
🔞Warning!!
Devan masih saja menarik Ella keluar dari bawah ranjang. Devan sedikit kesal, padahal niatnya ingin membuat bayi agar kedua orang tuanya bisa menerima Ella jika istri polosnya ini hamil beneran dan sekarang perdebatan masih berlanjut.
"Ella, keluar dari sana!" Tarik Devan pada kedua kaki Ella tapi Ella malah tak mau dan sekali lagi masuk ke dalam bawah ranjang.
"Aku belum siap, Tuan!" tolak Ella memeluk guling yang dari tadi ada di bawah ranjang. Takut dan merinding jika dirinya akan bercumbu mesra dengan Devan nanti.
"Belum siap atau tidak, kau harus keluar, Ella. Nanti aku akan mengajarimu bikin debay. Kau tak perlu takut," kata Devan lembut agar Ella mau keluar.
"Debay? Apa itu? Apa itu nama anak kita nanti?" tanya Ella berhenti memberontak. Penasaran satu kata ini.
"Debay itu Dede Bayi, Ella," jawab Devan membuat Ella membola dan memberontak kembali.
"Tuan, saya masih kecil buat debay-Nya. Saya belum siap bikin debay sama Tuan!" ronta Ella masih menolak.
"Ella, tidak ada penolakan. Kau ini sudah jadi Istriku, kau harus turuti kemauan suamimu."
"Tapi, saya masih kecil Tuan. Belum tahu apa-apa soal bikin debay-Nya," kata Ella mulai bertingkah polos.
"Tidak usah kuatir, aku akan mengajarimu bikin debay-Nya. Kau tidak usah berpura-pura polos begini." Devan mulai kesal. Mukanya cemberut merasa dirinya bagaikan Om-om yang memaksa anak kecil untuk bermain dengannya.
"Tuan, bisakah kita bikin debay-Nya dengan cara yang lain?" usul Ella ingin menghindari kemauan Devan.
"Maksudnya, apa?" tanya Devan tidak mengerti.
"Begini Tuan, lebih baik kita berdoa saja. Siapa tau, tiba-tiba saja sudah ada debay di depan Tuan. Jadi kita tidak perlu susah-susah bikin debay-Nya," usul Ella sedikit cengengesan sambil melihat Devan yang sedang menahan kesal. Devan menyeringai tipis lalu menarik segara Ella keluar. Ella membola dirinya ditindih oleh Devan.
"Sekarang, aku sudah menguncimu. Jadi kita buat debay sekarang juga." Devan mengangkat Ella langsung dijatuhkan ke atas kasur. Ella terkejut dirinya terlentang bebas di depan Devan. Sekali lagi Devan menindihnya lalu mengunci kedua tangan Ella ke atas kepala. Ella gemeteran sekarang. Pemanasan saja sudah membuatnya tak berdaya apalagi berlanjut ke tahap berikutnya.
"Ella, tak perlu takut," ucap Devan menyentuh wajah Ella. Ella hanya menutup mata saja membuat Devan tertawa kecil.
"Tuan, bisakah kita bikinnya dilain hari? Aku masih kecil, belum siap sekarang." Ella mulai memohon.
"Tapi, tubuhmu menolak usulanmu, Ella. Sepertinya tubuhmu ini ingin melakukan itu sekarang. Kau pejamkan mata, dan nikmati setiap apa yang aku berikan padamu." Bisik Devan begitu dekat ke telinga Ella lalu menggigit telinga bawahnya. Devan tertawa kecil mendengar Ella sedang menelan ludahnya.
Ella hanya bisa diam, dan merinding merasakan Devan mulai mengecup bibirnya dan perlahan mellumatnya lembut. Tapi, Ella malah mendorong sedikit dada Devan.
"Tuan ... bisakah kau melakukannya pelan-pelan?" mohon Ella takut mahkotanya dikoyak kasar oleh burung Devan. Devan menyeringai tipis mendengarnya. Tak sangka, Ella akhirnya mau digagahi juga.
