Kalau Jodoh Takkan Kemana

Kalau Jodoh Takkan Kemana
Bab 27


[Saya Clara,]


"Dimana Ferdi? kenapa ponselnya ada sama kamu?" tanya Ferdi, yang sedikit meninggikan suaranya.


[Tuan Ferdi, su....]


Tut ... Tut...


Panggilan itu terputus, Clara melihat ponsel Ferdi yang ada di tangannya, ternyata habis baterai, hingga panggilan itu terputus begitu saja.


"Nona Clara, Anda menemukan ponsel Tuan Ferdi?"tanya Bagas, yang baru saja masuk ke dalam ruangan CEO.


"Iya, Pak. Saya menemukannya, ini pak," Clara memberikan ponsel Ferdi untuk Bagas, karena Ferdi meninggalkan ponsel itu di dalam ruangannya.


Di tempat lain, Lucki menatap layar ponsel panggilan dia dan Ferdi terputus sepihak.


"Sial, kenapa ponsel Ferdi ada pada wanita itu, dan siapa wanita itu? apa wanita yang bertemu di depan ruangan ferdi?" gumam Lucki, sembari meninggalkan ponselnya di atas nakas sebelum Lucki pergi ke kamar mandi.


Kediaman Adipratama, Ferdi sedang mencari keberadaan ponsel miliknya yang tak lihat olehnya sejak kembali dari kantor.


"Apa yang mas Daffa cari?" tanya Shanaya yang baru saja selesai mandi.


"Ponsel," singkat Daffa, yang masih sibuk membuka laci meja rias dan juga memeriksa laci kotak jam, tetapi tidak juga menemukan ponsel miliknya.


"Kenapa nggak coba hubungi dengan ponsel ku saja mas?" Shanaya memberikan ponselnya untuk sang suami, berhubung keduanya belum tukaran nomer, Ferdi terpaksa menyimpan dulu nomor miliknya di ponsel Shanaya, baru dia mencoba menghubungi ponsel dia yang tak tahu dimana keberadaannya saat ini.


Tidak ada jawaban, tetapi suara ketukan pintu kamar mengejutkan mereka berdua. Ferdi meminta Shanaya untuk segera berganti pakaian, sementara Ferdi akan pergi membuka pintu kamar.


Begitu pintu kamar terbuka, Bagas terlihat berdiri di depan kamar Ferdi. Pria ini memberikan sebuah ponsel untuk Ferdi, dan Ferdi merasa lega telah mendapatkan kembali ponselnya.


"Kakek menyuruh Tuan dan Nyonya untuk segera turun, karena Kakek Hardiman, mengundang kalian semua untuk makan malam," ujar Bagas, Ferdi hanya mengangguk lalu meminta Bagas untuk menunggu di bawah.


Setelah bersiap-siap, Shanaya dan Ferdi turun ke lantai bawah untuk menemui Kakek Rudi, yang terlebih dulu sudah bersiap dan berpakaian rapi, sudah siap untuk menghadiri makan malam di rumah besan.


Bagas, membuka pintu mobil untuk Kakek Rudi, dan juga untuk Shanaya. Tetapi, Ferdi menahan tangan Bagas, ketika membuka pintu untuknya.


"Bagas, tolong selidiki kasus yang tadi pagi. Aku tak ingin Tuan Lucki akan salah paham terhadap perusahaan Adipratama. Aku ingin masalah ini segera selesai, satu lagi cari bukti kepemilikan murni dari lahan itu, aku takkan semua masalah ini menjadi runyam," tukas Ferdi, memberi pekerjaan untuk Bagas, selama dia pergi ke rumah mertuanya.


"Baik, Tuan. Aku akan segera mengatasi masalah itu, Anda tenang saja, aku tidak akan membuat perusahaan Adipratama dalam masalah," ujar Bagas, sembari menundukkan kepalanya. Ferdi bersiap masuk ke dalam mobil, kali ini dia yang menyetir sendiri dengan membawa Kakek Rudi, dan juga Shanaya di dalam mobil.


Hanya butuh waktu 20 menit, dengan kondisi jalan yang cukup macet, barulah mereka tiba di kediaman Hartawan. Terlihat beberapa pelayan dan dua orang pengawal sedang menunggu kedatangan mereka di depan teras.


