
"Kemarilah!" Pangeran Hans meraih tangan Mila kemudian menuntunnya ke suatu tempat. Sementara Mila menurut saja. Ia mengikuti jejak langkah lelaki gaib itu dan berhenti di pinggir jalan raya.
Tepat di saat itu, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di hadapan mereka. Sesosok lelaki berperawakan tinggi besar dengan mengenakan setelan jas lengkap, keluar dari dalam mobil tersebut.
Lelaki itu tersenyum hangat kemudian membukakan pintu mobil untuk Mila dan Pangeran Hans.
"Masuklah," titah Pangeran Hans kepada Mila.
"Sebentar! Mobil siapa ini? Dan siapa dia," tanya Mila dengan alis yang saling bertaut sembari menunjuk ke arah lelaki berperawakan tinggi besar tersebut.
"Masuk saja. Tidak usah banyak bertanya. Yang pastinya benda ini yang akan membawa kita ke tempat itu," sahut Pangeran Hans sambil mendorong pelan tubuh Mila agar masuk ke dalam mobil tersebut.
"Ish, tunggu sebentar!" protes Mila. Namun, ia sudah terlambat. Pangeran Hans sudah berhasil memasukkan dirinya ke dalam mobil tersebut.
"Dasar!" gerutu Mila sambil menekuk wajahnya.
Pangeran Hans masuk kemudian duduk di samping Mila. Ia tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Mila yang saat itu sedang cemberut.
Lelaki berperawakan tinggi besar itu segera menyusul Mila dan pangeran Hans. Setelah pasangan itu duduk tenang di belakang sana, ia pun segera melajukan mobil tersebut menuju tempat acara pernikahan Rika dan Rangga.
"Ini mobil asli 'kan, Pangeran Hans?" tanya Mila dengan wajah khawatir dan juga cemas.
"Apa maksudmu? Tentu saja benda ini asli! Apa kamu tidak bisa lihat ini!" Pangeran Hans mengetuk pintu di samping tubuhnya untuk memastikan bahwa mobil itu adalah mobil asli dan bukan tipuan, sama seperti yang dipikirkan oleh Mila.
"Ya, siapa tahu ini hanya mobil-mobilan yang kamu sulap seolah-olah mobil beneran. Kemudian di jam-jam tertentu akan kembali ke wujud aslinya. Sama seperti di cerita Putri Cinderella," tutur Mila.
Lelaki gaib itu tersenyum sinis. "Jangan samakan aku dengan pangeran dongengmu itu, Aurora!"
"Lalu, siapa lelaki ini? Apakah dia manusia asli sama sepertiku atau mahluk gaib sama seperti dirimu?" Tiba-tiba Mila mencubit lengan kekar lelaki yang sedang duduk di belakang kemudi dengan cukup keras.
Lelaki berperawakan tinggi besar itu tetap diam dan tak bicara sepatah kata pun sama seperti sebelumnya. Cubitan Mila saat itu hanyalah seperti gigitan semut yang tidak menimbulkan efek apa pun untuknya.
"Ish, ternyata dia sama sepertimu, Pangeran Hans. Hanya saja ia tidak bisa bicara," celetuk Mila sambil tersenyum tipis.
Pangeran Hans hanya diam. Namun, tatapan tajamnya tetap tertuju pada gadis cantik itu.
Selang beberapa menit kemudian.
Mobil yang dikemudikan oleh lelaki berperawakan tinggi besar tersebut tiba di depan sebuah gedung, di mana acara pernikahan Rika dan Rangga dilaksanakan.
Mila memperhatikan tempat itu dan ia sempat berdecak kagum karena pernikahan Rika benar-benar meriah menurutnya.
"Wah! Beruntung sekali Rika. Lihat, siapa sangka ternyata pernikahan mereka benar-benar meriah," celetuk Mila.
"Pernikahan kita jauh lebih meriah dari ini," timpal Pangeran Hans tidak mau kalah.
"Ah, sudahlah. Sebaiknya kita temui Rika dan mas Rangga," sambung Mila sembari menarik tangan kekar lelaki gaib itu dan membawanya masuk ke dalam ruangan megah tersebut.
Mila memperhatikan pelaminan megah yang berdiri kokoh di salah satu sudut ruangan. Tampak Rika dan Rangga tengah bersanding di sana sambil bergaya. Mengikuti perintah fotografer yang sedang mengabadikan moment indah mereka.
