
Ella telah sampai ke rumah sakit dan segera masuk bersama Maysha dan meninggalkan wanita tadi yang mengantarnya ke rumah sakit. Wanita itu pun kembali ke perusahaannya kembali.
Mata Ella tak henti-hentinya mencari ruangan Hansel yang sudah diberi tahu oleh wanita tadi. Hanya beberapa menit saja mencari, Ella akhirnya menemukan Hansel yang sendirian di ruangannya. Ella segera masuk bersama Maysha di sampingnya.
"Kak Hansel," panggil Ella mendekatinya. Hansel yang tak sadar Ella masuk, akhirnya menoleh untuk melihatnya. Hansel tersenyum sedikit merasa dugaannya benar, jika Ella pasti akan datang ke kantor dan pasti akan datang bila tahu dirinya ada di rumah sakit.
"Ella, kau datang juga." Hansel duduk melihat Ella dan Maysha yang terlihat kuatir.
"Bagaimana kau bisa sakit?" tanya Ella melihat jarum infus di punggung tangan kanan Hansel. Hansel tertawa kecil mendengarnya, sebenarnya kemarin ini gara-gara tak bisa melupakan Elisa yang memojokkannya ke dinding. Tak henti-hentinya memikirkan tindakan Elisa padanya hingga akhirnya demam sendiri.
"Semua manusia pasti sakit, Ella. Kau tak perlu cemas, ini hanya sakit biasa, cuma demam sedikit." Hansel tersenyum kembali.
"Huft, syukurlah. Aku pikir Kak Hansel sakit parah hingga tak menghubungiku sendiri." Ella menghela nafas merasa lega. Sementara Maysha tersenyum manis melihat Hansel. Tapi sayangnya, sekarang lelaki ini tak bisa mengajaknya bermain lagi.
"Oh ya, aku lupa memberitahumu, hehe," cengir Hansel menggaruk kepalanya merasa ini benar-benar sudah merepotkan Ella.
"Tak apa-apa, sekarang apa kau sudah makan?" tanya Ella melihat di atas meja ada sepiring buah-buahan.
"Ya, tadi kebetulan cuma makan apel." Hansel menjawab sambil melihat ke atas meja juga.
"Kalau begitu, mumpung aku ada di sini, aku akan melupaskan apel untukmu lagi," kata Ella mulai mengambil pisau dan satu buah apel.
"Eh tidak perlu, aku bisa-"
"Tidak apa-apa, ini tak masalah bagiku. Kau ini kan kakakku, jadi santai saja, Kak Hansel." Ella menoleh padanya dan tak lupa tersenyum lalu kembali fokus mengupas apel. Hansel pun hanya diam telah mendengar pengakuan Ella. Maysha yang dikacangi, akhirnya merengek pada Hansel, ingin naik ke brankar Hansel juga.
"O-om, Maysha mawu naik."
"Baik, kemarilah Nona manis." Hansel meraih Maysha lalu duduk di dekatnya. Maysha kegirangan mendapatkan apel juga dari Ella, dan tak lupa juga tersenyum pada Ella. Ella hanya tertawa kecil melihatnya bersemangat mengunjungi Hansel.
"Oh ya, ini buat Kak Hansel." Ella memberikan satu buah apel. Hansel menerimanya dengan senang hati. Tapi, saat ingin menggigit buahnya, Hansel kepikiran dengan Ny. Chelsi. Hansel pun melihat Ella yang sibuk merapikan meja di dekatnya.
"Ella,"
"Hm, ada apa?" tanya Ella menoleh pada Hansel.
"Bagaimana dengan Ibumu? Apa kau tak punya keinginan untuk mengunjunginya?"
Ella seketika diam, sedikit terkejut mendengarnya. Ella menunduk, ingin rasanya menemui Ibunya. Tapi takut bila Ny. Chelsi tak mengenalnya dan menganggapnya sudah gila jika mengakui dirinya adalah anaknya juga.
"Maaf, Ella. Aku tak bermaksud-"
"Tidak masalah, aku terima usulan Kak Hansel kok. Tapi sepertinya itu tak perlu. Ibuku mungkin sudah melupakanku." Ella memutuskan ucapan Hansel dan sedikit tersenyum.
"Itu, apa kau yakin kakakmu sudah meninggal?" tanya Hansel lagi, ingin memastikan dugaannya benar. Bila Elisa mungkin saja Kakaknya yang amnesia.
"Ya, Kakakku sudah meninggal dalam kebakaran saat mengunjungi Ibuku di sebuah studio ketika Ibuku ingin tampil meliris album pertamanya." Jelas Ella menjawabnya dan sedikit menunduk.
"Dan kau percaya jika Shella sudah meninggal?" tanya Hansel lagi.
"Ya begitulah, itu kata Ibuku dulu sebelum dia pergi dari rumah," jawab Ella sedikit tersenyum, ingat akan perkataan Ibunya yang dulu menuduh Pak Shan lah yang mengakibatkan putri sulungnya meninggal sudah dibawa ke studio itu.
