Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 44


Jangan melewati like ya, kami up banyak bab 🙏


Hari ini Ferdi ingin membuat meeting dengan pengacara keluarga Adipratama, bagaimanapun Shanaya masih memiliki hak atas warisan yang di berikan Kakek Rudi, kepadanya. Jadi, hari ini Ferdi, mengumpul semua orang di ruangan CEO di perusahaan Adipratama.


Di dalam ruangan CEO, sudah ada Firman dan juga Bagas, tetapi belum ada Ferdi dan pengacara keluarga Adipratama, padahal yang membuat janji Ferdi, dia juga yang datang terlambat.


Ferdi, terpaksa datang terlambat, karena harus mengantar sarapan pagi untuk istri tercinta yang saat ini berada di pondok pesantren Abi Hakim.


Tiba Ferdi di kantor, ternyata pengacara Adipratama, Tuan Giant juga baru tiba di sana, Tuan Giant ini sudah menjadi pengacara keluarga Adipratama saat Ferdi masih kecil, dulu waktu muda sangat tampan, sekarang terlihat begitu berwibawa dan banyak uang, itulah Tuan Giant.


"Selamat pagi, Tuan muda," sapa Tuan Giant.


"Pagi, apa masih bisa di bilang muda? saya sudah menikah sebentar lagi menjadi seorang ayah," ujar Ferdi, dan membuat Tuan Giant terkekeh.


"Selamat atas kehamilan, Nyonya Shanaya." Ferdi menaikkan satu alisnya ketika ucapan selamat untuk istrinya itu di ucapkan oleh Tuan Giant, karena seharusnya Tuan Giant tahu, penyebab kematian Kakek Rudi, saat ini semua bukti dan tuduhan tertuju kepada istrinya.


"Terima kasih," tangan keduanya terlepas, ketika akan masuk ke dalam lift.


"Apa Anda tahu sesuatu?" tanya Ferdi, Tuan Giant hanya mengangguk, sembari mengangkat tasnya, mungkin di dalam itu ada bukti lain, yang dapat menyelamatkan Shanaya.


"Saya tahu, Anda adalah yang terbaik," puji Ferdi, membuat Tuan Giant tersenyum bangga. Menjadi, pengacara keluarga Adipratama, telah mengangkat derajat pria ini begitu tinggi, bagaimanapun dia harus bisa mencari bukti dan juga dalang dari kematian Kakek Rudi.


Tiba di lantai, dimana ruangan Kakek Rudi berada. Ferdi, dan Tuan Giant segera masuk ke dalam, semua orang telah menunggu mereka berdua.


"Selamat datang, Tuan Giant," sapa Firma, begitu juga dengan Bagas, semua orang duduk kembali di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


Tuan Giant, langsung membahas hak warisan yang di terima oleh Shanaya. Seperti tertulis di dalam surat wasiat, Shanaya berhak mendapat warisan dari Kakek Rudi, dan jumlah Shanaya yang lebih banyak dari anak dan cucu Kakek Rudi.


"Tidak bisakah, hak warisan untuk Shanaya di hapus saja, bukankah dia yang telah mem...."


"Untuk sementara kita tidak bisa menghapus itu, terlebih lagi saya sudah menemukan bukti lain, dan bukti itu ada di sini," tukas Pengacara Giant, membuat semua orang terkejut, tetapi tidak dengan Ferdi. Firman dan Bagas, terlihat begitu terkejut, karena Pengacara Giant telah berhasil menemukan barang bukti lain.


"Ketika peristiwa itu terjadi, Kakek Rudi baru saja selesai menghubungi saya, dan ternyata ponselnya tidak mati," ujar Tuan Giant, sementara itu ada orang lain di dalam ruangan itu yang nampak gugup, padahal apapun yang di katakan oleh Tuan Giant, adalah sebagian dari rencana Lucki dan Pengacara Giant.


"Oh iya, ponsel ayah, dimana ponsel ayah? kenapa kita semua lupa dengan ponsel itu?" Firman bertanya kepada semua orang, tetapi Ferdi nampak memandang lain ke arah Firman.


'Kenapa papa begitu gugup? apa papa tahu kejadian yang sebenarnya?' batin Ferdi, memperhatikan gerak-gerik Firman.


"Untuk sementara belum bisa ku katakan lebih lanjut lagi, hanya itu saja. Semua bukti baru ada sini semua, dan tas ini akan saya simpan di dalam lemari, bersama dengan barang milik Kakek Rudi," tukas Pengacara Giant, lalu berdiri dan membuka lemari yang ada di dalam ruangan tersebut untuk menyimpan tas yang di bawanya tadi.


Semua orang kini meninggalkan ruangan Kakek Rudi. Firman dan Bagas, berpisah di depan ruangan itu. Hanya Tuan Giant dan Ferdi yang berjalan ke arah ruangan Ferdi.


Tiba di dalam ruangan Ferdi, pria ini mengunci pintu dari dalam, berharap tidak ada yang akan masuk.


"Jadi, apa bukti itu benar sudah ada?" tanya Ferdi, yang sejak tadi sudah penasaran bukti apa yang telah di temukan oleh Pengacara Giant.


Pengacara Giant tertawa kecil, mendengar pertanyaan dari Ferdi. "Tidak, ini semua adalah rencana Tuan Lucki. Siapapun saat ini bisa saja jadi pelaku utama, termasuk aku, ataupun Anda Tuan Ferdi," tukas Pengacara Giant, membuat netra Ferdi membulat sempurna.


Pengacara Giant, bangkit dari tempat duduknya. Membenarkan jas mewah yang di kenakan, mengipas pelan pundak dengan tangan, serta melirik ke arah Ferdi yang masih setia didik di sofa single sembari menatap Pengacara Giant dengan intens.


"Pelaku bisa saja dari Tuan Firman atau Tuan Bagas, saat ini empat orang yang mendapatkan hak warisan dari Kakek Rudi, patut di curigai," ujar Pengacara Giant, lalu berpamitan dengan Ferdi.


"Saya, permisi dulu Tuan Ferdi,"ucapnya yang pergi meninggalkan ruangan Ferdi.


'Kenapa Tuan Giant terlihat begitu mencurigakan?'batin Ferdi yang masih terbayang jelas bagaimana pria itu tersenyum sinis ke arahnya, seperti sedang mengatakan kalau mereka semua telah berhasil di permainkan oleh seseorang.