
"Kak Hansel, bawa aku pergi dari sini."
Ella melepaskan Hansel lalu menundukkan kepala, begitu bodohnya malah dirinya menangis kembali. Hansel menyentuh kepala Ella merasa kasihan pada gadis polos ini.
"Tenangkanlah dirimu, Nona. Jangan terlalu memendam rasa pada Presdir Devan, janganlah terlalu berharap padanya. Presdir, telah bertunangan dan tak akan lama lagi melangsungkan pernikahan," ucap Hansel sambil menenangkan Ella.
Ella semakin menunduk, mencoba menahan tangisnya kembali serta suara isakannya. Ucapan Hansel mulai membuatnya sadar, jika tak seharusnya dirinya mencintai Devan. Ella kini terpaksa mengubur perasaannya terhadap Devan. Tak ingin lagi mencintai Devan, tak mau lagi terluka dan kini dirinya tak ingin lagi berharap pada Devan, tak mau batinnya semakin menderita.
Ella mendongak, melihat Hansel yang sama tingginya dengan Devan. Dengan mata sembabnya, Ella perlahan mengungkapkan perasaan yang tak seharusnya dia pendam terhadap Devan.
"Aku-" Ella mengepal tangan. Kedua tangannya mulai gemeteran.
"Aku sudah ikhlas. Aku sadar, tak seharusnya aku mencintainya. Pernikahan ini hanyalah keterpaksaan. Aku akan mengubur perasaanku ini dalam-dalam. Aku tak ingin merasa sakit lagi. Ini lebih sakit dari perlakuan Ibu tiriku. Batinku tersiksa." Ungkapan Ella membuat Hansel seketika terdiam.
"Nona Ella," lirih Hansel melihatnya.
"Kak Hansel," ucap Ella kembali menunduk.
"Jika dia mengusirku setelah aku diceraikan, aku akan rela pergi dari Villa ini. Jadi, aku harap ... mereka baik-baik saja nanti." Lanjut Ella berjalan melewati Hansel. Ella mencoba untuk kuat bertahan sampai perceraian itu jatuh padanya. Hansel segera berbalik dan langsung menahan tangan Ella.
"Tunggu, Ella," tahan Hansel membuat Ella berbalik melihatnya.
"Ada apa, Kak Hansel?" tanya Ella masih dengan suara seraknya.
"Meski Nona sudah diceraikan, Nona Ella akan tetap tinggal di Villa ini mengurus Maysha. Anda adalah wanita yang dibeli olehnya. Itu artinya, anda tidak akan bisa pergi dari Villa ini." Jawaban Hansel langsung membuat Ella menarik kembali tangannya. Sangat terkejut dirinya akan tetap tinggal. Tapi Ella tak mau itu terjadi. Ella tak mau lagi melihat kemesraan Devan dan Elisa di depan matanya. Begitu pedih jika harus melihatnya terus menerus.
"Aku," Ella berbalik membelakangi Hansel.
"Jika itu terjadi, aku akan melawannya. Aku tak akan tinggal di sini lagi." Ella mendesis merasa sakit lalu pergi meninggalkan Hansel menuju ke kamarnya sendiri. Ella mencoba untuk kuat, melawan Devan jika lelaki ini menahan dirinya. Hansel tersenyum mendengarnya, senyuman Hansel tak tahu apa artinya itu.
"Hansel," panggil seseorang yang mendekatinya dari belakang. Hansel berbalik dan melihat Devan yang memanggilnya.
"Ada apa, Presdir?" tanya Hansel berjalan ke arah Devan. Devan melirik sebentar Elisa dan Maysha yang sedang mengobrak-abrik belanjaan mereka.
"Bagaimana gadis itu?" Devan ternyata bertanya soal Ella.
"Hm, dia sudah sadar dari tadi," jawab Hansel. Devan sedikit tersenyum lalu kembali bertanya, "Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja sekarang?" Devan terlihat mencemaskan Ella.
Seberapa besarnya cinta Devan pada Elisa, lelaki ini tetap merasa cemas pada istrinya sendiri. Devan merasa bersalah saat melihat Ella pingsan di dalam lift. Apalagi membayangkan Ella yang ketakutan menaiki lift.
"Dia sudah baikan, Presdir. Sekarang, dia sedang ada di dalam kamarnya," ucap Hansel menjelaskan kondisi Ella. Devan menghela nafas lega mendengarnya.
