
Pangeran Hans mulai memacu kuda kesayangannya lebih dalam lagi sambil memperhatikan sekeliling. Cukup lama lelaki itu berkeliling bersama kudanya, hingga ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak.
Setelah mengikatkan tali kekang kudanya ke sebuah pohon, Pangeran Hans duduk bersandar di bawah pohon besar itu sambil tersenyum miring menatap Logan.
"Ke mana saudara kembarmu, Logan? Bisakah kamu bantu aku mencari mereka dengan menggunakan instingmu? Aku tahu ikatanmu dan Lexus begitu kuat dan kamu pasti tahu jika saudara kembarmu itu dalam bahaya," ucap Pangeran Hans.
Pangeran Hans menenggak minuman yang diberikan oleh Mila kemudian kembali bersandar di pohon. Sementara kuda jantan berwarna putih itu tampak berkonsentrasi penuh. Mata dan telinganya terpasang dengan sempurna untuk melihat dan mendengarkan situasi di sekitar tempat itu.
Hingga akhirnya Logan meringkik sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan kuat ke tanah. Pangeran Hans sontak terkejut. Ia segera bangkit kemudian menghampiri kuda jantan tersebut.
"Ada apa, Logan? Apa kamu berhasil menemukan keberadaan mereka?" tanya Pangeran Hans sembari mengelus lembut puncak kepala kuda itu.
Lagi-lagi Logan meringkik. Seolah berkata bahwa dirinya sudah berhasil menemukan keberadaan Lexus dan pengawal setia Pangeran Hans. Beruntung Pangeran mengerti, ia segera melepaskan ikatan tali kekang milik Logan kemudian menaiki tubuh besar kuda tersebut.
"Baiklah! Sekarang bawa aku menemui mereka," titah Pangeran Hans kepada Logan.
Logan pun segera berlari dengan cepat menuju tempat di mana Lexus dan pengawal setia Pangeran Hans berada. Hanya berjarak seratus meter dari tempat itu, Pangeran Hans akhirnya berhasil menemukan keberadaan Lexus dan pengawal setianya.
"Ya, ampun! Apa yang sudah terjadi padamu!" pekik Pangeran Hans dengan mata membulat sempurna ketika melihat bagaimana kondisi pengawal setianya saat itu.
Pengawal itu terikat di sebuah pohon besar dengan kondisi yang begitu mengenaskan. Tubuhnya sudah lemah dan hampir tidak bisa merespon ucapan Pangeran Hans. Sementara Lexus, kuda itu pun mengalami hal yang sama. Ia diikat di pohon yang sama seperti pengawal itu.
Lexus meringkik, seolah berkata kepada Logan bahwa ia kelelahan. Ya, kuda itu memang kelelahan sebab ia sudah menghabiskan tenaganya untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut. Namun, sayang usahanya hanya sia-sia saja.
"Apa yang terjadi padamu? Dan siapa yang sudah tega melakukan ini?" tanya Pangeran Hans sembari melepaskan ikatan yang melilit di tubuh pengawalnya itu.
"Pu-Putri Aurora ...." rintih lelaki bertubuh tinggi besar itu sambil menahan sakit di tubuhnya.
"Putri Aurora? Ada apa dengan istriku?" pekik Pangeran Hans dengan wajah cemas.
"Pu-Putri Aurora dalam ba-bahaya! I-ini hanya sebuah pancingan, mereka menginginkan Putri Aurora!" sahut lelaki itu di sela rintihannya.
"Apa!"
Pangeran Hans mempercepat gerakannya. Ia membuka ikatan yang melilit di tubuh pengawal serta Lexus hingga mereka berdua berhasil bebas.
"Tinggalkan saja saya di sini, Pangeran. Segera selamatkan Putri Aurora!" ucapnya lagi.
"Ya, aku akan menyelamatkan istriku, tetapi aku tidak bisa meninggalkan kalian dengan kondisi seperti ini!"
"Ta-tapi, Pangeran ...."
Dengan susah payah, pangeran menaikkan tubuh besar pengawal setianya itu ke atas tubuh Lexus kemudian mengikatnya agar tidak terjatuh ketika di perjalanan. Setelah selesai, Pangeran Hans pun segera memacu Logan dan diikuti oleh Lexus dari belakang.
