Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Hukuman Untuk Mila


"Yang Mulia Ratu, Raja Edward berhasil mendapatkan Putri Aurora kembali dan sekarang mereka mengurung Putri di ruang bawah tanah."


"Apa!" pekik Ratu Caroline sembari bangkit dari posisi duduknya. "Ini tidak bisa dibiarkan! Raja benar-benar sudah keterlaluan!"


Setelah mendapatkan berita buruk itu, Ratu Caroline bergegas menuju ruang bawah tanah. Di mana Putri Aurora tengah di tahan. Ia ingin membantu menantunya itu melarikan diri dsn kembali pada suaminya.


Namun, belum sempat Ratu Caroline mencapai ruang bawah tanah, para pengawal setia Raja Edward sudah menyeret wanita cantik itu ke hadapan Sang Raja.


"Lepaskan aku!" pekik Mila yang kesakitan karena tangannya ditarik dengan kasar oleh para lelaki bertubuh besar itu.


Mila bahkan tidak sanggup mensejajarkan langkahnya bersama mereka. Alhasil, tubuh mungilnya beberapa kali terseret di lantai dan membentur berbagai macam benda.


"Tidak bisakah kalian bersikap lebih sopan kepada seorang wanita, ha! Seandainya kalian tinggal di duniaku, kalian pasti dijatuhi hukuman karena sudah melanggar undang-undang perlindungan terhadap perempuan!" gerutu Mila dengan kesal.


"Diam kamu! Dan jangan banyak bicara!" kesal lelaki bertubuh besar itu.


Akhirnya Mila dan beberapa orang laki-laki yang menyeretnya tiba di ruangan itu. Di mana Sang Raja dan Putri Serena sudah menunggu kedatangan mereka.


"Ini dia, Yang Mulia."


Pengawal itu mendorong tubuh mungil Mila dengan sangat kasar hingga ia terjerembab di depan singgasana dan tak bisa bangkit lagi. Bagaimana bisa bangkit, sementara kedua tangannya dalam kondisi terikat erat serta mata yang ditutup dengan kain berwarna hitam.


"Selamat datang kembali, Aurora? Senang bisa melihatmu dengan kondisi yang seperti ini lagi," ucap Raja Edward sambil menyeringai menatap tubuh mungil Mila yang masih tergeletak di lantai ruangan itu.


Raja Edward bangkit dari singgasananya kemudian berjalan menghampiri Mila sambil tersenyum lebar. Raja Edward menarik lengan Mila dengan kasar hingga wanita cantik itu bangkit dan duduk bersimpuh di hadapannya.


"Bukankan dulu kamu bilang padaku bahwa kamu sudah menang, Aurora? Sekarang aku tanya kemenangan seperti apa yang kamu maksud itu?" Raja Edward menarik kain yang menutupi kedua netra indahnya dengan begitu kasar hingga Mila merasa sakit.


Walaupun saat itu tubuhnya terus disakiti, tetapi Mila tidak ingin menampakkan bahwa dia tengah kesakitan. Ia tetap tersenyum dan menatap Raja Edward dengan santainya.


"Aku akan selalu menang, Yang Mulia Raja. Seribu kali kamu menyingkirkan aku, seribu kali pula aku kembali untuk menjemput cintaku," sahut Mila dengan begitu tenang.


Putri Serena geram mendengar jawaban dari Mila. Ia berjalan dengan cepat ke arah Mila. Kemudian ....


Plakkk!


Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Mila dan membuat pipi wanita cantik itu memerah. Dada Putri Serena bergetar hebat, ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Diam kamu, Pelayan rendahan! Jaga mulutmu itu. Ingat, kali ini kami akan menyingkirkanmu untuk ke-dua kalinya dan kali ini kami pastikan bahwa kamu tidak akan pernah hidup kembali dalam wujud apa pun!" geram Putri Serena dengan wajah memerah. Ia menunjuk wajah Mila dengan begitu kasar.


Raja Edward menepuk pelan pundak Putri Serena dan mencoba menenangkannya.


"Maafkan aku, Yang Mulia Raja. Aku sudah tidak bisa menahan rasa kesalku terhadapnya," ucap Putri Serena.


Lelaki berkuasa itu mengangguk pelan kemudian berteriak memanggil para algojo.


"Algojo! Segera eksekusi wanita ini. Setelah dia mati segera bakar saja raganya agar dia tidak bisa kembali bereinkarnasi," titah Raja Edward.


