IDAMAN HATI

IDAMAN HATI
Kembali ke Medan Tempur.


"Pak tua.. bisakah saya memperoleh tumpangan ke Fhadlan island?" Fhadlan mengulangi pertanyaan nya saat pak tua terlihat bengong.


Pak tua dalam perahu boot bukannya menjawab malah memperhatikan Fhadlan dengan seksama.


"Anak muda... Ada perlu apa kamu ke Fhadlan island?" tanya pak tua dengan nada hati hati.


"Saya ingin ketemu paman saya, yang tinggal di pulau" ucap Fhadlan jujur.


"Kamu punya paman di pulau?" tanya pak tua ingin memastikan kejujuran Fhadlan.


"Ya pak tua" ucap Fhadlan.


Pak tua di dalam perahu boot seperti bisa menilai mana orang jujur dan mana orang yang bohong.


"Maaf bapak tidak bisa, tapi bapak kenal seseorang yang mungkin bisa memberi informasi tentang pulau Fhadlan" ujar pak tua mempersilahkan Fhadlan naik ke bootnya.


perahu boot melaju kencang menelusuri pantai, menuju sebuah dermaga tempat di mana pak tua memarkirkan bootnya saat istirahat dari pekerjaannya. Pak Tua membawa Fhadlan di daerah permukiman tua di mana dia tinggal.


"Assalamualaikum..." pak tua berhenti di sebuah rumah yang terkesan kuno, lalu mengucapkan salam.


Salam di jawab setelah memastikan kalau yang datang adalah pak tua yang punya rumah, seorang pria separuh baya mucul membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Pak tua kok cepat pulangnya?" tanya pria separuh baya di balik pintu


"Anak muda ayo masuk" ucap pak tua tanpa menghiraukan pertanyaan pria separuh baya di balik pintu.


"Terima kasih pak tua.." ucap Fhadlan mengikuti pak tua masuki rumah, mereka mengitari rumah dari ruang tamu, ruang keluarga hingga ke dapur.


"Ayo duduk... kamu pasti haus saya buatkan minum dulu" pak tua mempersilahkan Fhadlan duduk di ruang yang cukup btersembunyi di samping dapur.


Fhaland mengerti ini adakah ruang di mana keluarga berbicara khusus termasuk membicarakan sesuatu bersifat rahasia. Tak lama kemudian pak tua bersama pria separuh baya yang tadi membukakan pintu ikut duduk.


"Ayo diminum? pak tua meletakkan tiga cangkir jus lemon dingin.


"Sssssst.. " pak tua memberi isyarat supaya mereka tidak boleh bicara keras keras.


"Anak muda .. siapa namamu?" tanya pak tua.


"Saya Fhadlan.. " hampir berbisik.


"Ini pak Salim, saya temukan mengambang di laut saat mencoba melarikan diri dari Fhadlan island" ucap pak tua juga setengah berbisik seperti tidak ingin di dengar seseorang.


"Jika kamu punya pertanyaan silahkan ajukan pada pak Salim" ujar pak tua setelah mengenalkan salim.


"Apa yang terjadi di pulau paman?" tanya Fhadlan berbisik.


"Boleh saya tau siapa yang akan kamu jumpai di pulau nak" tanya pria separuh baya penuh srlidik.


"Paman saya bernama Hamdani, apa paman mengenalnya?" tanya Fhadlan.


"Hamdani.. dan kamu bernama Fhadlan" ujar pria setengah baya kaget.


"Ya paman" sahut Fhadlan.


"Kamu orang yang saya cari, dari ciri yang berikan pak Hamdani tidak salah lagi, sangat sedikit orang asia berkulit coklat terang di sini, yang tepat untuk menyelamatkan pulau island" ucapnya.


"Paman di utus keluar pulau untuk mencari ponaan Hamdani yang bernama Fhadlan, ciri fisiknya sudah jelas cocok, kamu dari Indonesia kan" lanjutnya.


"Seminggu yang lalu pulau di serbu puluhan kelompok bersenjata, mereka berhasil melumpuhkan pengaman kota, lalu menahan pak Hamdani dan beberapa pembantu dekatnya"


"Mereka menuntut supaya Hamdani menyerahkan seluruh aset Hamdani group yang mengatas namakan Fhadlan".


