Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Ke Kampung Halaman


Sementara itu di kontrakan Mila.


Mila berdiri di depan jendela kamarnya. Ia menatap kosong ke arah luar sambil memikirkan nasibnya setelah hidup bersama pangeran gaib itu. Cuaca dingin pada malam itu terasa menusuk hingga ke dalam tulang. Tampak Mila beberapa kali mengusap-usap kedua tangannya yang terasa dingin.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu tidak takut membeku?"


Tiba-tiba Pangeran Hans muncul tepat di belakangnya. Lelaki itu menyelimuti tubuh Mila dengan selimut kemudian memeluknya dengan erat.


Mila menghela napas panjang. "Kapan kita ke kampung? Aku ingin menemui pamanku secepatnya," tanya Mila sembari melirik Pangeran Hans.


"Besok. Dan sebaiknya kamu tidur sekarang. Kamu tidak ingin terlambat 'kan?" sahut Pangeran Gaib itu.


Mila tersenyum tipis. "Baiklah. Lagi pula aku memang sudah mengantuk."


Pangeran Hans melerai pelukannya bersama Mila kemudian mengikuti gadis itu hingga ke tempat tidur. Tidak ketinggalan, ia pun membaringkan tubuh besarnya di samping Mila. Entah bagaimana caranya, ranjang kecil berukuran satu orang itu selalu cukup untuk mereka berdua.


Mila dan lelaki gaib itu berbaring dengan posisi saling berhadapan. Mila tak hentinya menatap wajah tampan itu sambil sesekali memainkan jari-jemarinya di rahang tegas milik Pangeran Hans.


"Kamu pernah bilang bahwa ayahmu begitu membenci diriku dan menentang hubungan kita di masa lalu. Dan sekarang bagaimana kamu bisa yakin bahwa dia akan menerima kehadiranku untuk ke-dua kalinya?"


"Seandainya dia masih tidak bisa menerima kehadiranmu, maka aku akan mengambil keputusan yang akan ia sesali seumur hidupnya," ucap Pangeran Hans sambil mengecup kening Mila dengan lembut.


"Keputusan apa itu?" tanya Mila sambil mendongakkan kepalanya menatap Pangeran Hans.


"Sudahlah. Aku tidak ingin membahasnya sekarang. Sebaiknya kita tidur karena besok kita akan bersiap-siap kembali ke kampung halamanmu," sahut lelaki itu.


Walaupun hatinya diselimuti rasa penasaran yang amat sangat, tetapi Mila tidak ingin memaksa lelaki gaib itu untuk memberi tahunya. Mila memeluk tubuh kekar itu kemudian menyusupkan kepala ke dada bidangnya. Hingga akhirnya gadis itu pun tertidur dengan nyenyaknya.


Keesokan harinya.


Pagi-pagi sekali, Mila sudah bersiap. Ia sudah tampil cantik dengan riasan naturalnya. Sementara lelaki gaib itu sudah menunggunya dengan wujud manusia. Mengenakan celana jeans masa kini dengan


"Mari, Pangeran! Kita berangkat sekarang," ajak Mila sembari memasang tas ransel ke punggungnya, serta sebuah tas jinjing yang saat ini ia pegang.


Pangeran Hans mengangguk seraya meraih tas jinjing yang dibawa oleh Mila kemudian berjalan bersama gadis itu menuju halaman depan. Di mana sebuah mobil mewah tengah terparkir di pinggir jalan dengan sosok lelaki bertubuh tinggi besar yang kembali lagi menjadi sopir pribadi untuk mereka.


Lelaki itu menyambut kedatangan mereka tanpa bicara sepatah kata pun. Sama seperti kemarin. Hanya anggukan kepala sebagai tanda bahwa ia begitu menghormati Pangeran Hans. Ia meraih tas jinjing milik Mila yang dibawa oleh Pangeran Hans kemudian memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Sementara Mila dan Pangeran Hans sudah masuk ke dalam mobil mewah itu.


"Aku heran, di mana kamu menyembunyikan benda sebesar ini sekaligus mahluk dengan lidah bercabang itu?" gumam Mila sambil menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobil.


