
"Pangeran Hans! Kalian mau ke mana?" Ratu Caroline bergegas menghampiri Mila dan Pangeran Hans yang berjalan dengan cepat, keluar dari ruangan megah itu.
"Kami harus pergi dari istana ini dan memulai kehidupan baru kami," sahut Pangeran Hans tanpa menghentikan langkahnya.
"Tidak, Pangeran Hans! Ibu mohon, dengarkan Ibu! Jangan pergi ke mana-mana. Tetaplah di sini. Apa kamu tega meninggalkan Ibu sekali lagi, padahal kita baru saja bertemu. Ibu bisa membicarakan masalah ini kepada ayahmu dan Ibu yakin ayahmu pasti bersedia mendengarkan permintaan Ibu," lirih Ratu Caroline dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu mohon!" lirihnya sekali lagi. Kali ini buliran bening itu benar-benar merembes karena Ratu Caroline sudah tidak sanggup untuk membendungnya lagi.
Pangeran Hans menghela napas berat. "Maafkan aku, Bu. Aku tahu benar siapa Raja Edward. Dia bahkan rela kehilangan siapa pun demi ambisinya. Bicara dengannya hanya akan membuang-buang waktu saja," sahut Pangeran Hans.
Pangeran Hans memeluk tubuh Ratu Caroline dengan erat dan mencoba menenangkan wanita yang sudah melahirkannya itu. "Ibu tenang saja, jika Ibu merindukan kami, kami pasti akan datang, tapi tidak di istana ini."
Ratu Caroline menangis sejadi-jadinya. Ia membalas pelukan Pangeran Hans, seolah tak ingin melepaskan kepergian anak lelakinya itu. "Ibu menyayangimu, Pangeran Hans. Sangat," lirihnya di sela isak tangis.
"Aku juga menyayangimu, Ibunda Ratu."
Pangeran Hans melerai pelukannya bersama Ratu Caroline kemudian berpamitan kepada wanita itu. Ratu Caroline melepaskan kepergian Pangeran Hans dan Mila dengan berderai air mata. Untuk ke-dua kalinya, Ratu Caroline harus merasakan rasa sakit yang sama.
Sementara itu.
"Kita akan pergi ke mana, Pangeran Hans?" tanya Mila yang mulai kewalahan mensejajarkan langkahnya bersama Sang Pangeran.
"Ke mana saja, yang penting jauh dari tempat ini. Di mana tidak ada seorang pun yang bisa menggangu hubungan kita," jawab Pangeran Hans yang masih fokus pada langkahnya.
"Apakah kita akan kembali ke dunia manusia?" tanya Mila lagi sambil tersenyum semringah.
Pangeran Hans tertawa pelan. "Tak pernah terpikirkan di kepalaku untuk kembali ke dunia anehmu itu."
Mila menekuk wajahnya. "Hhh, lalu apa bedanya dengan duniamu ini? Apa kamu tahu, duniamu ini dunia kuno! Ke mana-mana harus menaiki kuda," celetuk Mila.
Pangeran Hans menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap istrinya itu. "Kamu bilang apa?"
Mila menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ehm, tidak. Bukan apa-apa," sahut Mila sambil tersenyum kecut.
Pangeran Hans kembali berbalik kemudian melanjutkan langkahnya sambil menuntun Mila.
Setibanya di depan istana, Pangeran kembali menunggangi kudanya bersama Mila. Mereka meninggalkan kerajaan besar itu bersama Logan dan Lexus serta pengawal setianya.
Sementara itu.
"Di mana Yang Mulia Raja?"
Putri Serena yang baru mendapatkan kabar bahwa Pangeran Hans sudah kembali, bergegas menemui Raja Edward.
"Di dalam," jawab seorang prajurit yang ia temui.
Putri Serena melangkah dengan cepat memasuki ruangan itu kemudian menghadap Raja Edward.
"Yang Mulia Raja, saya dengar Pangeran Hans sudah kembali. Lalu di mana dia sekarang?" tanya Putri Serena dengan begitu antusias.
Ia memperhatikan sekeliling ruangan megah itu, berharap Pangeran Hans ada di antara mereka. Namun, sayang seribu sayang, lelaki pujaannya itu bahkan tak tampak batang hidungnya.
"Dia sudah pergi dan memilih pelayan itu lagi untuk ke-dua kalinya!" jawab Raja Edward dengan wajah memerah.
