
Rafa kini sampai dan segera berjalan langsung ke pintu utama mansion. Para penjaga yang dilewati hanya mengangguk saja. Tapi Rafa tak peduli, yang membuatnya cemas adalah Devan. Baru kali ini mendengar Kakaknya yang penurut itu bertengkar dengan Ayahnya, Tuan Raka Alandra, pria yang sangat disegani di kota ini.
Krak!
Pintu mansion terbuka lebar, kedua mata Rafa menangkap suasana ruang tamu sepi. Seharusnya berantakan tapi malah sunyi tak ada suara sedikitpun. Hanya satu-dua pelayan yang keluar masuk dari ruang dapur. Rafa menggelengkan kepala lalu berlari menaiki anak tangga yang bercabang ke kedua arah yang berlawanan. Rafa menuju ke arah kiri untuk ke kamar Ayahnya.
"Kenapa malah tak ada suara Bang Devan dan Papi yang berantem?"
Baru juga mau sampai ke kamar Ayahnya, Rafa dikejutkan dengan suara adiknya. Suara tepukan yang mendekatinya dari arah samping kirinya.
"Wah wah, ternyata bang Rafa pulang juga." Zeli tersenyum miring melihat kakaknya sudah berdiri di depannya.
"Lu-lu kok tenang banget?" kata Rafa mendekati adiknya.
"Lu bilang Papi sama bang Devan berantem, tapi kenapa cuma lu doang yang nongol?" Sekali lagi Rafa berkata sambil menunjuk adiknya.
"Ya iyalah gue nongol, lu kan habis pulang dari luar. Ya wajar saja, kan?" kata Zeli sambil memakan krupuk di tangannya.
"Ihh, jadi lu bo'ongin gue ya, dek? Papi dan Bang Devan sebenarnya ini cuma akal-akalan lu doang kan?" kesal Rafa menatap adiknya yang keasikan makan.
"Ya, begitulah. Habisnya sih lu keluyurannya kebangetan bang! Ini tuh dah jam delapan malam, waktunya kita makan bersama," ucap Zeli menunjuk-nunjuk jam tangan mahalnya.
"Eaalah! Lu hampir bikin gue jantungan tau, gue pikir tadi beneran!" celetuk Rafa berbalik merasa jengkel.
"Pfft, ahaha. Rasakan! Lagian juga jam segini bang Devan belum pulang, tapi karena lu dah pulang, mending kita ke dapur terus bantu Mami siapin makan malam." Tarik Zeli meraih tangan kakaknya.
"Gak, ah! Gue mau keluar lagi, gue dah makan! Good bay!" Rafa melepaskan rangkulan adiknya lalu menuruni tangga.
"Woii, bang! Ini tuh dah malam, nanti Papi marah liat lu keluyuran mulu!" teriak Zeli di atas lantai dua.
"Tau, ah! Bodo amat!" serah Rafa tetap berjalan ke arah pintu utama.
"Ish, gue disuruh diem di rumah tapi dia yang keluyuran! Dasar tomat!" ketus Zeli ingin ke kamarnya lagi. Tapi, baru juga mau melangkah, pandangannya tertuju pada Devan yang masuk melewati Rafa begitu saja. Membuat Rafa dan Zeli terkejut dengan sikap satu kakaknya yang acuh tak acuh dengan keberadaannya.
"Cih, menyebalkan!" desis Rafa berhenti jalan lalu melihat Devan naik ke atas ingin ke kamarnya sendiri. Presdir ini sudah tahu kepulangan Ibunya, tapi bagi Devan yang lebih penting adalah Ella. Bahkan Zeli dilewati begitu saja olehnya. Raut wajah Devan sudah bercampur antara sedih dan kecewa.
"Eh, selamat malam Tuan muda Rafa." Hansel menyapa Rafa. Rafa berbalik melihat Hansel menggendong Maysha yang mulai mengucek kedua matanya.
"Lho, sekretaris Hansel, kenapa Maysha ada di sini?" tanya Rafa tak tahu menahu. Terkejut melihat keponakan imutnya bersama dengan Hansel dan Devan. Hansel pun mengatakan jika Nona Dean alias Ibunya Maysha menitipkan putrinya ke Devan sebeb ada masalah pribadi.
"Oh, ya sudah kalau begitu sini biar gue saja yang bawa Maysha ke kamarnya." Rafa meraih Maysha yang mulai merengek.
"Bun-nah, Maysha mawu sama Bun-nah." Maysha sedih sambil memeluk Rafa.
"Bun-nah? Siapa itu?" pikir Rafa melihat Maysha.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan muda." Hansel menunduk sedikit lalu pergi dari tempatnya menuju ke mobilnya.
"Eh, bentar!" kata Rafa ingin menahan Hansel, tapi Hansel sudah jauh dan masuk ke mobil melaju pergi.
