Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 30 : Mulai Bimbang!


...|| Beri like dan komen ||...


Pukul 20.45 malam. Setelah makan malam di luar tadi, kini Devan sudah ada di dalam kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Lelah rasanya membantu Ella barusan.


Meski begitu, rasanya menyenangkan hari ini bersama istrinya. Apalagi Ella selalu saja memikirkan hadiah untuk dirinya.


"Hadiah apa yang akan dia berikan padaku ya, apa jangan-jangan dia nanti akan menipuku?"


Devan beranjak duduk lalu mengambil buku nikah kecilnya. Melihat foto pernikahannya. Menertawai foto Ella yang tersenyum.


"Dia memang manis,"


Tiga kata ini keluar dengan sendirinya dari mulut Devan. Diam-diam mulai menyukai Ella. Tapi, hatinya mulai bimbang langkah apa yang harus diambil untuk keputasannya kali ini.


"Aku sudah bertunangan, dan milikku sudah direbut oleh gadis ini. Aku tidak tahu lagi, apa aku harus menceraikannya atau mempertahankannya?"


Devan berdiri mendekati jendela kamarnya. Menyentuh horden jendela dan menatap ke arah luar Villanya dengan perasaan gundah.


"El, maafkan aku. Aku sudah mengkhianatimu, tapi aku tak sengaja melakukan ini padamu, sayang. Maafkan aku sudah menduakan cintamu. Perasaanku mulai bimbang, untuk melanjutkan pertunangan denganmu."


Kegelisahan Devan mulai membuatnya sedih. Apalagi Ella mulai melekat di dalam hatinya. Tapi takut juga perasaan ini akan melukai dua pihak. Terutama dirinya mungkin saja terluka. Bahkan merasa bersalah pada kekasihnya.


"Aish, apa yang harus kulakukan."


Devan mendesis mengacak-acak rambutnya sambil duduk di sofa miliknya. Pikirannya sedikit kacau memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil untuk Ella dan kekasihnya.


Sama juga dengan Ella yang sekarang masih belum tidur dan tetap mondar-mandir di dalam kamarnya. Maysha yang sedang duduk di atas ranjangnya jadi terheran-heran mengapa gadis 19 tahun ini begitu gelisah.


Maysha turun lalu meraih tangan kanan Ella. Mendongak dengan wajahnya yang imut pada Ella.


"Bun-nah, kenapa?" tanya Maysha tersenyum.


Ella berlutut lalu menyentuh wajah Maysha.


"Maysha, tau apa yang disukai Daddy mu?" Ella malah bertanya balik.


Maysha terdiam saja tak paham. Ella hanya menyentuh kepala Maysha lalu berdiri, menyentuh dagu dan mulai berpikir.


"Presdir Devan orang kaya, dia juga sombong, dia bahkan menyebalkan. Tapi orang seperti ini, apa dia menyukai sesuatu?"


Ella takut jika hadiahnya nanti tak sesuai dengan keinginan Devan. Ella akhirnya berhasil memikirkan sesuatu. Ella mendekati pintu kamarnya, membuka sedikit lalu mengintip sedikit.


"Sepertinya, dia sudah tidur. Apa aku bikin kue saja buat dia?"


Ella membuka lebar-lebar pintu lalu mengajak Maysha ikut menemaninya.


"Maysha mau tidak, ikut sama aku?"


"Mau kemana, Bun-nah?" tanya Maysha. Ella berbisik ke telinga anak kecil ini. Seketika Myasha tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala. Senang dengan ide-nya Ella.


Ella pun memberi jempol lalu dibalas jempol oleh Maysha yang cekikikan. Kini keduanya mengendap-endap untuk ke arah dapur.


"Maysha duduk sini ya, biar aku yang buat kuenya. Maysha jangan berisik." Ella memberi jempol lagi. Maysha hanya senyum-senyum di kursi sudah mengerti dengan wajah imutnya.


Ella meraih celemek lalu memasangnya ke tebuhnya. Mulai meracik sebuah bahan untuk membuat kue spesial untuk Devan. Gadis biasa yang tak tahu apa-apa soal benda-benda berharga dan cuma tau soal urusan dapur saja. Karena itulah Ella berniat untuk membuat kue. Meski nilainya rendah, tapi spesial di mata Ella.


"Semoga saja dia tak melempar kue ini ke wajahku nanti. Dari pada aku ke kamarnya menyerahkan diriku, lebih baik aku buatkan kue kecil ini. Meski tak terlalu berharga tapi masih spesial jika dilihat terus menerus."


Ella tersenyum mulai mengaduk adonan. Akan tetapi, pipinya merona ingat dengan ajakan Devan di dalam lift saat dirinya dihimpit ke pinggir lift.


