Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 40 : Bawa Aku Pergi


"Bun-nah, kenapa nangis?" Sekali lagi Maysha bertanya. Anak kecil ini kebingungan melihat Ella yang menyedihkan hari ini. Ella ingin menjawabnya, tapi mulutnya tak bisa lagi berucap sekarang dulu. Ella hanya bisa mengusap pinggir matanya lalu tersenyum manis di depan Maysha. Meski sebenarnya, dirinya masih belum terima semua ini. Maysha pun juga ikut mengusapnya. Melihat Maysha seperti ini, Ella mulai sedikit tenang.


"Ella, apa kamu baik-baik saja sekarang?" tanya Hansel kembali duduk. Ella menatap Hansel lalu menganggukkan sedikit kepalanya. Tak ada suara, suaranya habis diantara tangisnya. Ella butuh waktu untuk menenangkan dirinya sekarang.


"Maysha, kita keluar dulu," ucap Hansel pada Maysha. Maysha pun melihat Ella.


"Bun-nah, jangan nangis lagi," mohon Maysha kembali mengusap wajah Ella. Ella hanya mengangguk sedikit. Maysha pun berdiri lalu melihat Hansel.


"O-om, May-maysha mawu gendong." Pinta Maysha pada Hansel. Hansel tentu dengan senang hati menggendong Maysha lalu melihat Ella yang kembali berbaring ke samping sambil menekuk lututnya. Hansel pun keluar memberikan waktu untuk Ella.


Pandangan Ella kosong ke depan, gadis ini sedang melamunkan sesuatu. Membayangi dirinya yang seharusnya saat ini menemani Devan jalan-jalan. Ella mengusap kembali setetes air matanya lalu beranjak duduk.


Ella berdiri melangkah ke arah meja riasnya. Ella melihat tubuhnya lalu menangis kembali.


"Aku kotor, aku kotor."


Ella sungguh malang, tidak seperti El yang sekarang menemani Devan jalan-jalan. Wanita berumur 21 tahun sudah lama menjalin kasih dengan Devan. Sudah enam tahun keduanya saling mencintai. Keduanya kini berada di dalam sebuah mall.


"Sayang, tadi kamu kenapa kuatir banget sama baby sister itu?" tanya El sambil merangkul lengan Devan. Devan tak menjawab, bahkan pertanyaan El tidaklah didengar olehnya. Pikiran Devan sekarang sedang mencemaskan Ella yang telah dia tolong dari lift rusak.


"Sayang, kamu kenapa diam?" tanya El lagi merasa diabaikan.


"Astaga, maaf. Kamu tadi bicara apa?" Devan sadar dan bertanya balik.


"Iih, kamu ini," El bermuka cemberut.


"Aku tadi tanya, kamu kenapa kuatir banget sama baby sister itu sampai-sampai kamu sendiri yang gendong dan membawanya pulang ke Villamu. Aku ini cemburu tau!" El semakin bergelayut manja sambil memajukan mulutnya.


"Pfft, ternyata kamu bisa cemburu juga ya," tawa Devan mencubit gemas pipi El. El yang dicubit hanya cemberut saja.


"Dia itu, baby sister Maysha, sayang. Kalau dia kenapa-napa, dia tidak akan bisa menjaga Maysha." Lanjut Devan menjelaskan.


"Iih, tapi kan ada Hansel yang bisa bawa dia. Aku cemburu, pokoknya cemburu. Aku tidak mau kamu dekat-dekat sama dia, titik." Kata El melihat Devan serius.


"Astaga, iya. Aku tidak akan dekat-dekat, dia. Dia itu cuma gadis biasa, mana mungkin aku akan dekat dengannya, tidak sepertimu yang cantik dan manis," ucap Devan memuji El hingga wanita ini tersipu mendengarnya.


"Jadi, jangan berpikir yang tidak-tidak lagi terhadapku. Kamu harus percaya padaku." Lanjut Devan tersenyum dan tahu jika tunangannya ini dari tadi cemburu.


"Hm, iya deh. Aku percaya kamu," senyum El memeluk pinggang Devan dan lulu mengecup pipi Devan serta merasakan tubuh lelaki yang sudah lama ia rindukan.


"Tapi, kamu masih mencintaiku, kan?" Lanjut El bertanya membuat Devan langsung terdiam.


"Tuh kan, diam lagi. Kamu lagi mikirin apa sih?" ketus El melepaskan pelukannya.


"Eh, itu. Aku masih dong mencintaimu, dan sekarang kita lebih baik pilih-pilih sesuatu yang kamu sukai di sini." Devan tersenyum mengacak-acak sedikit rambut El lalu menariknya mencari barang-barang yang disukai El.


"Kenapa aku mendengar seperti dia tidak tulus padaku, ya." El mulai berpikir kembali mulai curiga. Pasangan ini pun sedang berdiri di toko perhiasan. Melihat-lihat kalung yang disukai El.


"Sayang, ini bagus kan?" tanya El menunjuk kalung berbentuk bunga.


