
Hari ini genap dua bulan pernikahan Ferdi dan Shanaya. Tidak mudah melewati hari-hari yang lumayan sulit. Bahkan, berbagai macam godaan dan masalah menerpa rumah tangga Shanaya dan Ferdi.
Namun, keduanya bisa melewati itu semua, besarnya cinta keduanya membuat mereka berdua dapat bertahan sampai saat ini.
"Hueek!" Shanaya berada di dapur, sedang membuatkan bubur untuk Ferdi, tetapi tiba-tiba Shanaya merasakan mual yang cukup parah, sehingga membuat dia harus berlari ke kamar mandi.
"Nyonya, apa yang terjadi?" tanya Bi Asih, ketika melihat Shanaya yang berlari ke kamar mandi, memuntahkan semua isi perutnya.
Ferdi, bersama dengan Firman dan juga Kakek Rudi, baru saja masuk ke ruang makan, tetapi tak menemui adanya Shanaya di dalam ruangan itu, sehingga membuat Ferdi bertanya kepada Bi Asih.
"Bi, dimana istriku?" tanya Ferdi, yang tak melihat adanya Shanaya di sana.
"Tadi, Nyonya pergi ke kamar mandi, bibi juga mendengar kalau Nyonya muntah-muntah, Tuan." Tukas Bi Asih, Ferdi yang mendengar itu langsung mencari Shanaya ke kamar mandi, tetapi yang dia dapat malah Shanaya tergeletak di lantai kamar mandi.
"Sayang!" teriak Ferdi, yang membuat semua orang terkejut dan ikut pergi ke kamar mandi, untuk melihatnya.
Ferdi, memboyong tubuh Shanaya keluar dari kamar mandi, dan membawanya pergi menuju rumah sakit. Sementara, Firman dan Kakek Rudi tak bisa ikut karena ada meeting penting di pagi hari.
Namun, mereka telah menghubungi keluarga Hartawan, untuk memberitahu kondisi Shanaya saat ini.
Di rumah sakit, Ferdi mondar-mandir di depan ruangan pemeriksaan menunggu cemas hasil pemeriksaan dokter terhadap istrinya.
Begitu pintu ruangan terbuka, Ferdi langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Ferdi, cemas. Apalagi melihat raut wajah Dokter Arum, semakin yakin bahwa sesuatu telah terjadi dengan Shanaya.
"Selamat ya, Tuan. Istri Anda hamil, dan ini sudah jalan bulan ke dua. Ini resep obat yang harus Anda ambil di farmasi di sini juga saya sudah tuliskan makanan sehat untuk ibu hamil," ujar Dokter Arum, dengan raut wajah yang bahagia. Namun, sebaliknya Ferdi malah mematung sembari melihat resep obat yang di berikan Dokter Arum, kepadanya.
"Is-istri saya hamil?" tanya Ferdi, dengan raut wajah yang masih tak percaya akan hal itu, tetapi anggukan Dokter Arum, membuat Ferdi yakin dan segera membuka pintu ruangan pemeriksaan dan pergi menemui Shanaya yang ada di dalam ruangan itu.
Ternyata Shanaya sudah siuman, wanita ini menoleh ke arah Ferdi yang telah datang menemuinya.
"Sayang," Ferdi, mempercepat langkahnya, lalu menggenggam tangan Shanaya dengan erat beberapa kali pria ini mencium punggung tangan Shanaya, mengucapkan kata-kata terima kasih untuk istri tercintanya.
Ferdi, bahkan mengecup hangat kening dan kedua pipi Shanaya yang masih tertutup cadar. Tak terasa air mata Ferdi menetes hingga membasahi cadar Shanaya membuat wanita ini sadar kalau suaminya tengah menangis.
"Mas, kamu nangis?" Shanaya memegang kedua pipi Ferdi, dan melihat tepat ke arah netra pria itu. Sehingga membuat Ferdi langsung menyeka air matanya menyembunyikan air mata itu dari Shanaya.
"Ini hanya air mata kebahagiaan, aku menangis karena sebentar lagi kita berdua akan menjadi orang tua, dan kita akan segera memiliki seorang baby, Sayang!" tukas Ferdi, lalu kembali memeluk Shanaya dengan erat.
Pintu ruangan terbuka, dimana Juwita dan Lucki tiba di ruangan Shanaya.
"Dimana? dimana cucuku," tanya Juwita, membuat Ferdi dan Shanaya tersenyum, dan saling pandang satu sama lain.
"Ma, cucu apa yang kamu maksud, Shanaya baru di nyatakan hamil, bukan melahirkan," ketus Lucki, membuat Juwita kesal, lalu memukul pelan kepala anaknya.
"Auh, mama!" pekik Lucki, sembari mengusap kepalanya yang sakit.
"Kamu diam saja, kamu juga tidak memberi mama cucu, harusnya kamu dulu yang menikah dan punya anak, ini malah adikmu," cibir Juwita yang duduk di sebelah ranjang Shanaya.
"Gimana mau nikah ma, dia saja jomblo, mana ada yang mau wanita sama modelan begitu," ujar Ferdi, kembali mengejek iparnya.
"Eh, jaga ucapanmu ya, mentang-mentang cebongmu berhasil berbuah, kau malah nyindir aku,"
"Auh, mama!" ketus Lucki lagi, ketika Juwita kembali memukul kepala Lucki.
"Cebong, ini calon keponakanmu, kau harus menghormatinya seperti raja, paham kau!" tegas Juwita, Lucki hanya memutar malas bola matanya, membuat Juwita lalu menjewer daun telinga Lucki.
"Ampun ma, iya ma, iya. Aku menghormatinya dengan sangat bayi kelak, " ujar Lucki, lalu mengusap daun telinganya yang terasa begitu panas, akibat ulah Juwita.
"Paham kau!"
"Iya ma, paham!" jawab Lucki, sembari menangkup kedua tangannya di dada, Ferdi dan Shanaya hanya tertawa kecil melihat Lucki yang di marahin Juwita.
Lucki dan Juwita mengucapkan selamat untuk Shanaya dan Ferdi. Mereka semua sangat senang mendengar kabar kehamilan Shanaya, apalagi ini cucu pertama di dalam keluarga Hartawan dan keluarga Adipratama.
Ceklek!
Pintu ruangan kembali terbuka, mereka semua menoleh, dan ternyata yang datang adalah Humairah, sahabat dari Shanaya. Lucki, memandangi Humairah untuk pertama kali, dengan tatapan tanpa berkedip. Dulu, di saat pernikahan Shanaya dan Ferdi, Lucki tak sempat berbicara dengan Humairah.
"Mingkem, kak mingkem." Cibir Ferdi, membuat Lucki terkejut dan melihatnya dengan tatapan maut. Humairah yang tahu akan hal itu hanya bisa menundukkan pandangannya serta tersenyum dalam diam.
"Sepertinya kita akan segera makan daging lagi ma," cetus Ferdi, membuat Shanaya dan Juwita tertawa kecil, tetapi Lucki malah malu dan langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Brak!
Semua orang menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara yang cukup keras.