
Setelah membeli apa yang Timah cari, mereka menjelajahi paviliun-paviliun berbagai Negara dan menikmati suasana yang autentik dari berbagai belahan dunia.
"Pangeran ada di mana Zen?" tanya Timah mulai kesal saat mereka belum juga berjumpa Pangeran.
"Kita bisa menjumpainya paviliun Indonesia Tan" jawab zein.
"Ayo kita kesana" ajak Timah.
Sebagaimana paviliun Mesir, Aljazair dan Maroko, saat Timah memasuki paviliun Indonesia, musik padang pasir juga terdengar melantunkan lagu lagu bertajuk asmara.
"Ana janda ya cinta menyiksa jiwa....".
"Ya asmara latin sani..........".
"ya asmara latin sani............"
Paviliun Indobesia memiliki area belanja yang cukup luas yang menjual berbagai produk termasuk kerajinan tangan, pakaian, perhiasan, kuliner, dan masih banyak lagi.
Seorang pria pedagang asongan mencoba menawarkan tasbih pada Timah.
"Hi Lady, can we are bisnis?" tanyanya.
Pria berwajah bule memakai peci hitam ala Indonesia yang sudah lusuh dipasang melintang, tas sandang tergantung di bahu kanannya. di tangan dan leher penuh dengan tasbih. Terlihat kumal, seperti orang susah menawarkan barang demi sesuap nasi.
"How much..? tanya Timah merasa kasian.
"Murah.. murah... Tiga selawe" jawabnya dalam bahasa jawa, lalu Dia menyebut nama kayu bahan pembuat tasbih yang menurutnya memang mahal.
Ibu-ibu yang berada di paviliun rata rata orang Indonesia, menunjukkan raut kaget, kemudian tertawa. Tentu bukan tawa mengejek, melainkan merasa aneh dengan pengucapan 'selawe', kata dalam bahasa Jawa yang berarti duapuluh lima.
"Blajar soko ndi ki uwong?"
"Belajar bahasa Jawa dari mana orang ini" kata ibu yang kebetulan berasal dari Jawa.
"Ha ha ha ha " ibu ibu lainya tertawa ngakak berlalu sambil berbincang dengan satu sama lainnya.
"Ha ha ha ha" Zeno ikut tertawa.
Tanpa menawar dagangannya Timah menyeret Zeno menjauh menuju kantin, mengambil tempat duduk di meja yang kosong.
Disini orang dapat menikmati berbagai minuman dan hidangan jalanan yang lezat dari berbagai masakan daerah di Indonesia.
"Saya hsus kita pesan es kelapa muda dulu bagaimana" ucap Timah.
"Setuju" jawab Zeno dan Ramzan bareng.
"Kak Ramzan... bantu Zeno carikan sesuatu untuk di hadiah kan pada seseorang" pinta Zeno.
"Tapi kita sudah pesan es kelapa muda" kilah Ramzan melirik Timah.
"Boleh tapi jangan lama ya" angguk Timah setuju, mengerti keberatan Ramzan.
"Bentar kok Tan" jawab Zeno.
Saat Zeno dan ramzan sibuk cari belanjaan, pedagang asonngan penjual tasbih mendekat ke meja Timah, duduk di sebelah Timah, setengah memaksa minta Timah membeli dagangannya.
"Berapa satu?" tanya Timah.
"Ini satu sepuluh Riyal, kalau yang ini 5 Riyal" pedagang asongan menawarkan tasbihnya.
"Baik... saya beli satu yang ini" Timah membeli satu berharap pedagang asongan segera pergi.
"Ini pesanan anda nona" Pelayan restoran membawakan empat mangkok es kelapa muda dan meletakkannya di meja Timah.
"Abang ini pesan satu" jawab pelayan restoran meletakkan satu mangkok es kelapa muda, di depan pria pedagang asongan.
"Sial, .... Gerutu Timah" saat pria kumal ini juga ikut nongkrong di mejanya.
Hati Timah makin jengkel dan juga cemas saat Pangeran yang dia tunggu tidak nongol nongol, sementara Zeno dan Ramzan meninggal kannya sendirian lagi.
"Tidak usah bayar, ini halal.. hadiah untuk nona" ucap pedagang asongan mengembalikan uang Timah.
"Hoo" Timah ternganga, matanya melotot, saat mperhatikan wajah si pedagang asongan, wajah yang tidak asing baginya.
