminta Shanaya untuk segera duduk di atas kursi roda. Perawat tersebut mendorong Shanaya menuju ruang pemeriksaan, dimana dokter Sintia berada, wanita ini adalah teman akrab mama Shanaya.
"Sintia, tolong periksa anakku, tiba-tiba dia demam, dan itu cukup tinggi membuat ku khawatir," ujar Juwita, Sintia langsung memeriksa Shanaya dengan telaten, sesekali tersenyum ke arah Shanaya.
Juwita, di mintai Sintia untuk menunggu di luar ruangan, karena Sintia tidak bisa fokus jika ada orang lain, di dalam ruangannya. Begitu selesai di periksa, Shanaya di mintai untuk berbaring sebentar, sampai cairan infus habis.
"Jadi, dok saya sakit apa? Tanya Shanaya, setelah Dokter Sintia menyimpan semua alat medisnya.
"Hanya demam biasa, nanti saya tulis resep. Kamu bisa meminta mamamu untuk mengambilnya di farmasi,"ujar Sintia yang saat ini sedang menulis resep obat untuk Shanaya.
Di tempat lain, Ferdi dan juga Bagas telah bersiap-siap untuk pulang, Ferdi berencana untuk menjemput Kakek Rudi terlebih dulu di rumah, baru dia akan datang menjemput Shanaya di rumahnya.
"Tuan, kita pulang sekarang?" tanya Bagas, yang meletakkan beberapa berkas di atas meja Ferdi.
"Kita pulang sekarang," Ferdi menyimpan berkas yang ada di tangannya ke dalam lemari. Setelah itu, dia mengambil ponselnya.
"Anda belum memiliki nomer Nyonya muda?" tanya Bagas, pria ini hanya menggeleng singkat kepalanya.
"Nanti saja, aku sudah menyimpan sebuah nomer couple untuknya," tukas Ferdi, dengan raut wajah yang tersenyum.
Ferdi dan juga Bagas, bergegas pergi meninggalkan ruangan ceo. Tetapi, sebelum pergi Ferdi terlebih dulu datang ke ruangan Firman, dan berpamitan dengan Firman.
Kini Ferdi dan juga Bagas berada di dalam mobil, sebelum mobil meleset pergi meninggalkan parkiran kantor, Ferdi tidak pernah menghilangkan senyum di raut wajahnya yang membuat Bagas menggelengkan kepalanya tak percaya akan hal itu. Padahal, dulu Ferdi sangat dingin dengan namanya cinta.
Bagas menyetir dengan kecepatan rata-rata, sepanjang perjalanan Ferdi hanya bisa tersenyum kala teringat akan kejadian semalam yang dia lewati bersama dengan sang istri.
"Apa yang terjadi?" tanya Ferdi, di saat Bagas berhenti mendadak.
"Sepertinya ada kecelakaan tuan," Bagas menoleh, Ferdi menurunkan sedikit kaca mobilnya dan melihat sosok wanita yang tak asing baginya.
"Clara?"gumam Ferdi, pria ini segera meminta Bagas untuk menepikan mobilnya. Setelah mobil berhenti, Ferdi segera turun untuk melihat keadaan, Clara.
Bagas juga ikut menyusul Ferdi, karena bagaimana Bagas bertanggung jawab atas keselamatan Ferdi.
"Clara,"
"Ferdi," wanita ini segera memeluk Ferdi, membuat Ferdi terkejut, dan Ferdi berusaha untuk melepas pelukan Clara karena tak ingin membuat orang lain salah tangkap akan hal itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Ferdi, kemudian.
"Aku sedang menyetir, tiba-tiba anak ini muncul di depan mobilku, dan aku tak sengaja menabraknya,"
Ferdi, meminta Bagas, untuk mengurus korban yang di tabrak oleh Clara, sementara Clara meminta bantuan Ferdi untuk membawanya ke rumah sakit. Mau tak mau, sebagai rasa bentuk kemanusiaannya, Ferdi 'pun menolong Clara dan membawanya ke rumah sakit.