"Aduh, kenapa aku bisa berpikir begini, sih." Ella mendesis kesal pada pikirannya yang kotor dan mulai fokus membuat adonan kue.


"Di mana dia?"


Devan menutup pintu lalu mengepal tangan dan mulai berpikir, "Dia pasti sudah pergi setelah aku bantu dia merebut rumah peninggalan Ayahnya. Sial, dia pintar juga kabur dari rumah ini!" Devan mengumpat segera mencari Ella ke kamar Maysha. Akan tetapi, langkahnya terhenti setelah mendengar suara dentingan sendok yang jatuh ke lantai dari arah dapur.


"Eh, apa ada maling masuk?"


Devan berjalan dengan rasa was-was ke arah dapur dengan sapu di tangannya.


"Aduh, Maysha. Kamu duduk saja, ya. Biar aku yang kasih tepung, nanti tangan Maysha kotor." Ella mengusap tangan Maysha yang dengan tepung. Maysha hanya cekikikan merasa ini sangat menyenangkan, tapi tidak untuk Ella yang kerepotan.


"Sekarang, Maysha tidak usah bantu ya. Maysha sini saja lihat dan duduk manis." Ella menyentuh kepala anak kecil di depannya. Maysha tersenyum saja mendengarnya.


Ella pun berdiri di dekat meja mulai kembali mengerjaan adonan kuenya. Maysha berdiri di kursi dan melihat Ella membuat kue. Tapi, kedua matanya tertuju pada Devan yang sedang berjalan ke arahnya. Maysha ingin memberitahu Ella jika di belakangnya ada Devan. Tapi Devan memberi isyarat mulut agar tak beruara. Devan ingin mengagetkan Ella yang sudah diam-diam memakai dapurnya.


Ella yang lagi memikirkan apakah kue ini enak tau tidak, malah dikejutkan oleh Devan yang menepuk pantat kiri Ella. Ella membola lalu berbalik begitu shock. Bahkan tersentak melihat ke belakang.


"Aaaaa ... siapa itu!" ujar Ella berbalik.


Deg!


Detak jantung Ella terdengar keras saat wajah Devan terkena semburan terigu. Alhasil, wajah tampannya dipenuhi bubuk putih dari baskom Ella.


"Pfft ... ahahaha," tawa Maysha pecah melihat Devan yang mematung di depan Ella. Niatnya mau mengagetkan Ella malah dirinya yang kena batunya.


Ella juga menahan tawa, sungguh wajahnya terlihat diberi bedak setebal tembok putih di belakangnya. Devan kesal lalu segera mengambil tissu untuk bersihkan wajahnya.


"Anda baik-baik saja?" tanya Ella sedikit takut sudah mengotori wajah pria jutek di depannya.


"Baik?" Devan greget karena Ella malah tak melihatnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Apa-apa yang ... kau lakukan di dapurku, ha!" bentak Devan kesal melihat dapurnya diobrak-abrik.


"Ehehe, aku ... aku," Ella cengengesan sambil memainkan jarinya. Maysha memberi kode untuk tidak usah meladeni Devan.


"Aku, apa!" ujar Devan semakin tinggi suaranya. Ella tersentak begitupula Maysha.


"Aaaaaaaaaa ...."


"Aku minta maaf, Tuan!" Ella berlari pergi ke kamarnya diikuti Maysha juga yang malah meninggalkan Devan yang mulai kambuh lagi sifat pemarahnya.


"ELLA!!" teriak Devan begitu keras, bahkan gelas-gelas bergoyang mendengar suara Devan. Tatapan Devan mulai sinis melihat dapurnya berantakan begitu parah.


Tapi ternyata, Ella dan Maysha malah muncul lagi di dekat pintu lalu memberi simbol pada dua jarinya.


"Tuan, anda jangan marah-marah terus. Lebih baik tersenyumlah, dari pada marah-marah nanti Tuan cepat tua." Ella memberi saran sambil tersenyum.


Devan tak peduli mendengarnya. Kini ia sudah tak sabar mau memberi pelajaran untuk Ella.


"Aaaaaa, kabur Maysha!" teriak Ella diikuti Maysha lari terbirit-birit menaiki tangga menuju ke kamarnya. Devan menendang kursi mulai bertambah kesal.


"Ella! Awas, kau!" umpat Devan duduk di kursi merapikan pakaiannya yang dipenuhi tepung. Kini hanya dirinya yang dapat membersihkan dapurnya sendiri.


"Ahahahaha ...." tawa Ella dan Maysha bersama-sama sudah melihat ekspresi Devan yang lucu barusan.


..._______...


...🌷•|| Semoga suka ya ||•🌷...