
Ferdi segera terbang ke Bali, tanpa memberitahu Bagas, demi menuruti keinginan sang istri. Padahal, kalau 'pun tidak di turuti Shanaya juga tidak akan masalah akan hal itu.
Tepat jam 20:30, malam. Ferdi, sudah mendarat di Jakarta lagi, dan saat ini Ferdi berada di pondok pesantren, Ferdi menurunkan semua makanan dan barang milik Shanaya yang dia belikan di Bali.
Ferdi, semua orang sedang sholat di mushola yang ada di dalam halaman pondok pesantren, hanya Shanaya dan Humairah yang sholat di rumah Abi Hakim.
Tak sengaja Ferdi, dan Ustaz Aiman berpapasan saat Ferdi, akan pergi menuju rumah Abi Hakim.
"Kamu lagi?" ucap Ustaz Aiman, Ferdi langsung menatap malas pria yang berusaha merebut Shanaya darinya.
"Kamu pasti mau bertemu dengan Shanaya 'kan? mending kamu menyerah saja deh, Shanaya sudah mau ta'aruf bersama denganku," tukas Ustaz Aiman bangga, tetapi malah membuat Ferdi ingin tertawa sekuat tenaga Ferdi berusaha agar tak terlepas di depan pria itu.
"Apa yang membuat kamu ketawa? siap-siap saja kamu akan menangis," lanjut Ustaz Aiman, Ferdi langsung mendekat dan membisikan sesuatu kepada Ustaz Aiman, membuat pria itu terkejut dan membulatkan matanya tak percaya. Ferdi langsung berlaku dari tempat itu sembari bersiul.
"Dia...." Gumam Ustaz Aiman, yang saat ini sedang menahan malunya.
"Apa kamu mengatakan yang sebenarnya?" tanya Ustaz Aiman, yang sedikit meninggikan suaranya, karena Ferdi sudah berlalu pergi dari hadapan Ustaz Aiman. Tidak ada jawaban, Ferdi hanya mengangguk dari jauh semakin membuat Ustaz Aiman terkejut dan mengusap wajahnya yang begitu malu telah memprovokasi Ferdi.
Kedatangan Ferdi, di sambut ramah oleh Abi Hakim dan Humairah, berhubung Humairah dan Abi Hakim ada pengajian, mereka meninggalkan Ferdi dan Shanaya di rumah.
"Jadi, Mas Daffa memberitahu Ustaz Aiman, kalau kita berdua...."
"Iya, kamu tahu wajahnya langsung pucat dan matanya melotot," ujar Ferdi, lalu tertawa bersama dengan Shanaya mengingat bagaimana dia membuat Ustaz Aiman malu.
"Mas jahat, bisa-bisanya berkata begitu. Kasian lho Ustaz Aiman," tukas Shanaya yang membuka bungkusan sate lilit. Serta kotak es krim yang di belikan Ferdi untuknya.
"Kamu suka?" tanya Ferdi, saat Shanaya memegang kotak es krim.
Ferdi, senang dapat melihat Shanaya kembali tersenyum, dan sejenak Shanaya telah melupakan kejadian buruk yang menimpanya. Tetapi, tetap saja Ferdi harus membuktikan hal itu kepada pihak kepolisan, kalau istrinya tak bersalah. Apalagi dalam dua hari ini polisi selalu datang ke rumah Adipratama untuk melakukan penyidikan atas kasus kematian Kakek Rudi.
Ferdi, dan Shanaya kini berada di sebuah lesehan yang ada di depan rumah Abi Hakim. Keduanya senang memandangi langit dan menikmati sate yang di belikan Ferdi tadi.
"Bagaimana keadaan baby kita?" tanya Ferdi, lembut sembari mengusap perut Shanaya yang mulai berbentuk.
Wajah Shanaya bersemu merah dan dia terlihat malu, ketika Ferdi menyentuh perutnya. " Baby sangat sehat, Sayang,"
Ferdi langsung menatap ke arah Shanaya, saat wanita ini memanggil dirinya dengan sebutan sayang, dan itu berhasil membuat Ferdi tersenyum bahagia.
"Aku nggak mengatakan apa-apa," ucap Shanaya sembari menutup mulutnya, Ferdi malah mendekatkan diri dengan Shanaya, dan ingin menggoda wanita itu lagi.
"Mas, sana lagi duduknya nanti di lihat orang," tukas Shanaya, berusaha mendorong Ferdi, tetapi Ferdi tak mau menggesekkan pantatnya sehingga Shanaya harus mencoba mundur sedikit demi sedikit.
"Hati-hati," ucap Ferdi menangkap Shanaya yang hampir terjatuh, dan Ferdi menarik Shanaya ke dalam pelukannya membuat jarak keduanya begitu dekat. Hembusan angin malam membuat suasana malam itu begitu romantis, apalagi cahaya yang dari pantulan sinar bulan malam, membuat suasana begitu indah.
"Aku mencintaimu dan anak kita, kalian berdua harus bersabar ya, Sayang," Ferdi, memegang kedua tangan Shanaya dan mencium punggung tangan Shanaya.
"Sabar ya sayang, aku akan membuktikan kamu tak bersalah, beri aku waktu dua hari ini, aku akan membebaskanmu dari tuduhan apapun!" lanjut Ferdi dengan tegas dan mengecup kening Shanaya dengan mesra. Sebelum Ferdi berpamitan dengan Shanaya, untuk meninggalkan tempat itu, Ferdi lebih dulu meminta kecupan manis di bibir Shanaya untuk mengobati rasa rindunya.
Begitu Ferdi pergi, Humairah kembali ke rumah Abi, atas pesan yang di kirimkan Ferdi kepada wanita itu. Karena, Humairah tidak bisa meninggalkan Shanaya sendiri di rumah dalam keadaan seperti itu, apalagi kondisi mental Shanaya setelah melihat kematian Kakek Rudi di depan mata membuat dia selalu di bayangi rasa bersalah, padahal Shanaya tidak melakukan hal kejam itu.
Bersambung....
Jangan kemana-mana ya, eps berikutnya akan segera meluncur ☺️