Istri Kontrak Sang Presdir

Istri Kontrak Sang Presdir
Bab 81 : Istri Idaman


"Apa sekarang sudah baik-baik saja?" Rafa bertanya, melirik sesekali Ella yang menunduk. Memperhatikan Ella lebih jelas.


"Aku," ucap Ella melihatnya.


"Baik-baik saja." Ella kembali menunduk.


"Lu yakin?" Sekali lagi Rafa bertanya.


"Ya, kau tak usah cemas padaku." Ella menganggukkan kepala tanpa melihat Rafa.


"Sepertinya, dia benar-benar lagi sedih, tak ada manis-manisnya sama sekali. Kalau begitu, masalah apa yang sudah terjadi padanya?" pikir Rafa mulai penasaran.


"Elu dah makan?" lanjutnya bertanya.


"Su-sudah." Ella berbohong tak mau merepotkan Rafa.


"Yakin sudah makan?" tanya Rafa lagi. Ella melihatnya lalu tersenyum, senyum yang terlihat dipaksakan.


"Sud-" ucap Ella terhenti mendengar suara aneh.


"Eh?" Ella dan Rafa kaget bersamaan mendengar suara perut. Ella menunduk malu mendengarnya.


"Pfft, ahaha. Mulut lu dah makan, tapi perut lu masih mau nambah. Lu benar-benar lucu dah." Rafa tertawa melihat Ella tersipu malu.


"Kebetulan gue juga belum makan, jadi lu malam ini harus masakin gue sesuatu. Anggap masakan lu nanti bayaran buat gue dah izinin lu tinggal." Rafa melirik Ella, tersenyum pada gadis di sampingnya.



Ella terdiam, bukan karena terhipnotis dari ketampanan Rafa, melainkan wajah Rafa sedikit mirip dengan Devan baginya.


"Aish, aku pasti sudah berhalusinasi," Ella mendesis dalam hati.


"Terima kasih, sudah memberiku tumpangan dan tempat tinggal. Aku malam ini akan memasak untukmu." Ella melihat ke depan lagi, tak ada senyuman di bibirnya melainkan dikedua matanya terlihat kerinduannya pada Devan.


"Maaf, aku sudah pergi." Ella kembali menangis diam-diam di samping Rafa. Rafa hanya iba melihatnya, tak mau mengganggu Ella yang sedang menangis. Rafa nampak mengerti, hati gadis di sampingnya begitu rapuh dan lemah seperti dulu yang suka di bully oleh teman-temannya sebagai anak tiri.


"Nih, tissu." Rafa memberikannya pada Ella. Ella melihat Rafa, begitu tak sangka dirinya malah menangis di depan lelaki lain, apalagi Rafa baik padanya, harusnya sekarang Devanlah yang ada di sini. Suami yang sangat dia butuhkan, sandaran hangat untuknya.


"Terima kasih." Ella mengambil, mengusap kedua matanya lalu diam kembali.


"Lebih baik gue gak usah bertanya, dia sepertinya butuh waktu untuk menenangkan dirinya," batin Rafa kini melihat ke depan. Mengemudi dengan fokus dan sedikit memikirkan foto Ella bersama dengan Devan. Rafa mengurungkan niatnya untuk tidak bertanya.


Sesaat kemudian. Mobil Rafa berhenti di sebuah gedung apartemen lumayan tinggi, mobil pun masuk ke dalam parkiran. Keduanya keluar dari mobil, nampak Ella kebingungan dan sedikit kagum dengan tempat tinggal Rafa.


"Kamu tinggal di sini? Kamu anak orang kaya, Rafa?" Ella bertanya pada Rafa yang sibuk memperbaiki isi mobilnya.


"Eh, bukan," sela Rafa segera berbalik melihatnya.


"Gue bukan anak orang kaya kok, gue anak-anak-" Rafa terbata-bata, baru ingat jika Ella tak tahu identitasnya dulu.


"Anak apa?"


"Ya, anak manusialah. Eh, maksud gue, lu gak usah banyak tanya, ini itu cuma pinjaman saja," cengir Rafa segera pergi ke arah pintu apartemen.


"Hm, masa pinjaman? Sepertinya Rafa memang anak orang kaya. Apa dia malu mengakuinya?"


"Pfft, dia memang belum berubah." Ella tertawa kembali, mulai perlahan sirna kesedihannya. Gadis ini pun berjalan cepat menyusul Rafa. Kini cuma remaja ini yang bisa memberinya sedikit tempat untuknya sembuh dari sakit hatinya.


