
Sementara pesta pernikahan Mila dan Pangeran Hans masih berlangsung dengan meriahnya. Di tempat lain, atau lebih tepatnya di dunia lain.
Seorang putri dengan paras cantik tengah mandi di sebuah pemandian mewah miliknya bersama beberapa orang dayang-dayang yang selalu setia melayani dan menuruti semua keinginan putri cantik tersebut.
Putri itu membenamkan tubuh polosnya ke dalam air hingga sebatas dada. Air hangat yang dipenuhi dengan berbagai macam kelopak bunga. Wanita itu bersandar di dinding pemandian sambil melamun. Tatapannya tampak kosong menerawang. Pikirannya kalut dan hal itu terlihat jelas di wajah cantiknya tersebut.
Ia bahkan tidak lagi merasakan nikmatnya pijatan yang diberikan oleh dayang-dayang yang tengah melayaninya saat itu.
"Putri Serena," panggil salah satu dayang.
Wanita cantik itu mendengarnya dengan sangat jelas, tetapi ia begitu malas untuk merespon panggilan dari dayangnya tersebut.
"Putri, di luar ada Baba Louis yang ingin bicara. Baba bilang ini sangat penting," ucap dayang itu lagi.
Putri Serena refleks menoleh setelah mendengar nama peramal paling terpercaya di seluruh kerajaan itu disebutkan. Ia merespon ucapan dayang itu kemudian menatapnya dengan lekat.
"Baba?" Putri Serena menautkan kedua alisnya.
"Ya, Putri. Baba Louis." Dayang itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah. Aku akan segera menemuinya. Aku harap dia membawa berita baik untukku."
"Baik, Putri."
Wanita cantik itu bangkit dari tempat pemandiannya. Beberapa dayang segera menghampiri dan membawakan sebuah jubah untuk menutupi tubuh polosnya. Setelah mengenakan jubah tersebut, Putri segera menuju kamarnya untuk berpakaian dengan dibantu oleh para dayang-dayang.
Sementara dayang yang tadi memberitahunya soal peramal itu, segera pergi dan menemui lelaki tua itu dan memberitahu bahwa putri Serena akan segera menyusul.
"Baiklah, aku akan menunggu di sini," jawab lelaki yang disapa Baba Louis itu.
Cukup lama Baba Louis menunggu Putri Serena di ruangan itu hingga akhirnya wanita cantik itu pun muncul bersama dayang-dayang yanh selalu setia menemaninya.
"Ada apa, Baba? Apa kamu membawa berita baik untukku? Jika bukan, sebaiknya kamu pulang saja dan kembali setelah mendapatkan kabar baik untukku," ucapnya sembari duduk di sebuah kursi mewah yang ada di ruangan itu. Sementara lelaki tua itu masih berdiri di hadapannya sambil tersenyum hangat.
"Saya punya kabar baik untuk Putri Serena dan saya yakin, Putri pasti akan sangat senang mendapatkan kabar ini," jawab lelaki tua itu dengan sangat antusias.
"Benarkah? Kabar apa itu?" Putri Serena menatap lelaki tua itu sambil memicingkan matanya. Wanita cantik itu tidak terlalu percaya dengan omongan Baba Louis yang sering kali hanya memberi harapan hampa untuk dirinya.
"Benar, Putri Serena. Ini tentang Pangeran Hans," jawab lelaki tua itu.
"Pangeran Hans! Benarkah? Apa kamu sudah tahu di mana calon suamiku itu berada?" tanya Putri Serena dengan wajah berbinar setelah tahu bahwa berita baik itu tentang lelaki pujaannya.
"Ya, Putri. Saya sudah tahu di mana Pangeran Hans bersembunyi selama ini. Ternyata selama ini Pangeran tinggal di dunia manusia dan mulai berbaur di sana," jelas lelaki tua itu.
"Apa! Dunia manusia? Kenapa ia bisa berada di sana? Dan kenapa baru sekarang kamu menemukan keberadaannya, Baba?!" ucap Putri Serena dengan sedikit kesal.
"Maafkan saya, Putri. Sangat sulit bagi saya mengetahui keberadaan Pangeran Hans," jawab Baba Louis sambil menundukkan kepalanya menghadap lantai.
"Apa yang dilakukan oleh Pangeran Hans di sana? Apa ini ada hubungannya dengan Aurora, si pelayan menyedihkan itu?" tanya Putri Serena penuh selidik. Ia merasa curiga dengan keberadaan Pangeran Hans di dunia manusia.
