
Beberapa jam kemudian.
Di kontrakan Mila.
Mila yang sudah terlarut di alam mimpinya, tiba-tiba dikejutkan oleh suara berat seorang laki-laki yang kini sedang mencoba membangunkannya. Tubuhnya digoyang pelan dan sesekali ciuman hangat mendarat di pipi serta kening gadis itu.
"Aurora, bangunlah."
Perlahan Mila membuka kemudian mengerjapkan matanya. Sosok mahluk gaib yang sejak tadi entah di mana keberadaannya, kini sudah berada tepat di hadapan gadis itu.
"Pangeran Hans? Ada apa?" tanya Mila sembari bangkit dari posisinya kemudian duduk bersandar di sandaran tempat tidur.
"Aku ingin mengajakmu makan malam bersama," ucap Pangeran Hans sambil tersenyum tipis menatap gadis itu.
Mila menautkan kedua alisnya lalu melirik jam dinding yang ada di salah satu sudut dinding kamar yang sempit itu.
"Apa kamu tidak salah, Pangeran Hans? Ini sudah jam berapa?" Mila mengucek matanya, memastikan bahwa ia tidak salah lihat.
Lelaki gaib itu tertawa pelan kemudian meraih tangan Mila dan membawanya ke sebuah meja yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja sudah berada di dalam kamar sempit itu.
"Tidak masalah jarum jam itu mau menunjuk ke angka mana saja, yang penting ini masih malam dan bukan siang. Karena jika siang, maka akan disebut makan siang. Benar, 'kan?" jawabnya enteng.
Pangeran Hans menarik sebuah kursi kemudian mendudukkan Mila ke kursi tersebut.
Mila tampak terbengong-bengong melihat benda-benda yang ada di hadapannya. Entah dari mana lelaki gaib itu mendapatkan semuanya kemudian membawa benda-benda itu ke dalam kamar berukuran 3x4 meter tersebut.
"Dari mana kamu mendapatkan semua barang-barang ini, Pangeran Hans? Jangan bilang kamu mencurinya kemudian membawanya ke sini. Jika itu benar, maka aku minta kamu segera mengembalikannya dan jangan buat aku dalam masalah besar." Mila menatap serius kepada lelaki gaib itu.
Lelaki gaib itu tertawa pelan. "Apa kamu pikir aku ini seorang pencuri, Aurora? Aku ini seorang pangeran dan aku bisa mendapatkan apa saja yang aku inginkan."
Pangeran Hans membuka tudung saji yang ada di atas meja dan tampaklah beberapa makanan lezat dan mewah. Bahkan Mila tidak pernah menikmati makanan seperti itu sebelumnya. Sebab hanya restoran mewah serta terkenal lah yang biasa menyajikannya.
Mila membulatkan matanya kemudian memperhatikan makanan yang tersaji di atas meja tersebut dengan begitu serius.
"Dan dari mana pula kamu mendapatkan semua makanan ini, Pangeran Hans?" tanya Mila dengan alis yang saling bertaut. Masih meragukan sosok itu.
Pangeran Hans menghela napas berat. "Apa kamu pikir aku mencuri lagi?"
"Bukan itu. Aku hanya berpikir apakah makanan ini asli atau hanya tipuan belaka," ucap Mila, masih memperhatikan berbagai hidangan lezat yang tersaji di atas meja.
"Tipuan?"
"Ya, tipuan. Sejenis sihir yang mungkin kamu gunakan untuk mengelabuiku," celetuk Mila dengan penuh selidik.
"Maksudmu?" Pangeran Hans memasang wajah malas.
"Ya ... siapa tahu ini bukanlah makanan asli. Kamu hanya menyulapnya seolah ini adalah makanan enak yang menggiurkan," lanjut Mila.
Pangeran Hans menggelengkan kepalanya sambil memasang wajah masam. "Seandainya yang bicara seperti ini adalah orang lain, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk menghukumnya," gerutu Pangeran Hans dengan wajah menekuk.