"Oh ya, ini apartemen gue. Sekarang, lu boleh tinggal di sini. Tapi ingat, lu gak boleh masuk ke kamar gue sembarangan!" kata Rafa membuat Ella terkejut langsung terdiam. Sifatnya sedikit sama dengan Devan.


"Hm, aku mengerti. Lagian tak ada keperluan yang harus aku lakukan di kamarmu, senior Rafa!" kata Ella mengangguk.


"Eh, senior?" Rafa berhenti membuka pintu, merasa aneh dipanggil seperti barusan.


"Yah, maaf. Aku tidak sengaja, hehehe." Ella cengengesan lalu diam kembali tanpa ekspresi apa-pun. Memang karena Rafa lebih pintar darinya jadi Ella sering memanggilnya senior.


"Pfft, ahaha. Kau masih ingat rupanya, tidak masalah kok. Mari masuk." Rafa membuka pintu apartemennya. Seketika kedua mata mereka melebar melihat isi apartemennya berantakan luar biasa. Rafa langsung menutup kembali pintunya lalu nyengir di depan Ella.


"Ehehe, lebih baik lu tunggu dulu di sini. Gue mau masuk beresin sebentar." Rafa ingin masuk tapi Ella mencegahnya.


"Biarkan aku saja, ini sudah biasa bagiku. Anggap saja ini awal biayaku, boleh kan?" Ella malah berniat untuk bersihkan sendiri.


"Hm, ya sudah. Silahkan masuk dan kalau begitu gue pergi beli makanan dulu."


"Tak usah, aku akan memasak untukmu. Anggap ini juga balasan untukmu sudah kau antar aku ke sini." Ella menahan tangan Rafa. Rafa diam sebentar lalu melihat tangannya digenggam oleh Ella.


"Eh, maaf. Aku tak bermaksud menyentuhmu." Ella terperanjak segera menunduk.


"Ahaha, santai saja. Terima kasih bantuannya Nona Ara." Kata Rafa tersenyum semanis mungkin lalu masuk ke dalam apartemennya. Benar-benar tak sangka Ella begitu baik ingin memperbaiki apartemennya.


"Sepertinya, Rafa hidup sendirian juga. Sama seperti denganku, apa dia juga sudah tak punya orang tua?" pikir Ella Masih berdiri di luar. Merasa Rafa anak yatim piatu yang sudah mandiri.


"Hei, kenapa melamun di situ. Lu gak mau masuk?" Rafa berteriak sedikit. Ella sadar lalu masuk segera mulai membantu Rafa merapikan lantai dan rak lemari yang penuh dengan debu.


"Huk ... huk," batuk Ella di depan lemari.


"Eh, lu kenapa?" tanya Rafa.


"Aku baik-baik saja dan oh ya, bisa tidak kau pakai bahasa biasa? Tidak usah pakai bahasa gaul." Ella menatap Rafa. Merasa obrolan ini terlalu membuatnya grogi, tidak terbiasa berbicara seperti Rafa.


"Ehehe, ternyata lu ... eh maksudnya kau masih cupu ya," kata Rafa tertawa sedikit, tapi Ella terdiam kembali.


"Eh, sorry. Aku tidak bermaksud mengejekmu kok, kau jangan marah ya." Rafa menggaruk tengkuknya agak belum biasa menghilangkan bahasa gaulnya.


"Tidak masalah, kalau begitu aku ke dapur." Ella berjalan begitu datar, tanpa ekspresi lagi. Benar-benar terlihat galau sekarang. Rafa mengangkat bahunya lalu masuk ke dalam kamarnya untuk siap-siap mandi. Sementara Ella sibuk memasak.


Rafa kini keluar dari kamarnya dan tak sengaja mendapatkan pesan teks dari Ibunya yang menunggunya di mansion besar milik orang tuanya. Isi pesan tersebut mengatakan, "Rafa, kau pulanglah. Ini sudah lama kau pergi dari rumah. Ayahmu mencarimu sekarang." Itulah isi pesan dari Ny. Mira.


"Yaelah, baru juga beberapa jam keluar rumah sudah dipanggil." Rafa memelas lalu membalas Ibunya. Mengatakan, "Nanti, Mah. Aku bakal pulang kok, Mama gak usah nungguin aku." Rafa berhasil mengirimkan pesan lalu kembali menyimpan ponselnya. Rafa menatap ke depan, terkejut ruangannya sudah rapi dan bersih lalu berjalan mencari Ella.


Ternyata benar, Ella sekarang sudah menyiapkan makan malam. Rafa tersenyum, mulai berpikir Ella cocok juga jadi istrinya di masa depan. Apalagi aroma masakan Ella membuatnya ketagihan dan kelaparan bagaikan cacing pita di dalam perut.


