
Di rumah sakit.
Elisa di dalam toilet sedang mencuci wajahnya. Merasa ada suara kecil yang terdengar begitu jauh. Memanggilnya dengan sebutan kakak. Mendengar suara itu, Elisa mulai merasa aneh pada dirinya.
"Apa ini? Kenapa aku tiba-tiba gelisah begini?"
Elisa menyentuh dadanya dan mulai mengatur nafasnya, ia harus ingat pesan Dokter jika dirinya tak boleh terlalu emosi dan kelelahan. Elisa menunduk mulai teralih pada Devan. Elisa keluar dari toilet, lalu sedikit terkejut melihat Tn. Vian berada di ruangannya dan tak ada Devan sama sekali.
"Lho, Pah. Di mana Devan?" tanya Elisa berjalan ke arah brankarnya.
Tn. Vian berdiri dari sofa lalu dengan sedikit raut kesal kepada Devan berjalan ke arah Elisa.
"Dia sudah pergi," ucap Tn. Vian malas membahas soal keponakannya itu.
"Lho, kok pergi Pah? Kan aku masih mau ditemani," lesu Elisa duduk di brankarnya dan mulai menunduk. Sedih karena Devan pergi tanpa pamit padanya, apalagi niatnya masih ingin menahan Devan. Tapi sepertinya, Tn Vian sendiri yang mengusir Devan pergi dari ruangan Vip anaknya.
"Ya ampun, kau tidak usah sedih. Lelaki seperti itu tak cocok untukmu, Papa akan carikan lelaki yang baik untukmu di luar sana."
"Tidak, Pah! Elisa tidak mau!" ujar Elisa segera menolak. Menatap serius ke arah Tn. Vian.
"Elisa, Papa cuma mau kamu bahagia. Papa tidak suka Devan, dia sama sekali tak punya pendirian tetap. Papa hanya ingin kau tetap hidup bahagia, Nak."
"Tapi, aku masih mencintainya, Pah!" ungkap Elisa menunduk mulai lagi sedih. Tn. Vian seketika diam, tak bisa memaksa Elisa, takut jika mempengaruhi kondisinya.
"Sudah, Papa mau pergi ke perusahaan. Kamu istirahatlah." Tn. Vian mulai berjalan ke arah pintu, tapi berhenti setelah mendengar Elisa bertanya padanya.
"Pah, Mama mana?"
Tn. Vian berbalik melihatnya. "Mama kamu ada jadwal wawancara," ucap Tn. Vian melihat jam tangannya.
"Lho, kok ada wawancara? Memang Mama berbuat apa hingga harus diwawancarai?" tanya Elisa lagi. Raut wajahnya semakin sedih.
"Ini karena kamu masuk rumah sakit, apalagi kamu ini sudah dikenal dikalangan selebriti Mama kamu. Sekarang, Papa tidak ada waktu, kamu istirahatlah. Papa pergi dulu."
"Tunggu, Pah!" Tahan Elisa lagi.
"Ya, ada apa?" tanya Tn. Vian melihatnya.
"Begini, apa aku punya adik, Pah?"
"Tidak ada, kau ini putri tunggal, Papa. Jadi, tidak usah bertanya hal begini lagi." ucap Tn. Vian keluar tak mau membahasnya lalu buru-buru pergi untuk menghadiri pertemuannya. Serta memikirkan untuk memberitahukan masalah ini pada kedua orang tua Devan.
Elisa berbaring menghadap ke samping, meremas kuat seprai brankarnya dan sedikit menangis. Merasa selalu begini, ditinggal pergi begitu saja oleh Mamanya. Apalagi kalau bertanya soal tadi, pasti hatinya sedikit teriris, merasa begitu kesepian hanya seorang diri saja. Sekaligus Devan juga sudah tak peduli padanya.
"Siapa lagi yang akan peduli padaku? Mama sibuk sama karirnya, Papa sibuk sama kantornya. Apalagi Devan sudah pergi dari hidupku, apa aku harus diam saja?" Elisa mulai diam-diam menangis seorang diri di dalam ruangannya.
Beda dari Ella yang selalu tertawa melihat tingkah Maysha yang mulai bertingkah lucu. Terlihat Maysha sedang berjalan ke arah Ella dengan handuk yang menutupi tubuhnya. Kaki kecil Maysha begitu lucu sekarang.
"Bun-nah, sini Maysha cangkap, hihi ...." tawa Maysha cekikikan dengan tingkahnya.
"Ahaha Maysha, sini handuknya kasih ke Bunda. Nanti Maysha jatuh, terus nangis lagi." Ella tertawa dan mengambil handuk Maysha.
"Bun-nah," panggil Maysha yang berdiri di dekat Ella yang lagi melipat handuk.
"Kenapa, Sha?" tanya Ella menoleh padanya.
"Bun-nah, noncong."
"Eh, noncong?" Ella menggaruk kepalanya tidak paham.
"Noncong, Bun-nah." Rengek Maysha mulai bertingkah lagi.
"Lontong? Maysha mau makan lontong?" tebak Ella duduk di depan Maysha.
"Bukan loncong capi noncong," ucap Maysha geleng-geleng kepala.
"Bukan ocong, capi noncong Bun-nah!" Tunjuk Maysha merengek ke arah TV. Ella menoleh dan tertawa kecil. Ternyata tujuan anak kecil ini ingin menonton lagi. Padahal tadi sudah, dan sekarang Maysha ingin lagi menonton.
"Maysha, apa kau tak bisa sebut hurut (T)?" tanya Ella lagi sambil duduk di sofa diikuti Maysha. Maysha hanya cengengesan tak tahu menyebutnya. Ella kembali tertawa kecil lalu meraih remote. Menekan tombol lalu menyalakan TV yang kini menyiarakan sebuah iklan.