"Tenang saja, Ella. Meski, ini pertama kali buat kita. Aku akan berusaha lembut padamu." kata Devan langsung melucuti semua pakaian Ella selain CD-Nya.
Ella memejamkan mata, menyembunyikan kedua bukitnya dibalik kedua tangannya. Devan tertawa kecil melihat istrinya malu-malu di depannya. Tubuh Ella yang seksi membuat Devan ingin segera mencicipinya.
"Tak perlu sembunyikan. Aku sudah biasa melihat milikmu ini Ella." Devan membuka kedua tangan Ella. Dua bukit indah kini terpampang luas di depan matanya.
Devan mendekatkan dirinya dan mulai meremas kedua bukit Ella dan memainkan dua pucuk merah mudanya. Devan menyusu bergantian kedua-duanya, mengulum dan menghisapnya lembut meski tak ada cairan yang keluar. Ella hanya bisa membungkam mulutnya menggunakan satu tangannya yang tak dikunci oleh Devan. Ingin mendesah, tapi Ella mencoba menahannya.
Devan mengakat wajahnya melihat Ella mendesis mulai menikmatinya. Devan berhenti menyusu lalu berpindah mengelum bibir Ella. Ella membola, nafasnya terasa panas disertai desahan kecilnya. Apalagi tangan Devan masih setia meremas bukitnya.
"Ahh, umh."
Ella mulai tak bisa mengendalikannya. Devan menyeringai tipis lagi lalu mengulumnya kembali. Begitu lembut dua benda lunak ini saling mengulum bergatian dengan desahan kecil Ella.
"Nikmati dan ikuti diriku Ella." Devan sekali lagi membuat Ella membola. Merasa tangan Devan masuk ke CD-Nya dan mulai mencolek-colek mahkotanya. Devan tersenyum merasakan sedikit cairan dari mahkota Ella yang mulai basah.
Devan menjilat jarinya merasakan cairan yang dikeluarkan oleh mahkota Ella. Rasanya gurih bagi Devan. Devan kembali mengulum bibir Ella memberikan sedikit rasa pada cairan itu. Ella menelan ludah, rasanya tak bisa dijelaskan sama sekali. Devan mengelus rambut Ella dan mulai berbisik sesuatu.
"Apa kau siap, sayang?" tanya Devan sambil mengelus dinding mahkota Ella. Ella menggigit bibir bawahnya lalu menatap Devan sedikit takut akan digagahi oleh suaminya ini.
"Aku takut, Tuan," lirih Ella gemeteran.
"Tidak perlu takut, aku akan memasukkannya pelan-pelan, sayang."
Ella hanya bisa diam sambil menutup kedua matanya. Devan tertawa kecil lalu dengan cepat melucuti CD-Nya Ella. Melempar pakaian Ella ke lantai begitu saja. Bahkan BH milik Ella dilempar hingga terdampar ke atas lemari.
Devan tersenyum, akhirnya dapat melihat mahkota Ella dengan jelas yang tak ditumbuhi bulu-bulu sedikitpun. Ini yang disukai Devan, tak sangka tubuh istrinya masih polos juga. Apalagi belahan duren yang berwarna merah muda dan masih terlihat sempit membuat Devan tak sabar ingin memasukkan burungnya yang dari tadi menegang.
"Ella," panggil Devan mulai lagi berbisik ke telinga Ella. Ella membuka matanya dan terkejut melihat Devan sama halnya dengan dirinya yang tak memakai sehelai kain alias sudah telan_jang bulat. Apalagi kedua matanya tertuju pada burung Devan yang sungguh gagah.
"Kyaaa, aku tak mau Tuan!" jerit Ella menutup matanya sekaligus kedua pahanya ditutup rapat-rapat, takut bercampur malu. Devan tertawa kecil melihat Ella malu-malu kembali. Ella membola terkejut merasa Devan membuka kedua pahanya agar dapat memberinya akses ke sangkar indah milik Ella. Ella menelan ludah, takut burung Devan akan masuk ke sangkarnya.