Sementara itu.
Mila masih mengurung diri di dalam kamar sambil terus berdoa agar Pangeran Hans segera kembali bersama pengawal serta Lexus. Tepat di saat itu terdengar suara ketukan dari pintu depan kastil.
Suara ketukan tanpa suara itu terus terdengar bahkan lebih cepat dan lebih keras dari sebelumnya. Mila mengulurkan tangan dan berniat membuka kunci pintu tersebut. Namun, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya. Hati kecilnya berkata bahwa orang yang tengah mengetuk pintu kastil di luar sana bukanlah suaminya.
"Si-siapa?" tanya Mila dengan bibir bergetar.
"Ini aku, Aurora! Suamimu!" Terdengar sebuah jawaban yang membuat keraguan di hati Mila sirna. Suara itu suara suaminya, Pangeran Hans.
Ia pun kembali tersenyum kemudian membuka kunci kastil tersebut dengan cepat. "Apa kamu sudah berhasil menemukan mere—"
Belum habis Mila berucap dan pintu kastil pun barus saja terbuka, tiba-tiba sebuah benda tumpul menghantam kepalanya dengan sangat keras. Penglihatan Mila mendadak buram dan dunia pun seakan berputar dengan begitu cepat. Namun, ia sempat melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.
Seorang laki-laki berperawakan besar berdiri di hadapannya sambil memegang sebuah alat pemukul berukuran besar. Lelaki itu menyeringai dan dia adalah pengawal setia Raja Edward.
"Ka-kamu!"
Mila pun terjatuh ke lantai dan ia kehilangan kesadarannya. Pengawal setia Raja Edward segera mengikat tubuh Mila yang lemah kemudian memasukkannya ke dalam kereta. Mereka pun segera kembali ke istana setelah berhasil mendapatkan Putri Aurora. Sama seperti perintah Raja Edward dan Putri Serena.
Dengan menggunakan kekuatannya, Pangeran Hans mempersingkat waktu perjalanan mereka menuju kastil. Setibanya di tempat itu, Pangeran Hans segera turun dari tubuh Logan dan berjalan dengan cepat memasuki Kastil.
Ia begitu marah ketika mendapati pintu kastil yang tidak terkunci. Bukan hanya itu, ia juga tidak menemukan di mana istrinya berada.
"Aurora! Di mana kamu! Aurora!" teriak Pangeran Hans sembari menelusuri setiap ruangan yang ada di kastil tersebut hingga tak terlewat sedikit pun.
Akhirnya Pangeran Hans sadar bahwa Aurora sudah diculik dan ia pun kembali keluar untuk menemui pengawal setianya.
"Siapa yang sudah melakukan ini?" tanya Pangeran dengan wajah memerah menatap pengawal setianya.
"Ra-Raja Ed—" Belum habis pengawal itu berkata, Pangeran Hans sudah memotong pembicaraannya.
"Kurang ajar!" sela Pangeran Hans.
Sebelum ia pergi menyusul Aurora ke istana, Pangeran Hans membantu pengawal setianya masuk ke kastil dan membiarkan lelaki itu beristirahat di sana.
Kembali ke istana Raja Edward, di mana Aurora sudah tiba di sana. Raja Edward tertawa lantang, tanda bahagia. Begitu pula Putri Serena, wanita cantik itu begitu senang karena mereka berhasil mendapatkan Aurora kembali.
"Yang Mulia Raja, sebaiknya kita singkirkan pelayan itu sekarang juga. Sebelum Pangeran Hans sadar bahwa kita sudah menculiknya," ucap Putri Serena kepada Raja Edward.
"Ya. Kamu benar, Putri Serena."
Lelaki berkuasa itu bangkit dari posisinya kemudian memanggil pengawalnya dengan suara lantang.
"Pengawal! Segera bawa pelayan rendahan itu ke hadapanku. Jangan lupa, perintahkan para algojo untuk mengeksekusinya. Aku tidak ingin mengotori tanganku dengan darah hina dari pelayan itu!" titahnya sambil tersenyum sinis.
"Baik, Yang Mulia Raja."
...***...