"Maysha, kartunnya masih belum ada. Kita tunggu saja ya." Ucap Ella mengelus kepala Maysha. Maysha mengangguk paham. Asik melihat iklan, sebuah benda jatuh terdengar dari lantai atas. Ella menoleh ke atas dan melihat penyangga kain hordeng jendela terbuka di sisi lain. Ella berdiri lalu melihat Maysa. Ingin pergi ke atas untuk memperbaikinya.
"Maysha di sini dulu ya, Bun-nah mau ke atas sebentar. Tidak apa-apa, kan?"
"Hm, cidak apa-apa." Maysha menganggukkan kepala lalu melihat TV kembali. Ella kemudian menaiki tangga berjalan ke arah hordeng yang hampir jatuh ke lantai. Namun, saat ingin memperbaikinya. Penyangga kain begitu tinggi. Ella kini menjinjit berusaha meraihnya.
Maysha yang asik menonton TV, anak kecil ini terkejut melihat Ny. Chelsi yang sedang diwawancarai bukan siaran kartun. Tapi, Maysha tak peduli dan malah meraih remote TV untuk memindahkan ke channel lain. Maysha nampak sibuk menekan tombol asal-asalan dan akhirnya menemukan siaran kartunnya.
Maysha kini bersandar ke sofa menikmati nontonnya, tidak seperti Ella yang masih sibuk di lantai atas. Maysha yang asik nonton kembali terkejut mendengar pintu bergeser sedikit. Maysha menoleh ke arah pintu utama dan tersenyum lebar melihat Devan pulang sore ini.
Maysha turun dari sofa lalu dengan kedua kaki kecilnya berlari ke arah Devan. Devan tertawa kecil disambut oleh keponakan imutnya. Tapi, kedua matanya sedang mencari seseorang.
"Maysha, Bunda kemana? Kok Maysha bisa di sini sendirian?" tanya Devan menggendong Maysha.
"Bun-nah, cuh acas!" Tunjuk Maysha ke lantai atas. Devan melihat ke arah yang ditunjukkan Maysha. Kedua mata Devan tertuju pada Ella yang sedang melompat-lompat ingin meraih sesuatu.
"Pffft, apa dia kurang akal? Eh, bukan akal, sepertinya dia kurang tinggi, ahaha," gumam Devan tertawa kecil melihat istrinya sibuk memperbaiki horden.
"Baiklah, Maysha diam sini ya," ucap Devan meletakkan Maysha kembali ke sofa.
"Dejhi mau kemana?"
"Mau ke atas dulu, Maysha di sini saja ya nonton lagi." Devan mengelus kepala Maysha. Maysha hanya diam sudah paham lalu nonton kembali. Sedangkan Devan diam-diam menaiki tangga ingin mengagetkan Ella.
"Ish, kenapa belum sampai sih!" ketus Ella manyun.
"Padahal aku dulu tiap hari minum susu," gerutu Ella semakin kesal.
"Nasib orang pendek tuh gini, kesel aish!" desis Ella kembali menjinjit.
"Itu karena kamu kurang olahraga dan keluar rumah. Jadi tubuhmu kurang tinggi," ucap Devan berdiri di belakang Ella dan membantu Ella mengambil penyangga hordeng dan memperbaikinya. Ella terkejut mendengar suara Devan, gadis ini pun berbalik dan seketika jidatnya terbentur ke dada milik Devan. Begitu dekat tubuh mereka.
"Tu-tuan, kau sudah pulang?" Ella mendongak melihat wajah Devan. Devan tersenyum tipis lalu memojokkan Ella ke kaca jendela yang lebar di belakangnya.
"Apa kau sekarang tuli hingga tak mendengar langkah kakiku?"
Elle menunduk, bukan malu karena pertanyaan Devan melainkan wajah Devan begitu dekat padanya.
"Ehehe, aku rasa," cengir Ella menggaruk tengkuknya.
"Hm, rasa apa?" tanya Devan semakin dekat membuat Ella merona.
"Aku-aku rasa ... Tuan akan pulang malam saking sibuknya hingga tak menemaniku hari ini di panti asuhan." Ella menunduk, semakin menunduk dan sedikit kecewa. Devan mengelus kepala Ella dan mulai mengacak-acaknya. Sedikit merasa bersalah sudah pergi tanpa memberitahunya.
"Apa kau merindukanku?" tanya Devan ingin tahu. Ella menatap Devan lalu berbalik tak peduli.
"Tidak, sama sekali tidak, siapa juga merindukanmu, dasar narsis!" Ejek Ella mulai kesal lagi. Devan cemberut mendengarnya. Tapi melihat tingkah Ella membuatnya tertawa kecil lalu segera memeluknya dari belakang. Ella terkejut menerima rangkulan Devan.
"Bener nih tidak rindu?" bisik Devan di telinga kiri Ella.
"Ya, tidaklah. Aku juga tidak peduli, mau Tuan pergi dua hari atau seterusnya juga aku tak peduli!" ucap Ella tegas sambil cemberut.
"Pfft, dasar! Aku itu bisa baca pikiranmu lho. Kau ini dari tadi sudah merindukanku, maaf ya tadi pergi tidak bilang-bilang padamu." Devan melepaskan Ella lalu berdiri di depannya. Ella melihatnya malas lalu berbalik merasa kesal sambil menyilangkan tangan.
"Ayolah, jangan ngambek dong. Aku kan tadi ada urusan," ucap Devan mulai merayu Ella.
"Tau ah!" ketus Ella pergi untuk ke bawah menemani Maysha nonton.
"Pftt ahahaha, ternyata dia bisa marah juga ya, aku pikir bakal nangis sudah ditinggal." Devan tertawa dan segera menyusul Ella untuk merayunya agar tidak marah padanya.