
Ferdi baru saja menyelesaikan meetingnya. Banyak klien yang mengucapkan selamat untuk pria ini, dari luar negeri atau di dalam negeri, hari ini adalah meeting untuk peluncuran produk baru dari perusahaan Adipratama, dan Ferdi berhasil melakukan itu dengan baik.
Jam 18:12, malam. Ferdi, masih berada di kantor, karena hari ini dia lembur, setelah meeting terakhir barulah Ferdi akan pulang, rencananya malam ini Ferdi tak ingin pulang ke rumah. Bagas mengabarkan kepada Ferdi kalau Kakek Rudi dan Firman sudah pergi ke Bali, menghadiri pertemuan penting.
"Tuan, seseorang datang menemui, Anda." Ungkap Bagas, dan sedikit menundukkan kepalanya. Ferdi, baru saja menyelesaikan meeting terakhirnya. Ferdi, menyuruh orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangannya, agar Ferdi segera pulang jika urusannya tekan selesai.
Pintu ruangan terbuka, seorang wanita cantik, dengan pakaian yang cukup sexy melangkah masuk ke dalam ruangan Ferdi, pria ini tak menoleh walaupun hanya sebentar saat ini Ferdi sedang sibuk pada berkas yang ada di atas mejanya.
"Ferdi!" seru wanita itu, membuat Ferdi menghentikan aktivitasnya lalu mendongakkan kepalanya menatap wanita tersebut.
"Clara?" gumam Ferdi, di saat melihat wanita tersebut, Clara adalah teman sekolah Ferdi dulu, wanita ini mengambil jurusan perkuliahan di luar negeri sehingga dia dan Ferdi terpisah dan jarang ketemu. Di masa sekolah dulu, ke duanya kerap di jodohkan dan di ganggu menjadi teman tapi mesra.
Clara langsung mendekat, dan ingin memeluk Ferdi, tetapi pria itu langsung berdiri dari tempat duduknya, membuat Clara terkesiap saat melihat penolakan yang di lakukan oleh Ferdi.
"Why?" wanita ini membuat ke dua tangannya seolah-olah bertanya kepada Ferdi.
"I miss you so much, and I love you," dulu kata-kata ini sering kali mereka berdua ucapkan. Tetapi, mendengar Clara mengucapakannya saat ini membuat Ferdi merasa canggung, dan itu tidak pantas lagi dia dengar dari wanita lain, selain istrinya.
"Duduklah, kita bicarakan di sana," ujar Ferdi kemudian, dan Clara menaikan kedua bahunya serta berjalan ke arah sofa. Tiba di sofa, Clara duduk seperti biasa, tetapi Ferdi risih dengan pandangan itu, pria ini memberikan bantal sofa untuk Clara agar Clara bisa menutupi sebagian pahanya yang terpampang nyata di depan Ferdi.
Clara dan Ferdi, memiliki ikatan pertemanan yang cukup bagus, tetapi keduanya tak memilik hubungan spesial apapun. Ferdi tak pernah mencintai siapapun sejak dia sekolah hingga dewasa saat ini, orang pertama yang membuat Ferdi jatuh cinta adalah, Aya istrinya saat ini.
"Jadi, apa yang membawamu kemari?" tanya Ferdi dingin, membuat raut wajah Clara seketika bersedih untuk menarik perhatian Ferdi.
"Tentu saja, aku merindukanmu!" jawab Clara mantap, sembari tersenyum kepada Ferdi, pria ini hanya tersenyum kecut.
"Enggaklah, aku datang untuk memberi selamat. Selamat untuk pernikahanmu," lanjut Clara, lalu mengulurkan tangannya ke arah Ferdi, pria ini hanya tersenyum lalu menerima uluran tangan Clara.
"Aku dengar, kau menikahi gadis itu hanya karena keluargamu? bukan karena cinta?"
Pertanyaan Clara membuat Ferdi, tertawa kecil. Ferdi, tak ingin bercerita kepada orang lain tentang hatinya untuk Shanaya.
"Kamu salah, justru aku sangat mencintainya," jawab Ferdi tanpa beban, seakan dia sangat bangga bisa menikahi dengan Shanaya. Clara yang mendengar itu menyimpulkan senyum kecut ke arah Ferdi, enam tahun bersama di sekolah yang sama-sama. Tidak mungkin Clara tidak memiliki perasaan untuk Ferdi, hanya saja pria ini terlalu cuek dan dingin dulu, terlebih lagi Ferdi hanya menganggap Clara teman, bukan pacar.
Clara segera berdiri dia sudah mendapat jawaban dari perasaannya yang selama ini dia pendam, pria ini mencintai wanita lain, dan bukan dirinya yang sudah lebih dulu ada untuknya.
"Aku akan kembali pulang, lain kali jika memiliki waktu hubungi aku, aku ingin bertemu dengan saudara ipar," ujar Clara yang tersenyum, lalu dia segera berpamitan dan meninggalkan ruangan Ferdi, pria ini mengantar Clara sampai ke ambang pintu.
Clara meminta pelukan perpisahan dari Ferdi, tetapi Ferdi hanya memberikan salam perpisahan saja untuk Clara, dan mengatakan dia sangat mencintai istrinya, dan menghormati sang istri yang saat ini berada jauh darinya. Ferdi, tak ingin mengecewakan Shanaya, karena Shanaya adalah jantung hatinya.
Dengan langkah yang terges-gesa Clara memasuki lift, dan menangis di dalam lift. Clara tidak menyangka cintanya untuk Ferdi yang dia simpan selama 6 tahun, menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Tuan, kita pulang?" tanya Bagas, yang datang menemui Ferdi lagi. Melihat jam di dinding sudah jam 22:10, malam. Ferdi segera menyimpan semua berkas yang belum di periksanya ke dalam lemari yang ada di belakang mejanya.
Bagas, membantu membawakan barang dan tas kantor milik Ferdi, dan tak lama kemudian ke duanya meninggalkan perusahaan Adipratama.