
Di villa Devan.
Hansel kini mulai lega telah mengantar Maysha dan Elisa dari makan malam serta jalan-jalan untuk menenangkan anak kecil ini. Sungguh rasanya susah menenangkan Maysha yang selalu merengek ingin bersama Ella. Sekarang, Hansel menaiki tangga membawa Maysha ke kamarnya dan meninggalkan Elisa yang duduk sendirian di sofa ruang tamu.
"Di mana Devan sekarang?"
Elisa melihat jam tangannya sudah pukul 20.20 malam. Raut wajah Elisa mulai terlihat gelisah. Gelisah memikirkan Devan, apa yang dilakukan lelaki ini sekarang hingga belum pulang juga.
"Dia tak pernah seperti ini sebelumnya, meninggalkan aku begitu lama," lirih Elisa menyentuh dadanya. Kegundahannya mulai menyelimuti hatinya.
"Kenapa dia sangat lama sekali mencari baby sister itu?"
Elisa tak henti-hentinya memikirkan Devan dan Ella. Kini kedua matanya mulai berair mengira jika Devan mulai aneh sekarang.
"Devan, apa benar kau masih mencintaiku?" lirih Elisa menundukkan kepala melihat kedua telapak tangannya. Setetes air mata kini berhasil jatuh dari pelupuk matanya lalu menutup wajahnya mencoba menahan tangisnya.
Inilah yang membuat Elisa was-was saat pertama kali bertemu Ella di kantor Devan. Merasa jika ada rahasia yang disembunyikan antara Devan dan Ella terhadapnya. Elisa mengusap kedua matanya mencoba berpikir positif pada Ella hanyalah baby sister saja.
Krek!
Pintu villa dibuka dari luar. Elisa berdiri melihat siapa yang masuk ke dalam. Senyum Elisa melebar melihat Devan pulang disaat ia barusan memikirkannya. Elisa segera berjalan mendekatinya lalu merangkul lengan Devan.
"Sayang, kamu dari mana saja?" tanya Elisa berkata lembut. Devan melihat Elisa lalu melepaskan rangkulannya.
"Aku dari luar, sekarang aku mau mandi dulu. Kamu sudah makan bersama Maysha?" Devan bertanya sambil melonggarkan sedikit dasinya tanpa melihat Elisa.
"Sudah, barusan aku dan Maysha makan malam. Untung saja Hansel membawa kami keluar makan ke restoran," jawab Elisa tersenyum manis.
"Apa kamu sudah makan juga?" lanjut Elisa bertanya lagi dengan suara lembutnya berdiri di dekat Devan.
"Baguslah, kalau begitu aku naik ke atas dulu mandi." Devan pergi mengabaikan Elisa begitu saja membuat wanita ini terkejut dengan sikap Devan yang berubah. Kini Elisa mulai memikirkan Ella. Elisa segera mengejar Devan sebelum menginjakkan anak tangga.
"Tunggu dulu, sayang." Elisa menahan lengan Devan.
"Maaf, Elisa. Jika kau mau bicara ... nanti saja, aku mau mandi dulu." Devan menepis tangan Elisa membuatnya semakin terkejut. Tak pernah Devan memperlakukan dirinya seperti ini. Rasa sakit di hatinya mulai terasa jelas.
Saat Devan ingin menginjak anak tangga, kedua kakinya berhenti setelah mendengar pertanyaan Elisa.
"Devan, kau tak pernah seperti ini padaku. Apa jangan-jangan kau seharian ini bersama dengan baby sister itu?" tanya Elisa mengepal tangan mulai sedih. Suara Elisa sedikit meninggi di belakang Devan. Tapi Devan tetap berjalan menaiki tangga dan sekali lagi mengabaikannya.
Elisa menunduk, kini dugaannya bisa saja benar. Apalagi sikap diamnya Devan memperlihatkan jika ada yang dia sembunyikan darinya. Elisa mengehala nafas mencoba menahan kesedihannya. Langkah kaki Elisa segera menaiki anak tangga untuk mengejar Devan.
"Tunggu, Dev!" Tahan Elisa sekali lagi. Devan berbalik melihatnya dan terkejut melihat raut wajah Elisa mulai ingin menangis.
"Kata-katakan padaku, di mana baby sister itu? Apakah seharian ini kau bersamanya?" tanya Elisa sedikit gemeteran takut jika ucapannya benar adanya.
"Aku capek, kau pergilah istirahat di kamar Maysha." Devan sekali lagi melepaskan genggaman Elisa dan ingin masuk ke dalam kamarnya. Tapi, sekali lagi Elisa menahannya dan malah berdiri di depan pintu.
"Apa kau selingkuh di belakangku, Dev?" tebak Elisa. Sakit rasanya jika tebakannya benar. Kini kedua matanya mulai berkaca-kaca ingin meneteskan air mata.
"Elisa, aku-"
"Hiks, kau pasti selingkuh dengan gadis itu kan!" ujar Elisa mulai terisak. Devan terkejut melihat wanita di depannya perlahan menangis.