"Sebagai jaminan mereka menyandra penghuni pulau dan mengancam akan menjual oragan mereka satu persatu jika tuntutan mereka tidak terpenuhi" Ujar Salim setengah berbisik.


"Dimana paman Hamdani di tahan, Antar Fhadlan kesana" pinta Fhadlan.


Fhadlan sudah memutuskan untuk keluar dari resimen Hamdani semenjak kekasih nya Giza tewas di perang tersebut. Kelompok mereka terbentuk saat konflik terjadi di Yaman, baca Fhadlan generasi milineum trendi. Mereka terbentuk hanya ingin menyelamatkan penggungsi dari gangguan kelompok bersenjata, yang sering merampok dan memperkosa.


Resimen Hamdani harus terlibat perang dengan kelompok Balqis Kingdom yang ingin memanfaatkan situasi kekacauan di Yaman. Imperium Balqis Kingdom akhirnya takluk oleh resimen Hamdani. Semenjak itu nama Fhadlan yang sempat di percaya menjadi panglima perang menjadi sangat terkenal di klompok bersenjata.


Khususnya anggota Resimen Hamdani baik yang baru pasti tau siapa dan bagaimana Fhadlan, cerita yang mereka dengar sangat rinci, seolah mereka pernah berjumpa, sehingga saat pak tua dan Salim yang melihat Fhadlan seolah bisa memastikan inilah Fhadlan yang di ceritakan pada mereka.


"Baiklah ... kita akan kesana setelah jam 12.00 malam" ucap pak Salim.


"Ok paman Salim.. apa yang harus kita siapkan?" tanya Fhadlan.


Salim dan pak tua segera menyiapkan segala peralatan, dua pucuk senjata laras panjang dan sebuah pistol lengkap dengan pelurunya. Fhadlan merenung tentang sejarah hidupnya, seperti memang di seting untuk sebuah perjuangan.


'Ya nasib.. Sudah nyaman Jadi penjual bakso, malah seperti dipaksa untuk kembali ke medan tempur' pikir Fhadlan.


Fhadlan ingat nasehat pamannya abu Ghafur sebelum meninggal, itu adalah perang habis habisan yang pernah mereka ikuti, seolah mengingatkan kalau Perang Suci adalah pengukit sejarah hidupnya selama di dunia.


****


"Matikan mesin" ucap Pak Salim pada pak tua saat mereka berada di kawasan hijau di utara pulau.


Hamdani group pemilik pulau merupakan kamuplase dari Resimen Hamdani, setelah pertempuran dengan Balqis Kingdom, mereka tidak lagi bergerak di kemiliteran tetapi beralih menjadi group bisnis, khususnya angkutan minyak di mana armada mereka tersebar di teluk persi hingga laut Yaman.


Belakangan Hamdani group juga bergerak di dunia intelejen, tanpa terikat oleh negara tertentu. Di dunia intelejen mereka tidak begitu sukses, dimana group group intelejen seperti menjamur di pejuru dunia, mereka akan selalu jadi kontra intelejen bagi yang lainnya.


"Saat neon book Fhadlan Island di matikan itu adalah bagi teman teman lainya memasuki pulau" ucap pak tua mengingatkan pak Salim untuk memberi kode.


"Baik pak tua" ucap Salim


Sekalipun Hamdani group sudah beralih seratus delapan puluh derajat, namun patriotis dan keahlian militer anggotanya tidaklah hilang begitu saja. Jika ada acaman seperti saat ini mereka secara spontan akan bangkit melawan secara militer juga.


"Baik pak tua.. hati hati" ucap pak salim turun dari boot di ikuti Fhadlan.


Bersamaan dengan pak tua meninggalkan pulau, Fhadlan dan salim secara mengendap endap memasuki pulau.


"tiiiiuuu... tiuuuuu... " peluru berdesingan ke arah mereka saat mereka keluar zona hijau di utara pulau.


"Akhhh..." pak salim jatuh, sebuah peluru menyerempet lengannya.


"Berlindung ... mereka sudah tau kehadiran kita" ucap Fhadlan pada pak Salim.


Fhadlan memperhatikan keadaan matanya mencoba memprediksi dari mana asal tembakan.


"Paman... lindungi Fhadlan, biar saya hentikan sniper mereka" ucap Fhadlan menunjuk gedung berjarak dua ratus meter dari mereka.


"Tiuuuu tiuuuu" mereka mulai di hujani peluru peluru sniper yang ada di atas gedung.