"Aish," desis Rafa kesal. "Baru juga mau tanya soal Bang Devan kenapa, dia malah pergi begitu saja. Huft, baiklah." Rafa tak jadi keluar lalu menaiki tangga ingin membawa Maysha ke kamar Zeli. Setelah membawa Maysha, anak ini langsung tidur sejenak di dekat Zeli yang lagi sibuk mengotak-atik laptopnya alias sibuk main game.
"Tuh, Marsha. Lu jagain tuh, jangan cuma main game doang!" Tunjuk Rafa pada Maysha sambil melihat Zeli.
"Ya, udah sono!" usir Zeli membelakangi Rafa. Rafa menyipitkan mata, sungguh kesal dan jengkel dengan sikap adiknya. Rafa berjalan keluar, tapi alangkah terkejutnya melihat Devan berhadapan dengan Tuan Raka, alias Ayahnya sendiri. Rafa segera lari ke tangga untuk melihat apa yang akan terjadi.
"Kau mau kemana, Deva?" tanya Tn. Raka berdiri begitu serius menatap anak sulungnya.
"Bukan urusan Papi, jadi minggirlah, aku mau keluar!" Devan berjalan melewatinya. Tapi berhenti mendengar suara Ayahnya yang makin terdengar tinggi.
"Berhenti!"
"Inikah caramu menyambut kami pulang? Di mana kesopananmu selama ini!" kata Tn. Raka berdiri menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Apa itu perlu?" Devan berbalik menatap sinis ke Ayahnya. Memang kedekatan Devan dan Ayahnya tidak terlalu akrab, karena Devan dari kecil jarang bicara pada Tn. Raka dan hanya dekat dengan Ibunya serta saudara kembarnya saja.
"Kau! Papi tidak pernah mengajarkanmu seperti ini! Pergi mengabaikanku begitu saja, apa sekarang kau sudah berubah? Kenapa tiba-tiba bersikap kurang ajar begini!" bentak Tn. Raka menatapnya tajam.
"Ck, aku minta maaf. Aku buru-buru, untuk makan malam, kalian makan saja." Devan mendecak lalu berbalik kembali.
"Kau mau kemana?" tanya Tn. Raka sedikit marah. Devan hanya meliriknya lalu berjalan kembali.
"Kau mau ke rumah Elisa?" tebak Tn. Raka membuat Devan berhenti.
"Aku-aku," ucap Devan mengepal tangan. Tentu saja bukan itu tujuannya, Devan pergi ingin mencari Ella di rawa-rawa di tempat Ella menjatuhkan kalungnya tadi. Rawa yang terdapat sungai dan jembatan kecil.
"Ingat, pernikahan kalian tinggal beberapa hari lagi. Setelah Ibumu mengunjungi Elisa, kau harus siap-siap memilih style yang cocok untuk pernikahan kalian nanti." Ucapan Tn. Raka membuat Devan terkejut langsung berbalik.
"Papi tidak bisa pastikan sekarang, apalagi kondisi Elisa malah menurun kata Ibumu. Jadi, kau siap-siap saja." Tn. Raka berjalan ke sofa lalu duduk santai melihat Devan yang cemas. Devan melihat Ayahnya lalu mendekatinya. Bersamaan dengan Ny. Mira keluar membawa secangkir kopi untuk suaminya.
"Eh, Deva. Kau akhirnya datang juga, Nak." Ny. Mira tersenyum melihat putra sulungnya sambil meletakkan kopi di atas meja.
"Nih, sayang kopinya." Ny. Mira duduk di dekat suaminya. Tn. Raka pun mengambil kopinya lalu meminumnya perlahan sambil ditemani sang istri. Melihat mereka duduk bersama membuat Devan mengepal tangan. Cemburu ingin juga seperti itu bersama Ella.
"Aku tak akan menikahi Elisa, Mah!" kata Devan mantap membuat kedua orang tuanya.
Tn. Raka tersedak langsung berdiri. "Apa? Tidak mau menikahi Elisa? Maksud kamu apa, Devan?" Tn. Raka kaget langsung mendekati Devan. Ny. Mira ikut berdiri, terkejut mendengar ucapan anaknya.
"Aku ingin batalkan pernikahan ini, aku tak mau melanjutkannya lagi." Sekali lagi Devan berkata jujur membuat Rafa yang berdiri di dekat tangga ikut kaget mendengarnya.
"Kau! Apa-apaan ini, kenapa tiba-tiba membatalkannya! Kau mau malu-maluin Papi?" bentak Tn. Raka mulai marah dan tak sangka pada putra sulungnya.
"Ya, aku mau batalkan hubungan ini. Tapi Papi tak usah kuatir, aku tak akan mempermalukanmu." Devan berkata serius.
"Kenapa, kenapa begini? Bukan kah kalian ini saling mencintai? Kenapa tiba-tiba ingin membatalkannya?" Amarah Tn. Raka yang dari tadi tertahan kini mulai meluap.
