
Mila memasang telinganya dengan baik dan mendengarkan cerita pangeran Hans tentang perjalanan cintanya bersama Aurora yang penuh lika-liku.
"Ya, Tuhan ...." gumam Mila dengan mata berkaca-kaca.
"Seandainya hari itu aku tidak mengikuti perintah raja Edward untuk berburu bersama para pengawal, mungkin sampai saat ini aku dan Aurora masih bersama," tutur Pangeran Hans. Tampak gurat penyesalan yang begitu dalam di wajah tampannya.
Mila terdiam sejenak sambil memikirkan sesuatu di kepalanya. "Maafkan aku, Pangeran Hans. Tapi ... jika benar aku adalah titisan Aurora, kekasihmu, lalu kenapa aku sama sekali tidak dapat mengingat kejadian yang pernah menimpaku sebelumnya?"
Pangeran Hans mengembuskan napas berat. "Pertanyaan itu pun turut menghantui pikiranku, Aurora. Namun, aku menganggap ini sebagai salah satu cobaan untukku. Aku harus berjuang untuk kesekian kalinya demi mendapatkan hatimu kembali," tuturnya.
Mila menatap lekat kedua bola mata indah milik Pangeran Hans kemudian kembali bertanya kepada lelaki gaib itu.
"Pangeran, kamu pernah berkata padaku bahwa perhitungan waktu antara duniaku dan duniamu berbeda. Jika seandainya kamu akan tetap seperti ini hingga ratusan tahun kemudian, berbeda denganku, Pangeran. 30 tahun lagi aku akan menua dan rambutku pun akan memutih. Aku tidak akan menarik lagi dan mungkin kamu pun akan membuangku," lirih Mila dengan kepala tertunduk.
Lelaki gaib itu terkekeh sambil mempererat pelukannya bersama Mila. "Tidak akan, Aurora. Kamu adalah bagian dari kami. Hanya saja saat ini jiwamu tersesat dan masuk ke dunia yang salah. Jika kamu kembali ke dunia kita, maka kamu pun akan kembali menjadi sepertiku dan yang lainnya."
"Benarkah itu?" Mila tampak tak percaya.
"Ya," jawab Pangeran Hans dengan mantap.
Mila kembali menyandarkan kepalanya di dada pangeran Hans sambil mencoba menenangkan diri. Berbagai cerita dan penjelasan dari lelaki gaib itu, membuat Mila merasa sedikit pusing dan ia butuh mengistirahatkan otaknya.
Keesokan harinya.
"Mil. Kamu kenapa, sih? Dari tadi aku perhatikan kamu bengong aja," celetuk Rika sambil memperhatikan wajah kusut Mila.
"Aku sudah memutuskannya, Rika." Mila membuang napas berat sambil memalingkan wajahnya ke arah samping. Di mana banyak pengendara berlalu lalang di samping bus besar yang saat ini ia tumpangi.
"Memutuskan? Memutuskan apa, Mil?" pekik Rika dengan wajah heran.
"Aku memutuskan untuk menikahi Pangeran Hans," sahut Mila.
"Apa! Kamu sudah gila, ya! Kenapa kamu malah dengan sengaja menjerat hidupmu kepada lelaki gaib itu, Mil?" pekik Rika lagi dengan wajah kesal menatap Mila yang bahkan tidak ingin membalas tatapannya.
Mila akhirnya menoleh ke arah gadis itu. "Heh, tidak bisakah kamu pelankan sedikit suaramu itu? Kamu tidak tahu bahwa lelaki gaib itu selalu memantau tanpa sepengetahuanku. Ia mendengar semua perbincangan kita, termasuk ini!"
Rika refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajahnya langsung memucat dan ia tampak begitu ketakutan setelah mendengar penuturan dari sahabatnya itu.
"Maaf! Trus bagaimana, donk? Aku hanya tidak terima saja jika kamu menikah dengan lelaki gaib itu. Aku yakin dia pasti akan memboyongmu ke dunianya dan itu artinya aku tidak akan pernah melihatmu lagi, Mil," celetuk Rika dengan setengah berbisik. Matanya memerah dan tampak cairan bening itu mulai memenuhi pelupuk mata gadis itu.
Mila tersenyum kecut kemudian memeluk Rika dengan mata berkaca-kaca. "Kamu tenang saja. Pangeran Hans sudah menyetujui keinginanku bahwa aku akan pergi setelah kamu menemukan jodohmu, Rika."
