
Permaisuri Andelia juga di kenal dengan putri pinang masak, karena warna kulitnya kuning kemerahan seperti buah pinang masak. Semenjak kaisar Adi penguasa pulau Utara tewas di medan tempur, Permaisuri kaisar di nobatkan menjadi Ratu pulau utara dengan gelar Ratu Pinang Masak.
Ratu Pinang masak sangat prihatin dengan keadaan rakyatnya yang mulai mengalami krisis perokonomian karena perang yang tak berkesudahan dengan kelompok bersenjata Bintang Teratai, yang sekarang menguasai dua pertiga kepulauan teratai.
"Negara kita sedang tertimpa musibah, memang sudah seharusnya Negara memberikan pertolongan kepada Rakyat" ucap seorang mentri Ratu Pinang masak saat berkunjung ke rumah sakit Kota Tapus dimana Fhadlan membawa bayi Alfi untuk di rawat.
"Tapi, saat ini Negara juga sedang krisis" pejabat Ratu Pinang Masak berterus terang pada pihak rumah sakit.
"Ratu pinang masak mita maaf, karena saat ini kami tidak mampu kalau terus menanggung kehidupan rakyat, makanya untuk saat ini Negara belum bisa menerapkan program pengobatan gratis."
"Kamilah yang seharusnya minta maaf karena selalu membebani Negara". timpal pemuka masyarakat yang kebetulan hadir di sana.
"Kami butuh banyak dana untuk membangun kerajaan kembali.."
"Bolehkah aku mengajukan usul?" tanya pemuka masyarakat.
"Tentu saja!" jawab Pak Mentri.
"Kemarin Saya pernah dengar kalau Negara juga sedang krisis tenaga kerja untuk mengelola perkebunan, Bagaimana kalau Negara memanfaatkan Suku Rimba sebagai pengelola perkebunan" usul pemuka masyarakat.
"Ah, ya! Itu benar! Itu salah satu program yang di buat dalam waktu dekat, ini hanya berlaku bagi mereka yang juga siap untuk bergabung sebagai pegawai Negara dan siap membantu militer membela Negara, bahkan program ini juga berlaku untuk pendatang" Mentri Negara urusan kesejahteraan menjelaskan maksud Ratu Pinang masak.
"Jika dari hadirin ada yang bersedia silahkan tujuk tangan, hari ini juga akan kami proses"
Tentu saja banyak dari hadirin yang bersedia dan tunjuk tangan termasuk Fhadlan dan Alfi, saat pandangan mentri tertuju pada Fhadlan beliau tertegun, merasa kalau Fhadlan sebagai pria yang kuat, dari postur tubuh dan aura yang di pancarkan Fhadlan, sang mentri merasa yakin kalau Fhadlan menguasai ilmu bela diri tinggi.
"Kamu! siapa namamu!" tanya Mentri.
"Saya Fhadlan dan ini saudara saya Alfi.. yang mulya" jawab Fhadlan.
"Pengawal urus keperluan mereka berdua" mentri langsung jatuh hati meyakini kalau Fhadlan bisa di andalkan untuk misi kemiliteran.
"Jika pria ini di pihak musuh, maka dia harus dapat pengamatan secara khusus" pikir pak mentri.
"Besok bawak mereka temui saya di kantor wali kota Tapus" ucap mentri pada pengawalnya.
Fhadlan dan alfi di bawa ke wilayah perkebunan pinggir Kota Tapus, memperoleh hak istimewa dengan perjanjian hak guna pakai selama 10 tahun menjual hasil perkebunan pada negara, untuk 5 tahun pertama mereka di biayai negara.
Negara memang harus hati hati saat terjadi konflik, khususnya pada orang asing makanya fhadlsn dan Alfi di tempatkan di pinggir kota yang bisa di pantau selama dua puluh empat jam.
***
Timah terus berjalan di antara pohon pohon berukuran raksasa, menelusuri renah panjang turun bukit naik bukit, entah berapa sungai yang dia seberangi. Timah sangat takut, dan mulai berlari. Hingga akhirnya, saat matahari hampir terbenam, ia melihat ke sebuah pondok kecil milik Suku Rimba.
Kelelahan akhirnya menghentikan perjalanannya, jangankan untuk berjalan, untuk menopang tubuhnya pun kaki nya sudah tak kuat. Dengan merangkak Timah mencoba mendekati sebuah pondok suku Rimba tak jauh dari tempat dia jatuh terduduk kelelahan.
"Adakah orang di dalam" terik Timah.
Timah tengah sendirian di hutan lebat hanya mendengar jawaban berupa suaranya sendiri yang nemantul dari arah hutan di depannya. Hingga berkali kali Timah memanggil penghuni pondok namun tidak ada jawaban. Timah masuk tanpa permisi dengan leluasa memasuki rumah tak berpenghuni.
Setelah istirahat menghilangkan letih dan lelah Timah merasa begitu lapar dan haus, di lihatnya di dapur ada meja kecil tempat peralatan makanan, tanpa pikir lagi dirinya minum dan memakan sayuran, nasi dan lauk pauk yang ada di piring-piring milik suku rimba.
Setelah merasa kenyang, dirinya merasakan kantuk yang luar biasa, tubuhnya sangat lelah dan ingin tidur. Berhubung ukuran pondok yang sangat kecil hanya ada ruang depan seukuran dua kali tiga meter, kamar seukuran dua kali dua meter dan dapur seukuran dua kali satu setengah meter, dia tidur begitu saja di kasur yang ada di ruang depan pondok.
Ketika malam tba, Empat orang suku rimba pulang ke pondok, Seorang pria tua dan istrinya di ikuti dua anak laki berumur tujuh dan sembilan tahun. Pria tua menyalakan lampu dari damar, istrinya menyalakan api di perapian dapur. Semua mereka kaget saat merasa kalau ada seseorang telah berada di rumah mereka makan makanan mereka. Pria tua pergi memeriksa kamar curiga kalau tamu tak di undang ada di kamar nya.
"Awewe ..." salah satu dari anak laki laki mereka melompat saat mencoba berbaring, ternyata tempat tidurnya sudah ada yang berbaring.
Awalnya dia mengira tubuh yang berbaring adalah pocong saudaranya yang baru saja meninggal, Kalau dia sendiri yang berada di pondok pastilah dia sudah lari kencang karena takut. Dia begitu kaget setelah memeriksa di bawah lampu damar ternyata ada seorang putri yang amat cantik tengah tidur di kasur mereka.
"Demi tuhan! Demi Tuhan" Dia berteriak mengagetkan yang lain.
“Dia begitu cantik”, teriaknya, demua penghuni pondok berkerumun di sekitar Timah.
"Biarkan dia tidur, mungkin dia di kirim para dewa untuk menggantikan anak kita yang telah tiada" ucap pria tua.
Mereka tidak membangunkan Timah tetapi membiarkannya tetap tidur di kasur mereka. pria tua dan istrinya beserta dua anaknya yang masih anak anak tidur di kamar.
"Siapa kamu, manusia kah?" tanya pria tua saat Timah terbangun di pagi hari.
"Saya Timah" jawab timah agak takut.
"Bagaimana caranya kamu telah menemukan jalan ke rumah kami" istri pak tua ikut bertanya.
Timah memperhatikan senua penghuni pondok, Mereka begitu kurus muka mereka pucat dan baju mereka robek di sana sini. "Sepertinya mereka sangat miskin" pikir Timah.
"Saya datang dari selatan lari memasuki hutan karena mau di bunuh istri raja" jelas timah masih takut.
"Rambutnnya kayak rambut jagung" Seorang anak memberanikan diri menyentuh rambut Timah.