
“Tabungan masih utuh belum di pakai, ATM dan pin belum ada yang liat, amplop masih di segel kamu buka aja liat sendiri deh" paman Hamdani menyerahkan amplop berisi rekening dan ATM atas nama Fhadlan.
"Lan... Kita akan bersaing mendapatkan kalung periuk api di lelang nanti" tantang paman Hamdani.
"Jelas pamanlah yang menang, Fhadlan dengar Andrik group hanya akan melepas kalung kalau tawaran bisa 100 juta dolar atau lebih" ujar Fhadlan yakin kalau Hamdani group akan mampu menangkap lelang seharga satu juta dolar.
Satu jam berlalu sudah. Itu berarti acara lelang ajan segera di mulai, Semua layar Lebar sudah menayangkan suasana di sekitar acara lelang.
“Tet.. Tet.. Tet..” terdengar bunyi Sirine kalau acara lelang sudah di buka.
"Lan .. Ayo ke tempat acara lelang.” ajak paman Hamdani.
“Yuk.” jawab Fhadlan singkat, beranjak bangun dari tempat duduknya lalu mengikuti paman Hamdani.
Sesampainya di gedung lelang. Fhadlan dan paman Hamdani langsung memesan tiket peserta lelang.
"Kamu yang bayar Lan" pinta paman Hamdani.
"Ntar Paman.. Fhadlan ke ATM dulu" menunjuk ATM Salah satu bank tak jauh dari pintu masuk gedung.
"Jangan lama Lan, biar cepat liat si doi" goda paman Hamdani.
“ya Paman, sebentar kok, gak ngantri tuh.” ucap Fhadlan langsung masuk ATM.
'Berapa sih isi rekening aku?” pikir Fhadlan penasaran.
"Oh my god... .” ucap Fhadlan setengah berteriak saat melihat saldo ATM nya 540.000.000. Dolar yang jika di kalkulasi ke dalam rupiah tidak akan cukup layar monitor menuliskan jumlah nol di belakang koma.
“Paman Hamdani tidak sedang bercanda kan?" tanya Fhadlan mperlihatkan saldo ATM nya.,
"Paman kan udah bilang kalau cuma untuk memenangkan lelang kamu tidak perlu jual onta Paman. Kamu kok gak percayaan banget sih.” ucap paman Hamdani serius.
Seperti yang tertulis dalam undangan Fhadlan hanya kebagian tempat duduk di kursi penonton sedangkan paman Hamdani terdaftar sebagai undangan utama di kursi VIP.
Ini adalah acara lelang paling bergengsi saat ini, banyak barang yang di tawarkan pihak Andrik group. Pelelangan di awali dengan menawarkan perhiasan dan karya seni unik dan harta langka lainnya yang tidak ditemukan di tempat lain.
Saat Kalung Periuk Api di lelang, Timah memgajukan persaratan khusus pada Notaris, ahli hukum yang hadir, setelah semua persyaratan di syahkan notaris pelelangan pun di mulai. Tawar menawar pun terjadi dengan seru.
"Tiga kali 500 juta dolar" panita mengulang untuk terakhir kalinya. setelah tidak ada yang nawar lebih Fhadlan di nyatakan sebagai pemenang. Fhadlan melangkah keatas panggung mendekati Timah, kenudian melakukan ritual salam tempel pipi kiri, tempel pipi kanan.
“Kak Fhadlan serius ikut lelang?” tanya Timah tak percaya dab juga takjub.
"Iya.. kakak lakukan semua buat kamu say, kamu keberatan kah" tanya Fhadlan.
“Aku gak apa-apa, senang dengarnya, cuma kak Fhadlan dapat uang dari mana?, jual kerbau orang tua, atau kebon kopi?" tanya Timah cemas campur bahagia.
"Jangan pikirkan ya Say, kakak tidak jual apa apa kok" jelas Fhadlan
"Okey, Makasih ya kak.” jawab Timah matanya berkaca kaca menahan air mata bahagia..
“Sepertinya aku harus membawa kamu ke luar pulau. Tapi kapan dan kita ketemuan di mana ya?”
