
Beberapa bulan kemudian.
"Akh ... akh ... akh ...."
Terdengar suara dessahan yang saling bersambut di dalam kamar Pangeran Hans dan Mila. Pasangan di mabuk cinta itu tidak pernah absen untuk melakukan permainan panas mereka.
Pangeran Hans tampak begitu semangat memompa tubuhnya di balik tubuh Mila yang sedang menungging di atas tempat tidur. Keringat terus keluar dan membasahi tubuh keduanya.
Entah sudah berapa lama mereka melakukan permainan itu. Namun, yang pastinya Mila sudah mencapai puncaknya hingga beberapa kali.
Plak!
Sesekali tangan jahil Pangeran Hans memukul bokong padat, sintal, dan berisi itu hingga memerah dan itu membuat Sang Pangeran semakin bersemangat.
"Aww! Akh ...." pekik Mila. "Terus, Pangeran! Jangan berhenti, eummm ... ini nikmat sekali!" racaunya sambil memejamkan mata.
Pangeran Hans menarik rambut Mila kemudian melabuhkan ciuman hangat di puncak kepalanya yang tengah mendongak.
"Aku mencintaimu, Aurora!"
Suara derit ranjang klasik itu terdengar seirama dengan pergerakan liar penghuni di atasnya. Suara dessahan yang keluar dari bibir Mila seakan saling bersahutan dengan suara derit itu.
Reet ... reet ... reet ....
"Akh, lebih cepat, Pangeran!"
Pangeran Hans mempercepat pergerakannya hingga akhirnya Mila kembali berteriak dengan tubuh mengejang. "Aaargghh!"
Wanita cantik itu kembali mencapai puncaknya. Sementara Pangeran Hans masih belum mendapatkannya dan ia masih bersemangat melakukan hal itu walau untuk beberapa saat lagi.
"Berbaliklah!" titah Pangeran Hans sembari membalikkan tubuh Mila yang terkulai lemas di atas tempat tidur.
"Masih bisa melanjutkan?" tanya lelaki itu.
Mila mengangguk pelan. "Ya, lanjutkan saja."
Pangeran Hans tersenyum kemudian mengganti posisi mereka. Pangeran Hans di bawah, sementara Mila berada di atas tubuh Pangeran Hans.
Perlahan Pangeran Hans menuntun Mila untuk memulai permainan mereka. Benda tumpul itu berhasil masuk dan Mila yang kembali dalam kondisi on, segera melakukan tugasnya dengan begitu semangat.
Ia memompa tubuhnya dengan sangat liar. Sementara Pangeran Hans tengah asik memainkan kedua buah bulatan kenyal milik Mila yang bergoyang-goyang seiring dengan pergerakan liarnya.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Arghhh!"
Keduanya mengerang. Seiring dengan tubuh mereka yang mengejang. Baik Mila maupun Pangeran Hans berhasil mencapai puncak kenikmatan mereka. Tubuh Mila yang lagi-lagi lemas, jatuh di atas dada Pangeran Hans.
"Masih ingin melanjutkan?" goda Pangeran Hans sambil mengelus puncak kepala Mila yang masih betah berbaring di atas tubuhnya.
Mila menggeleng pelan. "Nanti saja, aku sudah lelah dan ingin tidur," jawab Mila dengan mata terpejam.
"Baiklah. Selamat malam, semoga mimpi indah," bisik Pangeran Hans.
"Jangan pergi ke mana-mana, ya. Temani aku di sini," gumam Mila antara sadar dan tidak, karena saat itu dia sudah hampir memasuki alam mimpinya.
"Ya. Aku akan tetap di sini dan tidak akan ke mana-mana," jawab Pangeran Hans sambil mengecup kening Mila.
Keesokan harinya.
Pangeran Hans berdiri di depan kastil sambil memperhatikan sekelilingnya. Cukup lama ia berdiri di sana hingga Mila pun akhirnya penasaran dan menghampiri suaminya itu.
"Ada apa, Pangeran?" tanya Mila sembari ikut memperhatikan sekeliling kastil.
"Jadi, sejak ia pergi berburu bersama lexus kemarin sore hingga sekarang belum juga kembali?" pekik Mila dengan alis yang saling bertaut.
"Ya. Dan aku sangat mengkhawatirkannya."