Rika menekuk wajahnya dengan kesal. "Kalau begitu aku berdoa saja. Semoga aku tidak menemukan jodohku hingga tua nanti, biar lelaki gaib itu tidak bisa memboyongmu ke dunianya."
"Rika ...." Mila tersenyum miring seolah memperingatkan kembali soal keberadaan lelaki gaib itu.
"Biar! Biar dia dengar sekalian. Aku tidak takut," jawab Rika dengan dengan begitu serius sambil meletakkan tangannya ke dada.
"Beneran, kamu tidak takut?" goda Mila lagi.
"Ya. Aku tidak takut!"
Mila mengangkat kedua bahunya sembari tersenyum. Gadis itu kembali memfokuskan pandangannya pada jalan yang membentang di hadapan mereka.
Rika begitu penasaran karena Mila masih merahasiakan alasan utama kenapa ia menyetujui pernikahan itu.
Senyum Mila yang tadinya masih mengembang, tiba-tiba saja sirna. Gadis itu menundukkan kepalanya sejenak kemudian menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Aku melakukan ini semua demi keselamatan mas Rangga, Rik. Kamu mengerti 'kan apa maksudku?"
Rika mengangguk pelan. "Ya, sekarang aku mengerti. Tapi biar bagaimanapun aku tetap tidak bisa menerima keputusanmu ini, Mila. Ini terlalu aneh menurutku!"
"Sudahlah. Pagi pula aku akan baik-baik saja," sahut Mila, mencoba mencairkan suasana di antara mereka.
"Dari mana kamu tahu bahwa kamu akan baik-baik saja?" tanya Rika dengan gusar.
Mila tersenyum tipis. "Dari pangeran Hans."
Ckk! Rika berdecak kesal.
Beberapa menit kemudian, kedua gadis itu pun akhirnya tiba di toko kue.
"Rika, kemarilah. Aku butuh bantuanmu," ucap Rangga yang kini berdiri di salah satu etalase kue. Sama seperti biasanya, karyawan paling teladan itu selalu datang lebih awal. Bahkan lebih dulu dari pada bawahannya.
"Ya, Mas! Sebentar," sahut Rika.
Rika menoleh ke arah Mila yang masih berdiri di sampingnya. "Aku ke sana dulu ya, Mil. Tidak apa-apa, 'kan?" ucap Rika yang tampak tidak nyaman dengan situasi saat ini.
Mila tersenyum tipis. "Ya ampun, Rika. Memangnya aku kenapa? Sudah sana, pergi. Nanti mas Rangga ngambek lagi."
Rika mengangguk pelan kemudian pergi menyusul Rangga yang sepertinya butuh bantuan dari gadis itu. Sementara Mila segera menjauh dari ruangan tersebut untuk menjaga jarak aman antara dirinya dan Rangga.
Sementara itu.
"Mas Rangga."
"Hmmm?" Rangga menoleh kemudian memperhatikan wajah kusut Rika.
"Apa makhluk itu masih mengganggumu?" tanya Rika dengan sangat hati-hati. Takut lelaki gaib itu mendengar ucapannya.
Rangga menggeleng pelan. "Aku rasa tidak. Memangnya kenapa, Rik?
Huft! Rika membuang napas berat. "Aku turut senang mendengarnya."
"Kamu kenapa, sih? Dari raut wajahmu saat ini, aku tahu kamu sedang dalam masalah. Memangnya kenapa sih, Rik? Ceritakan lah, siapa tahu aku bisa membantumu mencari jalan keluarnya," ucap Rangga.
Rika mengelus tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. Perasaan Rika pun mendadak tidak enak. Firasat gadis itu mengatakan bahwa pangeran gaib itu sedang berada tak jauh darinya dan mendengarkan perbincangannya bersama Rangga.
"Ehm, bukan apa-apa, Mas. Bukan apa-apa," sahut Rika sambil tersenyum kecut.
Padahal Rika berniat menceritakan soal keputusan Mila kepada Rangga. Berharap Rangga dapat membantu meyakinkan Mila agar mengubah keputusannya tersebut. Namun, hawa dingin yang merasuk ke tubuh Rika saat itu berhasil membuat nyali gadis itu menciut.
...***...