
Baca dulu ya, Baru like ♥️
Bagas dan Ferdi tiba di pondok pesantren Al-Hakim. Mobil mewah yang di kendarai Bagas tentu saja menarik perhatian semua orang yang ada di dalam pondok pesantren tersebut.
Bagas turun terlebih dulu, lalu Bagas membuka pintu mobil untuk Ferdi, dan pria itu segera turun dari mobil.
"Ustaz Daffa," seru beberapa santriwan yang memang mengenali Ferdi, karena pria ini pernah tinggal di pondok pesantren selama dua Minggu ini. Banyak Santriwan yang berbisik-bisik sehingga mengudang perhatian Ustaz Aiman, pria ini segera keluar dari kamarnya dan pergi melihat Ferdi dan Bagas.
Melihat Daffa dan Bagas yang datang, Ustaz Aiman langsung menghampiri dua orang itu. Ustaz Aiman menghalangi jalan Ferdi dan Bagas yang ingin pergi menemui Abi Hakim di rumahnya.
"Untuk apa kamu datang kemari lagi? tempatmu bukan disini!" ucap Ustaz Aiman dengan tegas, membuat Bagas tak suka. Karena, bagaimanapun Ferdi sangat di hormati di perusahaan dan bahkan di luar rumah yang mengenali Ferdi sebagai ahli waris keluarga Adipratama.
"Anda," seru Bagas, Ferdi menahan dada Bagas, agar tak memukuli Ustaz Aiman. Ferdi tak ingin masalah baru muncul, karena kedatangan Ferdi ke pondok pesantren tersebut adalah untuk menemui Shanaya dan juga Abi Hakim.
Ferdi mengajak Bagas untuk segera pergi, karena gak ingin berdebat dengan pria itu, jika Ferdi meladeni Ustaz Aiman, mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi, termasuk harga dirinya.
Aiman, tetap berusaha mencegah Ferdi untuk bertemu dengan Abi Hakim. Tetapi, nasib baik lagi berpihak kepada Ferdi, Abi Hakim baru saja keluar dari rumahnya dan melihat Ferdi yang datang menemuinya dengan penampilan yang begitu berbeda.
Ferdi mendekat, serta mencium punggung tangan dan telapak tangan Abi Hakim. Ferdi menyuruh Bagas untuk melakukan hal yang sama, di sana masih ada Ustaz Aiman yang melihat ke arah Ferdi dengan tatapan yang tak suka.
Memang benar Abi Hakim mengusir Ferdi dari tempat itu, tetapi jujur saja Abi Hakim tidak pernah menaruh dendam ke siapapun dalam hatinya. Abi Hakim, mengajak Ferdi untuk masuk ke dalam rumah, karena tidak mungkin mereka berbicara di luar rumah.
Ustaz Aiman, di minta Abi Hakim untuk kembali ke ruang pengajian. Sedangkan Ferdi, ataupun Bagas segera menyusul Abi Hakim masuk ke dalam rumah.
Dua orang pria berpakaian rapi dengan jas, duduk di ruang tamu, Abi Hakim menghidangkan beberapa botol air mineral untuk Bagas dan Ferdi. Tak lama terdengar seseorang memberi salam ketika pintu utama terbuka, Ferdi dan Bagas sama-sama menoleh itu adalah Humairah, dan harapan Ferdi setelah Humaira datanglah Shanaya, tetapi harapan Ferdi pupus, ketika Humairah tiba di hadapan mereka Shanaya tak juga muncul.
"Siapa yang Anda cari, Tuan?" tanya Humairah, yang melihat Ferdi celingak-celinguk, melihat ke arah pintu utama. Humairah mencium punggung tangan Abi Hakim, lalu duduk di sebelah sang ayah.
"Dimana Aya?" tanya Ferdi kemudian. Humairah melirik sang ayah yang duduk di sampingnya.
"Tuan...."
"Tuan Ferdi," sambung Bagas, di saat mendengar ucapan Humairah yang menggantung.
"Eemm, Tuan Ferdi, Anda terlambat datang kemari, Aya telah di jemput oleh keluarganya karena Aya akan segera menikah, Aya telah di jodohkan," Humairah menekan kata-kata di jodohkan di akhir kalimatnya, membuat Ferdi terkejut begitu juga Bagas.
"Jodoh? bukankah saya su...."