"Itu dulu, tapi sekarang aku tidak lagi mencintainya. Jadi batalkan saja." Devan berbalik ingin pergi tapi langsung ditahan oleh Ayahnya. Bahkan sekarang kerah lehernya dicengkram kuat oleh Tn. Raka. Ny. Mira menutup mulutnya tak sangka suami dan anaknya mulai berdebat, begitupun Rafa langsung berjalan ke arah Ibunya.
"Sayang, kamu jangan kasar begitu sama Deva." Ny. Mira menenangkan suaminya. Devan menatap kedua mata biru Ayahnya lalu menepis tangan Ayahnya.
"Aku sudah bilang, aku tak mau menikahinya. Jadi Papi terima saja, sekarang aku ingin pulang ke villaku." Devan dengan tangan mengepal pergi ke pintu utama. Raut wajah Tn. Raka mulai tak karuan lagi. Namun Devan kini dicegat oleh beberapa penjaga mansion yang berdiri di depan pintu.
"Minggir! Aku ingin keluar!" sinis Devan membentak pada mereka. "Tidak! Kau tak akan keluar dari sini. Papi tak akan biarkan niat bodohmu itu mempermalukan keluarga kita! Sekarang pergilah ke kamar, pernikahan kalian akan Papi percepatkan!" Tunjuk Tn. Raka ke lantai atas dengan nada tinggi.
"Tidak, aku tetap menolak!" Tolak Devan mengamuk.
"Menolak? Kau berani pada Papi? Kau sendiri yang dulu meminta untuk menikahi Elisa dan sekarang kau ingin batalkan? Apa kau ingin mempermalukan Papi dan Om Vianmu?" geram Tn. Raka ingin mendekatinya, tapi Ny. Mira segera merangkul lengannya agar tak melanjutkan perdebatan ini.
Serta tak sangka Devan sudah mulai membangkang, padahal pria ini begitu penurut dari kecil. Devan menunduk lalu mengingat Ella. Dirinya masih belum rela kehilangan Ella serta tak mau menikahi wanita yang tak lagi dia cintai.
"Tetap saja aku tak akan menikahinya!"
"Dasar pembangkang! Dimana tanggung jawab atas ucapanmu itu, ha!" bentak Tn. Raka mulai naik emosinya.
"Elisa masih bukan tanggung jawabku!" elak Devan bersikeras. Emosinya ikut meluap. Memang salah sudah mengatakan ini, tapi Devan lebih salah jika harus kehilangan Ella. Tn. Raka mengepal tangan ingin memukul wajah anaknya. Benar-benar berbeda dengannya yang sangat bertanggung jawab, tidak seperti Devan yang tiba-tiba membangkang.
"Bawa dia ke kamarnya!" geram Tn. Raka menunjuk Devan sambil melihat penjaga. Penjaga dengan patuh langsung mengunci kedua lengan Devan. Devan dan Rafa terperanjak bersamaan.
"Tidak, lepaskan aku!" ronta Devan melirik sinis dan tajam.
"Maaf, Tuan muda. Ini adalah perintah!"
Bag!
Pundak Devan dipukul keras oleh penjaga membuat Rafa dan Ny. Mira kaget. Tn. Raka segera menyuruh penjaga membawa Devan yang pingsan ke kamarnya dan mengunci kamar lelaki ini.
"Sayang, kamu jangan begini dong. Deva kan baru pulang, harusnya kita bicara baik-baik," ucap Ny. Mira. Suaminya tak peduli lalu pergi begitu saja ke arah dapur. Ny. Mira cemberut segera menyusul suaminya.
"Bang!"
"Oi, astaga!" pekik Rafa terperanjak kaget.
"Lu! Kalau mau kagetin gue bukan saatnya, dek! Untung gue gak serangan jantung!" bentak Rafa mengelus dadanya melihat adiknya yang cengengesan dengan tampang tak bersalah.
"Yaelah, gitu doang kaget. Dasar lemah!" ejek Zeli masih tertawa.
"Ish, napa lu manggil gue?" tanya Rafa mendesis kesal.
"Itu loh bang, gue tadi denger suara perdebatan. Bang Devan sama Papi gak berantem kan?" tanya Zeli memastikan.
"Hah, gak tau!" ketus Rafa berjalan pergi mengabaikan Zeli yang menggertakkan gigi.
"Iih, abang Rafa! lu kok nyebelin sih!" pekik Zeli langsung mengejar Rafa merasa kesal sudah diabaikan. Tidak seperti Rafa yang sedang berpikir mengapa Devan tiba-tiba berubah pikiran.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengannya, aku yakin pasti ada alasan lain." Rafa bergumam lalu masuk ke dapur bersama adiknya.
...____...
...Semoga lulus review semua babnya...
...Terima kasih dh baca🤗...