"Hm, bagus. Kamu mau?" Devan sedikit tersenyum. Kalung perak itu begitu menarik di matanya.


"Hm, tidak deh." El pun berpindah ke tempat lain meninggakkan Devan yang masih berdiri. Devan melihat penjual, lalu menyuruhnya.


.


.


"Hiks ...."


Suara isak Ella masih terdengar pilu, Ella sedang membereskan barang-barangnya untuk siap-siap jika dirinya akan dikeluarkan dari Villa Devan. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Ella berjalan mengambil ponselnya yang ada di atas meja lalu melihat siapa yang menghubunginya.


"Dia?"


Kedua mata Ella tertuju pada nama kontak yang tak lain adalah Devan yang lagi diam-diam menghubunginya. Ella menggenggam kuat ponselnya lalu melemparnya ke atas kasur.


"Hiks, untuk apa dia menghubungiku!" geram Ella dalam hatinya lalu mengabaikan panggilan Devan. Devan kini heran dan mulai semakin cemas pada Ella, merasa gadis ini masih pingsan di Villanya.


"Apa dia masih pingsan?"


Devan melihat ponselnya yang terdapat foto Ella yang diam-diam tersimpan di galeri ponselnya. Devan tersenyum melihatnya, kini ia mulai lagi bimbang dengan keputusannya terhadap Ella. Merasa Ella juga bagian dari hidupnya. Devan pun kembali menemani El yang lagi melihat-lihat tas keluaran baru.


Ella kembali menekuk lututnya di depan tasnya. Ella gemeteran sudah tak bisa melanjutkannya lalu berdiri segera melihat ponselnya kembali. Ella menggenggam ponselnya dengan kuat lalu menekuk lututnya memikirkan apa yang dilakukan Devan bersama El sekarang.


"Kapan dia pulang ...." Ella masih di dalam kamarnya, membuat Hansel yang lagi berdiri di dekat pintu bersama Maysha merasa kasihan. Hansel pun masuk untuk mengajak Ella berbicara.


"Bun-nah," panggil Maysha naik ke kasur Ella. Tersenyum pada Ella semanis mungkin. Ella melihatnya dan melihat Hansel juga. Ella sedikit tersenyum kini perasaannya mulai perlahan tenang.


"Maysha sudah makan?" tanya Ella mencoba menghilangkan Devan dari pikirannya.


"Hm, sudah cadi." Maysha menjawab lalu memeluk Ella.


"Bun-nah jangan nangis lagi, Maysha sedih." Ungkap Maysha bermuka sedih. Ella mengangguk lalu dengan lembutnya mencubit pipi Maysha.


"Bagaimana perasaanmu, Ella?" tanya Hansel duduk di tepi ranjang.


"Baik, Kak Hansel." Ella menjawabnya, meski hatinya masih terasa perih.


"Hm, baguslah." Hansel tersenyum lalu tanpa disadari tangannya malah bergerak mengelus kepala Ella. Ella terdiam diperlakukan lembut oleh Hansel. Lelaki ini sangat berbeda dari perlakuan Devan padanya. Ella menunduk mulai tersipu. Namun hanya beberapa saat saja, suara mobil Devan terdengar di luar. Ella yang mendengarnya buru-buru berdiri dari ranjang lalu keluar dari kamar meninggalkan Hansel dan Maysha. Hansel menunduk melihat Ella pergi.


"O-om kenapa sedih?" tanya Maysha melihat Hansel. Hansel tersenyum saja lalu mengelus kepala Maysha.


"Sini, kita ikut keluar juga." Hansel berdiri lalu menggendong Maysha. Maysha sangat senang akhirnya Devan pulang juga. Maysha dan Hansel keluar dari kamar menyusul Ella.


Sekali lagi, kedua mata Ella harus melihat kemesraan Devan dengan wanita lain. Melihat El memeluknya dan mencium pinggir bibir Devan. Bahkan Devan juga bersikap lembut pada El membuat hati Ella kembali teriris sakit. Ella bersembunyi di belakang lemari, menyembunyikan dirinya yang mulai kembali menahan tangisnya.


Maysha kini duluan mendekati Devan. Anak kecil ini tertawa lepas dipeluk olehnya. Hansel yang berdiri di antara mereka sekilas melihat Ella yang pergi dari tempatnya. Hansel pun pergi untuk mengeceknya.


Ternyata benar, kedua mata Hansel tertuju pada Ella yang lagi duduk menekuk lututnya menahan suara tangisnya. Hansel mulai kasihan dan segera mendekatinya.


"Nona Ella," ucap Hansel memanggilnya. Ella mendongak dengan matanya yang mulai berair. Dengan tubuh kembali gemeteran, Ella segera berdiri lalu memeluk Hansel. Hansel terkejut dipeluk kembali, apalagi sangat terkejut mendengar permintaan Ella diantara tangisnya.


"Kak Hansel, bawa aku pergi dari sini."


..._______...