Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 24


Seminggu telah berlalu, Shanaya tinggal di rumah, Ferdi. Meskipun tiap hari hanya ada kesepian tinggal sendiri di rumah, yang membuatnya kadang merasa bosan hanya tinggal di kamar, dan di dalam rumah itu, ketika sang suami pergi bekerja.


Pagi ini, entah kenapa Shanaya ingin sekali bertemu dengan Humairah, dulu keduanya sering tinggal bersama, apapun di lakukan bersama, tetapi setelah menikah mereka berdua jarang bertemu.


"Nyonya, ini minuman yang Anda minta tadi," Bi asih, meletakkan segelas minuman lemon tea di atas meja ruang tamu, wanita ini tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada perempuan tua itu.


Perusahaan Adipratama, saat ini Ferdi, beserta staf karyawan dan dewan pemasaran berada di dalam ruangan meeting. Bukan hanya mereka, ada klien penting yang juga baru datang dari negeri Jiran.


Lucki, bahkan sebagai perwakilan perusahaan Hartawan juga ikut menghadiri rapat penting itu. Karena, bagaimanapun yang mereka bahas adalah lahan pertambangan milik keluarga Hartawan, yang saat ini di nilai oleh klien dari negeri Jiran, bahwa keluarga Hartawan melakukan kecurangan.


"Saya menolak keras tuduhan itu!" ucap Lucki, dengan tegas. Ferdi, melirik ke arah iparnya, Lucki saat ini sedang menahan amarah, bagaimana bisa keluarganya di tuduh melakukan pencurangan sedangkan lahan itu murni milik keluarga Hartawan. Surat yang di berikan Lucki, belum bisa membuat keluarga Hartawan bersih dari tuduhan itu.


"Lihatlah, ini adalah bukti kepemilikan, dan lahan ini murni milik keluarga Hartawan, ini bukan lahan pemerintah!" Lucki, berdiri dari tempat duduknya. Tetapi, Tuan Ben terlihat masih tak mau percaya akan hal itu, sehingga membuat Ferdi harus turun tangan.


"Tuan Ben, sepertinya apa yang di katakan Tuan Lucki, ada benarnya. Tidak seharusnya, Anda menuduh keluarga Hartawan seperti itu," semua mata kini tertuju ke arah Ferdi, yang sangat terlihat jelas telah membela keluarga Hartawan, tanpa mengambil langkah untuk memeriksa kebenaran terlebih dulu.


"Anda, membelanya?" Tuan Ben, menunjuk ke arah Lucki, dengan tangannya. Lucki, tak suka akan hal itu, tetapi dia sendiri tidak bisa bertindak lebih lanjut, karena meeting hari ini di adakan oleh keluarga Adipratama, mereka yang punya hak atas keputusan itu.


"Tidak, bukan begitu." Ferdi, membantah. Tetapi, Tuan Ben terlihat begitu marah, sehingga pria ini membereskan semua berkas yang ada di atas meja meeting.


"Sudahlah, sepertinya kerjasama kita tidak bisa lanjut, saya menyesal telah bekerja sama dengan perusahaan ini, Anda akan menyesal Tuan Ferdi, menolak pendapat saya," ujar Tuan Ben, dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu, Bagas ingin mengejar tetapi Ferdi menahannya.


"Biarkan dia pergi," tukas Ferdi, tetapi Bagas terlihat cemas.


"Bagaimana bisa? ini kita akan rugi lebih besar dari keuntungan yang kita dapat, selama ini kita baru mendapat 20% keuntungan saja, jika Tuan Ben membatalkan kerjasamanya kita akan rugi lebih dari itu," imbuh Bagas, Ferdi terdiam. Saat ini semua staf karyawan dan dewan pemasaran berbisik membicarakan hal yang di lakukan Ferdi.


Lucki, melihat situasi yang mungkin tidak dapat di atasinya. Tetapi, Ferdi mengambil keputusan yang benar, membela keluarga Hartawan. Hanya saja, dengan cara itu keluarga Adipratama akan rugi besar.


"Tuan Lucki, saya ingin berbicara dengan, Anda." Lanjut Ferdi, Lucki hanya mengangguk serta mengikuti Ferdi keluar dari ruangan meeting.


Bukan hanya Lucki, Bagas 'pun sama halnya dengan Lucki, sama-sama penasaran dengan apa yang ingin Ferdi bahas dengan Lucki, tanpa mengajak Bagas bersama dengan mereka.


Beberapa berkas yang ingin di periksa oleh Ferdi, Bagas mengumpulkannya dan menjadikan itu satu dengan yang ada di tangannya. Bagas pergi meninggalkan ruangan meeting setelah membubarkan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Tuan Lucki, aku ingin bertanya sekali lagi, apa benar lahan itu bukan milik keluarga Hartawan, maksud aku ...."


"Anda tidak perlu sungkan begitu, di sini kita berdua adalah kolega," Lucki langsung menyela ucapan Ferdi, keduanya duduk di sofa di dalam ruangan Ferdi. Meskipun keduanya adalah ipar, tetapi jika sudah menyangkut soal pekerjaan mereka sangatlah profesional. Tidak akan mencampurkan hal pribadi dalam pekerjaan.


"Sepertinya Anda tidak percaya dengan bukti yang saya berikan, dan lagian pernyataan itu Tuan Ben dapatkan dari perusahaan Adipratama. Sebelum Tuan Ben, menuduh keluarga Hartawan, beliau terlebih dulu mungkin mendapat bukti kejanggalan dari perusahaan Adipratama. Jadi, bisa di pastikan kecurigaan Tuan Ben ini be...."


"Anda menuduh perusahaan ku terlibat dalam hal ini?" Ferdi, memotong ucapan Lucki, kedua pria itu hanya berbeda dua tahun saja, Lucki lebih tua dari Ferdi dua tahun.


"Tidak, bagaimana bisa aku menuduh perusahaan Adipratama. Perusahaan yang cukup besar, yang banyak di kenal orang, dari segi kekayaan dan kekuasaan, Anda tetap nomer satu. Maaf, hari ini aku memiliki jadwal meeting di tempat lain, aku permisi dulu." Lucki bangkit dari tempat duduknya. Ferdi menghela nafasnya, pria ini sadar jika Lucki mencurigai perusahaan Adipratama.


Ferdi, tak menahan kepergian Lucki, karena Ferdi tak ingin berbicara lebih banyak sebelum dia mendapatkan bukti atas tuduhan itu, karena bagaimana 'pun perusahaan Adipratama menjadi korban dalam kasus ini, serta nama keluarga Hartawan ikut tercoreng.


Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok wanita cantik dan sexy yang berdiri di depan ruangan Ferdi, di saat pintu ruangan itu di buka oleh Lucki.


"Ferdi, I miss you so much. Sudah seminggu ini kita tak bertemu, aku rindu," ujar Clara, yang melewati Lucki, gendang telinga Lucki seakan mau pecah, darahnya mendidih dan juga tangan ikut terkepal di saat Lucki mendengar ucapan Clara ketika wanita ini masuk ke dalam ruangan Ferdi.


'Ferdi, kau....' batin Lucki,