Begitu mobil berhenti tepat di depan mereka, salah satu dari dua pengawal menghampiri mobil Ferdi dan membuka pintu untuk Kakek Rudi, dan untuk pasang suami istri juga.


Ferdi, merangkul mesra pinggang Shanaya sebelum keduanya masuk kedalam rumah.


"Selamat datang kembali, Nona Shanaya," sapa pelayan tersebut.


"Saat ini panggil dia Nyonya Adipratama," ujar Ferdi dengan posesif, tetapi Shanaya langsung menyenggolnya, di ketahui raut wajah Shanaya yang sudah memerah di balik cadar yang dia pakai.


"Mari, Tuan ikut saya," tukas seorang pelayan untuk mengantar Ferdi dan juga Kakek Rudi, untuk masuk ke dalam rumah. Tangan Ferdi, cukup ramah berada di pinggang Shanaya, bahkan tak terlepas meskipun hanya semenit.


Begitu mereka tiba di ruang makan, mereka semua di sambut ramah oleh keluarga Hartawan, Kecuali Lucki, pria ini menatap tak suka kepada Ferdi.


"Selamat malam, kakak iparku yang jomblo," bisik Ferdi sembari memeluk Lucki, pria ini memutar malas bola matanya, saat mendengar ucapan Ferdi yang selalu mengejeknya.


"Malam, adik iparku yang mata keranjang,"cibir Lucki, sehingga membuat mata Ferdi melotot tak percaya mendengar ucapan Lucki.


"Apa maksud Kakak?" tanya Ferdi, melepas pelukan itu, suara Ferdi sedikit meninggi sehingga membuat yang lain, menoleh ke arah mereka berdua.


Bukan hanya Juwita, Kakek Rudi, dan Kakek Hardiman ikut menoleh, dan penasaran dengan dua manusia itu, setiap bertemu pasti ada saja yang di perdebatkan oleh mereka berdua.


"Eemmm, nggak ada kita bicara setelah makan," ujar Lucki, lalu beralih ke kursi miliknya yang ada di sebelah Juwita. Sementara Ferdi menarik kursi untuk Shanaya, mereka berenam langsung duduk di kursi masing-masing. Harusnya Firman juga ikut, tetapi saat ini Firman masih ada proyek pekerjaan penting di Bali.


Pandangan Lucki tak lepas dari Ferdi, pria ini sudah menahan diri sejak dari tadi tetapi begitu melihat wajah Ferdi, dia malah ingin segera bertanya kepada pria itu mengenai perempuan yang bernama Clara itu, agar kesalahpahaman antara mereka berdua terselesaikan.


Makan malam telah usai, Kakek Hardiman mengajak Kakek Rudi untuk ikut ke ruangan kerjanya, serta Juwita juga di ajak bersama, kini hanya tinggal Ferdi, Lucki dan Shanaya di ruang tamu.


"Emmm, kenapa banyak sekali nyamuk, padahal obat nyamuk sudah ada disini," cibir Ferdi, Shanaya langsung memelototi sang suami, begitu mendengar ucapan Ferdi.


"Memangnya kak ipar nyamuk? aku 'kan bilangnya nyamuk? nggak nyebutin nama kak Lucki?" jawab Ferdi sembari memutar bola matanya. Lucki yang geram 'pun langsung membalas ucapan Ferdi dengan bertanya tentang Clara di depan Shanaya.


"Emmm, tadi siang aku menghubungi kamu, tetapi yang angkat perempuan, kalau enggak salah nama wanita itu Clara, siapa dia? asisten baru kamu? atau selingkuhan mu di kantor?" tanya Lucki, dengan raut wajah yang mengejek Ferdi. Ferdi langsung terkejut dengan pertanyaan itu, terlebih lagi di situ ada Shanaya, tentu saja Ferdi takut istrinya salah paham.


"Mas, siapa wanita itu? kenapa kamu nggak pernah cerita ada wanita lain di hatimu, mas?" tanya Shanaya, dengan netra yang berkaca-kaca.


"Itu nggak seperti yang kamu pikirkan, Kak ipar kamu sengaja ya bertanya di depan Shanaya biar istriku yang cantik ini merajuk?" cetus Ferdi, tetapi Lucki malah masa bodoh akan hal itu, pria ini malah berteriak gembira dalam hatinya ketika melihat Ferdi yang kesulitan untuk menjelaskan kepada Shanaya.


