IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Jadi Permaisuri tidaklah Gratis.


Seiring berjalannya waktu siangpun berganti malam, Timah makin gelisah duduk tak enak baringpun tak nyaman, makanan yang di sediakan Bik Ijah nyaris tak tersentuh, selera makan Timah hilang, saat bayangan Pangeran timbul perutnya jadi mules, air yang di minum terasa sekam, nasi yang di makan pun terasa duri.


Timah ingat perjanjian dengan pihak Andrik group, saat di nobatkan jadi Permaisuri, barulah Timah sadar, kalau dirinya sudah di ikat dengan sesuatu aturan penjajah.


"Ibuk.... " jerit Timah, dia ingin dekat dengan ibunya, Timah ingin mengadu pada ibunya, Timah ingin ceritakan semua pada ibunya, tapi apa daya mereka sudah terpisah jauh, Timah terkurung di sebuah pulau, Timah tak ubahnya seperti burung dalam sangkar, mata terlepas badan terkurung.


" Grrrrr.....grrrrt.... Grrtttt." hand phone Timah bergetar.


Terlihat notifikasi vidio call dari ibunya, pucuk di cinta ulampun tiba, kangennya pada ibu seperti terobati, sekalipun Timah tumbuh dewasa bersama ibunya, namun saat jauh dengan ibunya dia butuh kasih sayang ibunya. Seprti saat ini dengan masalah berat yang menghimpit dan menyesakkan dada. Tentu ada rasa rindu yang mendalam terhadap ibunya..


"Hallo apa kabar buk" sapa Timah.


"Ibu baik baik nak, apa kamu dalam masalah?" tanya ibunya seakan tau masalah yang di deritanya.


Saat anak bermasalah ibu terkadang bisa merasakan, ibu dan anak seperti memiliki hubungan batin yang kuat, seperti dua potong besi yang melekat pada sebatang besi satu di pangkal dan satu di ujungnya, jika salah satu terkena pukulan maka getarannya akan terasa di ujung lainnya.


"Gak buk, Timah juga baik baik" ujar Timah tak ingin ibunya gelisah memikirkannya.


"Timah jangan bohongin ibuk. Bicarakan sama ibu nak" desak ibu Timah seakan dia memang tau kalau Timah sedang dalam masalah berat.


Itulah kontak batin srorang ibu terhadap anaknya, saat jiwa Timah mengalami goncangan yang sangat berat, jiwa ibunya juga terguncang, sekalipun mereka berjauhan tapi perasaan ibu mengatakan anaknya dalam kesusahan,.


Saat Timah gelisah merindukan ibunya. maka timbul juga gelisah dan rindu ibu terhadap anaknya. Beragam cara pun dilakukan oleh ibu untuk mengobati rindu dengan sang anak. Mulai dari telepon, video call, atau hanya saling bertukar pesan.


"Jaga diri baik-baik ya nak, ibu di sini selalu mendoakanmu" kembali suara ibu Timah terdengar di telepon.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Pangeran Andrik?" tanya ibunya.


"huuuu... huuu.. huuu..." mendapat pertanyaan beruntun dari ibunya, Timah kembali menangis.


"Pangeran Andrik tak beda dengan hewan bu, dia hanyalah monster, kaisarnya para bandit bu... hu hu hu" tangis Timah makin jadi.


Di telepon terlihat ibu Timah juga meneteskan air mata, "kalau begitu batalkan saja perjodohan kalian, biar ibu kembalikan semua bantuan yang di berikan Pangeran Andrik"


"Itu yang tidak mungkin Buk, sudah terlambat, kita sudah di ikat kontrak di depan notaris, kalau Pangeran akan memberi bantuan modal untuk keluarga kita, merenovasi rumah kita, dan membelikan istana untuk Timah di Dubai, tapi itu tdak gratis" tutur Timah.


"Kalau batal kenapa rupanya, ibu lebih baik miskin asal Timah bahagia" air mata ibu Timah makin deras mengalir.


"Jika Timah yang batal kan, maka ibu Timah yang harus bayar sepuluh kali lipat dari biaya yang di keluarkan pihak Andrik group, atau nyawa kita sekeluarga jadi taruhannya" ucap Timah.