"Lalu dari mana kamu mendapatkannya?" tanya Mila lagi.
Mila tersenyum miring. "Membelinya? Memangnya kamu punya uang sebanyak itu untuk membeli semua makanan mahal ini?"
"Hei, Nona! Sudah cukup bicaranya! Kamu mau makan malam denganku atau tidak?" kesal Pangeran Hans sambil meninggikan nada suaranya.
"Kalau kamu tidak ingin makan malam bersamaku, maka akan kusingkirkan semua makanan ini. Dan satu hal lagi! Aku ini seorang pangeran. Aku punya banyak emas dan permata. Aku bisa menjualnya kemudian mendapatkan tumpukan kertas yang kamu sebut dengan uang itu!"
Mila terdiam setelah lelaki gaib itu meninggikan suaranya. Suara tegasnya membuat nyali Mila sedikit menciut.
"Sekarang, kamu mau makan makanan ini atau tidak?" tegasnya lagi.
Dengan terpaksa Mila pun segera menganggukkan kepalanya. "Ba-baiklah."
"Bagus. Sekarang makanlah! Dan jangan ragukan makanan itu karena makanan itu asli dan dimasak oleh orang yang kemampuannya sudah tidak diragukan lagi."
Perlahan Mila mulai mencicipi salah satu makanan itu dan ternyata memang benar. Rasanya benar-benar enak. Sementara Mila masih asik mencicipi makanan-makanan itu, Pangeran Hans hanya memperhatikannya tanpa berkedip sedikit pun.
Mila melirik ke arah lelaki itu. "Kenapa kamu hanya diam saja? Apa kamu tidak ingin mencicipi makanan ini bersamaku?" tanya Mila pelan, takut menyinggung lelaki gaib itu lagi.
"Aku rasa masakan pelayan yang sering melayaniku jauh lebih nikmat dari pada masakan koki di dunia ini," jawabnya.
"Benarkah? Memangnya kamu pernah mencicipi masakan yang ada di dunia ini?"
Pangeran Hans memutar bola matanya sembari memasang wajah malas. "Dengan melihatnya saja aku sudah tahu bagaimana rasanya tanpa harus mencicipi makanan itu, Aurora."
"Ish, sombong!" ucap Mila pelan.
Mila pun kembali menikmati makanan-makanan itu.
"Pangeran Hans?" panggil Mila sambil mengunyah makanannya.
Lelaki gaib itu mengangkat kedua alisnya ketika bersitatap mata bersama Mila, seolah menjawab panggilan dari gadis itu.
"Kamu dari mana saja? Sejak tadi sore menghilang tanpa kabar. Apa jangan-jangan kamu malah menemui mas Rangga kemudian menakutinya lagi. Iya?"
"Jangan berbicara saat makan," jawab Pangeran Hans dengan tatapan dingin menatap Mila.
"Jawab saja pertanyaanku. Apa benar kamu pergi menemui mas Rangga? Jika dugaanku itu benar, maka perjanjian pernikahan kita batal!" tegas Mila sambil menekankan kata batal.
Pangeran Hans tersenyum sinis. "Menemui lelaki itu? Heh, sejak tadi sore aku sibuk mempersiapkan ini semua."
"Serius?" Mila melirik Pangeran Hans melalui sudut matanya. Seakan meragukan ucapan lelaki gaib tersebut.
Pangeran Hans sama sekali tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Bibir seksinya terkunci rapat. Namun, sorot mata lelaki gaib itu seolah menyatakan bahwa ia benar-benar tidak suka ketika Mila membahas soal lelaki yang bernama Rangga tersebut.
Melihat ekspresi Pangeran Hans yang cukup mengerikan, Mila pun akhirnya memutuskan untuk menyudahi pembicaraan itu.
"Ya, sudah. Maafkan aku," ucap Mila sembari melanjutkan makan malamnya.
...***...