
Jangan nabung bab ya🙏 kita update tiap hari ♥️
"Sudah, kamu istirahat saja, mama tidak akan menganggumu lagi, kamu juga perlu ganti pakaian bukan? ayo, Lucki kita keluar biarkan adikmu istirahat dulu," Juwita mengecup pelan kening Shanaya sebelum mereka benar-benar pergi meninggalkan kamar Shanaya.
Juwita dan Lucki, pergi meninggalkan kamar Shanaya. Wanita ini masih duduk di atas kasur dengan raut wajah yang jelas terlihat begitu membingungkan.
"Aku menikah dengan Daffa? dan Daffa, menikah denganku? jadi ...." Shanaya mulai memikirkan kembali perjodohan yang di lakukan oleh dua keluarga untuk mereka berdua. Shanaya memegang kepalanya yang tidak sakit, wanita ini masih semakin bingung.
"Jadi, mereka pikir aku dan Daffa saling membenci? oleh sebab itu mereka memisahkan kami untuk sementara waktu?" lanjut Shanaya yang berbicara pada diri sendiri.
Shanaya turun dari ranjang, dan ingin berganti pakaian, melihat jam di dinding 'pun sudah menunjukkan sore hari. Sebentar lagi sholat ashar pikirnya, lebih baik menghapus riasan dulu, sebelum sholat.
Di tempat lain, Ferdi berada di dalam kamarnya, Bagas juga bersama dengannya.
"Jadi, ceritakan padaku apa yang telah terjadi?" Bagas memilih bertanya setelah dia melihat raut wajah Ferdi yang tak rela di pisahkan dengan Shanaya sementara waktu.
"Bagas, kamu ingat? wanita yang ingin ku cari di pondok pesantren dua hari yang lalu?"
Bagas mengangguknya, sembari melihat ke arah Ferdi yang berdiri di depannya.
"Nah, wanita yang ku nikahi tadi pagi, adalah wanita yang ku cari selama ini, dia itu Aya!" ucap Ferdi dengan lantang, membuat Bagas terkejut hingga berdiri dari tempat duduknya.
"Jadi, maksud Tuan istri Tuan itu adalah wanita yang Tuan cintai?"
Ferdi mengangguk, sembari mencengkram ke dua bahu Bagas, pria ini semakin membulatkan matanya.
"Tetapi, kenapa Anda membencinya? dan tak ingin tinggal bersama?" tanya Bagas lagi.
"Justru itu yang mau ku katakan padamu, aku tak membencinya tetapi aku mencintai!" tegas Ferdi, lalu pria ini berkacak pinggang sembari memikirkan cara agar dia bisa tinggal bersama dengan Shanaya tanpa harus menunggu dua hari lagi.
Keluarga Adipratama dan Keluarga Hartawan, saat ini salah paham atas hubungan Ferdi dan Shanaya.
Akhirnya, Ferdi memilih untuk bertemu dengan Shanaya di rumahnya tanpa sepengetahuan orang lain. Selain rindu, Ferdi juga ingin bertemu dengan istrinya, malam ini adalah malam pertama mereka berdua, tetapi keduanya harus berpisah karena kesalahpahaman yang mereka buat sendiri.
"Tuan, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Bagas, saat melihat Ferdi akan masuk ke dalam mobil, tanpa sepengetahuan orang rumah. Ternyata Bagas, belum tidur.
"Ssst, diamlah! aku mau pergi menemui Aya. Malam ini malam pertamaku, masa iya kami berdua tidur terpisah, sedih kali nasibku, " ucap Ferdi dengan raut wajah yang memelas agar Bagas tak memberitahu orang tuanya.
"Pergilah, tuan. Ingat besok kembali sebelum pagi, biar Tuan besar tidak mencurigai Anda,"
"Oke!" jawab Ferdi, yang langsung masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan rumah Adipratama.
Di dalam perjalanan menuju rumah Shanaya, Ferdi mengukir senyuman indah setiap kali dia memikirkan Shanaya yang saat ini telah sah menjadi istrinya. Ferdi, tidak menyangka jika Shanaya adalah wanita yang di jodohkan oleh keluarganya. Definisi kalau jodoh takkan kemana.
Mobil Ferdi, berhenti di depan rumah Shanaya yang dua lantai itu, Ferdi tidak dapat mengintip ke dalam halaman rumah, karena pagar besi menghalangi pandangan Ferdi.
Ferdi tidak bisa masuk, karena pagar rumah terkunci, terpaksa Ferdi mencari jalan lain setelah memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
Ferdi memanjat tembok yang tingginya dua meter itu, agar dia bisa sampai ke halaman rumah Shanaya. Begitu Ferdi sampai di halaman rumah Shanaya, dia melihat seluruh lampu yang ada di dalam rumah teman mati. Teringat Ferdi, Shanaya tidur di lantai dua, dan dia masih berdiri di bawah pohon sembari berpikir cara untuk tiba di lantai dua.
"Manjat? tidak mungkin," Ferdi menggelengkan kepalanya cepat, akhirnya dia duduk di bawah pohon sembari memikirkan cara untuk menemui Shanaya.
Rumah itu terlalu tinggi, dan tidak ada cara untuk dia bisa tiba di lantai dua, tidak ada tangga, dan tidak ada tempat untuk dia pijaki, dan itu membuat Ferdi menyerah seketika.
Akhirnya Ferdi kembali berdiri dan kali ini dia berdiri di samping pohon tersebut, sembari menatap ke arah kamar Shanaya tidak ada cahaya lampu di sana, berarti Shanaya telah tertidur pikir Ferdi, lagi.
Pak!
Seseorang menepuk pelan bahu Ferdi dari belakang, sehingga mengejutkan pria ini.
'Aku tertangkap?' batin Ferdi,