
Devan berdiri melihat Ayahnya masuk seorang diri ke ruangannya, berhasil melacak Devan dari panggilan terakhir yang ditolaknya tadi. Terlihat kekecewaan begitu mendalam di wajahnya. Devan sedikit takut jika Ayahnya datang untuk berulah di ruangan Ella. Tak ingin istrinya terganggu dengan perdebatan nanti.
"Kau," desis Tn. Raka begitu sinis melihat Anaknya benar-benar sudah mempermalukan dirinya. Tak sangka pergi diam-diam di hari pernikahan yang sudah diatur olehnya, dan sekarang hari pernikahan itu hancur seketika disertai para tamu yang datang merasa kecewa tidak dihargai. Apalagi Tn. Vian pasti marah-marah di rumahnya.
"Kenapa, kenapa kau bisa ada di sini, ha!" geram Tn. Raka mulai berjalan masuk. Devan terdiam sebentar lalu berdiri lebih dekat ke brankar Ella.
"Tentu saja aku menemani istriku di sini," ucap Devan mundur sedikit.
"Istri?" Mata Tn. Raka langsung tertuju pada gadis yang masih terbaring lemah.
"Jadi dia istrimu yang masih hidup?" Tunjuk Tn. Raka pada Ella.
"Ya dia Istriku, Pa. Aku pergi ingin bertemu dengannya tadi dan aku sangat mencintainya. Aku ingin bersamanya serta menikahinya. Jadi," ucap Devan terpaksa jatuh berlutut di depan Ayahnya membuat Tn. Raka sontak mundur tak sangka putranya berbuat sedemikian.
"Jadi ku mohon, jangan paksa aku lagi menikahi Elisa. Aku tidak mau pisah lagi dari istriku, Pa." Devan menunduk menutup mata, memohon dengan sungguh-sungguh. Tn. Raka malah mengepal tangan dan tambah kecewa melihat putranya melakukan ini demi seorang perempuan yang tak dikenalinya. Ingin rasanya memukul anaknya satu ini.
"Sayang," panggil seseorang muncul dari belakang Tn. Raka. Dia Ny. Mira yang dari tadi di luar merasa was-was jika perdebatan nanti menyakiti putranya, apalagi suasana semakin mencekam.
"Kamu tenang dulu jangan emosi, lebih baik kita dengarkan alasan Devan kenapa bisa sampai begini." Usul Ny. Mira memeluk lengan suaminya sambil tersenyum.
"Benar, aku punya alasan, Mi." Devan segera berdiri lalu melihat Ella dan memegang tangan lemah istrinya.
"Kalau begitu jelaskan, kenapa kau bisa melakukan ini semua!" ucap Tn. Raka meninggi. Devan mulai deg-degan lalu menceritakan dari awal jika ini semua salah pahamnya, dan karena Ella baik hati hingga mulai menyukainya lalu lama-lama rasa cinta itu tumbuh sendiri dan makin dalam.
"Jadi ini semua berawal dari salah pahammu?" tanya Tn. Raka memastikan.
"Benar, Pa. Aku yang salah sudah menyembunyikan ini dari kalian dan sudah berkhianat pada Om Vian." Devan menjawab sambil melirik sedih ke Ella.
"Jika begitu-" ucap Tn. Raka meliriknya sinis lalu membelakanginya.
"Karena semua sudah jelas jika ini berawal salah paham, besok kau harus ceraikan dia! "
Devan terbelalak langsung menolak. "Tidak! Aku tidak akan menceraikannya!" pekik Devan serius. Tn. Raka kembali geram lalu membentak dengan sorotan mata murka.
"Tidak mau? Lalu kau mau apakan-"
"Pa, tenang!" kata Ny. Mira kembali menenangkan suaminya.
"Tapi, sayang. Anak kita sudah keterlaluan, apa kau tak marah dan kecewa padanya?" Tunjuk Tn. Raka pada putra sulungnya. Ny. Mira menghela nafas lalu dengan gemas mencubit telinga suaminya.
"Aaaaa, sayang!" pekik Tn. Raka memegang kupingnya yang habis dijewer.
"Devan itu memang salah dan aku juga kecewa padanya. Tapi apa kau tak tega melihat gadis ini?" Tunjuk Ny. Mira pada Ella dan sedikit membentak suaminya.
"Tega sih ya tega, tapi aku juga tidak tega sama Vian, apalagi sama Elisa dan kita sudah lama menunggu dia menjadi menantu kita." Jelas Tn. Raka masih saja membela Elisa. Sekali lagi Ny. Mira menjewernya.
"Aaaaa, sakit sayang!" jerit Tn. Raka membuat Devan yang di sana cuma diam terkejut melihat amarah Ny. Mira lalu sedikit tersenyum merasa Ibunya berpihak di sisinya kali ini.