"Apa hubunganmu dengan gadis itu!" Tunjuk Elisa ke arah lain lalu menepuk dadanya berkali-kali mulai sakit.
"Aku dari tadi pagi menunggumu dan mencemaskanmu, tapi sekarang kamu pulang malah tak bertanya soal diriku sama sekali. Kau bahkan mulai mengabaikanku dan mulai kasar padaku. Apa sekarang ... aku tak penting bagimu?" lirih Elisa dalam isak tangisnya.
"Elisa, aku-" Devan menyentuh bahu Elisa tapi dengan cepat Elisa menepisnya kasar. Menatap serius kedua mata lelaki di depannya sambil sesugukan.
"Aku apa, ha!" bentak Elisa disertai tetesan air matanya. Devan seketika terdiam merasa bersalah.
"Jawab aku dengan jujur, Devan. Tadi pagi sampai sekarang kau ada di mana!" Sekali lagi Elisa membentak dan mencoba mengatur nafasnya. Sesak di dadanya mulai membuatnya susah mengontrol emosinya.
"Aku-aku baru saja dari kantor, El," ucap Devan berbohong demi Elisa agar tak marah. Takut jika penyakitnya kambuh.
Elisa menggelengkan kepala tak percaya, kedua matanya mulai meneteskan air mata begitu derasnya membasahi kedua pipi halusnya.
"Bohong! Dasar pembohong! Aku sudah hubungi staf di kantor, dan mereka bilang kau tak ada di sana. Kenapa, kenapa kau lakukan ini padaku, Dev? Kenapa kau harus berbohong padaku? Hiks," tangis Elisa menutup wajahnya. Isakan tangisnya begitu menyedihkan.
"Jawab aku jujur! Apa hubunganmu dengan gadis itu? Katakan, hiks ... katakan padaku, Dev!" isak Elisa menjadi-jadi.
"Tenanglah, El. Aku bisa-"
Plak!
Elisa menampar kasar tangan Devan yang menyentuh lengannya. Merasa dirinya sungguh tak lagi berarti sekarang.
"Sikirkan tangan kotormu dariku! Aku tak butuh kasihan darimu, sekarang yang aku butuhkan jawaban jujur darimu!" ujar Elisa meraih kemeja Devan lalu menariknya dan mulai meracau.
"Jawab aku, Devan. Jangan diam saja! Katakan, siapa gadis itu?!" pekik Elisa mulai mengamuk.
"Dia ... istriku,"
Dua kata ini langsung membuat Elisa berhenti mengamuk dan membola. Elisa melepaskan Devan lalu menutup wajahnya. Tetesan air mata semakin turun membasahi wajah Elisa. Sakit, perih, pedih dan sesak rasanya mendengar dua kata ini keluar dari lelaki di depannya, apalagi Devan jelas-jelas adalah tunangannya yang sudah lama menjalin kasih sejak masa SMA. Bahkan hanya tinggal beberapa hari saja mereka akan melangsungkan pernikahan.
"Jahat! Jahat! Kenapa kau lakukan ini, padaku? Kenapa, Dev! Kenapa dia bisa menjadi istrimu! Akulah yang harusnya menjadi istrimu!" Isak Elisa menjadi-jadi.
"Karena aku mencintainya, El." Ungkap Devan membuat Elisa terdiam lalu menatap Devan.
"Tidak, kau ... kau hanya mencintaiku, kan? Mohon ... tarik ucapanmu itu, Dev! Katakan padaku, kau ... kau pasti lagi bercanda kan?" Mulut Elisa bergetar seakan ini sebuah ledakan yang tiba-tiba menghancurkan hatinya.
"Aku tak bercanda, dia memang istriku. Serta aku dan dia sudah menikah beberapa hari yang lalu sebelum kau datang ke sini." Jelas Devan semakin membuat Elisa terpukul mendengarnya.
Plak!
Tamparan berhasil mendarat di pipi Devan. Sakit rasanya ditampar, tapi tak sesakit yang dirasakan Elisa sekarang. Devan tahu, jika ia telah menyakiti perasaan cinta Elisa padanya.
"Bohong! Kau jahat! Jika seperti ini, apa artinya aku di hatimu sekarang?" tanya Elisa diantara tangis dan isakannya.
Elisa sungguh tak menyangka Devan diam-diam menikah di belakangnya. Devan terdiam tak menjawabnya. Ia juga tak tahu mau menjawab apa. Elisa mengusap kasar wajahnya lalu mendorong Devan dan lari ke arah kamar lain disertai tangisnya. Devan terkejut dan segera mengejar Elisa agar tak berbuat bodoh.
"O-om, Maysha cakuc. Bun-nah mana? Maysha mau sama Bun-nah." Maysha merengek ketakutan. Pertengkaran yang ia dengar sangat jelas di luar kamarnya. Anak kecil ini mulai perlahan menangis di pelukan Hansel. Hansel kini diam tak bisa berkata-kata. Inilah yang ditakutkan Hansel jika Elisa tahu Ella adalah istri dari tunangannya. Hansel hanya bisa memeluk Mayhsa agar tak menangis lagi.
...________...