"Maksudnya?"


"Ahaha, tidak usah dibahas. Sekarang makan gih." Rafa duduk ke kursi mulai mengambil makanan ke piringnya dengan raut wajah nampak bahagia. Sementara Ella hanya diam menatap piring kosong di depannya. Memikirkan Devan, apa yang sekarang di makan suaminya.


Usai makan, Ella sendiri yang membersihkan dapur. Namun, berhenti mengelap meja ketika mendengar suara gitar yang dimainkan. Ella menoleh ke sumber suara, ternyata Rafa nampak menatapnya sambil memainkan gitar.


"Kau masih suka main gitar?" tanya Ella kini berjalan ke arahnya lalu duduk di sofa lain tepatnya di depan Rafa.


"Ya begitulah," jawab Rafa berdiri lalu dengan cepat duduk di dekat Ella membuat gadis ini terkejut.


"Mau dengar aku nyanyi gak?" tawar Rafa melirik Ella mulai memainkan gitarnya. Suara petikannya mulai mengeluarkan nada.


"Yah, boleh juga." Ella sedikit bergeser dan menerimanya. Berharap petikan gitar Rafa bisa mengurangi kegalauannya. Rafa tersenyum mulai bersenandung melirik sesekali Ella. Menyanyikan lagu yang berjudul 'Indah Cintaku' lagu yang dirilis lewat album 'Nicky Tirta'.


Ku ingin kau tahu, ku ingin kau selalu....


Dekat denganmu setiap hariku....


Sudahkah kau yakin untuk mencintaiku....


Ku ingin hanya satu 'tuk selamanya....


Ku tak melihat dari sisi sempurnamu.....


Tak perduli kelemahanmu....


Yang ada aku jatuh cinta karena hatimu....


Cintaku tak pernah memandang siapa kamu....


Tak pernah menginginkan kamu lebih.....


Dari apa adanya dirimu selalu....


Cintaku terasa sempurna karena hatimu....


Selalu menerima kekuranganku....


Sungguh indah cintaku....


Sudahkah kau yakin untuk mencintaiku....


Ku ingin hanya satu 'tuk selamanya....


Ku tak (ku tak) melihat dari sisi sempurnamu....


Tak perduli kelemahanmu....


Yang ada aku jatuh cinta karena hatimu....


Cintaku tak pernah memandang siapa kamu....


Tak pernah menginginkan kamu lebih....


Dari apa adanya dirimu selalu....


Cintaku terasa sempurna karena hatimu....


Selalu menerima kekuranganku....


Sungguh indah cintaku....


Cintaku tak pernah memandang siapa kamu....


Tak pernah menginginkan kamu lebih....


Dari apa adanya dirimu selalu....


Cintaku terasa sempurna karena hatimu....


Selalu menerima kekuranganku....


Sungguh indah cintaku....


Sungguh indah cintaku....


Indah cintaku....


Rafa perlahan mulai mengakhirinya lalu melirik Ella. Petikannya seketika berhenti melihat Ella tertidur bersandar ke sofa. Senyuman terlihat di bibir Ella, merasa lagu yang dinyanyikan Rafa barusan membuatnya tertidur. Benar-benar terhipnotis.


Rafa berdiri lalu ke kamarnya mengambil selimut seprai lalu menyelimuti perlahan Ella di sofa. Rafa memperhatikan wajah Ella lalu tertuju pada oppai Ella yang lumayan sudah montok.


"Astaga, kenapa aku mesum gini!" Rafa menepuk wakahnya lalu berbalik ingin ke kamarnya. Tapi ponsel Rafa berdering.


"Halo, siapa?"


"Woi, bang! Lu budek ya! Nih lu dicariin Mami, sekarang lu pulang woii!" pekik suara gadis yang tak lain adalah Zeli yang kesal menunggu Rafa pulang dari tadi.


"Eh buset, lu bisa gak sih ngomongnya gak usah ngegas! Bikin telinga gue sakit tau!" bentak Rafa mencolek telinganya.


"Gue gak peduli, sekarang lu pulang, gue punya berita penting buat lu bang!"


"Apaan?" Rafa penasaran lalu berbalik segera ke arah pintu apatemennya, ingin pulang ke rumah orang tuanya dan meninggalkan Ella seorang diri saja.


"Gawat, bang! Papi sama Bang Devan berantem! Lu pulang cepat!"


"Apa?" Kaget Rafa langsung mematikan panggilannya dan kemudian melaju pergi dengan mobilnya, menerjang hujan yang akhirnya turun dengan deras, membasahi setiap jalan.