
'Ferdi, kau....' batin Lucki, ingin berbalik tetapi Bagas tiba di sana.
"Tuan, Anda masih di sini?" tanya Bagas, Lucki tersenyum dan mengangguk sekilas, dan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.
Setelah kepergian Lucki, Bagas masuk ke dalam ruangan Ferdi, tentu saja mengetuk pintu ruangan CEO terlebih dulu. Karena, Ferdi tidak suka sama orang yang tidak tahu akan sopan santun.
"Nona, Clara?" seru Bagas, di saat melihat wanita itu duduk di depan meja Ferdi, wanita itu hanya menoleh sekilas dan tersenyum.
"Tuan, ini semua berkas yang harus Anda tanda tangan dan Anda periksa," ujar Bagas, sembari meletakkan map yang ada di tangannya ke atas meja Ferdi.
"Jadi, kenapa kamu memilih perusahaan ini? bukankah, perusahaan papamu juga termasuk perusahaan bergengsi?" tanya Ferdi, sembari memeriksa satu persatu map yang di berikan oleh Bagas.
Bagas, masih di dalam ruangan itu, karena tujuan utamanya adalah ingin mengetahui tentang hubungan Ferdi dengan Clara, apa hanya sekedar sahabat, atau kekasih masa lalu.
"Kalau aku bekerja sama papa, aku nggak benar-benar belajar bagaimana menjadi orang sukses, tetapi kalau aku di sini aku yakin aku dapat belajar banyak. Please, terima aku ya," Clara memohon dengan puppy eyes, tetapi tak menunjukkan keimutan sama sekali, yang ada Ferdi malah merasa tak nyaman.
"Bagas, kamu bisa membantunya, jelaskan bagaimana dia bisa bekerja di sini dan di terima di sini. Clara ikutlah dengan Bagas, kalian bisa membahasnya di ruangan, Bagas!" titah Ferdi, Clara langsung merubah raut wajahnya yang kesal, tetapi dia masih berusaha untuk tenang agar Ferdi tak menarik kembali kata-katanya.
"Nona Clara, mari ikut saya," ajak Bagas, dengan sopan dan sedikit menundukkan kepalanya. Clara tanpa berani membantah di depan Ferdi, dan segera berdiri dari tempat duduknya serta meninggalkan ruangan Ferdi, mengikuti Bagas menuju ruangan pria itu.
"Kakak iparku, yang jomblo itu pasti saat ini sedang marah padaku. Aish, ck!" geram Ferdi, bila mengingat soal yang tadi. Ferdi, tak ingin Lucki salah paham kepada keluarga Adipratama, karena mengingat Ferdi dan Shanaya baru saja menikah, Ferdi tak ingin sesuatu terjadi kepada keluarga istrinya.
Jam makan siang telah tiba, seperti biasa Ferdi hanya meminta Bagas, untuk mengantar makan siang untuknya, tanpa meninggalkan ruang kerja, mengingat pekerjaan terlalu banyak yang belum di selesaikan.
"Harusnya, aku pergi bulan madu. Bukan mengerjakan dan menatap semua kertas-kertas ini, nasib anak tunggal ya begini," gumam Ferdi, sembari memeriksa satu persatu lembaran kertas yang ada di tangannya.
Ceklek!
Pintu ruangan terbuka menampilkan sosok seorang wanita dengan paperbag di tangannya. Wanita itu adalah Clara, membawakan makan siang untuk Ferdi. Harusnya Bagas yang datang mengantarkan itu, tetapi di koridor tanpa sengaja Clara bertemu dengan Bagas, dan meminta Bagas untuk memberikan paperbag itu kepadanya.
"Kamu?" ucap Ferdi, begitu melihat wanita itu dengan raut wajah yang selalu tersenyum, melangkah masuk menghampiri Ferdi di meja kerjanya. Clara meletakkan paperbag itu di atas meja, dan segera duduk di kursi kosong yang ada di depan Ferdi.
"Tunggu apalagi? kamu tidak makan? ini lagi jam makan siang, aku tak ingin waktu istirahat ku di ganggu, tolong tinggalkan ruangan ini," ujar Ferdi, dingin. Membuat Clara membelalakkan mata, pasalnya Clara tak pernah melihat Ferdi bersikap dingin kepadanya.
"Tapi,"
"Clara, tolong...." pinta Ferdi, masih dengan raut wajah yang datar dan tanpa ekspresi. Clara akhirnya memilih mengalah dan pergi meninggalkan ruangan Ferdi. Pria ini menyimpan semua berkas yang di meja dan di simpan di lemari. Sedangkan, sisanya Ferdi masukan ke dalam tas kantornya, untuk di bawa pulang.
Ferdi keluar dengan membawa tas bersama dengannya. Bagas bertemu dengan Ferdi di lobi. Pria itu menyapa Bosnya.
"Tuan, Anda mau kemana?"