"Pa.. pa Pangeran" ucap Timah tergagap.
"Ha ha ha kamu bisa mengenali ku" ucap Pangeran.
Seperti di komando mreka membuka kedua tangan nya, lalu berpelukan.
"Sudah.... sayang..... ini Dubai kita bisa di jerat UU pornografi" Pangeran segera melepas pelukan Timah.
"Kenapa pangeran lakukan ini?" tanya Timah.
"Mulai sekarang Kamu sudah jadi bagian keluarga Andrik group, Dengan status Permaisuri Presiden Andrik group" ucap pangeran.
"Kamu musti tau dan mengerti kalau Andrik group bergerak di dunia intelijen, Petugas intelijen harus menyamar agar tidak dicurigai dan bisa diterima oleh target operasi, kebanyakan mereka berkamuflase lebih hebat sehingga sangat sulit dan bahkan tak terlihat ketika berbaur dengan masyarakat sipil atau berbaur dengan pihak musuh" Jelas Pangeran Andrik.
"Hmmmm" guman timah asal.
Pernyataan Pangeran Andrik "Kamu adalah bagian dari Andrik group, dengan status Permaisuri" membuat Timah merasa melayang di atas awan, rasa bahagia yang tak bisa di ucapkan, Timah tak bisa membedakan bagaimana bahagianya saat dia menerima piala penghargaan mengikuti even internasional, atau saat di nobatkan sebagai Ratu Internasional di elukan oleh banyak orang di seluruh Negara.
"Intelejen punya musuh, bisa jadi mereka pesaing kita dari negara dan benua yang berbeda, mungkin suatu saat kamu juga harus melakukan kamuflase untuk mengelabui musuh" lanjut pangeran Andrik.
"It is ok" Timah asal jawab air matanya meleleh di pipinya.
"Kamu menangis, apa tidak sukakah dengan status kamu sebagai Permaisuri?" tanya pangeran Andrik, saat melihat air mata di pipi Timah.
"No... Pangeran, Timah sangat bahagia" cuap Timah.
Seiring dengan bertukarnya lagu di paviliun Indonesia, dari tema "ya Asmara" berganti tema "Ya Dana"
"Ana miskin ya Dana, mustahil hawa suka ya Dana"
Lirik lagu seolah menjadi stimulan pada jiwa timah bergelolak makin bahagia, bagai mana tidak dirinya yang selama ini selalu kekurangan Dana. Hidup dengan ibu yang menjanda, dia harus membantu ibunya membiayai sekolah tiga orang adik adik nya.
Terbayang bagaimana indahnya hidup sebagai permaisuri, yang glamor harta. Terbayang di benaknya bagaimana permaisuri dengan status tidak ada tandinggannya, semua kekuasaan ada di tangan nya.
Terbayang bagaimana wanita pada iri dengannya, ya dengan tiga kata yang di ucapkan pangeran "Kamu adalah permaisuri" Tiga kata yang mampu membuat Timah bahagia melebihi, bahagianya Timah saat diarak di sepanjang kota Moskow sambil membawa piala penghargaan, International Ledys Awards.
"Terima kasih Pangeran" ucap Timah mencium tangan Pangeran dengan mesra.
Suasana malam dengan lantunan music padang pasir kembali bertema Asmara, membangkitkan khayalan yang menambah kemesraan bagi pasangan yang sedang menjalin cinta kasih. Demikian juga halnya dengan Timah dan Pangeran Andrik yang baru saja memulai kehidupan sebagai sepasang kekasih.
"Aku ingin kamu jadi ibu dari anak anak yang akan menjadi pewaris ku" bisik pangeran Andrik, mencium kening Timah.
"Apapun keinginan Pangeran Timah akan ikut, Pangeran ingin punya anak berapa?" tanya Timah mulai bisa menguasai gejolak jiwanya.
"Jangan pikir anak dulu, kita pikir nikahnya dulu, bulan madu kemana, baru punya anak" Ucap Pangeran.
"Bulan madu gak usah jauh jauh juga itu pemborosan, di Fhadlan Insland suasana nya juga romantis" timpal Timah.
"Jangan kuatir, kan Pangeran Sulaiman, paman Timah sudah janji mau jual Ontanya untuk biaya bulan madu kita, ha ha ha" Goda Pangeran.
****