Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Perjalanan Pulang


"Nah, itu mereka!" celetuk Lala sambil memalingkan wajahnya. Entah kenapa ia masih tidak senang melihat kemesraan kedua pasangan itu.


"Mari sini, Nak! Duduklah di sini," sapa Bi Una sambil tersenyum lebar menyambut kedatangan Mila dan Pangeran Hans. Ia bahkan sengaja mempersiapkan tempat duduk terbaik untuk keduanya.


"Terima kasih, Bi," sahut Mila sambil tersenyum kecut.


Sebenarnya Mila tak terbiasa mendapatkan perlakuan semanis itu dari wanita paruh baya tersebut karena selama ini Bi Una selalu bersikap kasar dan semena-mena terhadap dirinya.


Mila dan pangeran Hans segera duduk di kursi yang sudah dipersiapkan oleh Bi Una sebelumnya. Setelah pasangan itu duduk, Bi Una pun bergegas mempersiapkan sarapan pagi untuk mereka. Lala dan Lulu merasa iri karena perhatian yang diberikan oleh Bi Una terlalu berlebihan bagi mereka.


"Lihatlah Ibu, Lu! Menyebalkan sekali, 'kan?" celetuk Lala kepada Lulu dengan wajah yang cemberut.


"Sabar, La! Ini hanya sementara saja. Ibu sengaja melakukan itu karena selama di sini 'kan Hans selalu kasih uang banyak untuk keluarga kita," ucap Lulu sambil mengelus hidungnya yang masih sakit.


"Tapi aku benar-benar sebal jika mereka terus berada di sini! Aku harap mereka segera pergi dan jangan pernah muncul lagi!" gerutu Lala.


"Helehhh ...." Lulu menghempas napas berat dengan tatapan yang masih tertuju pada pasangan itu. Masih terngiang-ngiang di kepalanya bagaimana Mila dan Hans berciuman.


"Kamu tau gak, La?"


Lala menoleh ke arah Lulu. "Apa?"


"Tadi, sebelum aku mendapatkan benturan di hidungku ini, aku sempat melihat Mila dan Hans tengah berciuman. Ya ampun, La! Aku jadi ingin menggantikan posisi Mila," celetuknya.


"Hhhh! Kamu sudah gila, ya!" Lala mencebikkan bibirnya menatap Lulu.


"Ah, seandainya kamu lihat bagaimana panasnya mereka saat itu, mungkin kamu pun akan berpikiran sama sepertiku. Kamu pasti juga ingin menggantikan posisi Mila dan beradu bibir bersama lelaki tampan itu," gumam Lulu sambil tersenyum tipis.


Lala menatap Pangeran Hans lekat dan tak bisa ia pungkiri bahwa lelaki itu memang benar-benar tampan. Wanita mana pun tidak akan mampu menolak, apalagi dirinya yang memang menyukai lelaki itu sejak pandangan pertama.


"Oh ya, Nak Hans, Mila. Malam ini kalian masih nginap di sini 'kan?" tanya Paman Didin.


"Sepertinya tidak, Paman. Hari ini aku dan Mila berencana akan kembali ke kota. Benar 'kan, Sayang?" Pangeran Hans menoleh ke arah Mila sembari merengkuh pundak gadis itu.


"Ya, Paman. Hari ini aku dan Mas Hans akan kembali ke kota. Soalnya Mas Hans sudah harus kembali bekerja," sambung Mila sambil melirik Hans yang terus tersenyum kepadanya.


Paman Didin dan Bi Una saling lempar pandang untuk beberapa saat.


"Ya, sudah kalau begitu. Paman tidak bisa memaksa kalian untuk tinggal lebih lama lagi di sini. Paman hanya bisa berdoa semoga kalian selamat sampai tujuan. Bilang sama sopir pribadi kalian, tidak usah ngebut. Biar lambat, asal selamat," sahut Paman Didin.


Mila tersenyum saat Pamannya berkata seperti itu. Ia melirik Pangeran Hans yang ternyata juga masih memperhatikan dirinya. Tak pernah ada istilah 'biar lambat asal selamat' di dalam kamus lelaki gaib itu. Malah sebaliknya, ia ingin semuanya berjalan dengan cepat dan instan tanpa harus menunggu lama.


"Baik, Paman."


Beberapa jam kemudian.


