
Ferdi berbalik, begitu juga dengan Shanaya, Ferdi yang lebih dulu sudah menatap Shanaya saat berbalik, langsung membuat Shanaya terkejut, hingga wanita ini langsung pingsan, untung saja Lucki yang duduk tak jauh dari Shanaya bergegas menangkap tubuh sang adik.
"Aya!" seru Humairah, yang melihat Shanaya pingsan, begitu juga dengan Juwita yang menghampiri mereka di meja tersebut.
Ferdi, melihat ke arah Humairah, sembari berbasa jika wanita itu adalah Aya, Humairah mengangguknya, langsung membuat Ferdi terkejut.
Ferdi, malah terdiam di tempat melihat Lucki yang mengendong Shanaya dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ferdi, bukan takkan ingin menggendong istrinya, hanya saja Ferdi sendiri masih di buat syok dengan apa yang barus saja terjadi.
'Ini aku menikah dengan Aya? dan Aya menikah denganku?' batin Ferdi, yang melihat semua anggota keluarga bergegas masuk, dan Ferdi malah berdiam mematung di tempat semula.
Sehingga acara pernikahan masuk ke dalam acara perjamuan, semua tamu 'pun di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan. Belum sempat mengambil potret keluarga, membelai wanita telah pingsan, hanya sempat mengambil momen di saat mereka ijab qabul saja.
Lucki, membaringkan tubuh Shanaya di atas ranjang yang ada di dalam kamarnya. Kamar yang begitu luas dan juga sangat indah, karena kamar tersebut juga sudah di hias atas permintaan Juwita.
Humairah, membantu Juwita agar Shanaya segera siuman, tetapi tidak ada niat yang terlintas di benar Humairah untuk memberitahu siapa pria yang di menikahi Shanaya, karena saat ini semua orang tengah panik dan cemas.
Lucki, dan Kakek Hartawan berdiri di depan kamar Shanaya membiarkan Juwita dan Humairah membantu Shanaya terlebih dulu.
"Kakek, sudah ku katakan jangan lanjut pernikahan ini, tetapi kakek tak mau mendengarkan ku!" ucap Lucki dengan tegas, Lucki sangat menyayangi adik perempuannya, Lucki tak akan membiarkan apapun terjadi kepada Shanaya.
"Bagaimana dengan cucuku? apa dia sudah siuman?" tanah Kakek Rudi, yang langsung memanggil Shanaya sebagai cucunya setelah Ferdi berhasil menikahi Shanaya.
"Ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya tentang itu. Kakek Rudi, aku menghormatimu dan juga kakekku, tetapi untuk saat ini aku mohon jangan membawa Shanaya dari rumah ini sebelum Shanaya mau ikut sendiri ke rumah kalian," tukas Lucki sembari menangkup ke dua tangannya di dada, membuat Kakek Rudi, sedikit tersentuh.
"Lucki, apa yang kamu katakan," Kakek Hardiman bertanya karena tak ingin membuat Kakek Rudi, tersinggung.
"Apa yang di katakan oleh Lucki ada benarnya. Melihat kondisi Shanaya aku 'pun tak tega membawanya segera pergi meninggalkan rumah ini, biarkan untuk sementara waktu dia tinggal di sini, sampai kondisinya membaik," timpal Kakek Rudi, yang membuat Kakek Hardiman tersenyum, keduanya berpelukan.
"Dia belum siuman, untuk saat ini dia tidak akan ikut dengan kita kembali ke rumah. Meskipun kau membencinya, kakek harap kamu takkan menyakiti dia setelah dia ikut denganmu nanti, untuk saat ini biarkan dia istirahat dulu," pungkas Kakek Rudi, yang membuat Ferdi bingung.
Saat ini semua orang salah paham, apalagi dua hari yang lalu, Ferdi mengajukan sebuah syarat kepada Kakek Rudi, yang membuat pria tua ini semakin salah paham. Begitu juga dengan Shanaya, wanita ini juga mengajukan syarat kepada keluarganya, dan itu di dengar langsung oleh keluarga Adipratama.
"Tetapi, kakek...."
"Sudahlah, Ferdi. Dia sudah menjadi istrimu, kalau 'pun kamu membencinya dia tetap akan menjadi istrimu, untuk sementara mari kita pulang terlebih dulu, dan membiarkan pengantin wanita beristirahat, mungkin ini terlalu mendadak untuk kalian bertemu, sehingga membuat pengantin wanita syok berat," timpal Firman, yang menyela ucapan Ferdi. Kakek Rudi dan Firman membawa Ferdi dari hadapan semua orang, Ferdi hanya bisa menurut saja atas apa yang di perintahkan oleh Kakek Rudi dan Firman.
Kesalahpahaman ternyata enggak di situ saja. Juwita bahkan ikut salah paham atas kejadian itu. Shanaya siuman, lalu dia tak melihat adanya sosok Ferdi di dalam kamarnya. Hanya ada Juwita dan juga Lucki.
Humairah dan Abi Hakim telah berpamitan untuk kembali ke pondok pesantren.
"Mama...."
"Iya sayang," Juwita segera duduk di tepi ranjang, dan Juwita memegang tangan Shanaya yang lumayan dingin, karena rasa gugup yang masih dia rasakan.
"Apa aku baru saja bermimpi?" tanya Shanaya, yang masih dalam keadaan bingung.
"Tidak sayang, kamu tidak bermimpi, kamu sudah sah menjadi istri orang lain saat ini. Tetapi, kakek sudah meminta keluarga suamimu untuk tidak membawamu pergi dari sini, selama beberapa hari mereka meminta kamu untuk beristirahat terlebih dulu di rumah, dua hari nanti mereka akan menjemputmu, tetapi kalau kamu tidak mau pergi mereka tidak akan menjemput kamu," ungkap Juwita dengan raut wajah yang tersenyum, lalu menyentuh pipi Shanaya dengan lembut.
"Mama, tetapi kenapa aku tidak boleh ikut ke rumah mereka?" tanya Shanaya masih dengan raut wajah yang bingung.
"Shanaya, kakak tahu. Seorang istri harus patuh dan tunduk pada perintah suami setelah ke duanya sah menjadi suami istri. Tetapi, kakak masih mengingat syarat yang kamu berikan, asalkan kalian setuju untuk menikah, kami tidak akan memaksa kalian untuk tinggal serumah, sementara waktu sampai kondisi mu membaik," timpal Lucki, semakin membuat Shanaya bingung. Ternyata semua orang malah salah paham atas kejadian tadi, mereka berpikir Shanaya syok berat menikah dengan pria yang tak di cintainya sehingga membuat Shanaya pingsan.
"Tapi, kak...."