"Baik, Yang Mulia Raja!"


Setelah mengetahui bahwa Mila sudah di bawa ke hadapan Raja untuk di eksekusi, Ratu Caroline segera menuju ruangan itu dengan langkah tergesa-gesa. Tepat di saat ia tiba di ruangan itu, seorang algojo sudah berdiri di samping Mila sambil mengacungkan pedang tajamnya.


Algojo mengangkat pedang tajam itu ke udara kemudian bersiap memenggal kepala Mila sesuai perintah Raja Edward. Namun, belum sempat pedang tersebut menyentuh kulit mulus Mila, tiba-tiba Ratu Caroline berteriak histeris.


"Hentikan!" Teriakan Ratu Caroline menggema hingga terdengar ke seluruh ruangan. Seluruh mata tertuju padanya, begitu pula Raja Edward.


"Hentikan, kumohon!"


Tanpa mempedulikan bagaimana reaksi Raja Edward saat itu, Ratu Caroline berlari ke arah Mila dan membantunya untuk berdiri. Sementara Putri Serena tampak tidak senang melihat tindakan Sang Ratu. Ia benar-benar kesal karena rencananya yang hampir saja selesai, kini kembali tertunda karena kehadiran Ratu Caroline.


"Sialan! Kenapa dia harus muncul di saat yang tidak tepat!" gerutu Putri Serena dengan wajah menekuk sempurna.


"Yang Mulia Raja, maafkan saya yang telah lancang mengganggu kegiatan Anda. Hari ini saya menghadap bukan sebagai seorang Ratu di kerajaan ini. Bukan pula sebagai seorang istri dari Yang Mulia Raja Edward. Namun, saya berdiri di sini sebagai seorang Ibu! Ibu dari suami wanita muda ini. Jika Anda ingin mengeksekusi gadis ini, maka eksekusi saya terlebih dahulu!" tantang Ratu Caroline dengan lantang.


Raja Edward tersenyum sinis, sementara Putri Serena mulai ketar-ketir. Ia takut rencananya menyingkirkan Aurora dari kehidupan Pangeran Hans gagal.


"Menyingkirlah, Ratu Caroline. Jangan sok menjadi pahlawan kesiangan!" ucap Raja Edward sambil tertawa pelan.


"Aku tidak akan menyingkir sebelum Anda melepaskan Aurora!" tegas Ratu Caroline dengan air mata yang berderai.


Raja Edward mulai kehilangan kesabarannya. Ia mengangkat tangannya ke udara sebagai isyarat kepada algojo agar kembali melanjutkan tugasnya.


Putri Serena tersenyum puas setelah mendengar keputusan Raja Edward yang memilih mengacuhkan permintaan istrinya dan melanjutkan hukuman mati untuk Aurora.


Beberapa orang pengawal menghampiri Ratu Caroline kemudian menarik tangan wanita itu dengan paksa agar ia menjauh dari Mila.


"Lepaskan aku!" protes Ratu Caroline yang tidak terima karena diperlakukan dengan kasar.


"Raja Edward! Pikirkan sekali lagi keputusanmu ini! Jangan sampai kamu menyesalinya seumur hidupmu!" teriak Ratu Caroline dengan tegas sambil mencoba melepaskan genggaman para pengawal itu.


Namun, lelaki itu tetap teguh pada pendiriannya. Ia tetap kekeuh melanjutkan hukuman mati untuk Aurora.


"Lanjutkan!" titahnya kepada algojo.


Lelaki bertubuh besar yang tengah memegang pedang tajam itu menganggukkan kepalanya pelan. Ia menarik tangan Mila kemudian mendorongnya dengan kasar dan meminta wanita cantik itu untuk duduk bersimpuh sama seperti sebelumnya.


Algojo itu kembali mengacungkan senjatanya ke udara kemudian melayangkannya ke leher Mila yang kini duduk bersimpuh di sampingnya.


Ratu Caroline segera menutup matanya dengan erat. Ia tidak sanggup jika harus melihat kematian Aurora yang mengenaskan untuk ke-dua kalinya.


Di saat pedang tajam milik algojo melayang ke leher Mila, tiba-tiba sebuah cahaya masuk dan mengenai tubuh Sang Aljogo. Lelaki bertubuh besar itu terpental jauh bersama pedangnya dan menghantam tembok dengan keras hingga ia meringis kesakitan.


"Jangan berani menyentuh istriku!"


...***...