"Hmmmm, dasar bandit dia, apa jadinya kalau bandit seperti dia benar benar jadi Kaisar atau Presiden sebuah Negara" ibu Timah ikut geram.


"Sabar ya nak, kalau problem sudah di luar kemampuan kita serahkan pada tuhan untuk menyelesaikan nya" hibur ibu Timah.


"Iya buk" ucap Timah merasa tercerahkan.


"Aamiin terima kasih ya bu" ucap Timah.


Timah tak tega melihat ibunya menderita karena dirinya, ibarat ludah tak mungkin di jilat lagi, masih mending jika cuma Timah, yang menanggung resiko, tapi seluruh keluarga di libatkan membuat Timah harus pasrah tunduk dengan ikatan perjanjian.


****


Ikatan yang sangat mengikat sebagai syarat untuk jadi permaisuri, kedengaran nya bagus, Pangeran akan memberi bantuan modal yang tidak sedikit, merenovasi rumah dari gubuk jadi gedung megah, tentu dengan biaya yang bisa di hitung dengan kalkulator handphone.


Kenyataan nya ini tidaklah gratis, dia harus terikat dengan perjanjian hutang piutang, sebagaimana perjanjian dengan rentenir. Siapa sih yang terlepas dari utang dalam zaman moderen yang sangat sulit seperti saat ini? Baik utang untuk membangun aktivitas ekonomi yang sempat kolaps atau utang untuk operasional keseharian.


Timah merasakan yang dia alami lebih dari sekedar hutang dengan rentenir, dimana saat sampai jatuh tempo orang belum mampu melunasinya, paling barang jaminan akan di sita. Situasi sulit semacam ini juga yang di Hadapi Timah Saat ini, jika utang tidak terbayar maka jaminanya adalah kelurganya akan terbunuh.


"Ampun Bunda Ratu di ruang keluarga ada Mona di utus Pangeran Andrik untuk menyampaikan sesuatu urusan penting" ucap Bik Ijah.


"Bilang sama dia, Permaisuri Tak bersedia bertemu Mona" ucap Timah.


Dari cctv Timah sudah melihat Mona datang untuk menemuinnya, Mona duduk menunggunya di Kursi ruang keluarga. Mengetahui Mona datang di utus Pangeran Andrik untuk suatu urusan, Timah tak mau keluar dia pun bersembunyi di dalam kamar.


Bik ijah segera berbalik menyampaikan keberatan Permaisuri untuk bertemu Mona.


"Saya akan menunggu, karena ini berhubungan dengan keselamatan keluarga Permaisuri" ucap Mona berkeras untuk menunggu.


Mona bertahan dalam waktu yang lama hingga berjam jam, namun Timah tak kunjung keluar. Akhirnya Mona putuskan untuk pergi meninggal kan Villa Ratu.


"Bik Ijah, coba sampaikan pesan saya pada Permaisuri" Mona membuka Amplop coklat di atas meja yang tadi dia bawa.


"Ya baik nona" Bik Ijah duduk berseblahan dengan Mona.


"Ini Sertifikat villa Bunda Ratu, Atas nama Fatimah Ibrahimova" Mona memindahkan sertifikat di depan Bik Ijah.


"Ini Jumlah bantuan modal yang telah di berikan pada keluarga Timah" Mona menunjukkan catan angka sebuah kwetansi yang di teken ibu Timah.


"Ini catatan biaya pembelian villa bunda Ratu dan biaya renovasi rumah keluarga Timah di Moskow" ucap mona menyerah kan sertifikat dan catatan bantuan Andrik grup pada keluarga Timah.


"Baik nona saya akan sampaikan pada Bunda Ratu" ucap bik ijah.


"Ok.. mona permisi" ucap Mona,


Saat lewat di depan pintu kamar Timah Mona tertawa, seolah ngejek Timah


"Ooooo Timah .... semua yang kamu punya tidaklah gratis, dan akan kita lihat siapa yang akan jadi permaisuri benaran, siapa yang cuma permaisuri boneka, kha kha kha ..." tawa Mona puas.