“Okey, kakak tunggu sehabis acara lelang di dermaga ya" Fhadlan menuju meja Notaris untuk menyelesaikan administrasi.
Saat proses transaksi dan penyelesaian administrasi berlangsung, tanpa ada yang menyadari kalau ada sekelompok orang yang sedang mengintai, mencari kesempatan untuk merampas Kalung Periuk Api.
Mona melangkah ke atas panggung di ikuti empat orang berseragam hitam dengan lambang Bintang Teratai tersulam di dada kiri mereka.
'Bintang teratai, muka mereka Indonesia banget, kalau di lihat dari sulaman benang perak di dada mereka, sepertinya mereka punya pangkat menengah di Klompok Bintang Teratai' Fhadlan sempat memperhatikan kehadiran mereka di atas panggung dengan curiga.
Kecurigaan Fhadlan berkurang saat dua orang dari mereka bercakap cakap dengan Timah penuh hormat, sepertinya mereka kenalan lama terlihat begitu akrab. Mona dan dua orang lainnya terus melangkah mendekat ke kotak kaca di mana kalung periuk api di jaga oleh empat orang bersenjata lengkap.
"Jangan mendekat" ucap salah seorang penjaga menghentikan Mona.
"Kalian kenal saya gak" bentak Mona.
“Iya udah kenal, Siapa sih yang gak kenal Mona. Seorang super star, pinter, model cantik, Atlit voli, kesayangan Pangeran Andrik pula.” sahut salah satu penjaga.
"Kalau sudah kenal biarkan Mona periksa keaslian kalung periuk apinya"
"Jangan Nona ... kami di perintah untuk tidak membiarkan siapapun menyentuh kalung".
“Ah kalian terlalu berlebihan, Kalian kan tau saya sektetaris pribadi pangeran Andrik, ini saya bawa tim ahli, Mau periksa keaslian barang sebelum transaksi di lalukan, Apa kata orang kalau ternyata kalung yang kita jual sudah di palsukan”
“Boleh Nona... Silahkan" ucap salah satu penjaga setelah saling lihat dan memberi isyarat setuju satu sama lain.
Mona tersenyum senang, merasa menang Akhirnya dia bisa deket dengan kalung periuk Api yang selama ini di jaga ketat oleh pasukan Andrik Group, Kalung yang ia idamkan selama ini, akhirnya akan jadi miliknya,
“Makasih ya kak udah diberi izin” ucap Mona membawa dua orang berseragam hitam mendekat.
"Bruuuk ..." penjaga dan orang orang yang ada di pentas roboh bersamaan dengan semerbak bau wangi yang di tebarkan empat pria berseragam hitam. Hanya Mona dan empat orang pembantunya yang tidak terpengaruh oleh bubuk beracun berbau wangi yang di sebarkan.
"Prank..." kotak kaca di pecahkan secara paksa setelah Mona tidak bisa membuka dengan sandi elektronik.
"Ha ha ha ha... akhirnya kalung keramat jadi milik Mona" Mona tertawa puas penuh kemenangan.
"Lets go..." ucap Mona memberi komando di ikuti ke empat orang pembantunya.
"Tar.. tar.. tar.." tiga tembakan peringatan terdengar dari pistol genggam di tangan Andrik.
"Mona penghianat.. berhenti sebelum kemarahan ku mekedak" teriak Andrik.
"Penjaga tahan mereka" Pangeran Andrik memberi Komando, dengan pistol siap tembak berlari menyusul kearah mona melarikan diri.
"Bangsat kau Mona, kalian akan membayar semua ini" kemarahan Andrik meledak saat melihat sepuluh orang anggota keamanan yang di tugaskan di pintu masuk bergelimpangan dengan mulut berbusa.
"Timah...." Fhadlan berusaha mengejar dengan masih sempoyongan berlari ke mana arah dua pria berseragam hitam membawa Fatimah pergi.
Melihat Fhadlan muncul pangeran Andrik yang sedang murka, menodongkan pistol ke arah Fhadlan.
"Orang Asing ... kita belum melakukan transaksi, dan kita masih punya urusan yang belum di selesai kan"