
"Ah, Tuan!"
Ella berteriak kecil menutup kedua matanya. Seluruh tubuhnya seketika merinding sampai ke ubun-ubun kepala. Tapi langsung terdiam setelah mendengar Devan nampak meminta bantuan.
"Aduh, Ella. Bantu-bantu aku!" pinta Devan membuka bajunya lalu duduk di tepi ranjang memperlihatkan punggungnya.
"Ella, bantu aku garuk!" lanjut Devan mencoba menggaruk punggungnya yang gatal. Ella melongo melihat kulit punggung Devan mulai merah akibat bekas kukunya.
"Tuan, hentikan!" Ella segera duduk memegang tangan Devan.
"Kenapa?" tanya Devan menoleh ke belakang sedikit.
"Punggung Tuan merah-merah. Nanti luka dan infeksi," ucap Ella sedikit perhatian. Devan tersenyum lalu meraih tangan Ella. Mencium punggung tangan Ella lalu menatapnya. Ella terdiam dan kembali merona.
"Jika begitu, bantu aku garuk. Tiba-tiba saja gatal dan gatalnya luar biasa." Devan memohon bagaikan anak kucing yang menggemaskan. Ella tertawa kecil lalu dengan malu-malunya mulai meletakkan kedua tangannya dan mulai menggaruknya dengan pelan. Ella sungguh tak sangka kulit suaminya lembut bagaikan ingin dipeluk olehnya.
"Ah, di sini Ella!" pinta Devan menunjuk ke bagian atas.
"Baik, Tuan." Ella berpindah.
"Astaga, kenapa bisa segatal ini. Ella, garuknya lebih cepat!" rintih Devan merasa begitu gatal. Ella menelan ludah, takut juga untuk mempercepatnya.
"Ssht, ah. Sedikit cepat, Ella," desis Devan meraih tangan Ella dan meletakkannya ke punggung bagian atas kirinya. Namun, kedua mata Devan melebar merasakan benda lunak dan lembut menyentuh punggungnya. Ternyata Ella mengecup bagian titik yang gatal di punggung Devan. Bahkan Ella dengan jahilnya menjilatnya sedikit.
"Tuan, bagaimana? Masih gatal?" tanya Ella begitu polos.
Wajah Devan memerah, tiba-tiba saja burungnya menegang. Merasa Ella sedang memberinya kode. Devan berbalik dan langsung mendorong Ella jatuh ke kasur. Ella terlentang dan membola melihat Devan menindihnya. Kedua pipi Ella merona seketika merasa benda keras menumbuk miliknya.
"Oh Tuhan, apa yang akan terjadi?"
Devan menatap Ella yang terlihat panik lalu dengan sengaja langsung meremas bukit kembar bagian kiri Ella. Ella membola kembali merasa Devan benar-benar ingin bercinta sekarang dan lupa akan rasa gatalnya.
"Kau harus tanggung jawab, Ella. Siapa suruh membangunkan burungku." Devan menyeringai dan meremas lembut dada kiri Ella berkali-kali.
"Ahh, Tuan."
Desahan Ella mulai keluar. Ini yang disukai Devan. Jeritannya membuat Devan tergoda. Dengan lihainya, Devan mulai perlahan menaikkan baju Ella.
"Ahh, Tuan mau apa?" lirih Ella diantara desahannya. Geli bercampur takut dirinya akan disetubuhi oleh lelaki di atasnya. Devan tertawa kecil lalu mendekatkan wajahnya ke Ella disertai kedua tangannya mulai masuk ke dalam baju dan kembali meremas dua bukit kembar milik Ella yang lumayan masih belum montok.
"Istriku, suamimu sekarang ingin dilayani. Bagaimana jika kau membuatnya senang sore ini?" bisik Devan pada telinga Ella sambil mengelus lembut pinggul Ella. Ella menggigit bibir bawahnya setelah mendengarnya. Sedikit desahan yang dikeluarkan membuat Devan merasa jika Ella menyetujuinya.
"Ahh, Tuan. Aku belum siap," rintih Ella mulai dikuasai nafsunya tapi berusaha untuk menahannya.