"Jadi, maksud kamu aku harus bertanya di belakang Shanaya, agar kamu bisa berselingkuh di tenang? tega kamu Ferdi!" teriak Lucki, di ujung kalimat membuat Ferdi menaikan alisnya, tak percaya melihat Lucki begitu tega menyalakan api kecemburuan di antara Ferdi dan Shanaya.


"Mas Daffa, kamu jahat!" ketus Shanaya dan berlalu pergi meninggalkan Daffa di ruang tamu.


"Eh, sayang...."


Ferdi, berbalik menatap kesal ke arah Lucki, tetapi pria ini malah melirik ke arah lain, dan bersiul gembira sehingga membuat Ferdi geram.


Ferdi langsung pergi menyusul istrinya yang merajuk. Lucki yang melihat itu langsung tertawa cukup keras, begitu bahagia telah membalaskan dendamnya kepada Ferdi.


Tiba di depan kamar, Ferdi menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba membuka pintu kamar, berharap istrinya enggak marah lagi. Tetapi, begitu pintu kamar terbuka, tidak ada siapapun di dalam kamar, ternyata saat ini Shanaya berada di balkon, menatap serius ke arah langit dimana bintang malam ini bersinar cukup terang.


Semilir angin di malam hari ini terasa cukup sejuk ketika sesekali menerpa dan menerbangkan hijab besar yang di kenakan Shanaya. Ferdi, yang melihat itu tersenyum dengan gejolak hati yang begitu bergetar.


Ferdi, menatap tenang ke arah sang istri yang tengah melamun menatap bintang di langit, sehingga membuat Ferdi ingin menggoda sembari bernyanyi untuk Shanaya, usaha untuk membujuk sang istri yang tengah merajuk.


"Yang, alo-lo-lo-lo-lo, sayang


Ting-ting-tang-ting-tang-ting, sayang


Aku rindu sikap manjamu yang dahulu


Sayang, alo-lo-lo-lo-lo, sayang


Simpanlah dulu rajukmu


Segala salah kuakur, I am sorry


Janji ini bukan sebarang janji, sayang


Ini bukanlah janji yang palsu


Ini soal cinta dari hati, sayang


I really, really, really, really love you"


Ferdi, memeluk Shanaya dari belakang, mendengar Ferdi bernyanyi membuat Shanaya tertawa kecil, pasalnya Shanaya tak pernah melihat Daffa bernyanyi sebelumnya.


"Sayang, aku minta maaf," ucap Ferdi, meletakan kepalanya di bahu sang istri. Shanaya mengusap lembut kepala Ferdi, tanpa berbalik, sehingga membuat Ferdi membalikkan tubuh Shanaya, kini keduanya berhadapan, tanpa ada jarak yang memisahkan keduanya.


"Mas pikir aku marah?" tanya Shanaya, sembari tersenyum di balik cadar, Ferdi langsung mencoba mencerna ucapan istrinya barusan.


"Jadi...."


Shanaya mengangguk, Ferdi langsung tertawa dan memeluk erat tubuh Shanaya. Ternyata, Shanaya sengaja marah kepada Ferdi agar Ferdi mengejarnya ke kamar, dengan begitu mereka berdua bisa terbebas dari pantauan Lucki, yang terus saja menganggu mereka berdua.


"Istriku ternyata pintar juga," ucap Ferdi yang langsung mengendong Shanaya.


"Mas, apa yang kamu lakukan, cepat turunkan aku," pinta Shanaya, melihat Ferdi membawanya masuk ke dalam kamar.


"Aku akan menurunkan kamu, tetapi nggak di sini, aku akan menurunkan kamu di sana," bisik Ferdi, kembali menggoda Shanaya dan menggelitik wanita ini di atas kasur sehingga membuat Shanaya tertawa bahagia, sebelum pertempuran itu di mulai.


Di ruang tamu, Ferdi masih membayangkan perang yang terjadi di antara Shanaya dan Ferdi.


"Selamat tidur di balkon lagi adik iparku tersayang," gumam Lucki, yang kini menyalakan televisi untuk menonton.


Bersambung....