Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 85 : Derita Aradella


Hari demi hari telah berlalu hingga kini Ella sudah mulai terbiasa bekerja di cafe itu. Tenaganya lumayan cukup membantu karyawan yang lainnya, bahkan ada satu teman karyawan yang mulai akrab dengannya sekarang.


Sudah dua minggu lebih ini Ella hanya bisa memberi senyuman manis, tapi sangat jelas terlihat dipaksakan. Meski biaya hidupnya mulai membaik sudah bisa hidup mandiri, tetap saja hatinya masih sedih dan susah untuk move on pada lelaki yang masih berstatus suaminya.


Bahkan Ella galau tak ada berita dari Devan mencarinya di TV maupun di media lainnya. Ella berharap, orang yang dia rindukan datang mencarinya, tapi bukan Devan yang datang padanya, melainkan Rafa yang makin hari semakin perhatian padanya. Ella kini berdiri di dapur melihat dirinya di pantulan cermin kecil di depannya. Sungguh menyedihkan dirinya sekarang.


"Kalungku hilang, begitupun cintaku hilang."


"Apa dia tidak mencariku? Apa dia tidak merindukanku?"


Ella menunduk dan meremas celemeknya kuat-kuat. Bayangan Devan belum sirna dalam pikirannya, apalagi perkataan Ibunya. Jika diingat-ingat, ini semua sangatlah lucu baginya. Sudah dibuang oleh Ibunya sendiri dan sekarang merasa dirinya dibuang oleh Devan juga. Tanpa sadar setetes bening air mata turun perlahan.


"Hei, kau menangis?"


Ella tersadar segera mengusap matanya lalu menoleh ke sumber suara. Hanya senyuman yang diberikan Ella pada teman karyawan wanita yang tadi berbicara.


"Tidak kok, aku cuma kelilipan tadi." Ella hanya tiap hari berbohong pada temannya, tak ingin kesedihannya diketahui olehnya.


"Kamu punya masalah ya, La?" Ella segera menggelengkan kepala pada temannya yang bertanya sekarang.


"Benar nih?" Lagi-lagi Ella hanya tersenyum paksa.


"Kalau kamu tidak enak badan, lebih baik kamu ambil cuty saja sehari, aku kuatir loh sama kamu, La."


"Tidak apa-apa kok, aku baik-baik saja." Sekali lagi Ella tersenyum. Memang sebenarnya Ella sedang sakit sekarang. Bukan cuma sakit hati, melainkan seluruh tubuhnya sakit semua. Tak ada energi yang cukup membuatnya kuat, hanya paksaan yang dia jalani sekarang. Memaksakan dirinya menjalani hidup seorang diri mencari makan. Meski begitu, Ella bersyukur ada teman yang perhatian padanya.


"Ya sudah, aku ke sana dulu. Kamu yang cuci piring ya, tadi Bos panggil suruh aku bawa orderan, tidak apa-apa kan?" Katanya pada Ella sambil membereskan kotak-kotak pesanan di dekatnya.


"Tidak apa-apa, aku bisa cuci semuanya." Ella cuma tersenyum lalu berbalik mulai mencuci piring.


"Aku pergi dulu ya," ucapnya mengangkat orderannya.


Namun baru juga mau mendekati pintu, suara Ella yang terbatuk-batuk cukup terdengar keras, membuat temannya menoleh, kedua matanya langsung membola melihat Ella nampak tak berdaya.


"La!" pekiknya segera meletakkan orderannya, ia lari ke arah Ella yang lagi duduk di lantai.


"La, kamu kenapa?" Ia mulai panik melihat Ella terlihat pucat dan nampak menahan sakit.


"La, jawab aku! Kamu kenapa? Kamu lagi sakit ya?" Kepanikannya semakin meningkat dikala melihat bercak darah berada di telapak tangan Ella.


"Kamu pergi saja. Aku baik-baik saja-" Ella kembali batuk berdahak di depan temannya.


"Baik-baik saja apanya! Kamu ini lagi sakit tapi masih saja mengelak! Sekarang kita pergi ke klinik!"


Ella segera menepis tangan yang ingin membatunya berdiri. "Sudah, kamu nanti terlambat. Aku tidak apa-apa kok, aku ...." Suara lirihan Ella terhenti lagi, begitupun dirinya perlahan mulai lemas membuat temannya semakin panik saja.


"Kamu jangan banyak bicara, sekarang kita ke klinik!" tegasnya langsung memapah Ella berdiri. Ella hanya meliriknya, dan langsung memeluk temannya. Butiran air mata akhirnya jatuh juga membasahi kedua pipi kurusnya, membuat temannya terkejut.


