Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Villa part 2


Ini masih part membagongkan ya, anak-anak! 😂😂😂 Yang Bocil bisa menjauh dulu, tunggu bab aman aja, baru baca.


Love You All ....


"Aakkhhh!" Mila menjerit histeris ketika lorong sempitnya berhasil diterobos oleh benda tumpul milik pangeran Hans yang berukuran super jumbo. Selaput tipis yang menjadi tanda bahwa dirinya masih perawan akhirnya bobol dan mengeluarkan darah segar.


Mila meringis kesakitan dan tampak beberapa butiran kristal bening jatuh dari kedua sudut matanya. Tangan gadis itu refleks memukul tubuh kekar pangeran Hans sambil memakinya tanpa sadar.


Plak ... plakkk ... plakkkk ....


"Hentikan! Dasar mahluk pembohong! Tadi bilangnya tidak sakit!"


"Siapa yang bilang begitu?" sahut Pangeran Hans sambil terkekeh pelan.


Mila terdiam sejenak dengan wajah menekuk. Ia tersadar bahwa Pangeran Hans memang tidak pernah berkata seperti itu sebelumnya.


"Ya, memang benar, sih. Tapi ini sakit sekali, Pangeran!" keluhnya.


Mila masih merasakan nyeri yang amat sangat di area pribadinya karena benda tumpul berukuran jumbo milik lelaki tersebut begitu betah berada di lorong area pribadinya yang masih begitu sempit.


Pangeran Hans kembali tersenyum kemudian mengecup kening Mila yang masih berada di bawah kungkungannya.


"Sekarang kamu ingin berhenti atau tetap melanjutkannya?" tanya Pangeran Hans dengan setengah berbisik.


Mila tampak berpikir dalam waktu beberapa detik sebelum ia menjawab pertanyaan dari suami gaibnya itu. Setelah berpikir keras akhirnya ia pun memutuskannya.


"Baiklah. Lanjutkan saja! Sudah kepalang tanggung dan kalau dicoba lagi lain waktu, aku takut rasanya akan lebih menyakitkan lebih dari saat ini," sahut Mila, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


Pangeran Hans tersenyum lebar. Ia begitu bahagia setelah mendengar jawaban dari istrinya itu. "Sudah kepalang tanggung atau kamu memang penasaran bagaimana rasanya ditusuk sama benda ajaibku ini?"


Mila mendengus kesal. "Ya, sudah. Tidak jadi!"


"Eh, jangan-jangan! Baiklah, aku akan diam dan tidak akan banyak bicara lagi," sahut Pangeran Hans sambil terkekeh melihat Mila yang merajuk.


"Aku akan melakukannya lebih pelan lagi dan aku juga berjanji bahwa setelah ini kamu tidak akan merasakan kesakitan itu lagi. Namun, rasa itu akan berubah menjadi kenikmatan yang tiada tara, yang tidak pernah kamu rasakan sebelumnya," lanjut Pangeran Hans sambil menggigit pelan daun telinga Mila.


Mila mengangguk pelan. Ia pasrahkan seluruh tubuhnya kepada pangeran Hans. "Ya, lakukanlah."


Perlahan Pangeran Hans menarik benda tumpul berukuran jumbo tersebut dari dalam lorong sempit milik Mila sambil memperhatikan ekspresi istrinya yang tengah manahan sakit. Ia kembali mendorong benda besar itu masuk hingga menyentuh puncak lorong gadis itu hingga membuat matanya kembali terbelalak.


"Ouchhh!" desis Mila sambil mencengkram erat kedua lengan kekar pangeran Hans.


"Masih terasa sakit?" tanya Pangeran Hans yang masih berada di atas tubuh Mila sambil terus memompa tubuhnya.


"Masih sakit, tapi tidak seperti sebelumnya," jawab Mila.


Pangeran Hans semakin semangat memompa tubuhnya di atas tubuh Mila. Rintihan dan dessahan yang silih berganti dari bibir Mila terus mengikuti gerak liar tubuh Pangeran Hans.


"Oh, akh ... oh, akh! Lebih cepat, Pangeran! Lebih cepat dan jangan berhenti!" racaunya sambil mencengkram erat punggung Pangeran Hans. Punggung putih mulus milik lelaki itu kini memerah karena tanpa sadar Mila sudah menancapkan kukunya di sana.


"Ehmmm, oh!" balas Pangeran Hans yang kini begitu fokus pada rasa nikmat yang ia rasakan di bawah sana.