"Kita tunggu saja sebentar lagi. Siapa tahu dia akan kembali setelah ini," ucap Mila.
"Ya, kamu benar."
Mila meraih tangan Pangeran Hans kemudian mengajaknya kembali masuk ke dalam kastil. Mereka bersantai di salah satu ruangan sambil menunggu-nunggu kedatangan lelaki bertubuh tinggi besar itu dan juga Lexus, kuda kesayangan Pangeran Hans yang dibawa olehnya untuk berburu.
Hingga matahari berada di atas puncak kepala, lelaki bertubuh tinggi besar itu masih belum kelihatan batang hidungnya. Pangeran Hans semakin mengkhawatirkan pengawal setianya itu. Ia tampak mondar-mandir di dalam kastil sambil sesekali melihat ke arah hutan.
"Bagaimana, Pangeran? Apa sudah ada kabar dari pengawalmu itu?" tanya Mila.
Pangeran Hans menggelengkan kepalanya pelan. "Masih belum. Apa sebaiknya aku susul saja? Aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya," sahut pangeran Hans.
"Kalau menurutmu itu yang terbaik, maka lakukanlah," ucap Mila.
"Tapi ... bagaimana dengan dirimu? Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini," ucap Pangeran Hans dengan wajah bimbang.
"Bukankah kamu pernah bilang bahwa tempat ini aman? Tak ada sesiapa pun yang mengetahui keberadaan kastil ini. Jadi apa yang harus kamu khawatirkan?" sahut Mila.
Pangeran Hans tampak berpikir keras hingga akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kastil itu dan mencari sosok pengawal setianya yang tidak pulang-pulang sejak kemarin sore.
"Baiklah. Aku akan pergi mencarinya. Aku berjanji padamu, Aurora. Ini tidak akan lama," ucap Pangeran Hans kemudian.
Mila mengangguk pelan dan ia percaya dengan sepenuh hati kepada suaminya itu. Pangeran pun Hans segera bersiap-siap dengan dibantu oleh Mila. Wanita cantik itu mempersiapkan bekal untuk Pangeran Hans ketika di perjalanan nanti. Seperti air minum dan beberapa makanan kecil.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Mila kepada Pangeran Hans yang tengah asik mengelus lembut kepala Logan, kuda putih saudara kembar Lexus.
Pangeran Hans berbalik dan menatap Mila dengan wajah bimbang. Ia menghembuskan napas berat kemudian meraih bekal yang sedang ditenteng oleh Mila.
"Sebenarnya aku ragu meninggalkan kamu di sini, Aurora."
Mila berjalan menghampiri Pangeran Hans kemudian membelai lembut wajah tampan yang tengah bimbang itu sambil tersenyum hangat.
"Aku akan baik-baik saja, Pangeran. Percayalah! Sebaiknya kamu pergi saja," sahut Mila.
Dengan berat hati, Pangeran Hans pun terpaksa meninggalkan Mila sendirian di kastil tua itu.
"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi ingat, kunci selalu pintunya dan jangan pernah keluar atau membukanya sebelum aku kembali. Kamu mengerti?" titah Pangeran dengan wajah serius menatap Mila.
Mila mengangguk pelan. "Baiklah, aku mengerti."
Pangeran Hans melabuhkan ciuman berkali-kali di wajah cantik Mila. Setelah puas, ia pun segera menaiki kudanya dan pergi meninggalkan Mila seorang diri di kastil tersebut.
Sama seperti yang diucapkan oleh Pangeran Hans barusan, ia segera masuk ke dalam kastil kemudian mengunci semua pintu dan jendela. Hingga tak terlewat sedikit pun.
Mila masuk ke dalam kamar kemudian duduk di tepian ranjang klasik milik mereka.
"Semoga Pangeran Hans berhasil menemukan mereka dalam kondisi sehat tanpa kurang apa pun," gumam Mila dengan wajah cemas.
Sementara itu.
Pangeran terus memacu Logan hingga memasuki kawasan hutan belantara jauh lebih dalam lagi. Di mana ia dan pengawal itu biasanya menghabiskan waktu mereka untuk berburu di kala bosan. Namun, hingga ia berada di spot terbaik berburu mereka, Pangeran Hans masih belum menemukan jejak lelaki itu maupun jejak kaki Lexus.
"Di mana mereka?" gumam Pangeran Hans sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
...***...