"Hm, belum siapa?" Alis kiri Devan terangkat.
"Bukannya, kau pernah melayaniku malam itu. Malam di mana aku merenggut mahkotamu?" lanjut Devan perlahan membuka baju Ella. Ella hanya bisa diam terkulai lemas ditindih oleh Devan. Sekarang cuma baju tank top putih yang dikenakan oleh Ella.
"Tuan, meski begitu saya belum siap." Sekali lagi Ella memohon. Takut mahkotanya dikoyak oleh burung gagah milik Devan. Devan mendekati wajah Ella dan mengecup tengkuk leher Ella dan mulai merayunya.
"Aku menyukai bau tubuhmu, Ella. Kau menarik bagiku, kau menarikku ke pelukanmu yang hangat ini. Aku kecanduan untuk memilikimu," bisik Devan di telinga Ella. Ella memejamkan mata dan mengigit bibir bawahnya.
"Ahh, kau jangan menggodaku, Tuan. Aku hanya gadis biasa, yang jika dipuji aku tak akan bisa mengendalikan diriku."
"Jika begitu, aku akan menggodamu hingga kau jatuh ke pelukanku, Ella." bisik Devan sekali lagi sambil memainkan pucuk bukit indah milik Ella. Ella meringis, bukan karena sakit tapi malah menikmatinya. Desahannya mulai memenuhi kedua telinga Devan. Saat inilah Devan mulai membuka tank top milik Ella ingin leluasa meremas bukit kembar Ella.
"Kau sedikit tepos, aku akan membuat keduanya indah di mataku,"
"Ahh, jangan Tuan." Ella mendesah, suaranya yang kecil malah meningkatkan gairah Devan. Ella sebenarnya takut, takut jika Devan marah tahu dirinya masih perawan. Apalagi ini sama halnya membohongi dirinya.
"Tidak Ella, nikmati saja. Kita lakukan pemanasan dulu seperti kemarin malam waktu itu, nikmati setiap sentuhan yang aku berikan padamu."
"Ahh, umh." Desah Ella sedikit terkejut bibirnya dilummat lembut. Mengulum bibir mungil bergatian bagian atas dan bawahnya oleh Devan. Ella tak bisa menolak, bagaimana pun dia pasti akan ikut menikmatinya. Kedua tangannya segera melingkarkan ke leher Devan lalu membalas mengulum bibir Devan.
Namun, kedua mata Ella sedikit melebar merasakan tangan Devan mulai masuk ke dalam celananya dan mulai mengelus pahanya lalu berpindah masuk ke dalam CD-Nya.
"Ahh, Tuan. Apa yang kau ingin lakukan?" lirih Ella menghentikan aksi ciuman panasnya. Devan menyentuh wajah Ella lalu mencium pipi wanitanya dan berbisik ke telinga Ella.
"Aku ingin mengeceknya, apakah sudah siap untuk ke tahap selanjutnya," bisik Devan membuat Ella menggeliat. Bukan karena bisikan Devan, tapi mahkotanya tiba-tiba disentuh oleh jari Devan.
"Tidak apa-apa, Ella. Santai saja, aku akan pelan-pelan memasukkannya. Kau tak usah takut, sayang." ucap Devan kembali mellumat bibir Ella dan mencolek sedikit mahkota Ella. Ella tentu mulai terang_sang dan segera memeluk erat tubuh kekar yang menindihnya merasakan jari-jari Devan sedang mencolek dinding mahkotanya.
"Ella, apa kau siap?"
"Uhh ... ahh."
"Tidak, Tuan. Jangan sekarang," tolak Ella halus disertai desahannya yang lembut.
"Tapi, milikmu meminta lebih dari ini, sayang." ucap Devan melihat Ella nampak tak berdaya dibawahnya. Ella menelan ludah lalu mendorong Devan agar menyingkir darinya. Ella berdiri dari ranjang memperbaiki tank top lalu melihat bukit kembarnya yang sedikit kempes gara-gara diremas tadi oleh Devan. Devan duduk santai di atas ranjang sambil menatap punggung Ella.
"Apa kau takut, Ella?" tanya Devan.