Mila kembali tersenyum. Mencoba menampakkan rasa bahagianya atas pernikahan mereka. Walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, masih ada rasa kecewa. Ya, tidak semudah membalikkan telapak tangan melupakan sosok lelaki yang pernah tersemat lama di dalam hatinya.
"Ah, ya! Aku ingin menghampiri mereka."
Mila kembali melanjutkan langkahnya menuju pelaminan, masih ditemani oleh lelaki gaib itu. Setibanya di sana, Rika pun menjerit histeris. Ia begitu bahagia melihat kedatangan Mila.
"Mila! Oh, syukurlah! Aku pikir kamu tidak akan datang," ucap Rika sembari meraih tangan Mila kemudian memeluknya dengan erat.
"Maaf, aku terlambat. Ngomong-ngomong, selamat ya, Rik. Semoga kalian selalu bahagia." Mila tersenyum kemudian membalas pelukan dari sahabatnya itu.
Sementara itu.
Rangga tiba-tiba mematung setelah mengetahui siapa yang sedang berdiri di samping Mila. Seorang lelaki bertubuh atletis dan memiliki paras rupawan itu menyeringai ketika bersitatap mata dengannya.
"Apa kabar, Rangga?"
"Ba-baik," jawab Rangga dengan terbata-bata. Lelaki gaib itu berhasil membuatnya ketakutan. Bahkan wajah tampan Rangga sampai memucat dan keringat dingin terus mengucur tanpa bisa ia tahan.
Tiba-tiba tatapan Rika beralih pada sosok tampan yang berdiri di samping Mila. Ia yang tidak pernah melihat sosok Pangeran Hans sebelumnya, membulatkan matanya dengan sempurna.
"Mi-Mila, siapa lelaki ini?" tanya Rika tanpa berkedip sedikit pun menatap wajah tampan pangeran Hans.
"Ehm, dia ...." Mila terdiam sejenak sambil melirik lelaki gaib tersebut.
"Aku Hans. Calon suami Mila," jawabnya enteng.
"Calon suami? Benarkah itu, Mil?" pekik Rika dengan mata yang kembali membesar. Ia seakan tak percaya mendengar pernyataan dari lelaki tampan itu.
Mila tersenyum kecut. "Ya, seperti itulah."
"Ya ampun, Mila! Kenapa selama ini kamu tidak pernah bercerita padaku bahwa kamu sudah punya calon suami!" pekik Rika lagi, yang masih tidak sadar siapa sebenarnya lelaki tampan itu.
Rangga ingin sekali memberitahu Rika soal Pangeran Hans. Namun, bibirnya seolah terkunci rapat. Bahkan untuk sekedar menggerakkan bibirnya saja, ia tidak mampu.
Rika terus saja berceloteh, bertanya berbagai pertanyaan tentang Pangeran Hans. Namun, Mila tidak menjawabnya. Ia hanya diam sambil sesekali tersenyum kepada sahabatnya itu. Sementara pangeran Hans, lelaki itu hanya diam dengan ekspresi dingin.
"Ehm, ngomong-ngomong. Aku sudah lapar, Rika," lirih Mila yang sengaja menyela pembicaraan Rika.
"Oh iya, aku sampai lupa. Maaf-maaf! Baiklah, sebaiknya kalian makan dulu dan jangan lupa, makan yang banyak," sahut Rika dengan setengah berbisik kepada Mila.
Mila tersenyum kemudian menggeser tubuhnya beberapa centi. Kini ia berdiri tepat di hadapan Rangga. Rangga menatap Mila dengan mata berkaca-kaca. Biar bagaimana pun juga, ia masih memiliki perasaan yang begitu spesial untuk gadis itu.
"Mas Rangga. Aku titip Rika, ya. Aku mohon jaga Rika dengan baik dan jangan kecewakan dia. Dan satu lagi, punya anak yang banyak," ucap Mila sambil tersenyum kecut.
Rangga mengangguk pelan. "Ya, aku berjanji, Mila."
"Ish, kamu ini!" celetuk Rika. "Dari cara bicaramu itu, seolah kamu ingin meninggalkan kami," sambungnya dengan wajah menekuk menatap Mila.
Mila terdiam dengan tatapan sendu menatap sahabatnya itu. Rika mungkin lupa bahwa Mila memang akan pergi jauh selepas ini. Meninggalkan dunia mereka dan ikut ke dunia pangeran Hans.
...***...