"Lebih cepat, Pangeran!" desisnya.


Pangeran Hans mempercepat gerakan pinggulnya. Turun naik dengan ritme yang sangat cepat. Hingga beberapa menit kemudian ....


Tubuhnya menegang dan mulutnya terbuka lebar. Merasakan denyutan hebat di area pribadinya. Begitu pula dengan Pangeran Hans. Lelaki gaib itu mengejang di atas tubuh Mila sambil mengeluarkan benih-benihnya hingga meluber keluar dari lorong yang kini menjadi licin dan basah.


Huh ... huh ... huh ....


Lelaki gaib itu tersenyum puas sambil memandangi Mila yang tampak kelelahan di bawahnya.


"Bagaimana? Apa kamu menyukai permainan ini?" tanyanya sambil menjatuhkan tubuh besar itu di samping tubuh Mila.


"He-em."


Mila memiringkan tubuhnya kemudian memeluk tubuh besar itu. Ia meletakkan kepalanya di lengan berotot milik pangeran Hans dan menjadikannya sebagai bantal.


"Apa kamu ingin mengulanginya?" tanya Pangeran Hans lagi.


Mila mendongakkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Sepertinya aku mau, tapi tidak sekarang. Aku sudah kelelahan dan ingin segera beristirahat," sahut Mila.


Pangeran Hans mengusap lembut wajah Mila yang masih berkeringat kemudian mengecup bibir seksi itu. "Baiklah. Selamat beristirahat," jawabnya.


Malam itu Mila tidur dengan nyenyak di dalam pelukan Pangeran Hans sama seperti biasanya. Seperti biasanya pula, lelaki gaib itu terus berada di samping Mila dan menjaganya.


Keesokan paginya.


Mila tersentak kaget ketika merasakan sesuatu yang dingin dan bergerak liar di area pribadinya. Ia membuka matanya dan melihat ke bawah.


"Pangeran? Eumhhh ... apa yang kamu lakukan?" Tubuh Mila bergelinjang hebat ketika lelaki gaib itu terus memainkan area pribadinya dengan begitu liar. Mila kembali ke posisi semula. Ia merebahkan tubuhnya dan menikmati setiap kenikmatan yang diberikan oleh suami gaibnya.


Setelah puas, Pangeran Hans menghentikan aksinya. Ia kembali menaiki tubuh polos Mila dan meraih sebelah kaki mulus itu lalu menciuminya dari ujung kaki hingga pangkal paha. Kaki mulus itu ia letakkan di bahu kemudian menghujamkan senjata tumpul miliknya ke lorong sempit milik Mila untuk sekali lagi.


"Akhhh!" jerit Mila dengan mata terpejam.


Pasangan baru menikah itu pun kembali melakukan permainan panas mereka. Hingga beberapa saat kemudian ....


"Pangeran, cepat! Aku hampir selesai," ucap Mila sambil mencengkram rambut lelaki itu dengan kasar.


"Kita lepaskan bersama-sama!" balas Pangeran Hans sambil mempercepat gerakannya.


Setelah beberapa detik berikutnya, Mila dan Pangeran Hans pun berhasil melepaskannya secara bersama-sama.


Mila terkulai lemas. Ia tersenyum ketika sadar bahwa mereka sudah melakukan permainan panas itu untuk kedua kalinya. Mila benar-benar bahagia karena merasa terpuaskan oleh suami gaibnya tersebut.


"Pangeran, tidak pernahkah kamu berpikir untuk tinggal di dunia ini bersamaku dan menjadi manusia seutuhnya sama seperti aku?" Tiba-tiba Mila membuka suaranya dan mempertanyakan hal aneh itu kepada Pangeran Hans.


Pangeran Hans yang saat itu sedang berbaring di samping Mila, akhirnya menoleh dengan tatapan dingin menatap istrinya itu.


"Biar bagaimanapun ini bukanlah dunia kita. Kita tidak bisa tinggal di sini, walaupun kamu sudah menjadi bagian dari mereka," tutur Pangeran Hans.


Mila membuang napas berat kemudian kembali menatap langit-langit kamar di villa tersebut. "Sebenarnya aku masih berharap bisa tinggal di sini dan memulai kehidupan baru kita, Pangeran Hans. Menjadi manusia seutuhnya dan memiliki banyak anak," tutur Mila.


Pangeran Hans mendekap tubuh polos Mila dengan erat. "Maafkan aku karena aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu yang satu itu," jawab Pangeran Hans.


...***...