
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Pangeran! Kenapa tiba-tiba kamu mengajak aku pulang? Aku bahkan belum mencicipi makanan yang sudah tersaji di atas meja kita padahal kamu tahu bahwa saat ini aku sangat lapar. Dan satu lagi, ular itu! Bagaimana ular itu bisa ada di sana?"
Pangeran Hans membuang napas kasar. "Kalau bertanya itu satu-satu, Putri Aurora!" tegasnya.
Mila hanya menekuk wajahnya, ia tidak ingin menimpali ucapan lelaki gaib itu.
"Baiklah. Kenapa tiba-tiba aku mengajakmu pergi? Karena ada wanita tidak sopan yang mencoba mendekatiku. Kamu tahu, seandainya ini di kerajaanku, aku bisa pastikan bahwa wanita itu akan dijatuhi hukuman berat! Dan, ya! Aku sengaja menciptakan ular itu untuk menakut-nakutinya. Sekarang kamu puas?" jelas Pangeran Hans.
Mila terdiam untuk beberapa saat sambil menatap lelaki gaib itu. "Seorang wanita menghampirimu?"
Giliran lelaki gaib itu yang diam dan tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya dan menatap ke arah jalan. Ia
Untuk beberapa saat suasana di mobil itu menjadi hening. Hanya terdengar deru mobil yang tengah dikemudikan oleh lelaki aneh berperawakan tinggi besar tersebut.
"Apa aku ini terlalu bodoh, Aurora? Demi perasaan cintaku terhadapmu, aku bahkan rela berkelana hingga sejauh ini. Meninggalkan kerajaanku hanya untuk mendapatkan kamu kembali. Padahal aku bisa saja mendapatkan ratusan putri cantik dari berbagai kerajaan untuk menjadi pasanganku, tetapi aku tidak melakukannya. Kamu tahu kenapa? Karena cintaku begitu besar kepadamu," lirih lelaki itu, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Mila.
Mila begitu tersentuh mendengar pengakuan dari lelaki gaib itu. Ia juga merasa bersalah karena selama ini terus menganggap apa yang dikatakan oleh lelaki itu hanyalah sebuah lelucon.
Mila meraih tangan kekar Pangeran Hans yang duduk di sampingnya kemudian memeluk lengan kekar itu dengan erat sambil menyandarkan kepalanya.
"Maafkan aku, Pangeran Hans. Walaupun aku tidak ingat apa pun yang pernah terjadi pada masa laluku, tetapi aku tetap berterima kasih atas cintamu yang begitu besar. Ya, walaupun kadang-kadang apa yang kamu lakukan sering membuat aku kesal dan jengkel," tutur Mila sambil bergelayut manja di lengan Pangeran Hans.
Lelaki gaib itu akhirnya menoleh sembari menyunggingkan sebuah senyuman hangat.
"Maafkan aku karena sering membuatmu jengkel. Aku memang lelaki kaku yang tidak tahu cara menyatakan cintaku dengan benar. Tidak tahu bagaimana caranya bersikap romantis agar dirimu terkesan padaku. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, aku juga melakukan hal ini terhadap Aurora hingga tak jarang ia merasa kesal terhadapku," sahutnya seraya mengacak pelan puncak kepala Mila.
Untuk beberapa saat baik Mila maupun Pangeran Hans masih betah dengan posisi mereka saat itu. Hingga akhirnya perut lapar Mila merongrong, meminta jatahnya untuk di isi.
Krrruuukkkk!
"Ehm, maaf!" Mila refleks melepaskan lengan kekar itu kemudian memeluk perutnya yang lapar sambil tersenyum kecut menatap lelaki gaib itu.
Pangeran Hans ikut tersenyum kemudian menepuk pundak lelaki bertubuh tinggi besar yang sedang duduk di depan kemudi.
"Temukan tempat makan terbaik di kota ini karena Mila akan makan di sana," titah Pangeran Hans.
Lelaki itu mengangguk pelan, masih dengan bibir yang terkunci rapat.
"Jadi benar, ya, lelaki ini tidak bisa bicara?" tanya Mila sambil menautkan kedua alisnya heran sambil melirik lelaki bertubuh tinggi besar itu.
Pangeran Hans terkekeh. "Dia adalah ular yang tadi kamu lihat di dalam gedung. Tapi kamu tidak usah khawatir, dia tidak akan menyakitimu karena dia adalah seorang pengawal setia yang tidak akan melakukan apa pun tanpa perintah dariku."