"Ya sudah, aku ingin melihatnya sebentar." Devan melewati Hansel ingin ke kamar Ella, mumpung Elisa sibuk melihat belanjaannya. Tapi Hansel menghentikan Devan.
"Presdir, tunggu," tahan Hansel. Devan berbalik lalu melihat sekretarisnya.
"Ada apa?" tanya Devan sedikit heran.
"Apa Presdir mulai menyukainya?" Pertanyaan Hansel membuat Devan terkejut. Devan membelakangi Hansel dan meliriknya sinis.
"Hansel, aku sudah katakan padamu sebelumnya. Soal urusan pribadiku, kau tidak usah ikut campur!" Devan mengepal tangan sedikit jengkel pada ucapan Hansel. Merasa sekretarisnya terlalu banyak bicara dan ikut campur.
Tapi baru saja dua langkah ingin ke atas, Devan kembali berhenti setelah mendengar Elisa sedang memanggilnya.
"Sayang," ucap Elisa melewati Hansel lalu meraih lengan Devan dan memeluknya. Elisa menatap Devan dan tersenyum manis.
"Sayang, kamu mau kemana? Belanjaan aku belum selesai. Kamu jangan naik dulu ke kamarmu. Bantuin aku sore ini memilih baju yang kita beli." Elisa memohon bagaikan anak kecil yang menggemaskan saja.
"Itu, aku-" Devan mulai gugup tak melanjutkan ucapannya.
"Hm, aku apa?" Elisa semakin curiga dengan tingkah Devan yang mulai aneh.
"Aku mau cek sesuatu di kamar, sayang." Devan mencari alasan. Mana mungkin dia harus bicara terus terang jika dirinya mau ke kamar Ella.
"Tidak usah sekarang, lebih baik temani aku dong, aku lagi susah buat pilihkan baju couple kita." Elisa kembali bertingkah manja di depan Devan dan Hansel. Sungguh sifat manjanya tak dapat dipungkiri lagi, tak sama sekali seperti Ella. Bahkan Elisa cemberut melihat Devan yang selalu menolak ajakannya. Devan tertawa geli dan akhirnya tak jadi naik ke atas untuk melihat Ella.
Hansel yang tak punya kerjaan lagi, lelaki ini juga pamit untuk pulang. Tapi sebelum pulang, Hansel melihat ke arah kamar Ella. Sekilas melihat Ella yang sedang berdiri dibalik dinding. Hansel pun pergi meninggalkan Villa Devan.
.
.
Setelah memilih baju yang cocok, Devan pun ingin keluar untuk mengurus surat perceraiannya dengan Ella. Apalagi sekarang hari semakin petang. Ini waktunya untuk mengurus surat-sura itu. Tapi tak disangka, Elisa kembali manja padanya hingga terpaksa ditunda dulu.
"Sayang, ini waktunya makan malam. Maysha seharusnya turun makan bersama kita, kamu pergi ambil Maysha dong di kamar baby sister itu." Elisa memohon.
Devan melihat ke kamar Ella lalu melihat Elisa. Inilah waktunya, melihat apa yang dilakukan Ella sekarang. Apalagi adanya Elisa, sangat membuat Devan sulit menemui istrinya itu.
"Baiklah, kamu tunggu kami di dapur." Devan menyentuh kepala Elisa lalu berjalan menaiki tangga. Elisa dengan menurutnya hanya ke dapur saja tanpa rasa curiga lagi.
Pintu kamar Ella terbuka oleh Devan. Perlahan, Devan melihat Maysha sedang duduk bersama Ella di atas kasurnya. Melihat buku bergambar saja. Ella menatap Devan yang berjalan ke arahnya. Ada rasa senang melihat Devan naik, tapi tujuannya hanyalah membawa Maysha turun makan malam.
"Dejhi," Maysha turun dari ranjang lalu merengek ke Devan untuk digendong. Devan tertawa kecil melihat tingkahnya lalu melihat Ella.
"Turunlah bersamaku untuk makan malam."
Devan menggendong Maysha lalu berjalan keluar dari kamar Ella begitu saja. Ella sakit, bukan kalimat itu yang ingin dia dengar. Ella mengira Devan akan menanyakan perasaannya, namun tidak sama sekali. Ella beranjak dari ranjang lalu menyusul Devan.