"Saya mau pulang, di atas meja kerja masih ada paperbag makan siang saya, itu untuk kamu saja. Lain kali, untuk makan siang saya jangan biarkan orang lain yang mengantarnya, kaki dan tanganmu masih sehat, jangan terlalu manja," ketus Ferdi, dan berlalu pergi.
Mobil Ferdi, memasuki halaman rumah Adipratama. Hari ini Kakek Rudi, berada di Bali datang ke pertemuan bersama dengan sopirnya. Sedangkan Shanaya tinggal bersama dengan pelayan yang lain di rumah.
"Nyonya, Tuan Muda telah kembali," ujar Bi Asih, Shanaya bangkit dari tempat duduknya, untuk menyambut suami tercinta yang baru saja kembali dari pekerjaan.
Shanaya membuka pintu, dan melihat Ferdi yang baru saja turun dari mobil, dengan raut wajah yang selalu di hiasi oleh senyuman tampannya, sehingga membuat sang istri meleleh.
Shanaya meraih tas yang ada di tangan Ferdi, wanita ini juga mencium punggung tangan Ferdi serta Ferdi tak lupa mencium singkat kening sang istri, suruh lembut perlakuan Ferdi terhadap Shanaya, bikin iri siapapun yang lihat.
"Mas, mau makan dulu? atau ganti pakaian dulu?" tanya Shanaya, yang membantu membuka jas yang di pakai oleh Ferdi.
"Dari mana kamu tahu, aku belum makan?"
"Tentu dong aku tahu, kita 'kan sehati," goda Shanaya, langsung saja Ferdi menarik pinggang Shanaya dan menghapus jarak di antara mereka berdua.
"Mas, apa yang kamu lakukan? nanti ada yang lihat bagaimana?" ucap Shanaya pelan, tetapi Ferdi seakan tuli, tidak memedulikan ucapan istrinya.
"Mas," lirih Shanaya lagi, ketika Ferdi memeluk dan mengendus leher Shanaya yang masih tertutup hijab serta wajah istrinya yang masih tertutup cadar, Ferdi senang mencium aroma Shanaya yang semakin hari semakin membuatnya candu.
"Nyo...." Ucapan Bi Asih terpotong, saat melihat dua majikannya yang sedang bermesraan di dekat tangga menuju lantai dua, Shanaya langsung terkejut dan mendorong Ferdi pelan sehingga pelukan itu terlepas.
"Iya Bi, maaf ya Bi. Ini Mas Daffa, lagi mood bayi," sindir Shanaya yang berjalan ke arah Bi Asih, karena malu. Seminggu berada di rumah Adipratama kedekatan Shanaya dan semua orang di dalam rumah itu sangat baik. Daffa hanya senyam senyum melihat Shanaya yang malu, dan memikirkan raut wajah Shanaya yang memerah di balik cadar, pria ini berdiri sembari memasukan kedua tangan ke dalam saku celana masih posisi memperhatikan Shanaya dari jauh.
"Tidak apa-apa, Nyonya. Malah bibi senang melihat, Nyonya dan Tuan begitu romantis. Nyonya, makan siangnya sudah siap," tukas Bi Asih.
"Baik, Bi. Kami segera ke dapur," ujar Shanaya, dan menoleh ke arah Ferdi yang masih senyum-senyum sendiri di dekat tangga.
"Senyum enggak akan buat mas kenyang, ayo kita makan!" ajak Shanaya dan berlalu pergi meninggalkan Ferdi di dekat tangga. Pria ini 'pun langsung menyusul sang istri yang lebih dulu pergi ke ruang makan.
Di kediaman Hartawan, tidak biasanya Lucki pulang lebih cepat, kecuali sesuatu yang sangat mendesak, atau ada hal penting. Tetapi, hari ini semua baik-baik saja, malah Lucki pulang cepat.
Di ruang tamu, ada Juwita dan juga Hardiman, yang sedang menonton konferensi pers kolega mereka yang dari Singapura. Lucki, masuk ke dalam rumah dengan keadaan yang marah raut wajah terlihat begitu jelas bagaimana pria ini menahan emosinya sejak dari kantor Adipratama.
"Sial!" teriak Lucki, melempar tas kerjanya ke sofa, hal itu mengejutkan Juiwta dan juga Hardiman, mereka menoleh secara bersamaan ke arah Lucki.
"Apa yang terjadi, Lucki? kenapa kamu terlihat begitu marah? apa yang salah dengan kamu hari ini?" berbagai macam pertanyaan Juwita lontarkan untuk anak pertamanya.
Lucki, membuka jas dan melemparnya ke arah sofa, lalu duduk di sofa single yang ada di samping Juwita.
"Brengsek!" teriak Lucki, tanpa menjawab pertanyaan Juwita, pria ini begitu marah, dia bahkan menarik kasar dasi yang ada di lehernya. Hardiman menaikan alis melihat Lucki yang saat ini tidak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi.