Jerat Hasrat Pangeran Gaib

Jerat Hasrat Pangeran Gaib
Kegelisahan Rika


Perdebatan demi perdebatan pun terjadi antara Ibunda Rangga dan Rangga sendiri. Walaupun Rangga bersikukuh bahwa ia tidak melakukan apa pun terhadap Rika, tetapi Ibunda lelaki itu tetap bersikeras meminta Rangga bertanggung jawab untuk menikahi Rika.


"Bu, percayalah padaku, kami tidak melakukan apa pun. Aku suka dah cek tempat tidur dan tidak ada bercak atau noda apa pun di sana," tutur Rangga sambil memelas.


Wanita paruh baya itu menekuk wajahnya kesal. "Ibu tetap tidak percaya. Baik ada noda atau pun tidak, kalian harus tetap menikah! Sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan sebelum kalian menjadi gunjingan orang-orang karena sudah melakukan hubungan suami-istri sebelum waktunya," celetuk wanita paruh baya tersebut.


Rangga menghembuskan napas berat seraya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menikahi Rika."


Rangga menoleh ke arah Rika yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa. "Bagaimana denganmu Rika? Apa kamu bersedia menikah denganku?"


Rika pun tampak pasrah. Ia mengangguk lemas sembari membalas tatapan lelaki tampan itu. "Ya, Mas. Aku bersedia."


"Bagus! Ibu ingin pernikahan kalian dilaksanakan secepatnya. Namun, Ibu harus membicarakannya bersama ayahmu dan semoga saja dia tidak mengamuk setelah mendengar berita memalukan ini."


Rangga mengusap wajahnya dengan kasar. Tampak jelas bahwa lelaki tampan itu tengah frustrasi akibat kejadian ini.


"Sekarang antar balik gadis ini. Dan Ibu harap kalian tidak mengulangi hal itu lagi sebelum kalian resmi menjadi suami istri," lanjut wanita paruh baya itu.


"Baik, Bu."


Rangga bangkit dari tempat duduknya kemudian memberi isyarat kepada Rika agar segera mengikutinya. Namun, sebelum Rika mengikuti langkah lelaki yang akan menjadi suaminya itu, ia berpamitan terlebih dahulu kepada wanita paruh baya tersebut.


"Aku permisi dulu ya, Bu." Rika meraih tangan wanita itu kemudian menciumnya.


"Ingat pesan Ibu, jangan melakukan hal itu sebelum kalian menikah! Kamu mengerti 'kan?" tegasnya.


"Baik, Bu."


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Rika ragu bahwa ia dan Rangga sudah melakukan hal yang tidak senonoh itu.


Rangga pun segera menuntun Rika ke halaman depan rumahnya yang cukup luas. Di mana lelaki itu memarkirkan mobil miliknya.


"Silakan masuk!" ucap Rangga sembari membuka pintu mobilnya.


"Terima kasih, Mas."


Rika masuk kemudian duduk di kursi depan, di samping kursi kemudi yang akan ditempati oleh Rangga. Setelah Rangga masuk, ia pun bergegas melajukan mobil tersebut ke kontrakan yang didiami oleh Rika dan Mila.


Di perjalanan.


"Maafkan aku, Rika." Pernyataan maaf dari Rangga tersebut berhasil memecah keheningan di dalam mobil tersebut.


Rika menoleh sambil tersenyum kecut kepada lelaki itu. "Tidak apa-apa, Mas. Mungkin ini memang sudah takdirku," lirih Rika.


"Tapi demi Tuhan, Rika. Saat itu aku benar-benar tidak sadar. Ketika aku berbaring di sofa ruang utama, aku sudah tidak merasakan apa pun lagi. Sama seperti orang yang sedang tertidur lelap. Setelah sadar, eh ternyata kita sudah seperti itu," jelas Rangga dengan wajah serius.


"Ehm, maaf Mas jika pertanyaanku kali ini menyinggung perasaanmu. Apa Mas minum sesuatu sebelumnya? Ya, misalnya minuman keras gitu," tanya Rika dengan sangat hati-hati.


"Termasuk kalung ini?" lirih Rika sambil menyentuh kalung cantik yang diberikan oleh lelaki itu setelah menyatakan cinta kepadanya.


"Kalung?" Rangga menoleh dan ia sempat kaget ketika melihat kalung cantik itu melingkar di leher Rika.


"Apakah aku yang memberikan kalung itu kepadamu?" Rangga balik bertanya.


Rika mengangguk pelan. "Ya. Mas yang memberikannya kepadaku sebagai bukti cinta Mas kepadaku. Jika Mas mau, Mas bisa mengambilnya kembali karena aku tahu kalung ini pastinya bukan untukku, 'kan?"


Rangga terdiam sejenak. Ya, sebenarnya kalung itu ingin ia berikan untuk seseorang yang begitu spesial untuknya. Namun, karena ia masih belum percaya diri untuk menyatakan perasaannya secara langsung, Rangga pun memilih untuk menyimpannya sementara waktu hingga tiba saatnya nanti.


"Tidak usah, Rika. Ambillah kalung itu. Kamu memang lebih berhak memilikinya karena tidak lama lagi kamu akan menjadi istriku," sahut Rangga mantap.


"Benarkah?" Mata Rika tampak berkaca-kaca.


"Ya. Bukankah sebentar lagi kita akan menikah?" jelas Rangga.


Rika pun mengangguk pelan.


Selang beberapa menit kemudian.


Mobil yang dikemudikan oleh Rangga tiba di depan kontrakannya. Rika bergegas turun setelah berterima kasih kepada Rangga kemudian segera masuk ke dalam rumah sederhana itu.


Sepeninggal Rangga, Rika kembali melanjutkan aktivitas paginya yang sempat tertunda. Ia masuk ke dalam kamar mandi kemudian segera melakukan ritual mandinya.


"Ya Tuhan! Apa yang harus aku katakan kepada Mila? Bagaimana caranya agar aku bisa menjelaskan tentang pernikahan mendadak ini kepada gadis itu dan tidak akan membuatnya merasa kecewa." Rika membilas wajahnya dengan kasar dan sesekali terdengar suara hembusan napas yang begitu berat.


"Sahabat macam apa aku ini? Aku sudah menikung Mila tanpa sepengetahuan dia. Hanya gara-gara tidak dapat menahan perasaanku terhadap Mas Rangga, aku rela menuruti semua keinginannya. Termasuk meminum minuman beralkohol itu. Jika seandainya aku menolak, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini," gumam Rika.


Sementara itu di toko kue.


Mila mengedarkan pandangannya ke segenap sisi toko untuk mencari keberadaan Rika. Namun, hingga pandangannya berhasil menyapu bersih seluruh ruangan itu, Rika tetap tidak ditemukan. Hal itu benar-benar membuat Mila heran sekaligus khawatir.


"Di mana Rika? Apa mungkin ia belum kembali? Ya, Tuhan!" pekik Mila dengan wajah cemas.


Mila meraih ponselnya kemudian mencoba menghubungi nomor ponsel sahabatnya itu. Namun, panggilan yang dilakukan oleh Mila saat itu tidak diangkat oleh Rika. Bahkan hingga berkali-kali ia mencoba menghubunginya, Rika tetap tidak menerima panggilannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Rika? Kenapa kamu tega mengabaikan panggilan dariku?" gumam Mila.


Mila tidak menyerah begitu saja. Kini ia mulai mengetikkan sebuah pesan kepada sahabatnya itu. Namun, pesan itu masih bercentang dua dan belum dibaca oleh gadis itu.


"Ayo, Rika! Bacalah pesanku! Kumohon," ucap Mila yang semakin panik memikirkan sahabatnya itu.


Tepat di saat itu, Rangga tiba di toko tersebut dengan wajah yang begitu kusut. Tidak seperti biasanya yang selalu cerah dan ceria. Mila ingin menghampiri lelaki itu untuk menanyakan soal keberadaan Rika kepadanya, tetapi setelah ingat akan ancaman Pangeran Hans, Mila pun mengurungkan niatnya.


...***...