Pangeran Hans tersenyum sembari menjentikkan jarinya. "Cukup seperti ini, semuanya akan hilang. Bahkan aku bisa membawamu ke kampung tanpa susah payah melewati perjalanan sejauh ini," sahut lelaki itu.


"Tapi karena kamu sudah menjadi mahluk menyerupai kami, jadi cobalah untuk menjalani kehidupanmu sebagaimana manusia lainnya," timpal Mila.


Lelaki gaib itu terkekeh. "Baik, Putri. Apa pun untukmu."


Beberapa jam kemudian.


Perjalanan mereka yang mereka lewati kali ini cukup jauh menguras banyak waktu. Mila bahkan beberapa kali tertidur sambil bersandar di lengan Pangeran Hans. Hingga akhirnya lelaki gaib itu pun mulai bosan dengan perjalanannya.


"Kita ambil jalan pintas! Aku sudah bosan berlama-lama berada di dalam benda ini," ucapnya kepada sang pengawal yang sedang asik mengemudikan mobil tersebut.


Lelaki bertubuh tinggi besar itu pun mengangguk dan tidak dalam hitungan sepersekian detik, mobil besar itu menghilang dari jalan raya dan muncul kembali di depan gerbang selamat datang di sebuah perkampungan yang penduduknya tidak terlalu padat.


Lelaki bertubuh besar itu kembali melajukan mobilnya sama seperti sebelumnya, memasuki jalan sempit yang hanya cukup untuk mobil berpapasan. Setelah 15 menit kemudian mereka pun tiba di depan kediaman paman dan bibinya Mila.


Pangeran Hans mengelus puncak kepala Mila yang masih bersandar di lengannya dengan mata tertutup rapat. "Bangunlah. Kita sudah sampai," ucap lelaki gaib itu.


Mila refleks membuka mata. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat sekeliling. Ternyata benar, mereka sudah berhenti tepat di depan rumah paman dan bibinya.


Mila mengerutkan kedua alisnya kemudian melirik jam di ponsel miliknya. "Hei, ini baru 2 jam! Bagaimana bisa kita sudah tiba di sini! Hmmm ...."


Mila memicingkan matanya, menatap curiga kepada lelaki gaib itu. "Jangan bilang kamu menggunakan kesaktianmu lagi, ya!"


"Kalau ada jalan pintas, kenapa kita harus memilih perjalanan yang begitu panjang? Hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Pagi pula, aku bosan jika berlama-lama diam di dalam benda bergerak itu!" celetuk Pangeran Hans sembari membuka pintu mobil yang ada di samping tubuhnya.


Mila memasang wajah masam kemudian menyusul pangeran Hans yang sudah keluar dari mobil tersebut. Tepat di saat itu, sang paman keluar dari dalam rumah sederhana tersebut bersama istri serta dua anak gadisnya.


Mereka tampak terbengong-bengong melihat sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah mereka. Setelah mengetahui siapa yang datang, ekspresi mereka pun tampak berubah. Terutama bibi dan kedua anak gadisnya.


"Mila?" pekik sang Bibi.


Wanita paruh baya itu memperhatikan penampilan Mila yang tampak berubah. Jauh lebih cantik dan lebih modis dari pada Mila yang dulu, ketika masih tinggal bersama mereka. Bukan hanya wanita itu, kedua anak gadisnya pun memperlihatkan ekspresi yang sama.


"Mau apa lagi dia ke sini," gumam salah satu dari kedua gadis itu sambil menyilangkan tangan ke dada.


"Mungkin dia hanya ingin pamer kepada kita bahwa sekarang hidupnya jauh lebih baik dari kita," sambung yang lain sambil menekuk wajahnya. Ia tidak begitu menyukai kehadiran Mila.


"Paman," lirih Mila sembari menghampiri lelaki paruh baya yang sejak tadi mematung, seolah tidak percaya siapa yang muncul di hadapannya.


"Mi-Mila?" Lelaki itu menyambut tangan Mila yang terulur di hadapannya sembari menepuk pelan pundak keponakannya itu.


"Ya, ampun, Mila. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Paman pikir kamu tidak akan pernah kembali dan menemui kami lagi," lanjut lelaki paruh baya itu.


Mila tersenyum kecut. "Boleh kami masuk?"


"Ah, ya. Tentu saja! Silakan masuk," sahut lelaki itu.


...***...