"Pa! Gadis ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi, apa kau tidak dengar kata Rafa tadi, kalau gadis ini cuma bisa bergantung pada Devan sekarang. Jadi jangan berdebat lagi, kita restui saja mereka." Kata Ny. Mira membuat Tn. Raka yang meringis sakit langsung terperanjak kaget.
"Semudah itu? Apa kamu tidak peduli pada latar belakangnya?" tanya Tn. Raka melihat istrinya.
"Bukannya dulu kamu juga begini? Menerimaku tanpa melihat latar belakangku?"
"Ya juga sih, tapi kan-"
"Tidak ada tapi-tapi, sekarang kau pergi dan jelaskan ini pada Vian. Aku tak mau kau berdebat dengan anak kita lagi, dan sekarang restuilah hubungan mereka." Tarik Ny. Mira meraih dasi suaminya, menatap serius bola mata biru itu. Tn. Raka menghela nafas lalu melirik sinis ke Devan, benar-benar masih kecewa.
"Baiklah, aku terpaksa."
"Loh, kok terpaksa?" ucap Ny. Mira cemberut mulai ingin menjewer suaminya.
"Yah deh, Papi restui."
"Ikhlas nih?"
"Ya tau ah, aku mau keluar."
"Eits, bentar. Restui mereka dulu lah!"
"Ish, ya deh aku restui mereka sayang. Udah, puas kan?"
"Nah, kalau gini kan bagus. Aku jadi makin sayang sama kamu." Senyum Ny. Mira gemas mencubit kedua pipi suaminya.
"Dahlah, mau pergi." Tepis Tn. Raka jengkel dan mulai berjalan.
"Loh, kemana?"
"Ya rumah Vian lah, sayang." Kata Tn. Raka memelas dan berbalik lalu dengan kesalnya keluar menutup pintu dengan acuh. Pergi dengan kaki dihentak-hentakkan masih belum terima dipermalukan oleh anaknya sendiri.
"Huh," keluh Ny. Mira mengelus dadanya melihat tingkah suaminya. Padahal sebelum ke sini, keduanya sudah berbicara dulu untuk tidak memarahi Devan. Sudah tahu semua ini dari Rafa jika Ella sudah lama terikat dengan Devan dan keduanya saling mencintai satu sama lain.
"Mi, maaf sudah membuat kalian bertengkar." Devan menunduk di depan Ibunya. Ny. Mira tersenyum lalu pergi di sisi lain dan memperhatikan wajah Ella.
"Pertengkaran itu sudah biasa terjadi, kamu tak usah kuatir. Mami juga tidak marah sama kamu, Mami malah senang kamu mau tanggung jawab atas perbuatanmu ini." Jelas Ny. Mira menyentuh rambut Ella.
"Jadi Mami restui kami, kan?" tanya Devan memastikan lagi dan sedikit lega mendengarnya.
"Kalau Mami sih tidak masalah, asalkan wanita yang kau nikahi ini perempuan yang baik-baik," jawab Ny. Mira melihat Devan. Devan mengangguk lalu berkata, "Ella itu gadis baik, Mi. Dia malah lebih mementingkan orang lain dari pada dirinya sendiri dan bahkan memberikan tempat tinggal secara gratis untuk anak-anak yatim piatu. Mami tidak akan menyesal kalau Ella jadi menantu Mami." Tutur Devan serius menjelaskan.
"Pfft, ternyata kau benar-benar sangat menyukainya," tawa Ny. Mira melihat Devan sangat membela Istrinya, lalu berjalan ke samping anaknya.
"Kalau begitu, apa yang terjadi padanya?" lanjut Ny. Mira bertanya dan kasihan melihat Ella yang belum sadar dengan alat bantu oksigen.
"Ella menderita TBC, Mi." Jawab Devan lirih membuat Ny. Mira kaget diam di tempatnya.
"Dia sudah lama menderita TBC dan juga-" ucap Devan terhenti.
"Dia sedang hamil anakku. Aku takut penyakit ini akan terpengaruh pada calon bayiku nanti, Mi." Devan menatap sedih ke Ibunya yang semakin terdiam. Tentu diam karena sangat terkejut.
"Ha-hamil anakmu?" ucap Ny. Mira terbata-bata, tak percaya.
"Ya, Mi. Aku tidak berbohong lagi kali ini." Kata Devan berkata serius. Senyum Ny. Mira merekah mendengarnya lalu menyentuh wajah anaknya.
"Mami percaya kok, sekarang tidak usah kuatir. Kalau Papi kamu berubah pikiran, Mami yang akan mengulek dia jadi sambal terasi." Kata Ny. Mira begitu senang bakal punya cucu lagi, ia segera keluar begitu saja mencari suaminya. Ingin beri tahu jika keputusan ini tidaklah salah sudah merestui hubungan Devan dan Ella.