Sekali lagi, Ella harus menahan kekecewaan itu melihat kemesraan Devan dan Elisa di meja makan. Terlihat Devan begitu romantisnya menyuapi Elisa dengan tulus. Tidak seperti dirinya sekarang sedang mencuci piring. Maysha yang diantara mereka kini sadar jika Ella tak ikut makan.
"Dejhi, Bun-nah kenapa cidak makan?" tanya Maysha membuat Elisa terkejut.
"Bun-nah?" ucap Elisa tak percaya anak sekecil ini memberikan panggilan itu.
"Maysha, jangan bilang begitu. Dia bukan anggota keluargamu, kamu tidak boleh memanggilnya Bunda."
Mendengar ucapan Elisa membuat Maysha menangis. Devan jadi panik dan segera menenangkannya, begitupun Elisa. Tapi ternyata malah menjadi-jadi.
"Aduh, jangan nangis sayang," ucap Elisa menggendong Maysha.
"Sayang, aku ke atas saja dulu deh. Sepertinya, Maysha waktunya tidur malam ini. Tidak apa-apa kan, aku tinggalin kamu sebentar." Lanjutnya berbicara pada Devan. Devan tersenyum dan mengangguk saja. Elisa pun naik ke kamar Maysha.
Kini di ruang dapur hanya Devan dan Ella saja. Devan berdiri dari kursi membawa piring untuk mengambil sesuatu di panci yang ada di atas kompor. Devan berdiri tak jauh dari Ella yang lagi cuci piring. Devan sesekali melirik Ella yang dari tadi diam saja.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Devan melihat Ella. Tapi dirinya dicuekin saja.
"Apa kau baik-baik saja?" Sekali lagi bertanya. Tapi dicuekin lagi. Devan mulai greget dan segera meletakkan piringnya lalu menarik lengan Ella agar berbalik melihatnya. Ternyata, kedua matanya tertuju pada Ella yang lagi menahan tangisnya. Tanpa pikir panjang, Devan memeluknya segera.
"Apa kau kecewa padaku?" tanya Devan. Ella tak menjawabnya melainkan hanya diam saja.
"Apa kamu tuli? Jawablah aku!" tegas Devan. Ella mengepal tangannya dan segera menepis tangan yang memeluknya, lalu menatap tajam Devan.
"Untuk apa anda harus tahu? Apa anda tak bisa melihatnya dengan jelas?" ucap Ella merasa Devan sekarang buta tak melihat dirinya yang cemburu menahan sakit. Ella kembali membelakangi Devan tak peduli lagi dengan lelaki tidak jelas ini dan melanjutkan cucian piringnya. Tapi tak disangka, Devan memeluknya dari belakang membuat Ella tersentak mendengar ucapan Devan.
"Maaf, Ella."
Ella mengepal tangannya, merasa tak ada gunanya. Namun, sekali lagi Ella terkejut merasakan Devan diam-diam memasangkan kalung untuknya. Sangat jelas Devan sekarang mengecup lehernya.
"Apa kau menyukainya?" tanya Devan masih memeluk Ella. Ella tentu tersipu menerima hadiah dari Devan. Tapi, keputusannya harus dia sampaikan sekarang juga. Ella melepaskan tangan yang merangkulnya lalu berbalik melihat Devan. Devan nampak tersenyum padanya. Tapi senyuman itu sirna ketika Ella melepaskan kalungnya lalu memberikan kepada Devan.
"Aku tak butuh ini, yang aku inginkan sekarang adalah-" Ella menunduk sebentar masih takut mengatakannya tapi inilah yang harus dia katakan.
"Mari bercerai malam ini juga, Tuan. Biarkan aku pergi malam ini."
Ucapan Ella barusan membuat Devan sangat terkejut mendengar Ella yang malah meminta perceraian sebelum surat-suratnya jadi. Sungguh tak percaya Ella punya keberanian ini. Ella kini gemeteran, ia juga tak mau pisah, tapi tak sanggup juga melihat Elisa satu atap dengannya.
"Aku menolak!"
Dua kata ini langsung keluar dari mulut Devan membuat Ella tersentak mendengarnya. Kedua mata mereka saling bertatapan, melihat keseriusan Devan yang menolak ucapan Ella.
...______...