"A-apa?" pekik Putri Serena sembari memperhatikan wajah Sang Raja yang sedang marah besar.
"Ja-jadi Pangeran Hans pergi dari istana dan memilih hidup bersama mahkluk yang berasal dari dunia manusia itu?" lanjutnya dengan wajah yang kesal.
"Ya."
Raja Edward mengangguk tanda setuju dengan kata-kata Putri Serena barusan. "Ya. Kamu benar, Putri Serena. Kita tidak bisa membiarkan Pelayan rendahan itu menang dan menghancurkan kerajaan ini," sahut Raja Edward sambil berpikir keras.
"Singkirkan manusia itu secepatnya, Yang Mulia! Sebelum terjadi hal-hal yang sama sekali tidak kita inginkan," sambung wanita cantik itu, mencoba mempengaruhi pikiran Sang Raja.
Lelaki berkuasa itu terdiam sejenak. Tatapan matanya yang tajam terus tertuju pada Putri Serena yang berdiri di depan singgasananya.
"Ya, sepertinya kita harus memikirkan cara untuk menyingkirkan manusia itu," ucap Raja Edward mantap.
***
"Aurora, kita sudah sampai."
Pangeran Hans menggoyang-goyangkan tubuh Mila yang tengah tertidur pulas ketika di perjalanan. Kejadian mengejutkan yang terjadi hari ini, membuat gadis itu kelelahan.
"Ah, ya!" Perlahan Mila membuka matanya dan memperhatikan sekeliling dengan seksama.
"Di mana kita?" tanya Mila yang tampak kebingungan.
"Di suatu tempat, di mana tak akan ada orang yang dapat menggangu kita," jawab Pangeran Hans sembari membantu Mila turun dari kuda.
Mila masih memperhatikan tempat itu dengan seksama. Tak ada mahluk lain selain mereka di sana dan hanya terdengar suara binatang kecil berkicauan di antara pepohonan, dari dahan satu ke dahan lainnya. Tepat di hadapan mereka, sebuah kastil tak berpenghuni berdiri dengan kokohnya. Pangeran Hans menuntun Mila menuju kastil tersebut kemudian memasukinya.
"Kita akan tinggal di sini," ucap Pangeran Hans.
"Untuk sementara waktu?" sela Mila.
"Bukan, tapi untuk selamanya. Di mana aku hanya akan menjadi orang biasa. Menjadi suamimu dan ayah untuk anak-anak kita," jawab Pangeran Hans dengan santainya.
"Apa kamu menyukai tempat ini? Kamu tenang saja, aku berjanji semua kebutuhanmu dan anak-anak kita akan terpenuhi di sini," sambungnya lagi.
Mila menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu sambil tersenyum hangat. "Kenapa kita tidak tinggal di duniaku saja, Pangeran Hans. Di sana kita akan bahagia. Menjalani hidup sebagai manusia lainnya. Tak ada Raja Edward, tak ada Putri Serena dan hanya kita saja."
Pangeran Hans menghela napas berat. "Mungkin aku akan memikirkannya lain kali," jawabnya.
Mila mendongakkan kepalanya. "Kamu serius?"
"Ya. Tapi aku tidak berjanji. Aku hanya ingin mempertimbangkannya saja dan belum tentu aku mengiyakannya," jawab Pangeran Hans dengan santainya.
"Hhhh, dasar!" Mila mendengus kesal kemudian berjalan lebih dulu menelusuri setiap ruangan yang ada di kastil itu.
"Jangan merajuk, nanti cepat tua. Lagi pula, lebih nyaman tinggal di sini dari pada di duniamu. Di sini kamu tidak perlu bekerja dan tidak perlu bolak-balik menaiki benda besar yang bodoh itu," celetuk Pangeran Hans sambil terkekeh melihat Mila yang berjalan mendahuluinya.
"Benda besar yang bodoh? Benda apa itu?" Mila berbalik kemudian menatap lelaki itu dengan alis yang saling bertaut.
"Ehm ...." Pangeran Hans tampak berpikir keras. "Bass ... Boss ...."
"Bus?"
"Ha! Ya, itu! Benda besar yang bodoh," celetuknya.
"Bukan bodoh, Pangeran Hans-ku yang tampan! Kamu hanya tidak mengerti bagaimana cara kerja benda itu," kesal Mila.
"Ah, terserah. Sama saja," jawabnya tak mau kalah.
...***...