Devan tertawa kecil melihat tingkah Ibunya lalu membuang nafas merasa lega sudah terhindar dari masalah kali ini. Tapi Devan cemas dengan Elisa juga. "Aku harap dia mau menerima kenyataan ini. Maafkan aku, Elisa. Masih banyak lelaki yang bisa jadi penggantiku di luar sana. Sekarang aku akan tetap di sini menunggu istriku sadar."
Devan duduk kembali, mengelus lembut kepala Ella. Tak henti-hentinya menggenggam tangannya yang sedikit dingin. Terlihat Devan tersenyum, akhirnya bisa tenang malam ini.
Kini di rumah Tn. Vian. Lelaki ini sedang marah besar, mengumpat sana sini. Tentu sangat kecewa pada Devan yang sudah mempermalukan dirinya juga.
"Dasar keponakan sial! Aku sudah percaya dia akan menikahi Elisa, tapi malah pergi entah kemana. Aku benar-benar tak terima ini!" decak Tn. Vian menghancurkan keramik di dekatnya, membuat Ny. Chelsi yang berdiri di dekatnya kaget setengah mati. Baru kali ini melihat kemarahan sang suami.
"Vian, tenanglah."
"Tenang? Kau bilang tenang? Sudah aku bilang dari dulu! Kalau Elisa tak usah melanjutkan pernikahannya ini, sekarang kita dipermalukan oleh anak tengik itu! Aku benar-benar malu jadi Pamannya!" murka Tn. Vian melempar kembali keramiknya hingga pecah berkeping-keping. Membuat Elisa yang di kamarnya yang lagi menangis sesekali terkejut mendengar Tn. Vian murka semurka-murkanya.
"Sekarang lebih baik kau ke atas lalu tenangkan putrimu, suruh dia berhenti menangis!" Tunjuk Tn. Vian ke atas lalu dengan amarahnya menepis tangan Istrinya, pergi keluar dari rumah besarnya. Ny. Chelsi menatapnya lesu, benar-benar tak sangka ini baru awal dari kemurkaan Vian. Entah bagaimana jika lelaki ini tahu bila Ny. Chelsi selama ini berbohong padanya. Mungkin akan lebih murka. Ny. Chelsi segera naik ke atas untuk menenangkan Elisa yang semakin menangis pilu sudah ditinggal nikah.
"Aaargh!" racau Tn. Vian kesal memukul mobilnya lalu membuka pintu mobil. Tapi baru juga mau masuk, lengannya ditahan.
"Kau?" desis Tn. Vian melihat sepupunya sudah berdiri di depannya.
"Kita harus bicara," ucap Tn. Raka menatapnya.
"Cih, bicarakan apa, ha!" bentak Tn. Vian menepis tangan Tn. Raka, bahkan liurnya munc_rat sana sini membuat Tn. Raka ikutan kesal.
"Woi, Vian! Bisa gak sih kau nahan emosi dulu!" bentak Tn. Raka tak mau kalah.
"Cih, aku tak peduli! Lebih baik kau pergi dari rumahku! Kau sama brenseknya dengan anakmu itu! Tidak ada rasa terima kasihnya!" Tn. Vian melototi sepupunya sendiri. Tn. Raka geram mulai ikut melotot.
"STOP!" pekik Ny. Mira yang dari tadi melihat mereka mulai angkat suara.
"Kenapa sih kalian kalau ketemu ujung-ujungnya adu mulut sih!" ketus Mira lalu tersentak dibentak balik oleh keduanya.
"Diam! Ini urusan laki-laki, kau tidak-"
"Aaaaauuw, sakit sayang!" jerit Tn. Raka yang dijewer langsung oleh istrinya, serta Tn. Vian ikut dijewer juga.
"Sudah! Kita ke sini mau luruskan permasalahan. Jangan malah bikin nambah masalah!" kata Ny. Mira menyipitkan mata pada keduanya yang mengelus telinga mereka masing-masing.
"Jadi, sekarang untukmu Vian!" Tunjuk Ny. Mira pada Tn. Vian.
"Kau tak usah marah seperti itu, kami akan ganti kekecewaanmu dengan membagikan kerjasama proyek terbaru Raka untukmu." Lanjut Ny. Mira membuat suaminya melongo.
"Loh, kok malah ke proyekku?"
"Sudah, kau diam saja!" ucap Ny. Mira melototi Tn. Raka hingga diam membisu.
"Cih, tidak usah. Aku tidak butuh balas kasihan dari kalian!" decak Tn. Vian masuk ke dalam mobil lalu menutup keras pintu mobil, pergi meninggalkan Tn. Raka yang emosi lagi.