Devan menindih Ella dan mulai mengulum bibir Ella. Ella hanya bisa mengikuti ritme permainan Devan. Mendesah nikmat bukitnya di pelin_tir bergantian oleh tangan Devan, serta merasakan gesekan pada dinding mahkotanya. Ella semakin basah dibuatnya hingga akhirnya Devan dengan perlahan tanpa disadari Ella langsung memasukkannya.
"Sshh, ahh,"
Keduanya langsung mendesah bersamaan. Devan semakin memasukkannya sambil menahan mahkota Ella yang menjepit burungnya, begitupun Ella mendesis mencoba menahan perih meski kedua matanya sedikit melebar harus menerima tusukan dari Devan.
"Ella, kau jangan tahan. Biarkan aku masuk ke dalam lagi." Bisik Devan, Ella hanya bisa mengangguk sudah tak bisa mengendalikan dirinya. Hanya suara desis kesakitan pada mahkotanya yang mulai dikoyak.
"Ahh, Tuan!"
Ella menjerit dan membola merasakan Devan akhirnya mencetak gol disertai cairan darah perawan Ella menetes turun perlahan.
"Kita mulai sekarang, sayang." ucap Devan lembut sambil mengatur nafasnya dan mulai mengikuti ritme permainannya. "Sshhtt, emmmpss, aaah" Ella semakin mendesah dikala dirinya terguncang mengikuti gerakan Devan. Merasakan Devan sedang menarik masuk burung miliknya ke dalam sangkar disertai kedua tangannya memainkan bukit miliknya. Devan mengulum bibir Ella agar dapat lebih menikmatinya. Suara tepukan dan benturan pada pinggul Ella memenuhi isi kamar disertai nafas dan desahan keduanya.
Devan mempercepatnya merasa Ella ingin keluar begitupun dirinya. Devan langsung berhenti sebentar dan menembakkan bibit-bibitnya sebanyak mungkin ke dalam rahim Ella. Ella hanya bisa terkulai lemas menerima tembakan itu. Tubuhnya tak sanggup lagi melanjutkannya. Hanya bisa menahan dan mendesah begitu perihnya dibagian mahkotanya. Devan akhirnya berhasil melakukan pelepasan, cairan keluar dari mahkota Ella.
Tubuh gagahnya langsung ambruk di sebalah Ella dan mencoba mengatur nafasnya lalu meringkuk memeluknya dari belakang. Ella hanya terdiam sambil mengatur nafasnya. Ella berbalik lalu memeluk Devan, perih dan sedikit sakit untuk membuat debay. Ini pertama kalinya, melakukan hubungan intim. Ella merona dan gemeteran.
"Tidak apa-apa, Ella. Nanti kau akan terbiasa, sayang." ucap Devan mengelus rambut Ella lalu mencium bibir Ella dan sedikit mengulumnya. Ella hanya memejamkan mata mulai menerimanya.
"Aku mencintaimu, sayang." kata Devan lalu memeluknya. Kedua tubuh mereka saling bertemu merasakan kehangatan sore ini yang sudah berhasil membuat debay. Devan hanya berharap setelah ini ada salah satu bibitnya yang dapat bertahan di rahim Ella agar istrinya dapat hamil. Devan memejamkan mata ingin beristirahat sebentar. Sementara Ella menunduk masih menahan perih pada bagian mahkotanya.
"Kau licik, Tuan."
...______...
...Untuk Vote cerita ini, kalian harus upgrade aplikasi kalian dulu agar poin dan vote kalian tidak hangus🤗...
...Beri like (👍) komen (💬) dan favoritkan (❤) ya readers 😍Supaya author semangat!! Terima kasih sudah mampir di ceritaku ini...
...Instagram : @asti.amanda24...
...YouTube : Aran Channel...
...🌷•|| Semoga suka ya ||•🌷...