Ferdi bersama dengan Clara pergi ke rumah sakit, sedangkan Bagas mengurus korban yang tadi di tabrak oleh Clara.
Di rumah sakit, Shanaya juga meminta Dokter Sintia melepaskan jarum infus yang terpasang di punggung tangannya, melihat cairan itu telah habis. Juwita telah menghubungi Lucki, dan memberitahu pria itu bahwa adiknya sakit, tetapi Juwita tak meminta Lucki untuk datang, teringat Kakek Hardiman sendiri di perusahaan.
"Istirahat yang cukup, ini biasa terjadi pada pengantin baru," sindir Dokter Sintia, Shanaya tersipu malu, untung saja Juwita sedang berada di tempat farmasi sehingga tak mendengar pembicaraan mereka berdua.
Setelah Juwita selesai, dia 'pun kembali menemui Shanaya di dalam ruangan Dokter Sintia. Juwita dan Shanaya berpamitan dengan Dokter Sintia, bahkan Juwita sudah menyimpan nomer telepon baru Dokter Sintia agar memudahkannya untuk mengubungi.
Juwita memapah tubuh Shanaya, tetapi Shanaya selalu berkata kalau dia baik-baik saja setelah berada di rumah sakit selamat dua jam lamanya.
"Pelan-pelan," ucap Juwita membuka pintu mobil, dan Shanaya segera masuk, begitu juga Juwita. Sebelum mobil mereka meninggalkan tempat parkiran rumah sakit, Shanaya melihat Ferdi bersama dengan Clara, di sini posisinya Ferdi sedang memapah tubuh Clara yang katanya wanita itu tengah pusing, dan tidak sanggup untuk berjalan, meminta Ferdi untuk menuntunnya ke ruang pemeriksaan.
"Mas Daffa," gumam Shanaya, yang melihat suaminya bersama dengan wanita lain, membuat dada Shanaya seketika sesak, tetapi Shanaya mencoba percaya apa yang di lihatnya tak sama dengan apa yang sedang terjadi.
"Shanaya, kamu kenapa?" tanya Juwita, wanita ini menggelengkan kepalanya serta menyembunyikan air mata yang tak sengaja menetes. Air mata Shanaya membasahi cadar yang dikenakannya, dia sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya dari Juwita.
"Pak, kita pulang,"
"Baik, Nyonya."
Mobil tersebut melesat pergi meninggalkan rumah sakit, dan membawa hati Shanaya yang saat ini merasakan sakit, dia takut jika suaminya berkhianat, setelah malam pertama mereka.
Shanaya, meremas ujung hijabnya serta gamis yang dia kenakan, sebisa mungkin menyembunyikan kesedihan itu dari Juwita.
Sampai mereka tiba di rumah, Shanaya belum mengatakan apapun kepada Juwita, karena itu masalah dia dengan sang suami, jadi dia akan menyelesaikannya berdua.
Juwita dan Shanaya turun dari dalam mobil, Bi Inah, pembantu baru mereka, menunggu di depan teras.
"Bi, keluarga Adipratama datang?" tanya Juwita, Shanaya melirik sekilas ke arah Juwita.
"Tidak, Nyonya. Tidak ada satupun tamu yang datang ketika Nyonya pergi," tukas Bi Inah.
"Ma, Shanaya duluan," Shanaya langsung masuk ke dalam rumah, membuat Juwita bertanya-tanya apa yang telah terjadi kepada putrinya, dia sempat melihat cadar yang dikenakan Shanaya basah, tetapi Juwita tidak mau ambil pusing akan hal itu, pikirannya tetap positif.
Di dalam kamar, Shanaya duduk sembari menangisi apa yang baru saja di lihatnya.
"Mas, kamu mengkhianati aku?" gumam Shanaya, kembali terisak.
Bersambung ....