"Apa!" pekik Mila dengan mata membulat. Ia bahkan refleks menjauh beberapa centi dari lelaki bertubuh tinggi besar itu. "Ja-jadi dia ini siluman ular?" lanjutnya dengan terbata-bata.
Pangeran Hans kembali terkekeh. "Terserah apa pun kamu menyebutnya karena yang pasti dia adalah pengawal setia yang bisa aku andalkan setiap waktu."
Lelaki bertubuh tinggi besar itu sempat-sempatnya menggoda Mila. Ia menoleh kemudian menjulurkan lidahnya yang panjang dan belah kepada Mila sambil berdesis.
"Hiyyy!" Mila pun bergidik ngeri. Bahkan seluruh bulu halus yang tubuh di tubuhnya ikutan berdiri.
Mobil yang dikemudikan oleh lelaki bertubuh tinggi besar itu berhenti tepat di depan sebuah rumah makan terbesar dan terkenal di kota itu. Pangeran Hans segera menuntun Mila masuk dan mengajaknya duduk di salah satu meja kosong.
Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan menanyakan makanan dan minuman apa yang ingin mereka pesan.
"Aku ingin memesan semua menu andalan yang ada di tempat ini. Dan jangan lupa minumannya," ucap Pangeran Hans mantap.
"Baik."
Sepeninggal pelayan itu.
"Pangeran Hans! Apa kamu tidak salah? Memesan semua menu di sini, lah trus siapa yang akan menghabiskannya?" protes Mila.
"Kamu," jawab lelaki gaib itu dengan santainya.
"Ish, mana bisa begitu!" kesal Mila.
"Tidak masalah, kita bisa membungkusnya dan membawanya pulang. Atau kamu bisa membagikannya kepada tetangga-tetangga di samping rumah."
Mila menghela napas. "Ya sudahlah kalau begitu," jawabnya.
Ruangan itu mendadak hening untuk beberapa saat. Hingga Mila kembali membuka suaranya.
"Pangeran," panggilnya.
"Ya?" Lelaki gaib itu kembali menatap Mila lekat.
"Kapan kamu akan membawaku ke duniamu?" lirih Mila dengan wajah sendu.
"Secepatnya," jawab lelaki gaib itu dengan singkat dan jelas.
Mila membuang napas beratnya. "Bisakah aku minta waktu beberapa hari lagi? Aku ingin menemui pamanku di kampung. Ya, walaupun pamanku tidak terlalu peduli akan nasibku, tapi biar bagaimanapun dia satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku ingin berpamitan kepadanya sebelum kita pergi," lirih Mila sambil menundukkan kepalanya menghadap lantai.
Lelaki gaib itu mengangguk pelan. "Baiklah. Aku setuju," jawabnya.
Ya, Mila hanya punya seorang paman. Adik dari mendiang Ayahnya. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Mila numpang di kediaman pamannya tersebut. Sayangnya, baik lelaki itu maupun keluarga kecilnya tidak terlalu menyukai keberadaan Mila yang hanya dianggap sebagai beban.
Setelah lulus dari SMA, Mila nekat merantau ke kota dan akhirnya bertemu dengan Rika. Teman sekaligus sahabat yang memiliki nasib tidak jauh berbeda darinya. Mereka sama-sama sebatang kara dan hal itulah yang membuat mereka saling menjaga satu sama lain.
Tidak berselang lama, beberapa orang pelayan berdatangan dengan membawa berbagai menu yang sudah di pesan oleh Pangeran Hans sebelumnya. Mereka menata makanan lezat itu ke atas meja dan setelah selesai, mereka pun kembali pamit.
"Sekarang makanlah yang banyak. Aku tidak ingin kamu sakit karena perjalanan kita menuju duniaku akan menguras seluruh tenagamu," ucap Pangeran Hans sambil tersenyum tipis.
"Aku sampai lupa bertanya soal itu, Pangeran. Aku penasaran bagaimana caranya kita menuju duniamu? Apakah kita akan menaiki pesawat jet pribadi atau apa? Aku benar-benar penasaran," celetuk Mila sembari meraih sendok dan garpu, bersiap mengisi perutnya yang kosong dengan hidangan lezat yang tersaji di atas meja.
"Jangan pikirkan soal itu. Sekarang makanlah!" titah lelaki gaib tersebut.
...***...