"Dan sekarang, Ibuku mungkin sudah berkeluarga dan aku tak perlu lagi memikirkannya. Dia yang meninggalku dan Ayahku, jadi ya aku hanya ikhlas saja." Tambah Ella duduk di kursi sambil melihat Maysha yang tersenyum padanya.
"Ya, Ibumu memang sekarang sudah berkeluarga. Dia menikahi paman Presdir Devan." Ucapan Hansel membuat Ella kembali menoleh padanya, tertarik mulai ingin membahasnya.
"Ya Ella, Ibumu menikahi Tuan Vian dan apa kau tahu?"
"Tidak, aku sama sekali tak tahu. Aku hanya tau Ibuku seorang selebriti." Ella menjawabnya sambil melihat ke luar jendela.
"Jika aku katakan ini, apa kau akan percaya?" tanya Hansel nampak ingin bicarakan sesuatu.
"Hm, percaya apa?" Ella semakin penasaran dengan obrolan kali ini.
"Itu, sebenarnya Nona Elisa putri Ny. Chelsi."
"Apa?" Ella langsung berdiri setelah mendengarnya. Tentu kaget mengetahuinya. Maklum, setelah menginjak remaja, Ella dikekang oleh Bu Kalista hingga Ella sudah ketinggalan soal Ibunya yang dia kagumi dulu di TV.
"Ya Ella, Nona Elisa putri sulung Ny. Chelsi dan umur Nona Elisa hanya terpaut beda 2 tahun darimu. Menurutku, mungkin Nona Elisa-"
"Tidak, Nona Elisa bukan Kak Shella." Timpal Ella segera memutuskan ucapan Hansel. Tahu jika obrolan kali ini teralih ke Elisa.
"Tapi Ella, aku rasa dia kakakmu. Nona Elisa bukan anak kandung dari Tuan Vian dan suami pertama Ny. Chelsi adalah Ayahmu. Yang artinya itu-"
"Cukup, Kak Hansel. Mana mungkin begitu. Kak Shella sudah dinyatakan meninggal oleh Ibuku." Ella tak percaya ucapan Hansel.
"Tapi Ibumu bisa berbohong, Ella."
Ella terdiam kembali, kini kedua tangannya terasa bergetar. Terkejut dan sangat terkejut. Ucapan Hansel ada benarnya juga.
"Ella, karena kau ada di sini. Bagaimana jika kau lakukan tes DNA pada Elisa. Aku yakin kalian berdua ini bersaudara." Hansel mengusulkan pada Ella yang terdiam lagi sedang mencerna kemungkinan bisa jadi juga.
"Itu tak mungkin, Nona Elisa berada di rumahnya. Aku tak usah lakukan-"
"Tidak Ella. Nona Elisa tak ada di rumahnya."
"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Ella mulai penasaran untuk lakukan tes DNA.
"Dia ada di rumah sakit ini."
"Apa? Di sini?" Ella kembali terkejut mendengar jawaban Hansel.
"Ya, dia sudah beberapa hari di rawat di sini," ucap Hansel meletakkan apelnya di piring.
"Nona Elisa sakit apa?" tanya Ella terlihat cemas.
"Penyakit jantung, dia sudah lama mengidap penyakit itu dan kau tahu jika Presdir Devan adalah penyemangat untuknya. Tapi sekarang, Nona Elisa harus berjuang sendirian. Tapi kau-" ucap Hansel berhenti sebab melihat Ella nampak panik dan tanpa suara sedikitpun Ella malah keluar dari ruangan Hansel. Merasa ada sesuatu yang membuatnya seperti itu.
"O-om, Bun-nah kenapa pelgi?" tanya Maysha sedih ditinggal pergi begitu saja. Hansel tersenyum kecil lalu menyentuh kepala Maysha. "Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja." Hansel berkata lalu melihat pintu ruangannya dan kemudian memberikan apel pada Maysha agar tak menangis. Kini Hansel hanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ella lari tergesa-gesa mencari ruangan Elisa. Seluruh tubuhnya bergetar takut jika Elisa benar-benar adalah kakaknya. Takut dan mulai cemas dengan kondisi Elisa.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Jika begitu, Ibu sudah berbohong pada Ayah dan padaku." Kedua mata Ella mulai berair. Sedih dan kecewa pada Ibunya sendiri. Ingin rasanya menangis, tapi Ella mencoba menahannya dulu. Apalagi rasa sakit di tubuhnya sudah tak dia pedulikan lagi.
"Ya Tuhan, kenapa Ibuku tega lakukan ini?" Ella tetap berlari, dan kedua matanya semakin berair. Ella mengusap kedua matanya, dan pada akhirnya setetes demi setetes air mata akhirnya jatuh juga. Menangis merasa ini sungguh luar biasa. Selama lima belas tahun berpisah, akhirnya dia tahu kebenarannya.
"Ku harap itu dirimu Kak Shella." Isak Ella diam dalam tangisnya. Ella semakin berlari dan akhirnya berhenti setelah mendengar suara lelaki tak asing. Ella terkejut, air matanya seketika berhenti melihat suaminya memeluk Elisa di dalam ruangan hanya berdua saja.
"Tu-tuan?" lirih Ella begitu kecil di dekat jendela. Ella menggelengkan kepala, ini benar-benar diluar dugaannya.