Lulu menyandarkan kepalanya di pundak Lala. Wajahnya kusut sekusut pikirannya saat itu. Ia terus memperhatikan Pangeran Hans yang berdiri di samping mobil mewah sambil menunggu Mila yang sedang berpamitan kepada Paman Didin.


"Baguslah mereka pulang cepat. Setidaknya kamu tidak akan melihat mereka bermesraan lagi, 'kan?" sahut Lala.


Lala melenggang pergi. Ia masuk kembali ke dalam rumah sederhananya tanpa peduli sama Mila dan Pangeran Hans yang akan segera pulang. Sementara Lulu memilih bertahan di sana bersama ayah dan ibunya.


"Huft, sekarang ladang duit kita sudah pulang, Lu. Kita gak bakal bisa bersenang-senang lagi," ucapnya di samping Lulu.


"Ibu benar," lirih Lulu.


Akhirnya pasangan itu melesat pergi meninggalkan kediaman sederhana Paman Didin dan Bibi Una. Dengan langkah gontai, mereka pun kembali masuk ke rumah mereka. Terlihat tak bersemangat karena ladang uang mereka sudah kembali ke tempat asalnya.


Di perjalanan.


"Hmmm, kamu masih sedih karena berpisah sama pamanmu, ya?" Pangeran Hans merengkuh pundak Mila yang sejak tadi hanya diam dengan tatapan kosong menerawang, menatap ke arah jalan raya.


Mila akhirnya tersenyum kemudian meletakkan kepalanya di pundak lelaki itu. "Sebenarnya, ya. Aku pasti akan merindukan paman. Walaupun mereka tak pernah menganggap aku ada, tapi biar bagaimanapun aku hanya punya mereka. Terutama paman Didin."


"Jika kamu merindukan mereka,kamu bisa menjenguk mereka sekali-sekali," jawab Pangeran Hans.


Mila mendongak. "Memangnya bisa?"


"Ya, mungkin aku bisa membantumu nanti," jawab Pangeran Hans mantap.


Mila kembali tersenyum dan jawaban dari suaminya itu berhasil membuat aura wajah Mila terlihat jauh lebih cerah dari sebelumnya.


"Terima kasih."


Selang beberapa saat, mobil yang dikemudikan oleh lelaki bertubuh tinggi besar itu tiba-tiba mengambil jalur yang berbeda. Mila tampak kebingungan saat memperhatikan jalan yang terlihat begitu asing baginya.


"Pangeran Hans, kita di mana? Ini bukan jalan yang biasa aku lalui. Apa kita tersesat?" tanya Mila dengan alis yang saling bertautan.


Lelaki gaib itu hanya tersenyum sembari mengelus wajah panik Mila dengan lembut. "Ini jalan yang benar. Bukankah kita sedang di perjalanan pulang?"


Mila kembali memalingkan wajahnya menatap sekeliling jalan yang mereka lewati saat ini. Bukan jalan biasa. Jalan itu tampak sunyi dan seperti tak berpenghuni. Hanya terdengar suara kicauan burung yang saling bersahut-sahutan. Pohon-pohon besar dan lebat tumbuh tapi di pinggir-pinggir jalan yang ia lewati. Bahkan cahaya matahari pun tampak sulit menembus rindangnya dedaunan yang menghijau.


"Bukan, Pangeran! Aku sangat yakin, ini bukanlah jalan yang biasa aku lewati. Jalan yang kita lewati kemarin adalah jalan raya dan setidaknya masih ada pengendara lain yang lewat. Tapi jalan ini ...." Mila berhenti berkata-kata. Tiba-tiba ia terdiam dengan mata membuat sempurna.


Sementara lelaki gaib itu terus tersenyum dan senyuman manis itu membuat dada Mila sedikit bergetar karena takut.


"Ja-jangan bilang kalau ini jalan menuju—"


"Ya. Kamu benar! Ini bukanlah jalan yang kita lewati kemarin. Namun, ini jalan yang biasa aku lewati jika ingin kembali ke duniaku. Bukankah aku sudah bilang sebelumnya kalau kita akan segera pulang?"


Mila menjatuhkan dirinya di sandaran jok. "Oh ya, Tuhan!" pekik Mila setelah sadar bahwa dirinya tengah di perjalanan menuju dunia gaib. Dunia asalnya pangeran Hans.


...***...