"Woii, Vian! Aku masih mau bicara oii!" teriak Tn. Raka berkacak pinggang membuat Ny. Mira ikutan kesal juga.
"Sayang, kita pulang saja. Malu dilihat tetangga." Ny. Mira tersenyum manis mencoba menenangkan suaminya. Tn. Raka menoleh pada istrinya, menghela nafas lalu pergi ke mobil diikuti Ny. Mira dari belakang. Namun, berhenti sejenak lalu menoleh ke kamar Elisa, mengkuatirkan satu wanita ini. Mobil Tn. Raka pun pergi menuju kembali ke rumah mereka.
Suara tangis Elisa masih terdengar pilu. Ny. Chelsi masuk lalu duduk di dekat Elisa yang berada di balik sepreinya.
"Elisa, kamu yang sabar ya, sayang. Lebih baik lupakan Devan saja."
Sontak Elisa keluar dari seprainya lalu duduk melihat Ibunya, tak terima usulan Ibunya.
"Tidak, Ma! Aku tidak mau, aku masih mencintainya." Tangisnya masih berlanjut.
"Sabar, sayang. Ini mungkin bukan takdirmu, kamu janganlah menangis, Ibu cemas padamu sekarang." Ny. Chelsi mengelus rambut Elisa yang menunduk.
"Aaargh, Mama keluar saja! Mama tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang! Semuanya jahat!" pekik Elisa kembali masuk ke dalam sepreinya. Menangis tersedu-sedu.
Dengan terpaksa, Ny. Chelsi hanya menurut. "Baiklah, Mama keluar dulu." Ny. Chelsi berdiri lalu keluar dari kamar. Tahu bahwa Elisa saat ini susah untuk ditenangkan dan tak mau ini menjadi beban untuknya juga. Cuma bisa membiarkan putrinya meluapkan kesedihannya.
Ny. Chelsi berjalan ke arah kamarnya, hanya seorang diri saja lalu membuka lemarinya. Mencari sesuatu dipaling bawah di bawah tumpukan gaun-gaun indahnya. Membuka sebuah kotak yang sama dengan apa yang ditemukan Ella waktu itu. Kotak milik Ara kecil yang berisi foto-foto keluarganya dulu yang sempat dia bawa pergi. Ny. Chelsi mengambil satu foto lalu melihat bergantian wajah Ella dan mantan suaminya. Ucapan Elisa soal Ella yang dimakan buaya belum hilang dari kepalanya dan itu membuatnya sedih kehilangan anak keduanya.
"Maafkan Ibu, maafkan Ibu sudah membuatmu menderita."
Ny. Chelsi mengusap kasar air matanya lalu berbaring memeluk foto keluarga kecilnya dulu. Kini dirinya benar-benar merasa punya satu putri saja. Perlahan kedua matanya tertutup mencoba untuk tidur. Menenangkan pikirannya yang sedikit kacau.
Esok harinya di pagi hari, Ny. Chelsi terbangun tak melihat Tn. Vian. Wajahnya kini lesu, tahu suaminya sekarang pasti menginap di luar sana gara-gara kemarin. Ny. Chelsi pun berdiri lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan membiarkan kotak milik Ara masih ada di atas ranjangnya.
Krek!
Pintu terbuka, Elisa masuk dengan sebuah ponsel di tangannya. Terlihat ia begitu sedih bercampur kesal mendapat panggilan dari Zeli kalau Devan berada di rumah sakit bersama Istrinya yang masih hidup.
"Cih, benar-benar keterlaluan! Aku pikir dia sudah mati, ternyata masih hidup sampai sekarang!" decak Elisa dalam hati lalu melihat sekeliling mencari Ibunya.
"Loh, kemana Mama?" pikir Elisa berjalan ke ranjang Ibunya lalu terkejut melihat kotak aneh. Elisa duduk di kasur dan mendapati foto keluarga beranggota empat orang. Kedua mata Elisa langsung membola melihat Ibunya diantara mereka. Pintu kamar mandi terbuka, Ny. Chelsi diam mematung melihat Elisa berada di dalam kamarnya dan ditambah Elisa berdiri mendekatinya, menunjukkan foto padanya.
"Mama, siapa mereka?" ucap Elisa serius bertanya. Mencurigai ada sesuatu yang sudah selama ini disembunyikan oleh Ibunya.
...__________...
...Maaf ya kemarin gak up, author lagi sakit dan sedikit demam gara-gara maagku kambuh🙏semoga kalian terhibur ya🤗🤭💕💞💞 jangan lupa like ya😍dan komen, jadi ... apakah Ny. Chelsi akan jujur kali ini?...