Baba Louis tampak ragu. Namun, ia tidak mungkin berkata bohong kepada calon istri Pangeran Hans, pilihan Raja Edward tersebut.
"Ya, Putri. Itu benar. Aurora tidak benar-benar mati. Ia terlahir kembali dan menjadi manusia. Sekarang Pangeran Hans dan Aurora kembali bersatu," jelas lelaki tua itu.
Putri Serena benar-benar syok setelah mengetahui kebenaran itu. Memang, sebelumnya ada kabar angin yang sempat ia dengar bahwa Aurora terlahir kembali. Namun, baik ia atau Raja Edward sekali pun tidak pernah mempercayainya.
Lelaki tua itu menganggukkan kepalanya. "Ya, itu benar, Putri Serena."
"Tapi bagaimana ini bisa terjadi! Secara dia hanya seorang pelayan rendahan, Baba!"
"Inilah yang sedang saya cari tahu," lirih Baba.
"Apa Raja Edward sudah mengetahui hal ini?" tanya Putri Serena sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Baba Louis menggelengkan kepalanya. "Saya belum memberitahu Raja."
"Biar aku saja yang memberitahunya!" Wanita cantik itu bangkit dari tempat duduknya dengan tergopoh-gopoh. Karena saking syok-nya, lutut Putri Serena menjadi lemah dan sulit untuk menahan beban tubuhnya.
"Dayang, bantu aku!" teriaknya dengan kasar.
"Ba-baik, Putri!"
Para dayang-dayang segera menghampiri Putri Serena kemudian membantunya berjalan. Wanita cantik itu ingin segera menemui Raja Edward agar ia bisa menyampaikan berita buruk itu secara langsung.
Selang beberapa saat kemudian.
"Putri Serena?" Raja Edward menautkan kedua alisnya heran. "Suruh dia masuk," titah lelaki berkuasa itu kepada pengawal kerajaan yang masih berdiri di hadapannya.
"Baik, Yang Mulia."
Pengawal itu bergegas pergi dan menemui Putri Serena yang masih menunggu di depan istana Raja Edward, bersama para pengawalnya.
Tidak perlu menunggu lama, Putri Serena sudah tiba di ruangan itu sambil melangkah dengan tergesa-gesa. Ia berdiri di hadapan Raja Edward kemudian memberi hormat sambil membungkukkan badannya.
"Raja Edward, maafkan aku karena sudah mengganggu waktumu. Tapi, aku harus menemuimu karena ini sangat penting! Ini soal Pangeran Hans, putramu! Calon suamiku," ucap Putri cantik itu dengan wajah memelas menatap Sang Raja.
"Pangeran Hans!" pekik lelaki berkuasa itu dengan mata membulat.
Bukan hanya Raja Edward, Ratu Caroline pun begitu terkejut saat Putri Serena menyebutkan nama putra tunggalnya itu. Putra kesayangan yang menghilang entah ke mana dan tak ada satu pun yang tahu di mana keberadaannya saat ini.
"Ya, Raja. Ini tentang Pangeran Hans. Aku sudah tahu di mana dia berada," lanjutnya dengan begitu menggebu-gebu.
"Benarkah, kalau begitu di mana dia sekarang?" Mata Ratu Caroline tampak berkaca-kaca. Ia berjalan menghampiri Raja Edward kemudian memeluk lengan kekar suaminya itu. "Kalau benar Pangeran Hans sudah ditemukan, kumohon padamu, Yang Mulia. Bawalah ia kembali. Aku sangat merindukannya," lirihnya, menatap Raja Edward.
Raja Edward tampak berpikir sejenak kemudian mengangguk pelan.
"Apakah berita ini dapat dipercaya, Putri Serena? Jika benar, lalu di mana dia sekarang?" tanya Raja Edward kepada Putri Serena yang masih berdiri di hadapannya.
Putri cantik itu menghembuskan napas berat sambil menatap lekat Raja Edward.
"Di dunia manusia. Dan apa Raja tahu, apa yang ia lakukan di sana? Dia menemui Aurora. Desas-desus itu benar, Raja Edward! Aurora tidak mati! Ia terlahir kembali menjadi manusia dan sekarang Pangeran kembali bersatu dengan pelayan rendahan itu!" sahut Putri Serena dengan bibir bergetar.
...***...