Ella mengepal tangan, lalu menunduk.
"Aku tak takut, cuma ...." ucap Ella menghentikan ucapannya.
"Cuma apa?" tanya Devan penasaran.
"Tuan, sebenarnya aku sudah berbohong padamu," jawab Ella mencoba mengatur nafasnya.
"Berbohong apa?" tanya Devan masih berlagak cool di atas kasur.
"Aku-aku sebenarnya masih perawan, Tuan. Waktu itu, anda tak meniduriku. Anda seharusnya tak perlu bertanggung jawab, saya sudah berbohong padamu. Anda boleh marah pada saya, tapi-" ucap Ella berhenti karena perutnya dirangkul dari belakang oleh Devan. Padahal, ucapan Ella belum sampai ke intinya jika Ella tak mau pisah meski Devan mengusirnya tapi kini Devan malah mengecup tengkuk leher Ella.
"Aku sudah tahu itu, Ella."
Ella membola setelah mendengarnya. Ella berbalik lalu menatap Devan.
"Bagaimana Tuan tahu dan Tuan tidak marah setelah tahu ini?" tanya Ella terkejut melihat Devan malah tersenyum padanya. Devan meraih kedua tangan Ella lalu menyentuhnya ke dada Devan yang tak dibalut sehelai kain.
"Ella, malam itu, saat mati lampu, aku mengeceknya sendiri mahkotamu dan ternyata masih utuh belum rusak sedikitpun. Sekarang, aku mencoba mengeceknya dan ternyata masih sama, dinding pelapis masih belum terkoyak. Setelah aku tahu kau masih perawan, aku akhirnya memilihmu. Kau ... tak seperti wanita lain di luar sana. Kau berusaha melindungi dirimu agar tetap suci. Aku menyukai dirimu yang berpikir luas dan tak sempit seperti wanita lainnya," jelas Devan panjang lebar. Ella menunduk lalu menarik tangannya.
"Jadi," ucap Devan mengangkat dagu Ella agar istrinya bisa menatap kedua matanya.
"Aku tak salah memilihmu jadi istriku, Ella." Ungkap Devan langsung mencium bibir Ella singkat lalu tersenyum manis. Ella menatap dua bola mata Devan dan perlahan mulai menangis setelah mendengarnya.
"Tu-tuan tak marah?" tanya Ella gemeteran.
"Tidak, Ella." Devan langsung memeluknya. Tangis Ella seketika pecah di pelukan Devan.
"Ma-mafkan aku, Tuan. Aku tak bermaksud manfaaftkan anda. Aku hanya ingin merebut harta ayahku. Maaf sudah bohongi, Tuan." Tangis Ella memeluk Devan. Devan tersenyum mendengarnya karena mengingat saat itu Ella berkata jika rumahnya untuk dijadikan panti asuhan.
"Tak masalah, aku menyukai niatmu ini," kata Devan melepaskan Ella lalu menyentuh kedua pipi Ella.
"Sekarang, karena aku sudah tahu. Jadi sore ini kita harus buat anak."
Ella seketika berhenti menangis, terkejut mendengar kalimat Devan.
"Bu-buat, Anak?"
"Ya, istriku. Kita harus buat anak untuk memberikan cucu pada orang tuaku," ucap Devan menepuk wajah Ella. Ella menepis tangan Devan dan langsung lompat ke bawah ranjang.
"Tidaak! Aku belum siap, Tuan."
Devan cemberut sambil meletakkan kedua tangannya ke pinggang lalu melihat Ella menjerit di bawah ranjang.
"Tidak siap atau siap, kita harus bikin dedek kecil. Kau sore ini harus dihukum atas kebohonganmu ini!" ucap Devan menarik kedua kaki Ella keluar dari bawah ranjang.
"Tidak, Tuan. Saya masih kecil!"
..._______...
Moga terhibur😅🤣
Instagram :@asti.amanda24
Youtube : Aran Channel
Terima kasih sudah membaca, seperti biasa jangan lupa like, komen, dan vote. Maaf tadi ada urusan jadi telat up dan author akhir-akhir ini lagi down😔😢