"Anda meminangnya atas kebohongan. Aya tidak akan mengingat pinangan Anda, dia akan menerima pinangan orang lain," ujar Humairah, Ferdi bangkit dari tempat duduknya begitu juga Bagas.
"Terima kasih, kami permisi dulu, " Ferdi dan Bagas langsung pergi meninggalkan rumah tersebut, di luar Ustaz Aiman sudah menunggu Ferdi di depan mobil Ferdi.
Abi Hakim memegang bahu Humairah mengatakan tidak apa-apa, yang penting Humairah telah berkata jujur agar Ferdi tidak mengharap banyak pada Shanaya, bukankah cinta itu tidak bisa di paksa?
"Kasian juga ya, cintanya kandas sebelum berlayar," cibir Ustaz Aiman, sekali lagi Ferdi melarang Bagas untuk menghajar Ustaz Aiman.
"Kita pulang!" ajak Ferdi, Bagas segera masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Ferdi, Ustaz Aiman masih memperlihatkan wajah sombongnya kepada Ferdi sebelum pria ini masuk ke dalam mobil.
"Bye-bye!" ucap Ustaz Aiman, sembari melambaikan tangan ke arah mobil Ferdi yang sudah berlalu pergi meninggalkan halaman rumah Abi Hakim.
Dari spion depan Bagas mengintip Ferdi, yang duduk sembari menatap jendela mobil. Ferdi mengingat kenangannya di pesantren bersama dengan Shanaya, meskipun tak saling banyak bicara dan sering bertemu, tetapi ke duanya memiliki daya tarik yang cukup kuat, sehingga cinta tumbuh di antara ke duanya.
Tak terasa dari raut wajah yang dingin dan tampan itu, terlihat buliran bening yang mengalir begitu sempurna tanpa ada hambatan apapun. Bagas terkesiap melihat itu, karena ini pertama kali Bagas melihat Ferdi menangis karena cinta, bahkan di hari kematian ibunya Ferdi di minta untuk tidak menangis agar dia menjadi pria yang kuat di saat Ferdi dewasa.
"Tuan, kita pergi kemana?" tanya Bagas, saat melihat Ferdi yang hanya diam saja.
"Kembali ke kantor," singkat Ferdi, Bagas hanya mengangguk pelan, lalu menaikan kecepatan mobilnya.
Mobil bewarna putih itu meleset dengan kecepatan tajam, Bagas menyetir cukup tenang meskipun hatinya ingin sekali menghibur Ferdi saat ini.
Tiba di perusahaan, Ferdi sudah di sambut oleh Rudi dan juga Firman.
"Kenapa kalian datang terlambat? keluarga besan baru saja tiba di sini. Ferdi, calon istrimu ada di ruang tunggu, ayo kita ke sana!"
Ferdi tak menjawab atau menggubris panggilan Kakek Rudi, hingga di berhenti tepat di depan lift sebelum Ferdi masuk dia menoleh ke belakang, dan melihat Kakek Rudi yang menatapnya dengan kesal.
"Kakek aku setuju menikah, tetapi aku punya syarat," ucap Ferdi, Kakek Rudi mendekat, saat mendengar ucapan Ferdi.
"Katakan, apa syarat mu?"
"Jangan memaksa aku untuk mencintainya, karena aku membenci dia!"
"Kau!" Kakek Rudi menunjuk Ferdi dengan jarinya, tetapi Firman melarang Kakek Rudi untuk memarahi Ferdi sebelum pria ini selesai berbicara.
"Hanya itu saja," lanjut Ferdi dan masuk ke dalam lift dengan di ikuti oleh Bagas.
"Aish, anak ini!" gumam Kakek Rudi kesal, sembari mengusap dadanya yang terasa sesak.
"Ayah, berhenti marah-marah kesehatanmu juga penting, jangan terlalu memaksanya. Saat ini dia sudah mau menikah saja itu sudah termasuk baik, bukan? jadi terima saja syarat yang dia ajukan." Imbuh Firman, Kakek Rudi hanya bisa mengiyakan apapun syarat dari Ferdi, demi kelangsungan pernikahan itu.
Kakek Rudi dan juga Firman, pergi menemui calon besan di dalam ruang tunggu. Tanpa, mereka sadari Shanaya telah mendengar ucapan Ferdi dan Kakek Rudi, tetapi Shanaya belum sempat melihat wajah Ferdi pria itu telah masuk ke dalam lift.
"Suara itu...." Gumam Shanaya yang keluar dari tempat persembunyian, setelah dari toilet.