"Apa aku boleh menangis kali ini?"



Ella masih terisak-isak, ini tangis pertamanya setelah menahan dirinya untuk tidak menangis lagi selama dua minggu ini. Tapi ternyata Ella tak dapat menahan tangisnya. Seluruh tubuhnya mulai sakit dan lemas.


"Terima kasih," lirih Ella kini mengusap kedua matanya. Berterima kasih sudah diberi sandaran untuk kesedihannya.


"La, kalau kamu sakit, lebih baik kamu cuty saja dulu. Kamu lama-lama semakin kurus tau, sekarang aku akan mengantarmu ke klinik. Takutnya kamu beneran sakit, apalagi tadi kamu batuk berdarah." Ucapannya hanya membuat Ella menunduk lalu mengangguk dan kemudian izin pada Bos Cafe.


Sesampainya di klinik, Ella kembali batuk berdarah setelah turun dari motor. Tapi kali ini Ella menyembuyikannya dari temannya yang sibuk melihat ponsel untuk melacak lokasi orderannya.


"Aku pergi bentar dulu ya, La. Kamu tunggu sini, aku cuma sebentar kok."


"Hm, ia." Ella hanya mengiyakan lalu tersenyum melihat teman karyawannya pergi meninggalkannya. Ella mengusap tangannya memakai kain yang dia sembunyikan.


"Sebenarnya, aku sakit apa? Kenapa dua minggu ini aku merasa lemas sekali, bahkan makan saja aku mulai tak berselera. Lebih baik aku masuk saja dari pada menunggunya."


Ella berjalan masuk ke klinik, tujuannya ingin mengecek kondisi tubuhnya. Ella kini gugup sambil melihat Dokter, takut jika ada sesuatu yang parah terjadi pada saluran tenggorokannya.


"Em, Dokter. Apa yang terjadi padaku?" tanya Ella duduk sambil menggenggam tangannya. Tegang bercampur cemas sudah diperiksa barusan.


"Huft," Dokter wanita di depannya yang duduk hanya menghela nafas.


"Semuanya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Ella sekali lagi yang mulai berkeringat dingin.


"Begini, apa akhir-akhir ini kamu kurang enak badan?" Dokter mulai memberinya pertanyaan untuk memastikan lebih jelas.


"Ya, aku sering cepat lelah, apalagi dadaku sering sesak dan juga aku susah makan, Dok."


"Kalau begitu, apa setiap malam kau berkeringat di malam hari?" tanya Dokter sambil mulai menulis keterangannya.


Dokter spontan melihat Ella, tentu terkejut mendengar kata terakhir Ella. Dokter segera berdiri lalu mengambil sebuah surat di lemarinya. Ella ikut berdiri dan mendekati Dokter tersebut.


"Kamu lebih baik ke rumah sakit untuk lebih jelasnya, ini surat anjuran untukmu." Dokter memberikan surat pemeriksaan itu ke Ella. Menyuruh Ella untuk melakukan program bila dugaannya benar.


"Ini untuk apa, dan kenapa aku harus ke rumah sakit, Dok?" tanya Ella semakin takut jika dugaannya benar bila ada penyakit yang dia derita selama ini.


"Keterangan yang kamu berikan padaku, itu sepertinya gejala-gejala TBC (Tuberkulosis)." Jelas Dokter membuat Ella membola. Tentu kaget sudah tahu apa yang dia derita. Apalagi penyakit ini yang diderita oleh Ayahnya dulu dan karena Pak Shan dulu kurang rawat, hingga akhirnya meninggal dunia.


"Apa penyakit ini parah, Dok?" tanya Ella sedikit gemeteran.


"Tergantung dengan tingkat penyakitnya. Jadi, sekarang kamu ke rumah sakit, mulai lakukan pemeriksaan untuk dirimu." Usul Dokter tersenyum.


Ella menunduk menggenggam surat keterangan Dokter dan segera keluar. Ella berlari pergi menuju ke kontrakan yang sudah dia sewa selama dua minggu lebih ini. Benar-benar berita besar untuknya. Ella hanya bisa menahan kembali tangisnya di setiap langkah kakinya menyusuri dan menerobos kerumunan orang, memasuki sebuah gang kecil.


Kedua kaki Ella berhenti di sebuah kontrakan kumuh. Tapi bukan berhenti karena sudah sampai, melainkan melihat ada lelaki yang duduk di atas motornya sedang menatapnya. Ella dengan cepat menyembuyikan kertasnya di saku celana jinsnya.


"Rafa, kamu kenapa di sini?" tanya Ella mendekatinya.


"Aku tadi cari-cari kamu di cafe itu. Tapi aku tidak melihatmu, jadi aku ke sini. Eh, tau-taunya kamu tidak ada juga."


