
Ferdi, pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Clara, saat ini Juwita dan Shanaya ada di rumah sakit.
Lucki dan yang lain, ikut pergi ke kantor polisi, untuk mengurus masalah Bagas.
Ferdi, memarkirkan mobil di tempat parkiran, lalu bergegas pergi untuk menemui Shanaya dan Juwita.
"Sayang," panggil Ferdi, begitu melihat Shanaya yang ada di koridor rumah sakit bersama dengan Juwita, mereka berdua ingin kembali ke rumah, tetapi Ferdi baru saja tiba menjemput mereka berdua.
Ferdi, langsung memeluk Shanaya dengan erat, begitu tiba di hadapan wanita itu. Membuat Shanaya terkejut.
"Apa yang terjadi mas?" tanya Shanaya, lalu Ferdi menceritakan semua tentang Bagas yang ternyata adalah anak dari Kakek Rudi. Juwita hanya tersenyum, karena semenjak melihat foto Lidya, Juwita sudah dapat menebaknya jika Bagas pasti anak dari Lydia, tidak mungkin orang luar dapat hak warisan dari keluarga Adipratama.
Melihat semuanya telah selesai, Ferdi mengajak Juwita dan Shanaya untuk pulang. Ferdi, juga berpamitan dengan Mariot ayah dari Clara, serta meminta maaf atas kesalahpahaman yang pernah terjadi di antar Ferdi, dan Clara.
*
*
*
Satu Minggu setelah semua masalah terselesaikan, Ferdi mengajak Shanaya untuk mengunjungi makam Kakek Rudi, karena sebelumnya Firman melarang menantunya itu, sehingga membuat Shanaya tak dapat melihat Kakek Rudi yang terakhir kali.
Bukan hanya Ferdi, dan Shanaya, bahkan Firman sudah lebih dulu pergi bersama dengan Pengacara Giant, ke makam Kakek Rudi.
Ternyata, Firman juga berada di makam Kakek Rudi, saat ini Firman dan Pengacara Giant, hendak pulang tetapi bertemu dengan Shanaya dan juga Ferdi di gerbang pemakaman keluarga Adipratama.
Masalah antara Firman dan Shanaya telah terselesaikan tentu saja, Shanaya sudah di perbolehkan untuk datang berziarah ke makam Kakek Rudi.
"Kakek, Shanaya datang. Maafkan, Shanaya Kakek yang lambat mengunjungimu. Shanaya bersalah menjadi orang yang lemah, tidak pandai melawan, sehingga Shanaya tidak dapat mengantar Kakek pada peristirahatan terakhir" ucap Shanaya pelan, Ferdi mengusap punggung Shanaya pelan, agar tak membuat sang istri begitu bersedih atas kematian Kakek Rudi.
"Kakek, kami tidak datang berdua, tetapi kami datang bertiga, doakan cicit kakek lahir sampai selamat," sambung Ferdi, kali ini menguap lembut perut buncit sang istri, yang telah memasuki bulan ke empat kehamilannya.
"Kakek kami berdua pamit, doakan kami selalu hidup rukun dan damai, rumah tangga kami di jauhkan dari segala marabahaya." Tukas Shanaya, yang mengambil sedikit tanah di pusara Kakek Rudi, lalu menggenggamnya, sebagai hormatnya untuk Kakek Rudi.
Ferdi, mengajak Shanaya untuk pulang, pria ini merangkul pundak sang istri begitu mesra, serta menggandengkan tangan Shanaya seakan tak mau lepas.
Ferdi, telah berada di samping Shanaya hingga kasus itu terselesaikan, ini artinya Ferdi, telah menepati janjinya untuk mencintai Shanaya dalam keadaan apapun, tidak akan meninggalkan istrinya sendiri, meskipun masalah yang di hadapi begitu besar. Namun, cinta Ferdi terhadap Shanaya lebih besar dari masalah apapun.
"Cinta sejati bukanlah bagaimana kamu memaafkan, tetapi bagaimana kamu melupakan, bukan apa yang kamu lihat tetapi apa yang kamu rasakan, bukan bagaimana kamu mendengarkan tetapi bagaimana kamu mengerti, dan bukan bagaimana kamu melepaskan tetapi bagaimana kamu bertahan."
SEKIAN !!!!