"Oh itu, aku tadi ada urusan," ucap Ella ingin ke arah pintunya, tapi Rafa langsung mencegatnya. Lelaki ini berdiri di depan Ella lalu memperhatikan serius dari atas ke bawah.


"Bentar dulu," ucap Rafa menyentuh dagunya menatap Ella saksama.


"Hm, ada apa, Ra?"


"Iniloh, baru saja tiga hari tidak melihatmu ... kenapa kamu jadi kurusan begini?" tanya Rafa memutari Ella.


"Ahaha, itu aku diet," ucap Ella mencari alasan.


"Pfft, ahahaha. Diet? Astaga, kenapa harus diet segala? Kamu ini kan kalau gendutan dikit kelihatan-" ucap Rafa berhenti dan sedikit tertawa memikirkan oppai.


"Kelihatan apanya?" Ella menyipitkan mata mulai kesal ditertawai apalagi Rafa pasti memikirkan aneh-aneh.


"Sudahlah, sekarang kamu ikut aku saja." Rafa menarik tangan Ella.


"Eh, mau kemana?" tanya Ella melepaskan genggaman Rafa.


"Aduh, Ara. Kamu ini kurusan tau! Jadi aku mau ajak kamu ke-"


"Ke mana?" tanya Ella menatap serius Rafa yang lagi sibuk menggaruk kepala sedang berpikir.


"Ha! Kita ke festival lampion malam ini! Aku juga akan mentraktirmu banyak makanan, biar kau ini gendutan!" Rafa tersenyum berhasil mencari ide.


"Pfft, ahaha ... mana ada festival lampion sekarang." Ella tertawa, ini yang membuat Rafa senang mengunjungi gadis ini. Tawa Ella yang lucu membuatnya tak bisa dilupakan. Akhirnya selama tiga hari ini dapat melihat tawanya kembali.


"Ya, ada dong. Sekarang, kamu ikut aku. Akan ku tunjukkan festival lampion itu!" ucap Rafa tersenyum puas. Ella ikut tersenyum kecil, entah ini terpaksa atau memang senyum yang tulus bagi Rafa.


"Kalau begitu, kamu di sini dulu. Aku mau masuk bentar siap-siap." Ella akhirnya setuju, tak ada salahnya menerima ajakan Rafa. Lagian juga, ini sedikit mengurangi pikirannya soal penyakitnya.


"Eits, tidak usah." Rafa menahan tangan Ella. Ella spontan berbalik melihatnya langsung menarik tangannya lepas dari Rafa. Membuat lelaki ini terkejut dengan respon Ella.


"Maaf, Rafa. Lebih baik kamu jangan terlalu dekat denganku." Ella melihatnya, takut penyakitnya berpindah ke Rafa.


"Eh, kenapa?" tanya Rafa sedikit kecewa mendengarnya.


"Itu, karena ... karena aku dekil!" jawab Ella menunduk.


"Ha, dekil? Mana ada, kamu ini itu imut bagaikan kelinci tau." Rafa mulai merayu Ella dan sedikit tertawa. Ella terdiam dan akhirnya ikut tertawa kecil. Bisa-bisanya Rafa menganggapnya kelinci, padahal kelinci lebih imut darinya.


"Ya sudah, sini. Aku akan membawamu ke toko."


"Eh, buat apa?"


"Tidak usah tanya, nanti juga kamu akan tahu." Kata Rafa menarik Ella naik ke motornya.


Ella sedikit gugup sekarang, apalagi Rafa tak henti-hentinya menggoda dan tak henti-hentinya memberikan perhatian padanya. Memang jujur, Rafa lebih baik sekarang dan bahkan Rafa kadang memintanya untuk tetap tinggal di apartemennya.


Namun Ella selalu menolak tak ingin menyusahkan Rafa lagi. Karena baginya, Rafa hanyalah seorang teman, tidak lebih dari itu. Tak ingin selalu bergantung pada Rafa terus-menerus. Yang dipikiran Ella cuma Devan semata. Berharap suaminya baik-baik saja di sana setelah menikahi Elisa nanti. Jika seandainya Ella tahu Rafa adalah adiknya Devan, mungkin Ella akan menjauhi Rafa juga. Kini motor Rafa pun pergi meninggalkan kontrakan Ella.


...________...


...Maaf kalau cerita ini buat kalian sedih, emosi. Jujur author tidak tahu bikin cerita yang bagus😭🙏mohon dimaklumi ya. Tunggu part 86 meluncur, part di mana Ella dan Devan dipertemukan kembali....


...~(Beri like dan komen)~...